Showing posts with label sharing economy. Show all posts
Showing posts with label sharing economy. Show all posts

Sunday, April 10, 2016

TRANSPORTASI BERBASIS APLIKASI

Selamat Datang Sharing Economy
by: Rhenald Kasali

Senin (14/3) lalu kawasan Balai Kota DKI Jakarta, Istana Negara, dan kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika diserbu ribuan pengemudi taksi.
Mereka berdemo menolak kehadiran taksi yang berbasis aplikasi online. Anda pasti bisa dengan mudah menerka penyebabnya.
Iya, penghasilan mereka terpangkas akibat hadirnya taksi berbasis aplikasi. Bahkan sebetulnya bukan hanya taksi itu yang membuat penumpang berpindah. Ojek online merebut sebagian pasar taksi konvensional.
Mereka mengeluh, utang setoran ke perusahaan terus bertambah. Padahal, uang yang dibawa pulang untuk makan anak-istri makin turun. Kita tentu prihatin dengan kenyataan tersebut. Apalagi jumlah pengemudi angkutan umum ini tidak sedikit. Seluruhnya bisa mencapai 170.000-an. Sampai di sini Anda mungkin bergumam: mengapa mereka tidak berubah saja? Ke mana para eksekutifnya? Mengapa mereka membiarkan pasarnya digerus para pelaku bisnis online tanpa berupaya melakukan perubahan internal? Tentu semua ini tak akan mudah.
Sampai di sini adagium perubahan kembali berbunyi: kalau rasa sakit manusia itu belum melebihi rasa takutnya, rasanya belum tentu mereka mau berubah. Maaf, pesan ini berlaku buat kita semua, baik yang sedang duka maupun yang masih gembira. Tapi, supaya fair, kita juga mesti melihatnya dari sisi yang lain, yakni pengemudi taksi berbasis aplikasi dan ojek online .
Mereka juga tengah mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan anak istrinya. Lalu, pelanggannya juga senang memakai taksi berbasis aplikasi karena serasa naik mobil pribadi dan tarifnya pun murah. Begitu selesai langsung turun. Praktis. Tak pakai bayar-bayaran tunai. Bisnis taksi berbasis aplikasi ini juga punya pesaing. Anda bisa klik www.nebeng.com. Iniaplikasi yang juga mempertemukan pemilik kendaraan pribadi dengan mereka yang membutuhkan angkutan ke arah yang sama.
Tarifnya tak kalah bersaing. Misalnya tarif dari Perumahan Vila Nusa Indah di Bekasi ke Jakarta hanya Rp15.000 sekali jalan. Murah! Para pemilik kendaraan yang rela “ditebengi” ini juga ikut andil dalam mengurangi kemacetan di Jakarta. Ketimbang setiap orang naik mobil pribadi, lebih satu mobil dipakai bersama-sama dengan cara nebeng. Jumlah mobil yang masuk ke Jakarta jadi lebih sedikit.
Pertarungan Business Model 
Tapi, mari kita bahas soal perseteruan taksi konvensional vs taksi berbasis aplikasi. Hadirnya taksi berbasis aplikasi, menurut saya, adalah penanda datangnya era crowd business. Apa itu crowd business? Sederhana. Ini bisnis yang kalau Anda mencoba mencari polanya bakal pusing sendiri. Sebab serba tidak jelas. Misalnya, tidak jelas batasan antara produsen dan konsumen. Juga, tidak jelas kreditor dengan debitor.
Siapapun bisa menjadi pemasok Anda, tetapi sekaligus menjadi konsumen Anda. Crowd business kian kencang berputar akibat kemajuan teknologi informasi— yang terutama membuat arus informasi mengalir deras dan sekaligus memangkas biaya-biaya transaksi. Dulu kalau kita mau mencari suatu barang mesti menghabiskan waktu, tenaga dan uang. Kita datang ke beberapa toko, melihat barang, membandingkan harganya, dan melakukan tawar-menawar.
Kalau setuju, baru kita membayar. Kini tidak perlu lagi. Kita cukup berselancar di dunia maya, mencari barang dan membandingkannya, memilih, memesan, lalu membayar. Semuanya bisa dilakukan tanpa kita harus beranjak dari kursi dan dengan biaya nyaris nol. Itu pula yang terjadi dalam perseteruan antara bisnis taksi konvensional vs taksi berbasis aplikasi.
Di bisnis taksi konvensional, kita bukan hanya harus membayar jasa angkutannya, tetapi secara tidak langsung juga mesti menanggung biaya kredit mobilnya, gaji pegawai perusahaan taksinya, biaya listrik dan AC, dan sebagainya. Di bisnis taksi berbasis aplikasi, kita tidak ikut menanggung biaya-biaya tersebut. Jadi, tak mengherankan kalau tarifnya bisa lebih murah. Kolega saya pernah membandingkan.
