Showing posts with label rokok. Show all posts
Showing posts with label rokok. Show all posts

Friday, August 17, 2018

KAPOK ROKOK JILID 2

KAPOK ROKOK JILID 2
Tadi malam selesai dari acara ngobrol bareng beberapa hipnoterapis Jabodetabek, saya pulang naik commuter line disambung gocar dari stasiun ke rumah. Saya memilih gocar, selain karena sudah lewat tengah malam juga karena rintik hujan masih membasahi sepanjang jalan menuju ke rumah. Dan saya tidak heran ketika sang driver, sebut saja Kang Nas, bertanya apa pekerjaan saya, menilik baju yang saya kenakan. Kali ini saya hanya memakai celana pendek, t shirt hitam dan blangkon hitam berkuncir. 
"Dari kerja atau main nih Pak?", Kang Nas mencoba mencairkan suasana malam itu. 
"Main sambil kerja", jawab saya sekenanya
"Maksudnya Pak?" 
"Ya kerja saya memang main" 
"Dapat duit Pak?" 
"Alhamdulillah, selama ini saya tidak pernah kekurangan duit Kang" 
"Lha emang apa kerjaannya Pak?" 
"Saya seorang terapis Kang" 
"Ooo pantes, nyantai banget ya Pak? Apa saja yang bisa diterapi Pak?" 
"Macem-macem Kang. Mulai dari kecanduan rokok, fobia, insomnia, sampai gay juga pernah saya terapi" 
"Bisa bantu berhenti merokok Pak? Eh, saya pingin dong" 
"Serius?" 
"Iya Pak. Dari dulu saya ingin berhenti merokok, tapi sulit banget. Saya sering kepikiran sendiri, ngapain sih duit kok dibakar-bakar. Mending untuk beli susu atau beras" 
"Baik Kang Nas, Anda sudah punya modal yang lumayan kuat untuk berhenti merokok. Kalau boleh tahu apa niat baik Anda merokok?" 
Untuk pergaulan sih Pak" 
"Betul, untuk pergaulan. Pertanyaan saya kenapa merokok yang dijadikan sarana pergaulan tadi? Kenapa tidak gigit daun, atau ngisepin batu gitu?" 
Sejenak Kang Nas termangu. Dia tidak paham maksud pertanyaan saya. 
“Baik Kang Nas, pertanyaannya saya ganti. Makanan apa yang paling Anda suka?” 
“Ikan asin” 
“Kenapa?” 
“Ya suka aja” 
“Kalau disuruh memilih dengan telur dadar, Anda memilih apa?” 
“Tetep ikan asin Pak” 
“Kenapa?” 
“Ya karena enakan ikan asin” 
“Tepat sekali Kang Nas, Anda memilih sesuatu karena merasa sesuatu itu enak. Jadi balik pada pertanyaan pertama tadi. Kenapa Anda merokok?” 
“Hehehe, ya karena enak” 
“Nah, ituh. Jadi menurut Anda bagaimana caranya agar seorang perokok berhenti menghisap rokoknya?” 
“Ngg, rokoknya dibikin gak enak?” 
“Nah itu tahu” 
“Emang bisa ya Pak?” 
“Mau bukti?”_
“Mau deh Pak”_
“Baik, kita punya waktu sekitar 10 menit dari sini ke rumah saya. Sekarang mana rokoknya?”
***
Sejurus kemudian Kang Nas mengambil rokok dari laci mobilnya. Sebungkus rokok filter yang sepertinya baru saja dibeli. Saya minta dia membaui rokok tersebut, kemudian saya bertanya,
“Bagaimana baunya?” 
“Ya harumlah Pak. Seperti normalnya rokok” 
“Boleh saya pinjam rokoknya?” 
Kemudian dia mengangsurkan rokok tadi ke tangan saya. “Nah, sekarang coba cari satu benda yang bagi Anda baunya luar biasa busuk”
“Bangkai tikus Pak”
“Coba sembari nyetir, Anda munculkan gambar tikus mati di benak Anda, dan anehnya bersamaan dengan munculnya gambar tikus mati tadi, baunya yang sangat menyengatpun langsung menusuk hidung Anda”, sambil memberikan bantuan sugesti tadi, saya menekan pundak kiri Kang Nas.
“Hoeeksss,...!”, kurang dari satu menit saya lakukan induksi, Kang Nas meminggirkan mobilnya, membuka pintu dan muntah-muntah.
