Showing posts with label sony vs samsung. Show all posts
Showing posts with label sony vs samsung. Show all posts

Thursday, October 22, 2015

PERANG ASIA ABAD KE-21; ASIAN BUSINESS WAR – Jilid 2

DEATH OF THE SAMURAI


Robohnya Sony, Panasonic, Sharp, Toshiba dan  Sanyo. Hari-hari ini, langit diatas kota Tokyo terasa begitu kelabu. Ada kegetiran yang mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang menjulang disana. Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih.
Bulan lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo bahkan harus rela menjual dirinya lantaran sudah hampir kolaps. Sharp berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi notebook-nya mungkin akan bangkrut (setelah produk televisi mereka juga mati). 
Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa kegagalan demi kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa Jepang itu? Di pagi ini, kita akan coba menelisiknya. Serbuan Samsung dan LG itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang Jepang, kedua produk Korea itu tampak seperti predator yang telah meremuk-redamkan mereka di mana-mana.
Di sisi lain, produk-produk elektronika dari China dan produk domestik dengan harga yang amat murah juga terus menggerus pasar produk Jepang. Lalu, dalam kategori digital gadgets, Apple telah membuat Sony tampak seperti robot yang bodoh dan tolol. 
What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti pecundang?
Ada tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik sebagai pelajaran.
#1. HARMONY CULTURE ERROR. 
Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan adalah kunci. Speed in decision making. Speed in product development. Speed in product launch. Dan persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek lantaran budaya mereka yang mengagung kan harmoni dan konsensus. 
Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja yang sangat mementingkan konsensus. 
Top manajemen Jepang bisa rapat berminggu-minggu sekedar untuk menemu kan konsensus mengenai produk apa yang akan diluncurkan. Dan begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo. 

Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang lamban mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi). Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal nyaris tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati : dijadikan tumbal demi menjaga “keindahan budaya harmoni”. Ouuch ...
#2. SENIORITY ERROR.
Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi adalah nafas yang terus mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel dengan budaya kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada atasan. Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya senioritas.
Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak akan menemukan Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah Rising Stars dan Young Creative Guy adalah keanehan. 
Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. Yang tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia: di perusahaan Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai pensiun adalah kelaziman. Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi? Kematian dini. Ya, dalam budaya senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati.
#3. OLD NATION ERROR.
Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan faktor kedua. Dan juga dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua. Maksudnya, lebih dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun. 

Implikasinya: mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk dalam kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua. Disini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun bekerja pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan yang berlangsung cepat
Apakah Jepang bisa menerima fakta ini? Dapatkah mereka keluar dengan terobosan inovatif untuk mengatasi masalah fundamental itu di mana keadaan Jepang berada jauh di bawah angin ... Wallahu ‘allam

