Showing posts with label sri mulyani. Show all posts
Showing posts with label sri mulyani. Show all posts

Thursday, March 29, 2018

SRI MULYANI

SRI MULYANI
Pandangan Muhamad Chatib Basri tentang kenapa Sri Mulyani layak menjadi Menteri Terbaik Dunia!
Menteri terbaik dunia: Mengapa Sri Mulyani layak mendapatkan predikat itu?
Muhamad Chatib Basri Ekonom, Menteri Keuangan periode 2013-2014
Ketika mendengar bahwa Sri Mulyani mendapat penghargaan sebagai Menteri terbaik dunia di World Development Summit di Dubai, saya tak terlalu terkejut. Bahkan mungkin, menurut saya, penghargaan ini agak terlambat. Seharusnya ia memperoleh predikat itu sejak beberapa tahun lalu.
Mengapa? Banyak studi yang menunjukkan bahwa salah satu pilar utama stabilitas makroekonomi Indonesia adalah stabilitas fiskal.
Ketika Sri Mulyani kembali ke Indonesia untuk menjadi Menteri Keuangan pada tahun 2016, ia memastikan bahwa kebijakan fiskal kita kredibel. Secara berani ia memotong anggaran sekitar Rp140 triliun, untuk memastikan bahwa anggaran pemerintah realistis, kredibel dan memberikan fondasi yang kokoh bagi struktur ekonomi Indonesia.
Tentu tak semua setuju. Kebijakan ini dianggap procyclical, tidak mendorong pertumbuhan. Padahal dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang melambat, yang harus dilakukan adalah ekspansi fiskal.
Kritik ini tentu saja ada benarnya. Namun jangan dilupakan, sebelum ekspansi fiskal dapat dilakukan, harus dipastikan dulu, bahwa anggaran pemerintah berkelanjutan (sustainable). Bila tidak, itu akan membahayakan perekonomian.
Kita belajar dari pengalaman Brazil, bagaimana defisit anggaran yang tak terjaga mengakibatkan perekonomian Brazil terpuruk, terutama setelah Taper Tantrum 2013.
Kita juga belajar dari pengalaman Yunani, bahwa defisit anggaran yang dibiayai oleh utang yang terlalu besar membawa perekonomian mereka kedalam krisis.
Selain itu, tentu kita harus mencatat: bahwa defisit anggaran di Indonesia yang meningkat tajam tahun 2015-2016, lebih disebabkan oleh rendahnya realisasi penerimaan pajak, akibat target pajak yang terlalu tinggi. Dan ini menggoyahkan kepercayaan orang kepada fondasi makroekonomi kita.
Sri Mulyani mengembalikan keberhati-hatian fiskal (fiscal prudence).
Saya ingat, dalam sebuah diskusi informal dengan Sri Mulyani, saya mengatakan beruntung sekali langkah itu diambil sebelum Trump menjalankan kebijakan pemotongan pajaknya dan sebelum the Fed merencanakan untuk mempercepat kenaikan bunga. Bila tidak, kekuatiran akan fiskal yang tak kredibel akan mendorong arus modal keluar jauh lebih besar dibanding beberapa waktu lalu.
Tentu kita harus mencatat: ke depan kebijakan fiskal harus bergerak lebih dari sekedar penopang stabilitas makro, itu harus menjadi instrumen  countercyclical dalam perekonomian. Namun ia membutuhkan tahapan.
Kita sudah mulai melihat arah itu sekarang. Pertumbuhan ekonomi 2018 berpeluang untuk tumbuh lebih baik dibanding tahun 2017. Fondasi makro yang baik membantu hal ini.
Kebijakan fiskal procyclical adalah saat pemerintah memilih untuk meningkatkan belanja negara dan mengurangi pajak ketika ekonomi sedang baik, namun mengurangi belanja dan meningkatkan pajak saat resesi.
Sebaliknya, kebijakan fiskal countercyclical, pemerintah mengurangi belanja dan meningkatkan pajak selama ekonomi sedang baik, dan mengurangi belanja dan memotong pajak selama resesi.
Mungkin karena hal ini, Sri Mulyani pantas dinobatkan sebagai menteri terbaik dunia versi World Government Summit.
Namun bagi saya, Sri Mulyani melangkah lebih jauh dari itu.
Ia tak hanya melakukan tugas utama Menteri Keuangan: memastikan kesinambungan fiskal dan menggunakan fiskal sebagai instrumen untuk pertumbuhan, stabilitas dan alokasi anggaran untuk mencapai target pembangunan seperti mengurangi kemiskinan, perbaikan kesehatan, pendidikan dan infrastruktur.
Sri Mulyani bergerak lebih jauh. Dan hal ini dilakukannya jauh sebelum ia mendapatkan penghargaan ini.
Bagi saya kontribusi yang luar biasa dari Sri Mulyani adalah pembangunan institusi di Kementerian Keuangan. Sayangnya tak banyak media lokal atau studi di Indonesia dibuat tentang ini.
Tahun 2015 saat saya menjadi Senior Fellow di Harvard Kennedy School, saya diundang oleh Princeton University untuk memberikan ceramah tentang Taper Tantrum. Tetapi yang menarik adalah mereka meminta saya juga untuk menjadi pengajar tamu disalah satu kelas dan membagi pengalaman reformasi di Kementeri Keuangan.
Princeton University memang menulis sebuah studi kasus tentang reformasi di Kementerian Keuangan berjudul: Changing a Civil Service Culture: Reforming Indonesia Ministry of Finance: 2006-2010
Saya cukup beruntung karena terlibat didalam proses reformasi itu, sebagai Staf Khusus Menteri Keuangan ketika itu. Bagi saya, ini adalah kontribusi Sri Mulyani yang luar biasa.
Mereka yang memiliki interaksi yang cukup intens dengan Kementerian Keuangan akan melihat perbedaan yang fundamental sebelum dan sesudah tahun 2006.
Sri Mulyani bergerak lebih jauh dari memastikan kesinambungan fiskal.
Pembenahan institusi dilakukan secara menyeluruh. Ditata dengan sabar, tidak mudah. Termasuk upaya pemberantasan korupsi di bea cukai dan pajak. Masih jauh dari sempurna, namu upaya perbaikan dilakukan. Upaya pelayanan ditingkatkan. Tentu, hasilnya belum sepenuhnya memuaskan.
Bahkan di banyak sisi kita masih melihat berbagai kelemahan. Namun kita memang melihat Kementerian Keuangan yang berbeda setelah reformasi institusi dimulai pada tahun 2006.
Saya menyaksikan bagaimana proses reformasi institusi dilakukan dengan gigih. Tak mudah, kadang menimbulkan rasa frustrasi. Kerap kali Sri Mulyani juga tersulut emosinya.
Ketika saya menjadi Menteri Keuangan di periode 2013-2014, proses ini dilanjutkan, dan saya merasakan bahwa tugas Menteri Keuangan menjadi lebih mudah, karena -- walau masih jauh dari sempurna -- Kementerian Keuangan sudah memiliki sistem yang lebih baik dalam hal standar, prosedur, evaluasi kinerja dan sebagainya.
Tak heran bagi saya bila pada tahun 2016 Princeton University merilis studi kasus Kementerian Keuangan.
Karena itu saya tak terkejut ketika membaca rilis resmi tanggal 11 Februari 2018 dari Sri Mulyani: "Berbagai upaya reformasi kebijakan telah dicanangkan di Kementerian Keuangan, bertujuan untuk mendorong kebijakan fiskal menuju pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Reformasi birokasi di Kementerian Keuangan juga sudah membuahkan banyak hasil."
Sri Mulyani benar. Itu sebabnya saya mengatakan bahwa ia berhak mendapat penghargaan itu sejak beberapa tahun lalu.
Tentu, keberhasilan ini, bukanlah keberhasilan individu. Seperti yang dikatakan Sri Mulyani, ia cukup rendah hati untuk mengatakan bahwa ini adalah keberhasilan kolektif, dan tentunya pengakuan akan keberhasilan Indonesia, seperti yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo.
Kontribusi Sri Mulyani yang luar biasa adalah membenahi institusi Kementerian Keuangan.
Saya mengenal Sri Mulyani cukup lama. Satu hal yang tak pernah saya lupakan adalah pengalaman kami di G-20. Saya ringkaskan sedikit disini.
Dalam pertemuan G-20 di Pittsburgh, Presiden Obama meminta Indonesia untuk membagikan pengalamannya dalam menurunkan subsidi BBM. Kita ingat pada tahun 2005 dan 2008, Indonesia menaikkan harga BBM dan mengalokasikan subsidinya untuk rakyat miskin melalui program BLT.
Mungkin aneh bagi sebagian diantara kita, mengapa kebijakan yang di dalam negeri dicaci maki habis-habisan, justru dianggap cerita sukses dan patut contoh oleh negara-negara anggota G-20.
Siang itu, Presiden Yudhoyono sudah siap untuk memberikan paparannya. Sayangnya, waktu sangat terbatas, sehingga Presiden SBY tak jadi bicara.
Tentu kami semua -- saya ingat yang ada di ruang pertemuan itu adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani, juru bicara Presiden Dino Djajal, Mahendra Siregar dan saya sebagai Deputi Menteri Keuangan untuk G-20 -- merasa amat kecewa.
Kami berusaha meminta keterangan dari delegasi Amerika Serikat, tapi jawabannya tak memuaskan karena yang memimpin sesi itu adalah Obama sendiri. Mereka tentu tak berani menanyakan kepada Obama.
Saya ingat Sri Mulyani setengah berbisik kemudian mengatakan, "Sepertinya saya mesti ngomong langsung dengan Obama kalau begini". Saya kira dia bergurau. Tetapi kemudian saya sadar, Sri Mulyani serius dengan ucapannya.
Ia menghampiri Presiden Obama yang baru memasuki ruangan setelah jeda makan siang. Mereka berbicara berdua. Saya kebetulan berada kurang lebih dua meter di belakang Sri Mulyani, sehingga saya mendengar percakapan diantara mereka.
Dengan terus terang -- khas Sri Mulyani -- ia menyampakan kekecewaannya. Ia mengatakan bahwa Presiden Obama sudah meminta Indonesia untuk memberikan pidato, tetapi waktunya habis. Karena itu ia meminta Presiden Obama menyampaikan maaf kepada Presiden SBY dan memberikan kesempatan di sesi berikutnya.
Saya terkejut.
Presiden Obama -- saya kutip dari ingatan -- tersenyum dan mengatakan, "Itu kesalahan saya, saya minta maaf, saya akan berikan kesempatan di sesi berikutnya." Setelah itu saya lihat Presiden Obama menghampiri Presiden SBY dan berbicara berdua.
Dan di sesi berikutnya, Presiden Obama meminta maaf secara terbuka, dan meminta Presiden SBY untuk menyampaikan pidatonya.
Sri Mulyani kelihatan tersenyum. Sambil bercanda kami mengatakan kepada Sri Mulyani: sebetulnya ia lebih cocok menjadi Menteri Pertahanan ketimbang Menteri Keuangan!
Ini adalah anekdot kecil tentang Sri Mulyani. Tentu bukan karena itu, ia dinobatkan sebagai Menteri terbaik dunia oleh World Development Summit.
Bagi saya reformasi kelembagaanlah kontribusinya yang luar biasa. Hal ini persis seperti yang kita lihat sebagai salah satu agenda utama Presiden Joko Widodo untuk memperbaiki ease of doing business (kemudahan melakukan usaha): mempermudah perijinan, menghapus regulasi yang berbelit.

Reformasi inilah yang akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Selamat!

Saturday, August 3, 2013

SRI MULYANI, APA KHABAR BU?

HABISLAH ORANG PANDAI INDONESIA
(Tulisan ini saya buat 3 tahun silam, 21 Mei 2010)


Nasib Sri Mulyani sebagai orang pintar dan berprestasi di negeri ini sungguh memprihatinkan. Ia dipercaya, ditunjuk, dan diangkat untuk memegang amanah sebagai pengatur keuangan negeri ini. Dan saya yakin sebagian besar masyarakat Indonesia telah merasakan hasil kinerja beliau dengan tidak terpuruknya Indonesia dalam krisis ekonomi dunia jilid 2.

Tapi kita sama-sama tahu bahwa ada segelintir orang yang mengatas-namakan rakyat Indonesia menjadikannya bulan-bulanan, dikuyo-kuyo dalam kasus Century dan akhirnya menyudutkannya sebagai pesakitan dan dianggap bertanggung jawab atas bail out bank bobrok itu dengan menggelontorkan 6,7 trilyun rupiah.

Selanjutnya kita sama-sama tahu apa yang terjadi. Sri Mulyani hengkang diganti Agus Marto. Kita kehilangan ....again and again... orang pintar yang sejatinya bisa memajukan bangsa dan negara yang kita cintai ini.