”Sabar Kang, ini belum mulai kok. Silakan atur nafas Anda”
Dan ketika dia sudah bisa mengendalikan dirinya, saya dekatkan rokok ke hidungnya, sambil menekan pundak kirinya sekali lagi, “Nah, sekarang coba cium aroma rokok ini, anehnya baunya sangat busuk seperti bangkai tikus” 
“Hoooeeekkkssss!! Ampun Pak!”, kembali dia menepikan mobilnya dan muntah lebih parah dari sebelumnya. 
“Enak gak Kang rokok ini sekarang?” 
“Ampun Pak, bau banget” 
“Kalau semua merk rokok, baik yang ini ataupun yang ada di luaran sana berbau busuk seperti ini, apakah Anda akan terus merokok?” 
“Tentu tidak Pak. Saya memilih berhenti merokok sekarang juga. Pak Hari, kalau boleh tahu tadi itu pakai jampe-jampe ya, kok cepet banget rokok ini bisa bau busuk begini?” 
“Kalau pakai jampe-jampe, kira-kira kalau dilawan pakai Ayat Kursi bakal menang mana Kang Nas?”_
“Ya pastinya Ayat Kursilah” 
“Kita buktikan yuk” 
“Gak usah Pak, saya percaya ini bukan jampe-jampe. Karena setahu saya kalaupun pakai jampe-jampe efeknya juga tidak akan secepat ini”
Singkat cerita, sisa waktu sebanyak 5 menit saya gunakan untuk menetralisir bau busuk, dan mengunci keinginan Kang Nas untuk berhenti merokok. Sesampainya di rumah, Kang Nas mengucapkan terimakasih berkali-kali karena telah membantunya lepas dari candu nikotin, dan satu hal yang tak saya duga ketika saya mengajak jabat tangan, dia malah mencium tangan saya.
“Terima kasih Pak Hari, Bapak sudah membebaskan saya dari ketergantungan rokok yang sudah bertahun-tahun membelenggu saya. Nomor telponnya saya save ya Pak” 
Hehehe, ini adalah driver gojek ketiga yang berhenti merokok dalam dua bulan terakhir ini.
***
Sidang Pembaca yang Berbahagia, jika Anda pembelajar atau minimal pemerhati hipnosis atau NLP (Neuro Linguistic Programming) tentu Anda tidak asing dengan teknik yang saya gunakan untuk mengintervensi bau rokok tersebut.
Ya, Anda benar, tekniknya adalah collapsing anchor. Anchor yang terprogram dalam pikiran manusia secara sengaja atau tidak ternyata masih dapat dihilangkan dengan salah satu teknik dalam anchor yang bernama Collapsing Anchor tadi.
Secara singkat, prinsip penggunaan teknik ini adalah dengan membuat sebuah anchor (kinestetik, yaitu tekanan di pundak kiri, ketika klien diminta membayangkan bau tikus mati). Jadi setelah anchor ini terpasang, maka kapanpun pundak kiri klien ditekan, secara otomatis bau busuk akan muncul dengan sendirinya. Proses peng-collaps-an terjadi ketika saya sodorkan bungkus rokok (yang seharusnya harum menurut persepsi klien), dan dalam waktu bersamaan sata tekan pundak kiri, maka pikiran bawah sadar manusia yang sangat cerdas itu langsung memberi makna bahwa bau busuk tersebut keluar dari rokok yang saya sodorkan. Gampang bukan? 
***
Nah,  sekarang saya akan jawab pertanyaan Kang Nas, yang mungkin juga menjadi pertanyaan Anda, “Kok cepet banget?” 
1. Baju yang saya kenakan malam itu sudah merupakan sebuah ‘ framing’ atau ‘pacing’ yang sangat kuat. Ditambah aroma melati yang selalu saya pakai. 
2. Waktu tengah malam juga menambah kuat pacing saya. Anda bayangkan, tengah malam mendapat penumpang seperti saya, dengan aroma melati, sudah dipastikan kalau bukan hantu, maka ini ‘bukan’ orang yang sembarangan 
3. Awalnya bisa jadi Kang Nas merasa takut, namun ketika tahu bahwa saya adalah manusia dan bukan hantu, rasa takutnya bergeser menjadi TRUST. Ketika orang sudah trust kepada kita, maka akan mudah bagi kita nge-lead mereka.
4. Retorika pertanyaan di awal sudah lumayan membombardir pikirannya sehingga concious mindnya overloaded.
5. Lepas dari semua itu, keinginan kuat Kang Nas untuk berhenti merokok sehingga dia bisa menggunakan uang rokok untuk membeli susu atau beras merupakan modal utama dari sesi singkat tadi malam.
