Showing posts with label prof rhenald kasali. Show all posts
Showing posts with label prof rhenald kasali. Show all posts

Monday, June 1, 2020

SUARA SEORANG GURU BESAR UI

Suara dari seorang Gurubesar UI : Rhenald Kasali

Hidup zaman sekarang jauh lebih enak. Saya bingung kalau ada yang bilang enak zaman dulu.  Juga bingung kalau dikatakan ekonomi susah. Yang susah kan cuma tinggal preman, koruptor dan politisi-politisi yang tak terpilih lagi oleh rakyat.

Ngga tahu ya bagaimana takutnya kita sebagai mahasiswa, dulu waktu kita dikejar-kejar intel, ngumpet di kamar jenazah, mau menyatakan pendapat susahnya minta ampun. Itu saat negeri dikuasai oknum diktatur militer. Ngeri...

Cari seribu perak saja saat itu susah sekali. Cuma karena dulu gak ada WA dan FB kita gak saling komen. Lagian kalau mengeluh ya besoknya dah hilang diciduk aparat. Ngeri...

Naik bis ngga ada yang ada AC nya. Copetnya ada dimana-mana. Bahkan pada bawa sangkur. Kita penumpang bis dulu biasa dirogoh dan diperas copet dan begal.

Preman di setiap sudut jalan.

Untuk bisa Makan paling-paling sama krupuk dan sudah top kalau dapat sop kaki kambing. Itu baru bisa kite makan beberapa bulan sekali.

Mudik, ampun...susahnya setengah mati. Naik kereta semua orang rebutan sampai masuk lewat jendela dan bawa kardus-kardus bau ikan asin, bukan koper. Toiletnya kotor.  Anak-anak kegencet-gencet. Tak ada celah kosong. Orang tidur sambil berdiri. Calonya juga banyak. Uang THR habis diembat calo dan copet.

Di kampung-kampung, dulu, ada babinsa yang galaknya minta ampun. Lurah-lurah juga korup. Bupatinya harus tentara. Kita apa-apa harus urusan sama tentara.  Ada litsus dll. Di jalanan tentara galaknya minta ampun. Kita ambil jalan mereka, habis kita digamparin. Lewat komplek tentara serem sekali. 

Koran-koran sering dibredel. Lalu puncaknya waktu anak-anak mahasiswa sudah gak tahan gegara mertua kawan kita mau terus jadi raja, maka penculikan-penculikan terjadi.  

Banyak mahasiswa-mahasiswa saya yang hilang. Orangtua menangis. Mereka bukan cuma ditembak aparat. Tetapi juga diinjak-injak dengan sepatu lars dan  nyawanya meregang. Mereka juga dihadapkan dengan laskar-laskar berjubah, muncul pasukan berjubah agama yang menyerang mahasiswa pakai bambu runcing. Penjarahan dibiarkan. Banyak orang hilang.

Kekerasan itu adalah bagian dari sesuatu yang awalnya adalah intoleransi. Jangan biarkan itu terulang lagi di negeri yang sudah diperbaiki oleh para ulama dan umaroh hebat. GUS Dur sudah mengembalikan militer ke barak untuk fokus ke pertahanan dan keamanan. Tentara zaman sekarang sudah jauh lebih manusiawi dan punya tantangan baru, yaitu perang proxy.

Sekarang para oknum yang dulu gagal melanjutkan kekuasaannya secara diktatur mencoba kembali.  Tentu mereka senang mengendalikan orang-orang lugu dan mereka yang mudah dimanipulasi dengan "sorga"

Tetapi janganlah kita mudah tertipu, sahabat. Sebab apapun yang datang dari Allah pasti adalah kelembutan  dan kasih sayang, bukan amarah atau meng-anjing-anjingkan manusia. Bukan yang "keras" dan menakut-nakuti. Juga bukan yang haus kuasa dan korup.

Bahkan mereka kini memakai teknologi internet. Menyerang TGB dan ustadz-ustadz baik.  Menyerang Jokowi, Sri Mulyani, Susi, Adi MS, Rudiantara, BUMN, Maruf Amin, Ustad Somad dll

Orang-orang baik ini diserang pakai bot dan robot, pakai "senjata pemusnah massal" hoax.  Pakai segala yang serba palsu.

Kita semua ditakut-takuti. Seakan-akan besok Indonesia tak ada lagi. Seakan-akan jadi sopir ojol itu pekerjaan budak dan bodoh, seakan-akan kita semakin miskin. Semua kemajuan dianggap kemunduran. 

Faktanya kita justru tengah menuju negara yang makmur. Daya beli meningkat, ketimpangan turun, harga-harga terkendali, banyak yang semakin murah. Tetapi memang banyak yang berubah, orang sekarang lebih senang pindah-pindah kerja sehingga kesannya banyak yang nganggur. Padahal mereka lebih punya pilihan.

Taksi dulu hanya ada yang seratus ribuan yang silver dan gold. Sekarang ada ribuan taksi yang ongkosnya hanya ribuan perak. 

Dulu bini kita beli kerudung cepek dapat satu, sekarang bisa dapat 4 gegara bisnis online dibuka pemerintah.