Dalam suatu sistim manajemen, tak mungkin keputusan seorang eksekutif yang menyangkut dana yang besar tidak diketahui sang atasan, si chief executive. Dalam perusahaan, seorang chief executive pasti menjadi final decision maker jika menyangkut pengeluaran uang yang strategis sifatnya. Bukankah tugas dan tanggung jawab seorang presiden sebagai kepala eksekutif pemerintahan identik dengan CEO sebuah perusahaan?  Mengapa kita tidak melihat presiden membela Sri Mulyani?

Begitukah bangsa besar ini mengapresiasi anak bangsa yang pandai, berprestasi, outstanding, menegakkan kebenaran, berpegang pada prinsip, jujur dan teguh memegang amanah ini? Saya merasa terusik atas drama yang saya saksikan di media massa. Terusik karena ada pembiaran orang menzalimi orang lain demi kepentingan sekolompok orang yang pegang kekuasaan atau punya kartu truf untuk memenangkan permainan politik yang kotor dan keji.

Di mana kau Pak presiden? ...... di saat bawahan merintih dan bernapas sesak di bawah tekanan kezaliman kepentingan kekuasaan? Ya...di mana kau...saat  Bapak sebenarnya bisa, tapi tidak mau menggunakan kekuasaan Bapak untuk beramal saleh dan ber-nahi mungkar? Lupakah Bapak bahwa sebagian besar rakyat Indonesia memilih Bapak karena percaya bahwa Bapak adalah pemimpin yang bisa mengatasi carut marut, ke tidak tertiban di negeri ini? Termasuk carut marut hukum beserta para penegaknya.

Kenapa Bapak tidak berani garang pada saat Bapak harus menggunakan kegarangan? Sungguh saya terusik dan kecewa pada kepemimpinan Bapak yang tidak membela bawahan yang Bapak bilang sendiri adalah orang yang berdedikasi, pintar dan berprestasi.....    Sungguh sebuah kepemimpinan yang lemah yang telah Bapak pertunjukkan.....

Saya juga menyaksikan di media TV betapa banyak orang pintar Indonesia tidak bermanfaat dalam memajukkan bangsa ini dan memilih berkerja untuk bangsa lain, karena berbagai alasan. Yang paling dirasakan karena tidak adanya apresiasi untuk orang pintar. Berbagai perangkat sistim di Indonesia tidak mendukung peranan orang pintar dalam kemajuan bangsa. Amat sering kita lihat bagaimana orang pintar justru dipinggirkan, karena tidak memiliki satu jenis kepintaran yang diperlukan untuk survive dalam negeri ini, yaitu berkompromi dan bernegosiasi kepentingan....  

Namun saya masih optimis bahwa ini bisa diperbaiki, di mana kita akan melihat orang yang benar-benar pintar dan jujur berperan besar dalam memacu kemajuan bangsa ini. Mengalahkan mereka yang sarat kepentingan kekuasaan dan uang. Semoga hal ini bisa kita saksikan dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama. Pak presiden masih ada waktu sekitar 4 tahun lagi untuk mengkoreksi diri dan bangsa ini dengan belajar dari kasus Sri Mulyani ini.

Jangan sampai justru karena kasus ini tidak ada lagi orang yang pantang berdedikasi demi negeri ini. Jangan ada menteri yang takut-takut melakukan langkah yang tidak popluler tapi perlu. Jangan ada menteri dan pejabat yang jadi safe player, ndak berani kepentok. Untuk Pak Agus Marto, sampean jangan seperti itu  ya. Jangan sampai anda melakukan sesuatu yang tadinya pantang dilakukan Sri Mulyani (WALAUPUN BELAKANGAN DITENGARAI OLEH KPK AKAN TERKUAK BAHWASANYA SRI MULYANI BERADA DALAM TEKANAN KEKUASAAN SAAT MENGAMBIL KEPUTUSAN) dalam kapasitasnya sebagai menkeu saat kemarin.

Sungguh saya ingin meilhat bangsa ini bermartabat dan dikenal karena orang-orangnya yang pintar dan jujur....very simple toughts bukan? Sama sekali tidak berlebihan menurut saya. Bekasi, 21 Mei 2010 (3 TAHUN YANG LALU) …. Mari kita tunggu kelanjutan nasib Sri Mulyani dan Kasus Bank Century …