6. Tanpa perlu mengikuti pelatihan hipnosispun, selama Anda bisa mengikuti langkah-langkah dan tips yang saya berikan dalam tulisan ini, Anda akan mampu membantu orang terdekat Anda untuk berhenti merokok.
7. Kalau Anda masih bingung, ya mending ikuti saja pelatihan Fundamental Hipnosis yang akan saya lakukan di Medan, pada tanggal 16 Desember 2018 
Sila tebar jika manfaat
Tabik
-haridewa-
Happiness Life Coach
www.thecafetherapy.com

Sunday, October 1, 2017

KEMATIAN PADA KASUS STEMI

KEMATIAN PADA KASUS STEMI (SEBAGIAN BESAR KARENA MEROKOK)
Sekitar jam 11 malam, ada telepon dari dokter jaga IGD sebuah RS.
Dokter Jaga (DJ): Dok lapor, ada pasien, seorang laki-laki berusia 39 tahun. Datang dengan keluhan nyeri dada saat bermain Futsal, pasien sempat pingsan kemudian langsung dibawa oleh teman-teman ke RS. Saat di IGD pasien mengeluh sesak nafas, saat di monitor pasien kembali tidak sadar,  irama VT, nadi tidak ada. Kami lakukan resusitasi sekitar 5 menit dan dilakukan defibrilasi (kejut jantung) hingga akhirnya kembali ke sirkulasi spontan.
Saat ini pasien sudah sadar, mengeluh nyeri dada dan sesak. Tekanan darah 150/90, laju jantung 110x/menit, laju nafas 40x/menit dengan dengan NRM saturasi 95%, auskultasi paru terdengar ronkhi dok. EKG tampak ada elevasi di I, II, III, V2-6. Kami diagnosis STEMI dengan edema paru. Pasien sudah kami berikan Clopidogrel 300 mg, Aspilet 160 mg, Lipitor 40 mg, Furosemide 60 mg IV. 
Dokter SpJP: Apa betul elevasi di inferior dan anterior?
DJ: Betul dok, jelas ada proses infark.
SpJP: Masih muda ya, risikonya apa?
DJ: Hanya merokok dok.
SpJP: Jadi onset berapa jam? 
DJ: 2 jam dok.
SpJP: Buat Diagnosis Kerja STEMI infero-anterior dengan komplikasi edema paru. Berikan alteplase (obat peluruh gumpalan darah) sesuai panduan STEMI.
DJ: Maaf dok, obatnya tidak ada. (Tidak ada karena tidak disediakan, harganya mahal, setidaknya 7,6 juta (harga eKatalog) sekali pemberian, sementara tarif InaCBGs tidak mencukupi untuk diberikan pasien BPJS. Kondisi ini dipastikan terjadi di seluruh Indonesia, kecuali anda siap membayar lebih)
SpJP: Ya-sudah Aspiletnya kasih lagi 160 mg, Clopidogrel 300 mg, Lipitornya tambah 40 mg, Lovenox 30 mg IV bolus, terus 2x60 mg SC. Turunkan afterloadnya kasih captopril 3x12.5 mg. Untuk mengurangi kemungkinan timbul VT lagi kasih Amiodarone 150 mg IV bolus, lanjut 1 mg/kgBB/jam untuk 6 jam pertama, kurangi dosis 1/2-nya untuk 18 jam berikutnya. Kalau tensi bagus, pasien sesak, pasang ISDN di drip saja 1 mg/jam. Kamu monitor dulu disitu, monitor ketat tanda vital, pastikan diuresis-nya adekuat. Cepat rujuk ke RS yang bisa melakukan Primary PCI.
--------
1 jam kemudian
DJ : Dok kami sudah menelepon seluruh RS (di Bandung dengan fasilitas Cath Lab) Hasan Sadikin, Sentosa, Advent, Al Islam, Immanuel, tapi ruangan ICU penuh, tindakan Primary PCI tidak bisa dikerjakan. 
SpJP: Bagaimana keadaan pasien? 
DJ: Sekarang klinis membaik dok, sesak berkurang, urine keluar 300 cc dalam 1 jam, laju nafas turun jadi sekitar 30x/menit, keluhan nyeri masih ada tapi berkurang dibandingkan tadi.
SpJP: Ok, rawat di ICU situ saja kalau begitu.
DJ: Baik dok.
--------
Subuh Buta
DJ: Dok melaporkan pasien STEMI yang baru masuk semalam, meninggal di ICU.
SpJP: Meninggal kenapa? 
DJ: Sekitar jam 3 pagi, terjadi Total AV-Blok, laju jantung turun ke 30-40x/menit,  tekanan darah turun ke 70/50 mmHg. Kami kami berikan SA 2 ampul dan siapkan drip Dopamine, tapi tidak lama terjadi kembali VT tanpa nadi, sudah dicoba dilakukan resusitasi selama sejam sesuai protokol ACLS, namun tidak tertolong.
SpJP: Bagaimana keluarganya?
DJ: Sudah dijelaskan, mereka menerima dok.
SpJP: Baik, terimakasih ya. 
--------
Kasus serangan jantung dengan oklusi total arteri koroner atau istilah medisnya; STEMI, merupakan kasus kegawat-daruratan yang cukup sering terjadi dan saat ini telah menjadi pembunuh nomer satu di Indonesia. Seseorang yang sebelumnya sehat, produktif, tidak memiliki keluhan apa-apa, bisa mendadak sakit dan meninggal dengan cepat.
Kasus ini bukan kasus fiktif, hanya saja settingnya disesuaikan dengan realitas di Indonesia. Kejadian yang sama menimpa pasien berusia 39 tahun yang hanya memiliki faktor risiko merokok di KOREA SELATAN. Tapi disana, karena hampir setiap RS di kota besar memiliki fasilitas Cath Lab yang sanggup melakukan Primary PCI maka tindakan live-saving ini dapat dikerjakan dalam waktu yang relatif cepat. Dibawah bisa dilihat adanya sumbatan pada kedua arteri koroner yang kemudian sukses dibuka melalui tindakan Primary PCI. Pasiennya tertolong tanpa komplikasi yang berarti. Kasus aslinya bisa dibaca di http://goo.gl/MeFzPD
Faktor risiko penyakit ini antara lain:
- Merokok
- Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)
- Diabetes (Kencing Manis)
- Dislipidemia (Kolesterol Tinggi)
- Kegemukan & kurang olah raga
- Usia (semakin tua semakin berisiko)
- Riwayat keluarga sedarah dengan penyakit jantung koroner / meninggal mendadak.
Diantara semua faktor risiko diatas, 5 faktor risiko yang pertama merupakan sesuatu yang bisa dicegah dan/atau dikendalikan. Diantara ke 5 faktor risiko tersebut, rokoklah yang paling banyak berperan menimbulkan kematian diusia muda.
Central for Disease Control mengatakan "Rokok merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian terbesar yang dapat dicegah di Amerika." Hal yang sama juga saya yakin terjadi di Indonesia. Kematian yang ditimbulkan oleh rokok, jauh lebih besar dibandingkan GABUNGAN kematian akibat Narkoba, HIV/AIDS, Kecelakaan Bermotor, dan banyak penyakit lainnya.
Tapi kenapa hal ini terus dibiarkan?
Rokok di Indonesia saat ini termasuk yang termurah di dunia. Jumlah perokok di Indonesia merupakan terbesar ketiga di dunia. Pria dewasa di Indonesia 67% adalah perokok, 36% penduduk Indonesia adalah perokok. Hari demi hari generasi muda Indonesia semakin banyak yang meninggal karena rokok. 
Pemerintah harus hadir melindungi rakyatnya dari bahaya rokok. Naikkan pajak dan cukai rokok 3x lipat, maka jumlah perokok akan turun hingga 1/2 nya. Penjualan rokok pasti turun tapi penghasilan pemerintah dari rokok dijamin akan naik hingga 2x lipat. Ini sudah terbukti di banyak negara.
Pemasukan hingga 2x lipat atau 160 Trilyun setahun saya rasa cukup untuk menciptakan lapangan kerja baru untuk para buruh, petani, atau pedagang rokok. Bahkan lebih dari itu, cukup untuk memperbaiki Layanan Kesehatan di Indonesia sehingga korban rokok tidak lagi "terpaksa" dibiarkan mati seperti sekarang.
Mohon share-nya sehingga pemerintah kita tergerak untuk memperbaiki keadaan. Terimakasih.
Note: ST Elevasi Miokard Infark (STEMI) adalah rusaknya bagian otot jantung secara permanen akibat insufisiensi aliran darah koroner oleh proses degeneratif maupun di pengaruhi oleh banyak faktor dengan ditandai keluhan nyeri dada, peningkatan enzim jantung dan ST elevasi pada pemeriksaan EKG