Showing posts with label system. Show all posts
Showing posts with label system. Show all posts

Sunday, October 21, 2018

KULIAH SALAH JURUSAN

KULIAH SALAH JURUSAN
Dari Pambudi, temen BPPT and ex HR Chief Tsel..
HELPING YOUR CHILDREN TO BUILD THEIR FUTURE
Dua hari yang lalu, saya berada di Singapore. Dan saya berkesempatan untuk minum kopi bersama seorang sahabat saya, yang menjadi profesor di sebuah Universitas terkemuka di Singapore.
Sebut saja namanya Henry. Kami janjian ketemu di Le Paul di Takashimaya. Kebetulan saya lagi kangen makanan Perancis.
Dan mulailah kami ngobrol sana sini, tentang disruption, tentang dunia pendidikan, tentang reward system untuk innovation program ...etc ...etc.
Sampai tiba-tiba Henry bertanya, ”Pam, anakku baru kelas 1 SMA dan dia bertanya, sebaiknya nanti dia kuliah apa ya?”
I said,”Why you asked me this question? You are the one who is a professor in a famous university!”
Henry meneruskan,”Well, Pam tahu kan, kadang-kadang apa yang dihasilkan dunia pendidikan dan yang dibutuhkan oleh industry bisa berbeda.
I want to make sure that my daughter will be in the right path.
Apalagi dengan era disruption sekarang, begitu banyak pekerjaan yang akan hilang!
Terus anak saya harus kuliah apa dong!”
Good question! 
Tetapi, apakah pertanyaan itu perlu ditanyakan? Bukankah pada akhirnya nanti kita semua akan menjadi HIMASALJU ? (Himpunan Mahasiswa Salah Jurusan?)
Ijasah temen saya Teknik Kimia, sekarang jadi CEO bank.
Ijasah saya Computer Engineering, jadi HR Director, dan saya punya teman lulusan Kedokteran Umum yang menjadi dosen dan konsultan management.
So what?
The most important thing will be your agility, kemampuan mempelajari hal hal yang baru.
Suatu saat saya membantu client saya merekrut Telco Troubleshooting engineer di Jepang.
Dan yang mendaftar adalah seorang dokter (lulusan Kedokteran Umum).
Dan saya tanya dia,”Ngapain dokter mendaftar sebagai Telecom engineer?”
Dan dia menjawab ,”Saya sudah belajar untuk troubleshoot tubuh manusia, kalau anda kasih saya buku petunjuk-nya Mobile Switching Center, saya akan pelajari dan saya akan troubleshoot your MSC!”
Voila, anything can be learned. Selama anda mau belajar dan bekerja keras di field yang baru!
Henry meneruskan,”Tapi kan bukan berarti kita kuliah sembarang jurusan kan Pam? Memang ada banker yang dari Akunting atau Teknik Kimia. Tapi kan gak ada banker yang dari jurusan seni rupa atau seni tari kan?”
Ok, ok, setuju!
Jadi gimana?
Ok, lets make it very simple.
Kuliah apapun, jurusan apapun, di universitas apapun, tidak akan ada yang bisa membekali anda dengan kemampuan yang membuat anda “siap kerja!”.
Di perusahaan anda nanti, anda masih harus di training lagi agar anda siap melakukan pekerjaan anda!
Makanya yang penting adalah agility, kemampuan anda mempelajari hal hal baru (seberapa cepat anda mampu absorb pengetahuan baru dan menerakannya).
Nah di situlah kita tetap perlu belajar tentang :
- logical thinking
- system thinking
- analytical skills
- big picture thinking
karena , in the end of the day, kita memang akan mempelajari sebuah “system” dan menganalisa bagaimana “system” itu akan interract dan interlink dengan yang lain.
Terserah apapun sistemnya.
Bisa banking system, supply chain, manufacturing atau apapun. Tetapi in the end of the day this is what you will do, mempelajari2 sebuah “system” dan menganalisa bagaimana “system” itu akan interract dan interlink dengan yang lain!
Itulah mengapa seorang lulusan Teknik Kimia bisa menjadi CEO bank, karena di Teknik Kimia mereka mempelajari “proses”, jadi mereka bisa menerapkan knowledge mereka tentang “proses” ke banking system.