Wednesday, October 21, 2015

PERANG ASIA ABAD KE-21; ASIAN BUSINESS WAR – Jilid 1

SONY VERSUS SAMSUNG


Dunia bisnis yang sangat dinamis... Sukses masa lalu bukan jaminan sukses masa depan: Ini tulisan bagus tentang Jepang vs Korea. Boleh dibilang ini adalah Perang Asia Abad ke-21. Dulu perang diartikulasikan sebagai perang senjata, yang kini menjadi perang antar korporasi dari negara-negara yang ekonominya tergolong maju. Secara spesifik tulisan ini mengulas perang korporasi Jepang Versus Korea melalui merek-merek andalan negara masing-masing.
Kisah Sony Xperia dan Lenyapnya Gairah Seksualitas
Setelah Vaio, kini Sony merencanakan juga untuk menjual divisi Sony Xperia dan divisi televisi Bravia. Vaio, Xperia dan Bravia adalah deretan brand tangguh. Duka kepiluan terasa membayang menyaksikan kejatuhan brand legendaris dari Jepang ini.
Sampai kapan Sony mampu bertahan, sebelum maut menjemputnya untuk tidur dalam keabadian? Dan apa hubungan lenyapnya gairah seksualitas dengan drama kejatuhan tragis perusahaan Sony?
Rencana Sony untuk melepas divisi smartphone Sony Xperia dan televisi Bravia (setelah menjual Vaio beberapa bulan lalu) memang terasa amat perih. Hanya bisnis Playstation yang mungkin menyelamatkan mereka. But how long can Sony survive?
Salah satu opsi yang amat pahit untuk Sony mungkin adalah ini: membiarkan ikon kebanggaan Jepang ini dicaplok dan diakuisisi oleh Samsung.
Coba lihat. Profit Samsung tahun lalu tembus Rp 250 triliun. Sony? Rugi 25 triliun. Betapa jauhnya perbedaan kinerja ini, bagaikan langit dan bumi.
Padahal 25 tahun lalu, petinggi Sony selalu tertawa sarkastis dan penuh hinaan setiap mendengar kata Samsung (dulu, saat Sony masih menjadi dewa dalam jagat elektronik dunia, dan Samsung hanyalah produsen kulkas dengan kualitas abal-abal).
Veteran pegawai Samsung berkisah, betapa sakitnya hati mereka dulu, karena sering di-bully dan dianggap anak kere oleh para manajer Sony (“Disitu kadang kami merasa sedih”, demikian pegawai Samsung itu bercerita).
Namun rasa sakit hati itu mungkin juga menjelma menjadi dendam membara. Hampir semua pegawai Samsung selalu punya tekad untuk menaklukkan dan menghancurkan Sony, suatu hari nanti.
Untuk mewujudkan tekad itu, CEO Samsung pada tahun 1995 merilis program perubahan besar-besaran (transfromasi masif) untuk meningkatkan mutu dan inovasi produk Samsung.
Slogan yang mereka usung saat itu bunyinya heroik: change everyhthing except your wife. Ubah semuanya. Ubah semua proses bisnis, perilaku dan budaya kerja. Ubah semuanya kecuali istrimu. Demi Samsung yang lebih hebat.
Kalau slogan kalian mungkin kebalikan dari slogan samsung itu. Change your wife every two years...  
Pada akhirnya, rasa sakit hati dan heroisme Samsung itu itu mendapatkan validasi. Kini revenue dan profit Samsung jauh diatas Sony. Profitnya bahkan triliunan kali lipat.
Tak terbayangkan, bahwa kini profit Samsung 250T dan Sony justru rugi 25T; dan Samsung siap mencaplok Sony. Banyak penduduk Jepang yang akan mbrebes mili jika ikon kebanggaan mereka sampai dicaplok oleh “perusahaan abal-abal” dari sebuah negeri yang dulu pernah mereka jajah.
Pelajaran dari kisah Sony mungkin ini: jangan pernah bersikap arogan dan menyepelekan calon rival. Sebab arogansi hanya akan membawamu dalam ciuman kematian. Arogansi akan pelan-pelan membuatmu terpelanting dalam kesunyian.
Samsung mungkin sebagian besar telah sukses menggilas Sony (yang dulu selalu menghinanya dengan ledekan penuh rasa jumawa).
Namun barangkali juga ada faktor lain yang lebih fundamental, dan ikut membuat Sony limbung.
THE AGING NATION
Faktor itu adalah fakta bahwa negeri Jepang adalah negeri yang menua (aging nation). Studi demografis menulis, dalam 40 tahun ke depan penduduk Jepang akan berkurang 25%. Dan kemudian 90 tahun lagi, penduduk Jepang akan lenyap hingga 60%-nya.
Ya, bangsa Jepang pelan-pelan akan punah dalam makna yang sebenar-benarnya.
Kenapa penduduk Jepang pelan-pelan punah? Karena 90% perempuan muda Jepang enggan menikah dan punya anak. Ribet dan mahal. Mereka lebih suka menjadi Jomblo Forever.
Yang lebih pahit. Penduduk Jepang yang sudah menikah juga makin kehilangan gairah seksual dengan pasangannya. Data dari Japan Family Planning menyebut, lebih dari 50% pasangan Jepang hanya melakukan hubungan seksual sebulan sekali. Bahkan banyak diantaranya yang hanya tiga bulan sekali. (disitu kadang saya merasa sedih).
Kombinasi perempuan jomblo yang enggan menikah dan punya anak, serta pasangan yang makin tidak bergairah secara seksual, membawa akibat fatal. Apa itu? Jumlah bayi baru yang lahir di Jepang kian merosot.
Apa akibat selanjutnya? Penduduk Jepang lebih didominasi oleh penduduk yang tua dan uzur. An aging nation. Negeri yang Menua.
Fenomena itu lazim juga disebut sebagai “demographic death spriral”. Negeri Jepang kian menua, dan pelan-pelan terjebak dalam spiral kematian yang membuat mereka punah.
Apa implikasi dari “gejala negeri yang menua” ini bagi perusahaan bisnis? Sama. Perusahaan-perusaaan Jepang juga kian menua. Dalam arti, pegawainya akan lebih banyak didominasi orang-orang tua (berusia 50 tahun keatas).
Bagi perusahaan seperti Sony yang bergerak di industri elektronik dan digital, fenomena itu bisa berarti petaka. Kenapa? Sebab dalam industri elektronika berbasis digital, dinamika kompetisi dan inovasinya bergerak dengan kecepatan tinggi bagaikan kilat.
Sementara jika sebuah perusahaan lebih didominasi oleh “pegawai tua yang senior”, acapkali iklim inovasi tidak bisa tumbuh dengan subur. Pegawai-pegawai yang senior (dan sudah karatan) acapkali lebih resisten dengan dengan perubahan. Pegawai yang senior juga sering punya ego tinggi, dan enggan bekerjasama dengan lainnya. “Sebab hey, gue kan sudah senior dan ratusan tahun kerja disini” ?
Negeri yang makin menua. Perusahaan dengan mayoritas pegawai yang kian uzur. Fakta ini yang boleh jadi merupakan salah satu faktor fundamental dibalik kejatuhan Sony.
Tragisnya : fenomena penuaan alamiah itu dipicu oleh kian lenyapnya gairah seksual penduduk Jepang.
Tak terbayangkan, sebuah ikon legendaris Jepang yang dulu begitu digdaya jatuh hanya dalam waktu singkat dan tragis
NASIB AMERIKA DAN EROPA
Amerika Serikat sudah mendahului kehancuran Jepang! Masih adakah raksasa consumer eletric company Westinghouse, Frigidaire, dll? Mana IBM sekarang? Ford, Chevy? Semuanya sudah menjadi sejarah! Jadi bukan hanya Sony, Sanyo, Toshiba, Hitachi.... Saja, tetapi old Establish companies semua nya tinggal kenangan!
Sebentar lagi Eropa yang mulai dibanjiri pengungsi dari Timteng yang akan beranak pinak lebih cepat dibanding orang bule, juga akan menghadapi masalah besar. Dapat diperkirakan dengan pasti bahwa gambaran populasi dunia 25 tahun kedepan semakin berubah setelah kita sudah almarhum. Tinggal anak cucu kita yang ada akan wait and see.
Exodus besar-besaran pengungsi dari Timteng dan Asia ke negara-negara Eropa dan Oz semakin jelas mempengaruhi populasi penduduk di negara-negara itu. Dalam sebuah karikatur Jerman terlihat segerombolan anak dengan kulit berwarna mengelilingi seorang anak bule dan bertanya: “Dari mana asalmu?”... Sarkastis, tapi bisa menjadi sebuah kenyataan.