Showing posts with label Freeport. Show all posts
Showing posts with label Freeport. Show all posts

Friday, December 3, 2021

SEJARAH KELAM INDONESIA

Fakta Sejarah Yang Harus Diketahui OIeh Seluruh Rakyat Indonesia, Bagikan Kepada Keluarga Dan Teman Anda Yang Cinta Akan Indonesia.

https://jokowi.topsekali.com/2021/10/fakta-sejarah-yang-harus-diketahui-oieh.html

Inti pergantian kekuasaan dari Bung Karno ke Suharto adalah berubahnya prinsip pembangunan ekonomi Indonesia, dari kemandirian menjadi ketergantungan. Mei 1966, Suharto mengumumkan kita Indonesia menggandeng IMF. Padahal Bung Karno pernah mengusir mereka dengan kalimatnya yang terkenal: “Go to hell with your aid!”

Semoga Fakta Sejarah Ini Jadi Pencerahan Bagi Kita!

Berkacalah Dengan Fakta Sejarah, Jangan Terus Menerus Sembarangan Ngomong ! 

MENGAPA BUNG KARNO DILENGSERKAN DENGAN CARA FITNAH YANG SANGAT KEJI, DAN MENGAPA JOKOWI JUGA DIPERLAKUKAN SAMA DENGAN FITNAH-FITNAH YANG SANGAT KEJI JUGA ?

Ini Jawabannya:

Bung Karno dilengserkan dengan fitnah yang sangat keji untuk mengkorupsi/merampok kekayaan alam Indonesia, Jokowi diserang dengan fitnah-fitnah keji juga harus dilengserkan dengan segala cara untuk mengamankan hasil korupsi/rampokan, sebab Jokowi adalah orang yang bersih dan bukan bagian dari kejahatan masa lalu dan sekarang.

Ini Penjelasan Fakta Sejarahnya:

Suharto yang telah sukses mengkudeta Bung Karno, mengirim satu tim ekonomi yang terdiri dari Prof.Dr Soemitro Djojohadikusumo, Prof. Dr Sadli dan sejumlah profesor ekonomi lulusan Berkeley University AS.

Oleh sebab itu mk tim ekonomi ini juga disebut sebagai ‘Berkeley Mafia’ ke Swiss. Mereka hendak menggelar pertemuan dengan sejumlah konglomerat penguasa dunia, yang dipimpin David Rockefeller.

Di Swiss, tim ekonomi suruhan Suharto ini menggadaikan seluruh kekayaan alam negeri ini ke hadapan David Rockefeler cs. Dengan seenak perutnya, mereka mengkavling-kavling Bumi Nusantara dan memberikannya kepada pengusaha-pengusaha asing tersebut. 

Gunung Emas di Papua diserahkan kepada Freeport, Ladang Minyak dan Gas di Riau kepada Chevron, Ladang Minyak dan Gas di Aceh kepada Exxon, dan sebagainya masih banyak lagi yang lainnya.

Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) tahun 1967 pun dibuat dan dirancang di Swiss, untuk menuruti apapun kehendak para pengusaha asing tersebut. 

Sampai detik ini, perampokan atas seluruh kekayaan alam negeri ini masih saja terus berjalan dan dikerjakan dengan sangat leluasa oleh berbagai Korporasi Penguasa Dunia. Silahkan telusuri semua dengan fakta-fakta tak terbantahkan sebagaimana yang telah dilakukan George Aditjondro bahwa negeri ini tengah meluncur ke jurang kehancuran, dimana Suharto dan Sumitro Djojohadikusumo adalah dalang dari semua ini. 

Sudah banyak sekali buku-buku ilmiah yang ditulis para cendekia baik dari dalam maupun luar negeri tentang betapa bobroknya kinerja pemerintahan di saat rezim Suharto berkuasa selama lebih kurang 32 tahun, dengan jutaan fakta dan dokumen yang tak terbantahkan.

Sebab itu, tulisan ini memaparkan fakta apa adanya tentang Suharto. Agar setidaknya, mereka yang selama ini menganggap Suharto pahlawan, harus bisa bermuhasabah dan melakukan renungan yang lebih dalam, sudah benarkah tindakan tersebut. 

Fakta sejarah harus ditegakkan, siapa sebenarnya Suharto sebelum dan sesudah menjadi presiden? Suharto lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921, dari keluarga petani, karirnya diawali sebagai karyawan di sebuah bank pedesaan, walau tidak lama.

Dia sempat juga menjadi buruh dan kemudian menempuh karir militer pertama kali sebagai prajurit KNIL yang berada di bawah kesatuan tentara penjajah Belanda. Saat Jepang masuk di tahun 1942, Suharto bergabung dengan PETA. Ketika Soekarno memproklamirkan kemerdekaan, Soeharto bergabung dengan TKR.

Salah satu ‘prestasi’ kemiliteran Suharto yang sering digembar-gemborkannya semasa dia berkuasa adalah Serangan Umum 1 Maret 1949 atas Yogyakarta. Bahkan ‘prestasi’ ini sengaja difilmkan dengan judul ‘Janur Kuning’ (1979) yang memperlihatkan jika serangan umum itu diprakarsai dan dipimpin langsung oleh Suharto. 

Padahal, sesungguhnya serangan umum itu diprakarsai sendiri Sri Sultan Hamengkubuwono IX.  Sri Sultan Hamengkubuwono IX lah yang memimpin serangan umum melawan Belanda. Sri Sultan Hamengkubuwono IX adalah seorang nasionalis yang memiliki perhatian terhadap nasib rakyatnya, karena itu ia tidak mau untuk di jajah. (lihat biografi Sri Sultan Hamengkubuwono IX).

Kemudian pada 1959, Suharto yang kala itu menjabat sebagai Pangdam Diponegoro dipecat oleh A.H.Nasution dengan tidak hormat karena Suharto telah menggunakan institusi militernya untuk mengumpulkan uang dari perusahaan-perusahaan di Jawa Tengah. Suharto kala itu juga ketahuan ikut kegiatan ilegal berupa penyelundupan gula dan kapuk bersama Bob Hasan dan Liem Sioe Liong.

Untuk memperlancar penyelundupan ini, didirikan perusahaan perkapalan yang dikendalikan Bob Hasan. Konon, dalam menjalankan bisnis haramnya ini, Bob Hasan menggunakan kapal-kapal ‘Indonesian Overseas’ milik C.M. Chow. 

Siapa C.M. Chow ini? Dia adalah agen ganda. Pada 1950 dia menjadi agen rahasia militer Jepang di Shanghai. Tapi dia pun kepanjangan tangan Mao Tse Tung, dalam merekrut Cina perantauan dari orang Jepang ke dalam jaringan komunis Asia.

Pada 1943, Chow ditugasi Jepang ke Jakarta. Ketika Jepang hengkang dari Indonesia, Chow tetap di Jakarta dan membuka usaha perkapalan pertama di negeri ini. Chow bukan saja membina WNI Cina di Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun juga di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. 

Salah satu binaannya adalah ayah Eddy Tansil dan Hendra Rahardja yang bermarga Tan. Tan yang ini merupakan sleeping agent Mao di Indonesia Timur. Pada pertengahan 1980-an, Hendra Rahardja dan Liem Sioe Liong mendirikan sejumlah pabrik di Fujian, Cina.

A.H.Nasution kala itu sudah sangat marah sehingga ingin memecat Suharto dari AD dan menyeretnya ke Mahkamah Militer, namun atas desakan Gatot Subroto, Suharto dibebaskan dan akhirnya dikirim ke SSKAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat). 

Selain A.H.Nasution, A.Yani juga marah atas ulah Suharto dan dikemudian hari mencoret nama Suharto dari daftar peserta pelatihan di SSKAD, yang mana hal ini membuat Suharto dendam sekali terhadap A. Yani. Terlebih Yani adalah anak kesayangan Bung Karno.

Kolonel Pranoto Rekso Samoedro diangkat sebagai Pangdam Diponegoro menggantikan Suharto. Pranoto, sang perwira 'santri', menarik kembali semua fasilitas milik Kodam Diponegoro yang dipinjamkan Suharto kepada para pengusaha Cina untuk kepentingan pribadinya. 

Di SSKAD, Suharto dicalonkan untuk menjadi Ketua Senat, namun D.I.Panjaitan menolak keras dengan menyatakan dirinya tidak percaya dengan Suharto yang dinilainya tidak bisa dipercaya karena mempunyai banyak catatan kotor dalam karir militernya, antara lain penyelundupan bersama para pengusaha Cina dengan dalih untuk membangun kesatuannya, namun yang terjadi adalah untuk memperkaya dirinya.

Atas semua kejadian itu Suharto sangat sakit hati dan dendam.

Bertambah lagi dendam Suharto, selain kepada A.H.Nasution, Ahmad Yani, kini D.I. Panjaitan. Aneh tapi nyata, dalam peristiwa G30S 1965, musuh-musuh Suharto, yaitu A.H.Nasution, Ahmad Yani, dan D.I.Panjaitan, menjadi target pembunuhan, sedangkan Suharto sendiri yang merupakan orang kedua di AD tidak masuk dalam daftar kematian peristiwa G30S 1965.

Dan ketika A.Yani terbunuh, Bung Karno mengangkat Pranoto Rekso Samudro sebagai Kepala Staf AD, namun Pranoto dijegal oleh Suharto sehingga Suharto yang mengambil-alih kepemimpinan AD, kemudian untuk menghindari pertumpahan darah dan perang saudara karena Siliwangi di Jawa Barat (Ibrahim Adjie) dan KKO (Marinir) di Jawa Timur, dimana telah bersumpah selalu berada di belakang Soekarno dan jika Soekarno memerintahkan untuk ‘menyapu’ bersih semua kekuatan Suharto di Jakarta, maka mereka menyatakan siap untuk berperang. 

Namun untuk menghindari perang saudara serta jatuhnya korban lebih banyak lagi, Bung Karno tidak memerintahkan, jadilah Suharto sebagai KSAD.

Pasca Perang Dunia II, AS melihat Uni Soviet sebagai satu-satunya pihak yang bisa menghalangi hegemoninya atas dunia. 

Diluncurkanlah Marshall Plan sebagai upaya membendung pengaruh komunisme yang kian lama kian meluas, dari Eropa Timur ke arah Asia Tenggara, sebuah wilayah yang sangat strategis dari sisi perdagangan dunia dan geopolitik, juga sangat kaya raya dengan sumber daya alam dan juga manusianya. 

AS sangat cemas jika wilayah tersebut dikuasai Uni Soviet. Dari semua negeri di wilayah itu, Indonesia lah negara yang paling strategis dan paling kaya raya. AS sangat paham akan hal ini, sebab itu di wilayah ini Indonesia merupakan satu-satunya wilayah yang disebut dalam Marshall Plan.

Namun untuk menundukkan Indonesia, AS jelas kesulitan karena negeri ini tengah dipimpin oleh seorang yang sukar diatur, cerdas, dan dicintai rakyatnya, dialah Bung Karno. Tiada jalan lain, orang ini harus ditumbangkan, dengan berbagai cara. 

Sejarah telah mencatat dengan baik bagaimana badan agen rahasia AS yaitu CIA ikut terlibat langsung berbagai aksi pemberontakan bersenjata di Indonesia, diantaranya PRRI, PERMESTA dan pemberontakan yang lainnya. CIA juga membina kader-kadernya di bidang pendidikan (yang nantinya melahirkan Mafia Berkeley), mendekati dan menunggangi partai(2) politik ...kekuatan politik, demi kepentingannya, membina sel-sel binaannya di ketentaraan (local army friend) dan sebagainya. 

Setelah berkali-kali gagal menjatuhkan Bung Karno dan bahkan sampai hendak membunuhnya, akhirnya pada paruh akhir 1965, Bung Karno berhasil disingkirkan CIA lewat Suharto dengan Gerakan 30 September 1965 yang terjadi di tubuh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, yang mana dalang sebenarnya adalah Suharto dengan bantuan CIA. 

Setelah peristiwa 1 Oktober 1965, secara de facto, Suharto melalui kudeta merangkaknya mulai mengendalikan negeri ini. Pada pekan ketiga Oktober 1965, Suharto menugaskan para kaki tangannya membantai mungkin jumlahnya mencapai jutaan orang. 

Mereka yang dibunuh adalah orang-orang yang dituduh sebagai kader atau simpatisan komunis (PKI), tanpa melewati proses pengadilan yang fair. Media internasional bungkam terhadap semua kejahatan kemanusiaan yang luar biasa itu, karena memang AS sangat diuntungkan.

Jatuhnya Bung Karno dan naiknya Suharto dirayakan dengan penuh suka cita oleh Washington*. Bahkan Presiden Nixon menyebutnya sebagai “Hadiah terbesar dari Asia Tenggara”. Satu negeri dengan wilayah yang sangat strategis, kaya raya dengan sumber daya alam, segenap bahan tambang, dan sebagainya ini telah berhasil dikuasai dan dalam waktu singkat akan dijadikan *‘sapi perahan’* bagi kepentingan dan kejayaan imperialisme Barat.

https://jokowi.topsekali.com/2021/10/fakta-sejarah-yang-harus-diketahui-oieh.html

Benar saja, November 1967, Suharto menugaskan satu tim ekonom pro-AS menemui para 'bos' Pengusaha Internasional di Swiss. Dalam bulan November 1967 menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’ (istilah pemerintah AS untuk Indonesia setelah Bung Karno jatuh dan digantikan oleh Soeharto), maka hasil tangkapannya itu dibagi-bagi. 

The Time Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa, Swiss, yang dalam waktu tiga hari membahas strategi pengambilalihan Indonesia.

Para pesertanya terdiri dari seluruh kapitalis yang paling berpengaruh di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller, termasuk Raksasa Korporasi Barat yang diwakili perusahaan-perusahaan Minyak dan Bank, Freeport, Chevron, Exxon, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel, ICI, Leman Brothers, Asian Development Bank, Chase Manhattan, dan sebagainya.”

Di seberang meja perundingan, duduk orang-orang Soeharto yang oleh Rockefeller dan pengusaha-pengusaha international lainnya disebut sebagai ‘ekonom-ekonom Indonesia yang korup’.

Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ‘The Berkeley Mafia’ karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikannya yang hadir. 

                                                                "The Berkeley Mafia"

Menyodorkan butir-butir perundingan yang dijual dari negara dan bangsanya. 

Tim Ekonomi Indonesia menawarkan tenaga buruh yang banyak dan murah, cadangan dan sumber daya alam yang melimpah, dan pasar yang besar.” 

Ekonomi Indonesia telah dibagi sektor demi sektor. ”Prof. Jeffrey Winters menyebutnya, “Ini dilakukan dengan cara yang amat spektakuler”

“Mereka membaginya dalam lima seksi: Sektor pertambangan di satu kamar, Jasa-Jasa di kamar lain, Industri ringan di kamar satunya, Perbankan dan Keuangan di kamar yang lain lagi, yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. 

Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja lainnya dg mengatakan,.... ‘Ini yang kami inginkan, itu yang kami inginkan, ini, itu, dan ini.’ 

Dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi dalam iklim ekonomi liberal versi mereka, tentunya produk hukum Ekonomi Liberal yang sangat menguntungkan mereka. 

Belum pernah terdengar situasi seperti itu sebelumnya, dimana pemodal global duduk dengan wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.

Freeport mendapatkan Gunung Emas di Papua (Henry Kissinger, pengusaha Yahudi AS, duduk dalam Dewan Komisaris). Exxon mendapatkan Minyak dan Gas di Aceh, Chevron mendapatkan Minyak dan Gas di Riau, sebuah konsorsium Eropa mendapatkan Nikel di Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapatkan bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, dan Perancis mendapatkan hutan-hutan tropis di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Papua.

Demikian juga sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dirancang oleh Sumitro Djojohadikusumo dan disetujui langsung oleh Soeharto, membuat strategi perampokan negara yang direstui pemerintahan Suharto. 

Oleh Suharto, rakyat dijejali dengan propaganda pembangunan, Pancasila, dan trickle down effect terhadap peningkatan kesejahteraannya, tapi fakta yang terjadi di lapangan sesungguhnya adalah *proses pemiskinan bangsa secara sistematis* yang dilakukan oleh rezim Suharto.

Pada 12 Maret 1967, Soeharto dilantik sebagai Presiden RI ke-2. Tiga bulan kemudian, dia membentuk Tim Ahli Ekonomi Kepresidenan yang terdiri dari Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, Prof Dr. Widjojo Nitisastro, Prof. Dr. Ali Wardhana, Prof Dr. Moh. Sadli, Prof Dr. Subroto, Dr. Emil Salim, Drs. Frans Seda, dan Drs. Radius Prawiro. Seluruhnya pro kapitalisme, terus bagaimana dengan esensi ekonomi Pancasila kita yang di RRC malah sudah sebagian besar sudah diadopted untuk menggantikan ekonomi komunis murni mereka  (yang ternyata gagal membawa RRC makmur sudah 45 tahunan yl) dan menjadikan RRC yang digdaya saat ini?

Nopember 1967, Suharto mengirim tim ekonomi ini ke Swiss menemui para CEO Pengusaha  Internasional. Lahirlah UU PMA 1967 yang sangat menguntungkan imperialis Barat. Prinsip kemandirian ekonomi Indonesia yang dijaga mati-matian oleh Bung Karno, oleh Suharto dihabisi dengan menjadikan Indonesia sebagai negara yang sangat tergantung pada barat sebagai kekuatan kapitalis dunia.

David Ransom dalam artikelnya yang populer berjudul “Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia”, Kuda Troya Baru dari Universitas-Universitas AS Masuk ke Indonesia” (Ramparts,1970), memaparkan jika AS menggunakan dua strategi untuk menaklukkan Indonesia, tentu saja dimulai dengan menyingkirkan Bung Karno. 

Pertama, membangun satu kelompok intelektual yang berpikiran model Barat. 

Dan Kedua, membangun satu sel dalam tubuh ketentaraan yang selalu siap bekerjasama dengan AS.

Yang pertama didalangi oleh berbagai yayasan beasiswa seperti Ford Foundation dan Rockeffeler Foundation, juga berbagai universitas ternama AS seperti Berkeley, Harvard, Cornell, dan juga MIT. 

David Ransom menulis, dua tokoh Partai Sosialis Indonesia, sebuah partai kecil yang berhaluan sosialis-kanan, yakni Sumitro Djojohadikusumo dan Soedjatmoko menjadi ujung tombak pembentukan jaringan intelektuil pro-Barat di Indonesia, mereka dibina oleh AS sejak akhir tahun 1949-an.

Sedang tugas kedua dilimpahkan kepada CIA. Salah satu agennya bernama Guy Pauker yang bergabung dengan RAND Corporation mendekati sejumlah perwira tinggi lewat salah seorang yang dikatakan berhasil direkrut CIA, yakni Deputi Dan Seskoad Kol. Soewarto. Dan Intel Achmad Soekendro juga dikenal dekat dengan CIA. 

Lewat orang inilah, komplotan AS, mendekati militer. Suharto adalah murid dari Soewarto di Seskoad. Di Seskoad inilah para intelektuil binaan AS diberi kesempatan mengajar para perwira. Terbentuklah jalinan kerjasama antara sipil-militer yang pro-AS. 

Paska tragedi 1965 dan pembantaian  rakyat Indonesia, yang dituduh komunis, dan  kelompok ini mulai membangun ‘Indonesia Baru’. Para doktor ekonomi yang mendapat binaan dari Ford kembali ke Indonesia dan segera bergabung dengan kelompok ini, di antaranya Emil Salim.

Suharto kemudian membentuk Trium-Virat (pemerintahan bersama tiga kaki) dengan Adam Malik dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Ransom menulis, “Pada 12 April 1967, Sultan mengumumkan satu pernyataan politik yang amat penting  yakni garis besar  program ekonomi rezim baru itu yang intinya menegaskan mereka akan membawa Indonesia kembali ke pangkuan Imperialis.  Kebijakan  tersebut  ditulis  oleh  Widjojo  dan Sadli.”

Ransom melanjuntukan, “Dalam merinci lebih lanjut program ekonomi yang baru saja digariskan Sultan, para teknokrat dibimbing oleh AS”. Kemudian saat Widjojo kebingungan dalam menyusun  program stabilisasi ekonomi, AID mendatangkan David Cole, ekonom Harvard yang baru saja membuat regulasi perbankan di Korea Selatan untuk membantu Widjojo. 

Sadli juga sama, meski sudah doktor, tapi masih memerlukan “bimbingan”. Menurut seorang pegawai Kedubes AS, “Sadli benar-benar tidak tahu bagaimana seharusnya membuat suatu regulasi Penanaman Modal Asing. Dia harus mendapatkan banyak dari Kedutaan Besar Amerika Serikat”

Ini merupakan tahap awal dari program Rancangan Pembangunan Lima Tahunan (Repelita) Suharto, yang disusun oleh para ekonom Indonesia didikan AS, yang masih secara langsung dibimbing oleh para ekonom AS sendiri dengan kerjasama dari berbagai yayasan yang ada.

Juni 1968, Suharto secara diam-diam dan mendadak mengadakan reuni dengan orang-orang binaan Ford, yang dikenal sebagai “Mafia Berkeley” (untuk merancangkan susunan Kabinet Pembangunan dan badan-badan penting tingkat tinggi lainnya). 

Sebagai Menteri Perdagangan ditunjuk Dekan FEUI Prof.Dr. Sumitro Djojohadikusumo (Doctor of Philosophy dari Rotterdam), Ketua BPPN ditunjuk Widjojo Nitisastro (Doctor of Philosophy Berkeley, 1961), Wakil  Ketua BPN ditunjuk Emil Salim (Doctor of Philosophy, Berkeley, 1964 ), Dirjen Pemasaran dan Perdagangan ditunjuk Subroto (Doctor of Philosophy dari Harvard, 1964), Menteri Keuangan ditunjuk Ali Wardhana (Doctor of Philosophy, Berkeley, 1962), Ketua Team PMA Moh. Sadli (Master of Science, MIT, 1956), Sekjen Departemen  Perindustrian ditunjuk Barli Halim (MBA Berkeley, 1959), sedang Sudjatmoko, penasehat Adam Malik, diangkat jadi Duta Besar di Washington, posisi kunci poros Jakarta-Washington.

Tim ekonomi “Indonesia Baru ini bekerja dengan arahan langsung dari Tim Studi Pembangunan Harvard (Development Advisory Service, DAS) yang dibiayai Ford Foundation. “Kami bekerja di belakang layar” ujar Wakil Direktur DAS Lister Gordon. 

AS segera membackup penguasa baru ini dengan segenap daya sehingga stabilitas ekonomi Indonesia yang sengaja dirusak oleh AS pada masa sebelum 1965 bisa sedikit demi sedikit dipulihkan. Mereka inilah yang berada dibelakang Repelita yang mulai dijalankan pada awal 1969, dengan mengutamakan penanaman modal asing dan swasembada hasil pertanian. 

Dalam banyak kasus, pejabat birokrasi pusat mengandalkan pejabat militer di daerah-daerah untuk mengawasi kelancaran program Ford ini. Mereka bekerjasama dengan para tokoh daerah yang terdiri dari para tuan tanah dan pejabat administratif. Terbentuklah kelompok baru di daerah-daerah yang bekerja untuk memperkaya diri dan keluarganya. Mereka, kelompok pusat dan kelompok daerah, bersimbiosis-mutualisme. Mereka juga menindas para petani yang bekerja di lapangan.

Benih Orde Baru tumbuh di atas genangan darah dan tetesan air mata rakyatnya. Arah pembangunan (Repelita) didesain sesuai dengan keinginan Washington dengan mengutamakan eksploitasi segenap kekayaan alam bumi Indonesia yang dikeruk habis-habisan dan diangkut ke luar guna memperkaya negeri-negeri Barat.

JOKOWI.TOPsekali.com

https://jokowi.topsekali.com/2021/10/fakta-sejarah-yang-harus-diketahui-oieh.html

 

 

Saturday, December 29, 2018

F R E E P O R T


F R E E P O R T 
Oleh Dahlan Iskan
Saya kirim ucapan selamat. Untuk Ignatius Jonan, Menteri ESDM. Juga untuk Budi Sadikin, CEO Inalum. Tentang Freeport Yang berhasil dikuasai Indonesia 51 persen Sejak minggu ini.
Pun sebetulnya saya akan berbuat serupa, dari Lebanon ini, mengirim ucapan selamat kepada Bapak Presiden, Menteri Keuangan, Menteri BUMN dan Menteri Lingkungan Hidup. Tapi saya tidak punya nomor telepon beliau-beliau itu. Hanya Jonan dan Budi Sadikin yang nomor HP-nya ada di HP saya.
Itu pun nomor lama yang saya masih memilikinya. Sejak ketika saya masih jadi atasan mereka. Semoga ucapan selamat itu masih sampai pada mereka, dan diteruskan kepada mereka.
Tentu, baiknya, saya juga mengirimkan ucapan selamat kepada pak SBY. Yang di zaman beliau menjadikan PT Inalum dikuasai 100% BUMN diambil alih dari Jepang dalam posisi perusahaan sangat jaya. Kondisi fisiknya prima. Operasionalnya istimewa. Dan tabungan uang kontannya banyak luar biasa.
Ibarat ‘kendaraan’, Inalum sudah seperti Land Cruiser. Sanggup diajak menanjak tinggi sampai pegunungan Jayawijaya untuk membeli Freeport di sana.
Inalum yang seperti itu sangat dipercaya. Untuk mencari dana global, empat miliar dolar sekalipun untuk membeli saham mayoritas Freeport itu.
Tentu saya juga ingin mengucapkan selamat pada MacMoran Amerika. Yang sudah 50 tahun menguasai Papua. Yang pernah keuangannya mengalami kendala. Hingga minta bantuan Rio Tinto Australia, yang perjanjian antara dua perusahaan global itu bisa menimbulkan celah untuk dimasuki Indonesia.
Celah itulah. Tidak ada yang bisa melihatnya selama ini. Tidak juga saya. Hanya orang seperti Jonan yang berhasil mengintipnya yang justru menteri ESDM yang tidak ahli tambang itu.
Lewat celah itulah negosiasi bisa mendapat jalannya. Didukung oleh kedipan-kedipan mata dari dua wanita kita: Menteri Keuangan Sri Mulyani, lewat celah perpajakan. Dan Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, lewat kerusakan alam.
Sudah sejak kapanpun kita ingin Freeport dikuasai bangsa. Tapi selalu tersandung batu: perjanjian yang tidak bisa dilanggar begitu saja.
Kalau pun selama ini salah: itu karena tidak ada yang bermata sejeli Jonand alam melihat celah tersembunyi itu.
Mungkin saja pandangan mata itu seperti hati. Bisa memandang jauh, kalau kondisinya bersih. Bersih mata, bersih hati, bersih kepentingan.
Dalam proses Freeport ini memang luar biasa. Menteri ESDM-nya, Jonan, bukan ahli tambang. Ia justru orang keuangan. CEO Inalum-nya, yang cari uang, dari teknik lulusan ITB, Budi Sadikin.
Saya pernah minta maaf pada bapak Presiden SBY. Melanggar tata kelola. Mengangkat Budi Sadikin menjadi Dirut Bank Mandiri tanpa lapor, tanpa minta pendapat, tanpa minta persetujuan. Pun tidak kepada menteri keuangan. Saya tahu itu salah dan siap dimarahi.
Tapi saya begitu takutnya jabatan Dirut Bank Mandiri jadi barang dagangan. Terutama dagangan politik. Padahal ada anak muda sekali, hebat sekali, dari dalam Bank Mandiri pula, ya Budi Sadikin itu.
Maka saya SK-kan saja. Soal dimarahi itu urusan di kemudian hari. Dipecat sekali pun.
Maafkan pak SBY. Saya melanggar. Demi kejayaan Bank Mandiri.
Dan maafkan, itu bukan satu-satunya.
Sebenarnya, di Freeport itu, masih ada satu kekhawatiran saya di bidang partisipasi lokal yang 10 persen. Yang kelihatannya kecil, tapi justru berbahaya. Misalnya saja begitu yang kecil itu memihak ke sana selesailah. Sananya jadi mayoritas.
Tapi Jonan-Budi adalah orang pintar. Mengatasinya dengan skema yang berjenjang. Tentu masih akan ada kritik. Tapi saya tidak melihat yang lebih baik dari yang telah dilakukan ini. (Dahlan Iskan)

Thursday, December 20, 2018

SELALU ADA YANG TAK HAPPY

SELALU ADA YANG TAK HAPPY
(Dari keberhasilan Indonesia menguasai 51,2% saham PT Freeport Indonesia (PT FPI)
Mengapa? 
Ini penjelasan Rhenald Kasali, Guru besar FEB Universitas Indonesia.
1. Freeport itu PT. Sedangkan alam itu tanah, emas dll.  tanahnya tetap dikuasai NKRI, dan dari dulu Indonesia dapat uang konsesi, pajak dll.  Itu adalah hak atas tanah yang dikuasai asing yang di dalamnya ada emas, perak dan tembaganya.
2. Yang namanya PT itu berbeda dengan tanah yang dijamin konstitusi. Di dalam PT itu ada aset,  ada modal, saham2, R&D, ada team direksi, expertise,  brand, technology, market channel dll. Ada harta2 kelihatan dan ada intangiblesnya. PT ini bukan milik kita. Itu dibawa asing ke tanah Indonesia dan kalau mereka diusir, pasti aset2nya itu diangkut semua keluar dan kita pasti tak bisa olah emas itu dengan cara2 konvensional. Jadi kalau mau diambil, ya harus bayar kompensasinya. Kalau mau tanahnya saja, usir saja PT-nya, lalu bangun sendiri PT baru. Butuh 20-30 tahun dan sangat mahal untuk bisa membentuk itu semua.
3. Hanya saja memang  dulu pejabat2 kita senang terima bagian besar buat dirinya sendiri atau kelompoknya, sehingga dikasih kecil buat negaranya mereka OK saja. 
Jokowi sebaliknya. Dia rela compang-camping dihina para mafioso yang berada dibalik kuasa itu. Dia bereskan dengan tenang untuk dapat bagian dari PT-nya yang lebih besar dan fair, yaitu bayar yang menjadi hak orang lain dan sebaliknya mereka harus bayar lebih baik yang menjadi hak kita
4. Ada yang bilang itu memang sudah saatnya beralih. Ya begini, sekarang semua orang bisa bilang sudah saatnya. Tetapi menentukan saatnya sebelum waktunya tiba itulah leadership. Dan jangan lupa ide itu murah karena tak beresiko apa2, tetapi implementasi itu mahal karena yang menjalankan akan babak belur. 
Maka jangan heran pemimpin2 yang dulu selalu memundurkan action karena kurang berani atau mereka kurang pandai bertempur, kurang gigih dll. Meraka selalu geser ke belakang begitu saatnya tiba di tangan leadership mereka.
Akibatnya saat Jokowi eksekusi, Jakarta selalu digoyang. Amerika marah besar bahkan sempat kirim pasukan yang merapat di Australia. Namanya juga negara adikuasa. Pakai psy-war adalah hal biasa dalam mengawal kepentingannya.  Belum lagi penembakan2 di Papua, begitu negosiasi mencapai kesepakatan.
Mafioso biayai preman2 jalanan dan oknum aparat serta oknum2 politisi untuk memutarbalikkan cerita yang sebenarnya. Alhamdulillah Tuhan mencintai Indonesia. Semua rintangan alhamdulilah kita bisa atasi.
5.  Yang kita beli dan ambil alih itu sahamnya, saham PT-mya (bukan tanah Papua yang sudah milik NKRI)) sehingga  kita bisa menjadi pemegang saham mayoritas supaya bisa dapat bagian lebih besar dan bisa pegang kendali, dari pengolahan dan teknologi yang kita gak kuasai.... kita bisa belajar alih teknologi dan skill.
6. Mengapa kita harus jual global bond untuk biayai pengambilalihan saham PT FPI? Karena kita tidak mau cadangan dolar kita tergerus lagi. Nilai rupiah bisa tertekan lagi kalau diambil dari lokal. Sebab PT FPI maunya dibayar pakai dolar, bukan rupiah. Jadi kita harus cerdik sedikit, jual global bond supaya dapat dolar. Tinggal bagaimana hitung2annya. Itu harus berhitung
7. Yang kita perkukan surat hutang yang tenornya panjang, bahkan ada yang 30 tahun. Supaya apa? Supaya hasil Freeport bisa segera  dinikmati bangsa ini. Kalau dihitung, kita baca laporan keuangannya, maka tampak EBITDA-nya PT FPI setahun sekitar 4 Billion dolar. Net profitnya saja sekitar  2 Billion dolar. Kalau jangka pendek, jelas memberatkan.
8. Karena kini kita berhasil memiliki sahamnya sebesar 51,2%, saja dalam setahun Indonesia bisa menikmati 1 Billion dolar lebih.  Itu duit gede boz! 
9. Jadi kalau kita mau, hanya dalam 4 tahun global bond itu beres  dan setelah itu kita dapat duit gede seterusnya selama 50 tahun. Sebab jumlah surat hutang itu ya hanya sekitar 4 Billion dolar sebagai kompensasi yang kita bayar ke PT FPI.  Aneh kalau kehebatan ini disalah-salahkan.
10. Maka, hanya orang-orang bodoh saja yang menyalah2kan bangsa Indonesia.  Dan orang seperti itu akan selalu ada di negeri ini.  Mereka senang memakai  kacamata buram, dan selalu hanya mencari kesalahan. Sebab sebagian orang menikmati rezekinya dengan cara demikian. Ada profesi bayaran untuk menciptakan ketidak-stabilan atau ketidak-percayaan. Ada juga yang menderita luka batin, kecewa, tak mendapat bagian, tidak dilayani atau pernah diberhentikan. Begitulah kehidupan demokrasi.
Begitulah pula orang mencari makan, mencari kehormatan, mendapatkan kompensasi mental atas kekecewaaannya atau membangun jati dirinya. 
Sementara, dunia justru sedang memuji betapa lihai dan pandainya pemimpin Indonesia.
11.  Orang yang susah melihat bangsa ini senang sebagian mungkin memang mewarisi darah penghianat yang  kalau ditelusuri ada DNA yang begitulah...yang membuat VOC bisa menjajah kita berabad-abad...
So, faktanya kini kita bisa menutup akhir tahun dengan banyak senyum. Saat kita bisa berlibur menikmati ribuan kilometer jalan
-jalan baru baik antar kota maupun antar desa. Saat warga desa menyewakan homestaynya melalui platform airbnb dll.  Saat kita  merayakan banyak keberhasilan....
Salam akhir tahun... Kita rayakan dengan senyum. Ayo ajak kaum nyinyir liburan sekalian cuci DNA... Cheers!!!