Untuk rute Cakung ke Halim Perdanakusuma yang samasama di Jakarta Timur, dengan taksi konvensional tarifnya Rp105.000, sementara dengan taksi berbasis aplikasi hanya Rp55.000. Ini jelas pilihan yang mudah buat calon konsumen. Switching cost dalam industri ini amat rendah. Maka terjadilah downshifting. Lalu, bagaimana yang satu bisa lebih mahal ketimbang yang lain? Ini adalah persoalan model bisnis.
Analoginya mirip bisnis penerbangan full service dengan low cost carrier (LCC). LCC mendesain model bisnisnya dengan memangkas berbagai biaya, sehingga tarifnya menjadi lebih murah ketimbang maskapai penerbangan yang full service. Model bisnis inilah yang membuat bisnis taksi era lama bakal segera usang.
Pesaingnya bukan sesama bisnis taksi, melainkan para pembuat aplikasi yang mempertemukan para pemilik mobil pribadi dengan calon konsumen yang membutuhkan jasa angkutan. Selamat datang di peradaban sharing economy. Efisiensi menjadi kenyataan karena kita saling mendayagunakan segala kepemilikan yang tadinya idle dari owning economy.
Berdamai, bukan Menentang 
Kasus serupa bisnis taksi bakal kita jumpai dalam bisnis-bisnis yang lain. Di luar negeri, pangsa pasar bisnis perbankan mulai terganggu oleh hadirnya perusahaan-perusahaan crowd funding. Anda bisa cek ini di www. l e n d i n g c l u b . com. Perusahaan ini mengumpulkan dana dari masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk kredit ke masyarakat.
Bedanya, proses mendapatkan kreditnya jauh lebih simpel ketimbang perbankan, dan suku bunganya pun lebih murah. Di Indonesia, bisnis ala lending club sudah ada. Anda bisa cek website-nya di www.gandengtangan.org. Memang untuk sementara bisnis yang didanai masih untuk usaha skala UMKM dan social enterprise. Tapi, siapa tahu ke depannya bakal melebar ke mana-mana Di luar negeri, ada www.airbnb.com yang mempertemukan para pemilik rumah pribadi yang ingin menyewakan rumahnya dengan orang-orang yang mencari penginapan.
Soal tarif, jelas lebih murah ketimbang hotel. Lalu, ada juga aplikasi yang mempertemukan para pemilik mobil pribadi dengan calon konsumen angkutan darat. Namanya Lyft. Hadirnya aplikasi ini membuat bisnis taksi tersaingi. Begitulah, kita tak bisa membendung teknologi. Ia akan hadir untuk menghancurkan bisnis bisnis yang sudah mapan—yang tak bisa beradaptasi dengan perubahan.
Persis kata Charles Darwin, "bukan yang terkuat yang akan bertahan, tetapi yang mampu beradaptasi dengan perubahan". Maka, kita harus berdamai dengan perubahan. Bagaimana caranya? Di luar negeri, para pengelola chain hotel berdamai dengan kompetitornya, para pemilik rumah yang siap disewakan melalui jasa www.airbnb.com . Caranya, mereka menjadi pengelola dari rumah-rumah yang bakal disewakan tersebut sehingga ruangan dan layanannya memiliki standar ala hotel.
Belum lama ini saya menikmatinya di sebuah desa di Spanyol Selatan, dan saya puas. Kasus serupa menimpa Lego, perusahaan mainan anak, yang terancam bangkrut pada awal 1990-an. Hadirnya video games membuat anak-anak kita tak berminat lagi dengan batu bata mainan buatan Lego. Namun, perusahaan itu mampu bangkit lagi dengan mengandalkan inovasi dari orangorang di luar perusahaan, atau crowd sourcing. Mereka semua belajar dari model bisnis Kick Starter yang fenomenal. Lego tak melawan perubahan, tetapi berdamai. Saya tidak punya resep khusus bagaimana caranya setiap perusahaan mesti menghadapi perubahan. Intinya jangan menentang. Berdamailah dengan perubahan.
Demikian juga pesan saya kepada bapak Presiden, Menteri Perhubungan, DKI, dan Menteri Kominfo. Kita butuh cara baru yang berdamai dengan perubahan.
17 March, 2016 , 
by Rumah Perubahan
Artikel-Artikel Tentang Transport Berbasis Aplikasi Online:

Wednesday, April 6, 2016

THE BLUE BIRD STORY

BlueBird Story
The Magic of Sharing Economy.

Tahun lalu total pendapatan Bluebird (BB) group tembus 4,75 triliun. Net profit 735 milyar. Jadi margin sekitar 16%. Angka yang rasional.
Net profit BB 735 Milyar tahun lalu. Jumlah driver 36 ribu. Jadi setahun 1 driver sumbang 20 juta profit ke owner BB. Masuk akal.
Kapitalisme memang seperti itu. Profit 735M hanya terkonsentrasi pada keluarga pemilik BB. 36 ribu supir jadi sekrup. Ya sekrup
Dengan sistem sharing seperti Uber, laba 735M itu bisa terdistribusi lebih merata ke ribuan mitranya. Tidak hanya dinikmati 2 - 3 owner seperti kasus BB.
Kalo Uber jadi berbentuk koperasi, model pembagian laba-nya jadi lebih adil. Lebih bergaya sosialisme. Laba lebih merata. Tidak seperti kapitalisme.
Jika Uber berbentuk koperasi, ribuan driver BB sebenarnya bisa pindah ke Uber. Jadi anggota. Pendapatan bisa lebih tinggi. BB bisa kolaps.
Milih mana? 735 milyar laba dinikmati bu Noni Purnomo dan keluarganya saja. Atau terdistribusi lebih merata dalam bentuk koperasi Uber?
Tantangannya, bagaimana supir ex BB itu sanggup kasi DP buat beli mobil untuk jadi mitra koperasi Uber? Gandeng lembaga keuangan. Buat skema yang pas.
Itulah esensi ekonomi yang diimpikan Bung Hatta. Ribuan supir ex BB punya mobil sndiri sebagai anggota koperasi Uber. Dan bisa dapat profit sharing.
Persis disitulah kejaiban aplikasi teknologi benar2 bisa mewujudkan ide indah sosialisme ala Bung Hatta jadi kenyataan. Via Koperasi Uber.
Karl Marx mungkin tertegun. Bagaimana bisa aplikasi Uber ciptaan negeri kapitalis, menjelma menjadi alat demokratisasi ekonomi rakyat.
Sinergi ribuan supir ex BB, koperasi Uber dan lembaga keuangan dalam skema yang win2; bisa benar2 memajukan ekonomi kelas bawah. Uber revolution.
Jika ribuan supirnya lari jadi mitra Uber karena dapat profit sharing yang lebih fair, bagaimana nasib BB? Ya bisa kolaps. Tapi itulah kemenangan sosialisme.
Supir BB mestinya jangan protes. Dekati koperasi Uber. Tinggalkan BB. Gandeng lembaga keuangan. Ciptakan kerjasama win win.
Laba 735M hanya untk satu keluarga adlh contoh kapitalisme ekstrem. Aliansi ribuan supir ex BB dengan koperasi Uber bisa merobohkan dominasi itu.
Kalau ribuan supir BB bergabung dengan koperasi Uber dalam skema yang lebih fair, pelan-pelan dominasi kapitalisme ekstrem BB bisa dipatahkan.
Aliansi ribuan supir ex BB dengann koperasi Uber mngkin akn dikenang dalam sejarah sebagai bentuk revolusi ekonomi rakyat. Bung Hatta bisa tersenyum.
Apakah aliansi ribuan supir taksi ex BB dkk dengan koperasi Uber bisa jadi realitas? Bisa kalau ada lembaga keuangan yang cerdik dan kreatif.
Paparan tadi mendedahkan sebuah fakta magis : betapa aplikasi teknologi benar-benar menjelma menjadi agen revolusi ekonomi kerakyatan.
Tapi itulah memang kekuatan magis teknologi : membuat sistem kapitalisme yang rakus dan tidak efisien menjadi kolaps.
Dalam buku-buku filsafat ekonomi, skema sharing economy ala Uber itulah yang diimpikan oleh sosok seperti Bung Hatta. Sistem ekonomi yang lebh fair.
Esensi ekonomi sharing ala Uber itulah yang dulu pernah diangankan oleh Bung Hatta. Karena lebih fair, efisien dan terdistribusi dengan adil.
Tidak terkonsentasi seperti dalam kapitalisme ekstrem. Seperti kasus laba 735M yang dinikmati hanya oleh segelintir keluarga pemilik BB.
Sementara 36 ribu drivernya termehek-mehek dalam nestapa. Padahal setahun masing-masing dari mereka sudah sumbang 20 juta ke owner BB.
Sinergi Koperasi Uber, ribuan supir ex BB dan lembaga keuangan yang cerdik, akan membuat penghasilan mereka bisa naik signifikan.
Agak tertegun, ide dasar ekonomi sharing yang dulu diimpikan Bung Hatta, bisa jadi realitas karena aplikasi teknologi buatan silicon valley.
Tapi itulah memang visi esensial pendiri Uber : bagaimana agar aplikasi teknologi bisa wujudkan ide ekonomi sosialisme seperti yang dicitakan bung Hata.
Lembaga keuangan yang cerdik harus segera cari pentolan-pentolan driver BB. Dialog dan rintis skema win win dan bikin aliansi dengan koperasi Uber.
Apakah ide aliansi ribuan supir eks BB dengan koperasi Uber adalah ide utopia (fantasi)? Why not. Nothing is Impossible
Negrei utopia itulah yang dulu juga ditulis Karl Marx dalam adikaryanya Das Kapital. Negeri saat ribuan kaum proletar bersatu, robohkan kapitalisme.
Ide negeri utopia ekonomi sosialis itu berkali-kali gagal jadi realitas. Ajaibnya, aplikasi Uber dengan koperasi Uber, yang bisa wujudkan ide itu.
Itulah Paradoks Teknologi: bagaimana aplikasi buatan negeri kapitalis yang justru akan jadi senjata maut untk membunuh kapitalisme yang rakus.
Karl Marx dan Bung Hatta mngkn tidak pernah mnyangka bahwa ide-ide besarnya tentang sharing economy yang lebih fair, diwujudkan oleh Silicon Valley Guys.
Perjumpaan ide Karl Marx, Impian Bung Hatta dengan kekuatan aplikasi Uber + aliansi supir ex BB, mungkn bisa jadi judul skripsi yang menarik.
Tapi mungkin itulah sejatinya kekuatan indah dari teknologi: sebuah narasi gemilang tentang “The Rise of Smart Apps” dalam mengubah peradaban.
Energi kemarahan ribuan supir BB mungkin akan lebih cantik jika disenyawakan dengan energi sharing economy ala Uber.
Sebab persenyawaan ribuan ex supir taksi BB dengan koperasi Uber-lah yang hanya bisa membuat nasib mereka berubah.
Dan persis pada titik itulah, mungkin mendiang Bung Hatta bisa tersenyum bangga di alam peristirahatannya.