Kalau orang-orang yang masih  bermental “jadoel” gak akan ngerti itu, dan mereka akan komentar seperti ini
- Ngapain lulusan Kimia ke bank?
- Kasihan amat, kuliah 5 tahun gak dipakai ilmunya?
- Kok kerjanya bisa kesasar  begitu?
Orang-orang yang bermental begitu masih terjebak dalam paradigma lama, dan masih berfikiran dengan pola “mesin uapnya James Watt. Padahal kita sekarang sudah masuk jaman Industrial 4.0, bayangin telat berapa generasi tuh orang !
Ok, sekarang kita kembali ke Henry, apa yang harus Henry lakukan untuk memberikan advice yang tepat pada anaknya ....
Kita coba beberap langkah di bawah ini ...
a) Find their passion
Pertama kali, cari passion mereka apa. Ingat orang yang mengerjakan sesuatu sesuai dengan passionnya akan perform lebih bagus. 
Lihat, mata pelajaran apa yang nilainya lebih bagus.
Dan tanyakan 2-3 mata pelajaran yang dia paling sukai.
b) Help them draw their dream
Nah, kemudian tanyakan cita-cita hidupnya apa.
Bidang apa yang akan dia sukai
Ingat, you are helping them to build their own dream and not yours!
c) Help your children to choose one field with their passions and connect to their dream
Help them to connect the dots. Usahakan agar apa yang mereka sukai akan nyambung dengan apa yang mereka ingin kerjakan di masa depan.
Jadi lihatlah apakah anak anda:
- Hobby berkutat dengan mobil-mobilan dan gadget electronic?
- Berkomunikasi dan Berinteraksi dengan orang?
- Lebih banyak fokus di kegiatan fisik dan olahraga?
- Bekerja sendiri dan berkreasi?
Observasi anda akan membantu anda mengarahkan bidang apa yang akan dipelajari mereka di bangku kuliah.
Berdasarkan pengamatan tentang apa yang mereka sukai, bidang apa nilai mereka lebih bagus dan cita-cita yang ingin mereka capai, arahkan mereka ke jurusan yang akan mereka pilih.
Dont worry too much. Jurusan itu bukan membuat mereka terpaku seumur hidup mereka, masih banyak kemungkinan bahwa mereka akan bekerja  di bidang yang (sealah-olah) tidak ada hubungannya.
Jadi paradigmanya bukanlah “saya akan menjadi insinyur kimia yang baik”, tetapi paradigma sekarang adalah,”Saya akan belajar system and design thinking, dan saya memghunakan kasus-kasus di jurusan teknik kimia sebagai simulasi untuk memecahkan permasalahan !”
d) They have to build the emotional and social intelligence
Sampaikan bahwa selain kuliah, mereka juga harus belajar tentang leadership dan teamwork.
Intinya bagaimana mengendalikn emosi sendiri dan bagaimana mereka memahami orang lain.
Hal ini bisa dipupuk dengan seringkali mengikuti kegiatan organisasi di kampus, senat, kegiatan kemahasiswaan, atau apapun yang membuat mereka berhubungan dengan orang-orang lain yang akan melatih social skills mereka.
Suatu saat nanti mereka akan mengerti bahwa kemampuan  mereka dalam teamworking dan leaderahip ternyata akan sama pentingnya dengan kemampuan akademis mereka!
e) Tell them to build their agility
Last but not least, tell them to build agility, by learning something new every time.
Dunia akan berubah begitu cepat, mereka juga harus  belajar dengan irama yang lebih cepat lagi.
Untuk melatih itu mereka harus selalu mempelajari sesuatu yang baru.
Apa yang bisa mereka pelajari?
Anything! Bahasa asing, memasak, berkuda, olahraga baru, menggambar, ...etc.
It does  not matter WHAT they learn. What matters is HOW they continuously stimulate their brain to learn something new and to puck up new knowledge/skills.
This will be very useful in the future.
Jadi ingat, untuk lebih mempersiapkan anak-anak anda untuk masa depan mereka, lalukan kelima langkah di bawah ini:
a) Find their passion
b) Help them draw their dream
c) Help your children to choose one field with their passions and connect to their dream
d) They have to Build the emotional and social intelligence
e) Tell them to build their agility
Salam hangat
Pambudi Sunarsihanto
(sekarang jadi VP HR di AQUA)

Thursday, May 24, 2018

REPRESENTATIONAL SYSTEM

REPRESENTATIONAL SYSTEM 
"Eh, gua mah ga bisa lho kalau diminta ngebayangin sesuatu, secara gua khan bukan orang visual" 
"Ayahbunda yang berbahagia, jangan paksa ananda belajar seperti dulu ayahbunda belajar, karena belum tentu tipe ananda sama dengan ayahbunda. Kalau dulu ayahbunda senang mendengar musik, itu menandakan ayahbunda orang auditori. Jika ananda senang belajar sambil bergerak, biarkan saja, karena itu tandanya dia adalah anak kinestetik" 
Sidang Pembaca yang berbahagia, pernahkah Anda mendengar statement seperti kalimat di atas? Pernah? Atau malah statement tersebut keluar dari mulut Anda sendiri? 
Kalau iya, emang kenapa? Apa hak Anda bertanya seperti itu? 
Nah, maka dari itu kita perlu mengkaji ulang pemahaman yang selama ini sudah kita yakini. 
***
'SISTEM RE-PRESENTASIONAL' 
Manusia menangkap informasi dari dunia eksternal melalui lima inderanya:
 - Visual (penglihatan), 
 - Auditory (pendengaran), 
 - Kinesthetic (perasa), 
 - Olfactory (pembauan) dan 
 - Gustatory (pengecap). 
Dan semua informasi tadi akan di-presentasi-kan ulang di dalam pikiran dalam bentuk sesuai dengan indera yang menerimanya.  Informasi tadi entah  berbentuk visual yang bisa dipahami atau bisa disimpulkan sebagai sesuatu, atau bentuk kata-kata yang punya makna tertentu, dll.
Ketika kualitas dan kuantitas stimulus terhadap indera tadi berbeda, berbeda pula pengalaman yang terjadi, dan konsekuensi logisnya,  akan berbeda pula 'state' (kondisi pikiran/perasaan) yang muncul. 
Berbagai perilaku dan perasaan kita terhadap sesuatu atau seseorang, dipengaruhi bagaimana kita merepresentasikan sesuatu atau seseorang di pikiran kita. Berarti, apabila kita mengubah representasi kita terhadap sesuatu atau seseorang, sikap kita pun akan ikut berubah.
Di antara pintu gerbang informasi yang 5 tadi, setiap manusia memiliki kecenderungan yang berbeda (dominan) ketika menerima informasi. Kecenderungan inilah yang disebut sebagai 'Sistem Preferensi' (disebut juga Primary System). Karena jarang digunakan secara terpisah untuk membangun representasional internal, maka Olfactory dan Gustatory sering dilebur ke dalam sistem kinestetik sebagai sensasi rasa. 
Jadi dalam pembelajaran Sistem Representasional selanjutnya kita hanya akan membahas 3 preferensi saja, yaitu:
1. Preferensi Visual
2. Preferensi Auditori
3. Preferensi Kinestetik
Kenapa kok istilahnya adalah preferensi yang memiliki kata dasar 'prefer', yang maknanya adalah 'lebih menyukai'
Ya karena pada dasarnya setiap manusia memiliki ketiga (baca ke-5) sistem representasi tersebut, hanya dalam penggunaan hariannya, manusia memilih untuk dominan dalam menggunakan salah satunya sahaja. 
Kenapa pula demikian? Ya karena mereka lebih suka menggunakan salah satu dari Reps System tadi. 
Dan kenapa pula mereka lebih suka salah satunya? Ho ho ho, kalau masalah satu ini, Anda tidak berhak mempertanyakannya. Tanya saja kepada rumput yang bergoyang, hehehe.
Dari uraian sederhana ini, maka satu hal yang selama ini kita yakini perlu diperbaharui, yaitu tidak ada orang bertipe visual, auditori, maupun kinestetik!
Yang ada adalah orang dengan preferensi visual, preferensi auditori dan preferensi kinestetik.
***
'Cara Mengetahui Preferensi' 
Kita dapat mengetahui sistem preferensi seseorang melalui 3 cara, yaitu:
1. LINGUISTIK 
Dalam linguistik sendiri kita masih bisa melihatnya dari 2 segmen:
A. Cek predikat yang sering digunakan:
a. Visual: melukiskan, membayangkan, melihat, cerah, kabur, … dll.
b. Auditori: suara, membisikkan, teriakan, merdu, mendengar,  dll.
c. Kinestetik: halus, hangat, panas,  menggenggam, merasa, wangi, harum
pahit, kecut, mencicipi… dll
B. Cek intonasi saat mereka berbicara:
a. Visual: bicaranya cepat; karena mereka berusaha mengejar gambar yang ada dalam pikiran mereka
b. Auditori: berbicara dengan intonasi berirama; karena telinga mereka menikmati irama tersebut
c. Kinestetik: bicaranya lambat; karena setiap kata akan memunculkan sensasi tersendiri di dalam diri mereka
2. BODY LANGUAGE 
Cek gerakan tubuh seseorang ketika berkomunikasi dengan Anda
a. Visual: cenderung mengambil jarak; karena mereka ingin melihat gambaran besar dari lawan bicara mereka. Gerakan tangan mereka cepat, dinamis, dan terstruktur.
b. Auditori: mendekat saat berkomunikasi; karena mereka perlu mendengar dengan lebih jelas setiap kata yang meluncur dari kawan bicara mereka. Gerakan tangan mengikuti irama bicaranya.
c. Kinestetik: kerap kali melakukan kontak fisik, sentuhan-sentuhan kecil; karena dengan cara inilah mereka mendapatkan informasi lebih jelas. Gerakan tangan mereka cenderung lambat
3. EYE MOVEMENT 
Cek kemana arah bola mata ketika mereka mengucapkan kata atau kalimat tertentu. Perhatikan dengan seksama ke arah mana bola mata tersebut bergerak paling dominan.
a. Visual: ke atas, ke kiri atau kanan
b.Auditori: mendatar, ke kiri atau kanan
c. Kinestetik: ke bawah, ke kiri atau kanan.
Setelah melakukan cek pada ketiga aspek di atas, lakukanlah kalibrasi.
Jika ketiga aspek menunjukkan kecenderungan V, maka dipastikan orang tersebut memiliki preferensi Visual. Demikian juga ketika terdapat 2 aspek yang sama, maka itulah preferensinya. Misal si Fulan, aspek Linguistiknya (L) V, Body Language (BL) V,  sementara Eye Movement (EM)  A, maka preferensi Fulan adalah V. Si Anu, L-nya K, BL-nya V, EM-nya K, maka preferensi Anu adalah K. 
Bagaimana jika ketiga aspeknya menunjukkan hal yang berbeda. Contoh, si Inu, L-nya A, BL-nya K, EM-nya V? Ditilik dari jaraknya dengan otak  yang mengatur subconscious mind, dan mata adalah aspek dengan lokasi paling dekat, maka aspek inilah yang paling akurat dan jauh dari bias. 
Mulut bisa dilatih untuk berbohong, bahasa tubuh juga bisa dibiasakan dengan kondisi yang diharapkan, namun mata tak pernah ingkar janji. Dengan demikian kita bisa menentukan bahwa preferensi Inu adalah V. 
Sekali lagi saya tandaskan, ini adalah preferensi, bukan absolut.
 ***
'Manfaat Preferensi' 
Sidang Pembaca yang berbahagia, ternyata penting juga ya bagi kita memahami preferensi ini. Kalau begitu, apa saja sih manfaatnya? 
1. Untuk Diri Sendiri
Manfaat mengetahui preferensi tentunya untuk pemberdayaan diri kita sendiri dulu. 
Dengan menyadari konsep ini maka tidak akan ada lagi ujaran seperti contoh pertama di atas, yang alih-alih memberdayakan justru memperdayakan. Mengacu pada satu presuposisi yaitu semua orang sudah memiliki sumber daya untuk sukses, yang perlu dilakukan hanyalah mengenali, memperkuat dan mengurutkan, maka ketika kita merasa tidak visualpun, sebenarnya kemampuan visual itu tetap kita miliki. Pertanyaannya adalah, sudahkan kita mengenalinya, atau bahkan memperkuatnya. Kalau demi pencapaian sebuah goal, tentunya tidak ada lagi istilah prefer atau tidak. Suka tidak suka, sebenarnya kita mampu kok mengenali dan memperkuatnya. 