Dulu kalau orang jakarta naik mobil ke Surabaya  butuh 15-20 jam. Sekarang cukup 8 jam. Bandara-bandara baru cakep-cakep. Pelabuhan juga keren-keren. Sekolah-sekolah tak terdengar lagi yang roboh karena koruptor disikat habis. PNSnya sudah digaji lebih baik, kontrolnya jauh lebih kuat.

Dulu kita malu kalo ngaku jadi orang Indonesia pas jalan-jalan ke luar negeri. Orang asing memandang kita rendah. Miskin prestasi. Jalanannya buruk, ambles, macet, banyak lubang, gak menarik.

Jembatannya dulu juga sempit-sempit dan reyot sampai-sampai anak-anak sekolah harus bergelantungan mengerikan. Jalan tol cuma bisa dibuat di jabodetabek dan sebagian kecil pulau jawa.  Itupun banyak yang sampai 20 tahun gak kelar-kelar. 

Korupsinya menggunung. Sebab  anak-anak presiden, dulu  ngambil proyek-proyek besar secara serakah dan bekerjasama dengan para kroni-kroninya. Merekalah yang menjadi rolemodel awal para koruptor. Mereka   merusak nilai-nilai bangsa. 

Militer juga dulu sangat berkuasa, dan selalu maunya punya presiden dari militer. Seakanakan tak ada pemimpin sipil. Maka kita dipandang sejajar dengan Uganda di era Idi Amin atau Irak di era Jendral Sadam Husen. Dianggap diktatur militer.  Duh, malu deh zaman itu...  efeknya masih ada sampai sekarang, setiap kali sipil menjadi presiden, kok selalu dikatain PKI... ada apa ini? 

Sekarang bangsa kita dibawah Jokowi sudah muncul sebagai kekuatan baru yang nyata di dunia. Orang sipil berbadan kecil dan sudah merasa cukup dengan makan sedikit tapi semangat membangunnya begitu kuat. Freeport tunduk, Singapura takut, Swiss mau tandatangan untuk kembalikan harta-harta kita yang disimpan para koruptor di sana. Malaysia kembali memandang RI.  Bahkan di Asian Games kita bisa unjuk prestasi. Anak-anak muda kita semakin menonjol dengan inovasi sejak diberi ruang lewat Bekraft dan sering dikunjungi presiden. Bahkan produk-produknya dipromosikan beliau.

Banggalah punya pemimpin yang meski dia orang sipil, tetapi dia adem, ibadahnya jelas, puasanya disaksikan ustad Yusuf Mansur, kerja keras buat kita, dan hasilnya nyata.    

Sahabat, hanya orang-orang baguslah yang selalu ditakuti para diktator dan koruptor.

Hanya karena dia diperhitungkanlah maka dia dikirim rumor dan hoax yang nggak-nggak. Mereka yang mentereng hanya berani dari semak-semak benar-benar terlalu kerdil, mentang-mentang tak punya prestasi kini  membual dan memutarbalikkan fakta-fakta.

Hidup ini begitu indah dan akan ada banyak hal indah yang bisa kita nikmati kalau negeri ini damai dipimpin pemimpin yang adem, optimis, rendah hati dan mau mendengarkan.... itu sebabnya mata batin kita tertuju pada Jokowi.  Tuhan selalu menjaga orang-orang baik... Amiiinn...

Monday, October 19, 2015

BUDAYA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI PARA PENDIDIK DI INDONESIA

BUDAYA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI PARA PENDIDIK DI INDONESIA
Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

Lima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal, dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya, tulisan itu buruk. Logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat.
"Maaf, Bapak dari mana?"
"Dari Indonesia," jawab saya.
Dia pun tersenyum.
BUDAYA MENGHUKUM
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
"Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak
anaknya dididik di sini," lanjutnya.

"Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!", dia pun melanjutkan argumentasinya.
"Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.
Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.
Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor.
Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. 
Padahal, saat menempuh ujian program doktor di luar negeri, saya dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan para dosen penguji memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun, suasana ujian dibuat sangat bersahabat.

Seorang penguji bertanya, sedangkan penguji yang lainnya tidak ikut menekan. Melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.
Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan
kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
***
Etikanya, seorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan. Tapi yang sering terjadi di tanah air justru penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya.
Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.
Mereka bukannya melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul.
Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga cenderung menguji dengan cara menekan. Ada semacam unsur balas dendam dan kecurigaan.
Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Lantas saya berpikir, pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakter hasil didikan guru-gurunya sangat kuat: yaitu karakter yang membangun, bukan merusak.
Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan.
Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti."
Malam itu, saya pun mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa bersalah karena telah memberinya penilaian yang tidak objektif.
Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya justru mengatakan bahwa "gurunya salah". Kini, saya mampu melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
MELAHIRKAN KEHEBATAN
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut?
Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.
Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau...; Nanti...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun, di lain pihak juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat.
Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.
Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, kecerdasan manusia dapat tumbuh, tetapi sebaliknya juga dapat menurun.
Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi, juga ada orang yang "tambah pintar" dan ada pula orang yang "tambah bodoh".
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan.
Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakutkan