Showing posts with label kematian. Show all posts
Showing posts with label kematian. Show all posts

Wednesday, July 25, 2018

BERLATIH MATI

BERLATIH MATI
Seringnya mendapat giliran tugas menunggui mereka yang sedang menghadapi sakratul maut alias detik-detik menjelang lepasnya nyawa dari tubuh fisiknya, membuat saya banyak merenungkan  apa arti dari semua ini.
Sebuah kesempatan belajar yang langka dan tidak semua orang bisa mengalaminya.
Apa pentingnya buat saya?
Sangat penting, karena dari peristiwa itulah saya terus disadarkan bagaimana mengisi hari-hari yang saya jalani ini, agar bisa berakhir dengan penuh makna, mencapai tujuan yang diagendakan sejak sebelum saya diturunkan ke dunia, dan belajar menghargai waktu yang tersisa dengan hidup yang lebih berkualitas.
Cara orang meninggal dunia itu berbeda-beda. Kemiripannya hanya pada tanda-tanda yang menyertai sebelum maut menjemput. Wajah yang mendadak berubah, seperti bukan yang kita kenali selama ini. Pucat, bahkan putih seperti tembok. Terutama sorot mata mereka, yang sebentar kosong, sebentar gelisah, sebentar marah.
Perilaku juga berubah. Ada yang keinginannya harus dituruti betapapun anehnya. Atau membuat orang lain kesal, dan yang bersangkutan sendiri marah atau uring-uringan.
Mereka juga jadi labil secara emosi. Sedih, sering menangis tanpa tertahan lagi, takut ditinggal sendirian. Semakin mendekati waktunya, semakin gelisah menanyakan hari, tanggal atau jam.
Juga tak betah lagi mengenakan segala macam alat bantu medis yang dimaksudkan untuk membuat mereka lebih lama bertahan hidup.
Yang membedakan adalah seberapa pasrah atau seberapa besar keyakinan mereka terhadap pemeliharaan semesta, semasa hidupnya.
Kebanyakan mereka yang simpel dan lurus-lurus saja hidupnya, tak banyak kuatir memikirkan ini itu hingga detil, lebih cepat "berangkat"nya.
Tapi jika masih ada banyak ganjalan di hati dan pikirannya, seringkali mengalami kesusahan pada saat jiwanya akan lepas dari tubuhnya.
Hal ini membuat saya berpikir, bahwa untuk mati dengan mudah tanpa melalui banyak siksaan, adalah dengan melatihnya semasa kita masih hidup di dunia.
Berlatih mati?
Ya, Anda tidak salah baca, dan saya tidak sedang becanda.
Yang pertama perlu dilatih adalah soal keyakinan kita.
Yakin dan menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa segala sesuatu itu baik adanya, berujung kebaikan, dan selalu ada kebaikan walau nampaknya susah sekalipun. Ini adalah fondasi yang sangat penting ketika nyawa kita tengah berada di ujung tanduk nanti.
Kebaikan yang selalu kita yakini dan pikirkan akan membuat kita menyambut kematian dengan tersenyum dan sukacita. Putusnya nyawa dan keluarnya jiwa dari tubuh fisik kita akan lancar sama seperti ketika buang hajat besar, semakin kita rileks, akan semakin mudah, tapi semakin kita tegang, semakin susah lepas.
Latihan kedua adalah berlatih melepas.
Melepas apa saja yang selama ini kita anggap sebagai hak kita. Sadarilah bahwa kita tidak memiliki apa-apa dan tidak berhak atas apapun, termasuk memikirkan nasib orang-orang yang kita kasihi yang akan kita tinggalkan.
Itu bukan urusan dan tanggung jawab kita. Mereka adalah milik semesta dan masing-masing memiliki urusannya sendiri-sendiri dengan semesta.
Lepaskan juga segala urusan harta, kekayaan dan apapun yang masih mengikat dan menguasai kita, sejak sekarang ini, selagi kita masih hidup.
Artinya, ini adalah latihan mental agar kita tidak terus menerus kuatir dan memikirkan sesuatu yang nantinya akan kita tinggalkan.
Melepaskan juga berarti melepaskan dendam, kemarahan, kepahitan, luka batin yang masih ada.
Bersihkan mulai dari sekarang ini, hingga tak ada sisa sama sekali.
Lepaskan juga pengampunan dan berkat kepada mereka yang pernah menyakiti hati, mengkhianati, mengakali kita, seikhlas-ikhlasnya.
Latihan juga tidak berhenti di aspek spiritual dan mental saja, namun juga di aspek fisik.
Memang tubuh fisik kita nantinya akan kita tinggalkan.
Tapi lebih enak mana meninggal dengan sehat atau dengan sakit?
Berlatihlah menghormati dan menghargai tubuh kita mulai dari sekarang.
Mulai belajar mendengarkan suaranya, apa yang sebenarnya ia butuhkan, bukan apa yang kita (ego/nafsu) butuhkan.
Berikanlah apa yang tubuh inginkan sejak sekarang, agar ia tak membangkang atau menusuk di belakang pada saat kita tak berdaya lagi.
Tapi ini bukan berarti manipulasi ya.
Lakukanlah dengan ikhlas, karena mengasihi tubuh sendiri sama dengan melayani orang yang sedang sekarat.
Perlu hati-hati, cermat, penuh hormat.
Daripada nantinya tubuh kita habis dimakan obat, lebih baik memeliharanya dengan baik semasa kita masih bisa.
Berikan makanan yang sehat pada tubuh, olahraga yang cukup, sinar matahari pagi, dan air bersih yang sesuai kebutuhan.
Banyak lagi yang bisa kita latihkan untuk menyambut kematian dengan gembira dan bukan dengan air mata.
Sudah waktunya kita mengubah persepsi tentang kematian bukan lagi sebagai peristiwa dukacita tapi kemenangan yang perlu dirayakan.
Selamat merenungkan dan mulai berlatih.

Sunday, October 1, 2017

KEMATIAN PADA KASUS STEMI

KEMATIAN PADA KASUS STEMI (SEBAGIAN BESAR KARENA MEROKOK)
Sekitar jam 11 malam, ada telepon dari dokter jaga IGD sebuah RS.
Dokter Jaga (DJ): Dok lapor, ada pasien, seorang laki-laki berusia 39 tahun. Datang dengan keluhan nyeri dada saat bermain Futsal, pasien sempat pingsan kemudian langsung dibawa oleh teman-teman ke RS. Saat di IGD pasien mengeluh sesak nafas, saat di monitor pasien kembali tidak sadar,  irama VT, nadi tidak ada. Kami lakukan resusitasi sekitar 5 menit dan dilakukan defibrilasi (kejut jantung) hingga akhirnya kembali ke sirkulasi spontan.
Saat ini pasien sudah sadar, mengeluh nyeri dada dan sesak. Tekanan darah 150/90, laju jantung 110x/menit, laju nafas 40x/menit dengan dengan NRM saturasi 95%, auskultasi paru terdengar ronkhi dok. EKG tampak ada elevasi di I, II, III, V2-6. Kami diagnosis STEMI dengan edema paru. Pasien sudah kami berikan Clopidogrel 300 mg, Aspilet 160 mg, Lipitor 40 mg, Furosemide 60 mg IV. 
Dokter SpJP: Apa betul elevasi di inferior dan anterior?
DJ: Betul dok, jelas ada proses infark.
SpJP: Masih muda ya, risikonya apa?
DJ: Hanya merokok dok.
SpJP: Jadi onset berapa jam? 
DJ: 2 jam dok.
SpJP: Buat Diagnosis Kerja STEMI infero-anterior dengan komplikasi edema paru. Berikan alteplase (obat peluruh gumpalan darah) sesuai panduan STEMI.
DJ: Maaf dok, obatnya tidak ada. (Tidak ada karena tidak disediakan, harganya mahal, setidaknya 7,6 juta (harga eKatalog) sekali pemberian, sementara tarif InaCBGs tidak mencukupi untuk diberikan pasien BPJS. Kondisi ini dipastikan terjadi di seluruh Indonesia, kecuali anda siap membayar lebih)
SpJP: Ya-sudah Aspiletnya kasih lagi 160 mg, Clopidogrel 300 mg, Lipitornya tambah 40 mg, Lovenox 30 mg IV bolus, terus 2x60 mg SC. Turunkan afterloadnya kasih captopril 3x12.5 mg. Untuk mengurangi kemungkinan timbul VT lagi kasih Amiodarone 150 mg IV bolus, lanjut 1 mg/kgBB/jam untuk 6 jam pertama, kurangi dosis 1/2-nya untuk 18 jam berikutnya. Kalau tensi bagus, pasien sesak, pasang ISDN di drip saja 1 mg/jam. Kamu monitor dulu disitu, monitor ketat tanda vital, pastikan diuresis-nya adekuat. Cepat rujuk ke RS yang bisa melakukan Primary PCI.
--------
1 jam kemudian
DJ : Dok kami sudah menelepon seluruh RS (di Bandung dengan fasilitas Cath Lab) Hasan Sadikin, Sentosa, Advent, Al Islam, Immanuel, tapi ruangan ICU penuh, tindakan Primary PCI tidak bisa dikerjakan. 
SpJP: Bagaimana keadaan pasien? 
DJ: Sekarang klinis membaik dok, sesak berkurang, urine keluar 300 cc dalam 1 jam, laju nafas turun jadi sekitar 30x/menit, keluhan nyeri masih ada tapi berkurang dibandingkan tadi.
SpJP: Ok, rawat di ICU situ saja kalau begitu.
DJ: Baik dok.
--------
Subuh Buta
DJ: Dok melaporkan pasien STEMI yang baru masuk semalam, meninggal di ICU.
SpJP: Meninggal kenapa? 
DJ: Sekitar jam 3 pagi, terjadi Total AV-Blok, laju jantung turun ke 30-40x/menit,  tekanan darah turun ke 70/50 mmHg. Kami kami berikan SA 2 ampul dan siapkan drip Dopamine, tapi tidak lama terjadi kembali VT tanpa nadi, sudah dicoba dilakukan resusitasi selama sejam sesuai protokol ACLS, namun tidak tertolong.
SpJP: Bagaimana keluarganya?
DJ: Sudah dijelaskan, mereka menerima dok.
SpJP: Baik, terimakasih ya. 
--------
Kasus serangan jantung dengan oklusi total arteri koroner atau istilah medisnya; STEMI, merupakan kasus kegawat-daruratan yang cukup sering terjadi dan saat ini telah menjadi pembunuh nomer satu di Indonesia. Seseorang yang sebelumnya sehat, produktif, tidak memiliki keluhan apa-apa, bisa mendadak sakit dan meninggal dengan cepat.
Kasus ini bukan kasus fiktif, hanya saja settingnya disesuaikan dengan realitas di Indonesia. Kejadian yang sama menimpa pasien berusia 39 tahun yang hanya memiliki faktor risiko merokok di KOREA SELATAN. Tapi disana, karena hampir setiap RS di kota besar memiliki fasilitas Cath Lab yang sanggup melakukan Primary PCI maka tindakan live-saving ini dapat dikerjakan dalam waktu yang relatif cepat. Dibawah bisa dilihat adanya sumbatan pada kedua arteri koroner yang kemudian sukses dibuka melalui tindakan Primary PCI. Pasiennya tertolong tanpa komplikasi yang berarti. Kasus aslinya bisa dibaca di http://goo.gl/MeFzPD
Faktor risiko penyakit ini antara lain:
- Merokok
- Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)
- Diabetes (Kencing Manis)
- Dislipidemia (Kolesterol Tinggi)
- Kegemukan & kurang olah raga
- Usia (semakin tua semakin berisiko)
- Riwayat keluarga sedarah dengan penyakit jantung koroner / meninggal mendadak.
Diantara semua faktor risiko diatas, 5 faktor risiko yang pertama merupakan sesuatu yang bisa dicegah dan/atau dikendalikan. Diantara ke 5 faktor risiko tersebut, rokoklah yang paling banyak berperan menimbulkan kematian diusia muda.
Central for Disease Control mengatakan "Rokok merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian terbesar yang dapat dicegah di Amerika." Hal yang sama juga saya yakin terjadi di Indonesia. Kematian yang ditimbulkan oleh rokok, jauh lebih besar dibandingkan GABUNGAN kematian akibat Narkoba, HIV/AIDS, Kecelakaan Bermotor, dan banyak penyakit lainnya.
Tapi kenapa hal ini terus dibiarkan?
Rokok di Indonesia saat ini termasuk yang termurah di dunia. Jumlah perokok di Indonesia merupakan terbesar ketiga di dunia. Pria dewasa di Indonesia 67% adalah perokok, 36% penduduk Indonesia adalah perokok. Hari demi hari generasi muda Indonesia semakin banyak yang meninggal karena rokok. 
Pemerintah harus hadir melindungi rakyatnya dari bahaya rokok. Naikkan pajak dan cukai rokok 3x lipat, maka jumlah perokok akan turun hingga 1/2 nya. Penjualan rokok pasti turun tapi penghasilan pemerintah dari rokok dijamin akan naik hingga 2x lipat. Ini sudah terbukti di banyak negara.
Pemasukan hingga 2x lipat atau 160 Trilyun setahun saya rasa cukup untuk menciptakan lapangan kerja baru untuk para buruh, petani, atau pedagang rokok. Bahkan lebih dari itu, cukup untuk memperbaiki Layanan Kesehatan di Indonesia sehingga korban rokok tidak lagi "terpaksa" dibiarkan mati seperti sekarang.
Mohon share-nya sehingga pemerintah kita tergerak untuk memperbaiki keadaan. Terimakasih.
Note: ST Elevasi Miokard Infark (STEMI) adalah rusaknya bagian otot jantung secara permanen akibat insufisiensi aliran darah koroner oleh proses degeneratif maupun di pengaruhi oleh banyak faktor dengan ditandai keluhan nyeri dada, peningkatan enzim jantung dan ST elevasi pada pemeriksaan EKG