Contoh sederhana lain, bagi kita yang 'right handed' alias tidak kidal, maka kita akan melakukan banyak hal menggunakan tangan kanan. Menulis, makan, menyikat gigi, menggunting, membubuhkan tanda tangan dll dengan mudah akan kita lakukan. Kita sadar bahwa kita juga memiliki tangan kiri, namun atas dasar banyak pertimbangan (salah satunya adalah moral dan agama) maka penggunaan tangan kiri sebatas pada istinja'. Mungkinkah suatu saat kita membutuhkan tangan kiri lebih dari sekedar untuk urusan bebersih diri tadi? Sangat mungkin! 
Bayangkan saja ketika tangan kanan Anda mengalami celaka sehingga mesti diperban, maka kemampuannya otomatis akan menurun bahkan lenyap. Saat itulah, prefer or not, Anda akan mengenali tangan kiri Anda, menguatkan dan mulai menggunakannya. 
2. Untuk Melakukan Pacing
Kegunaan lain mengenal preferensi adalah untuk melakukan pacing kepada orang lain. Dengan memahami ketiga aspek penentu preferensi di atas (L, BL, EM) maka agar mendapatkan trust dari kawan bicara, kita bisa melakukan mirroring dan matching. Dan hal ini akan sangat bermanfaat dalam selling, coaching, parenting maupun teaching. 
***
'Learning STYLE' 
Sidang Pembaca yang berbahagia, tahukah Anda bahwa sistem preferensi ini erat kaitannya dengan cara belajar seseorang. Setiap preferensi memiliki gaya belajarnya masing-masing. 
Karena gerbang masuknya informasi memang telah dipilih oleh masing-masing preferensi, maka ketika seseorang menggunakan gerbang yang paling disukainya, informasi yang tercerap akan lebih banyak, sehingga map yang terbentuk juga lebih lengkap. Berikut saya kutip dari materi pelatihan Kang Surya Kresnanda mengenai cara memfasilitasi pembelajaran masing-masing preferensi:
A. Visual
- Gunakan gambar, video dan media peraga
- Puaskan dengan warna (tapi jangan berlebihan) 
- Gunakan predikat visual 
- Optimalkan bahasa tubuh untuk menunjuk dan menggambar
- Atur jarak menjauh agar mereka bisa melihat lebih banyak 
B. Auditori
- Perbanyak menjelaskan, atau beri mereka kesempatan untuk menjelaskan ulang
- Gunakan predikat auditori
- Perdekat jarak agar mereka bisa mendengar lebih jelas 
- Atur intonasi mendayu dan gerak tubuh yang menyesuaikan suaranya
C. Kinestetik
- Ijinkan mereka menyentuh dan meraba seperlunya
- Gunakan alat peraga 3 dimensi.
- Gunakan predikat kinestetik
- Atur intonasi lambat dan dalam
- Gunakan bahasa tubuh lambat
- Sentuh seperlunya (dan sopan) 
Oo ternyata itu to maksud dan manfaat Reps System? Kalau begitu ujaran kedua tadi itu benar atau salah?
***
Sidang Pembaca yang berbahagia, bukan salah namun perlu diluruskan pada judgement VAK, menjadi preferensi VAK. Dan meskipun kita sudah paham mengenai sistem preferensi serta gaya belajar masing-masing preferensi, namun ketika kondisinya hanya mendukung pada pemenuhan salah satu preferensi saja, atau terdapat hal yang tidak ekologis, ya perkuat saja sistem preferensi lain yang masih memungkinkan.
Contoh seorang anak dengan preferensi kinestetik sedang bermain di taman kaktus, apakah akan kita biarkan dia menyentuh kaktusnya? Tentu tidak bukan? Ajarkan saja dia dengan apa yang dia lihat, karena di dalam dirinya toh juga terdapat kemampuan visualnya. 
Karena adanya Bandler dan Grinder menciptakan NLP (Neuro Linguistic Programming) adalah untuk memudahkan hidup kita. Jangan karena terjebak oleh teknik atau dikotomi metodologinya, justru kita mengabaikan sisi ekologis sekitar kita, sehingga hidup kita makin susyah gegara eN eL Peh. 
Sila tebar jika manfaat

Tabik 
-haridewa-
Happiness Life Coach