Showing posts with label PT IMIP. Show all posts
Showing posts with label PT IMIP. Show all posts

Thursday, June 11, 2020

FIELD TRIP REPORT PT. IMIP

FIELD TRIP REPORT - PT IMIP, MOROWALI, SULAWESI TENGAH.

Tulisan berikut laporan pandangan mata langsung dari seorang kawan di perusahaan RRC yang beroperasi di Sulawesi.

Dear teman2, terkait masalah Cina ini saya ada pengalaman menarik ketika diberi kesempatan ke Morowali, atas kebaikan komandan KBL. 

Melihat salah satu perusahaan pertambangan nikel di sana. 

Yang sudah memiliki smelter  jadi nikel di ekspor bukan dalam bentuk bijih nikel, melainkan dalam bentuk lembaran-lembaran nikel.

Kebetulan pemiliknya adalah orang Cina. 

Saya ingin berbagi kekaguman dan keheranan melihat susana di sana.

Saya terasa berada di luar negeri. Baik dalam cara hidup dan bekerja.

Paling tidak saya teringat ketika tinggal di daerah Caltex, tempat orang tua saya bekerja.

Saya tidak memihak dan tidak ada urusan dukung mendukung terkait dengan banyaknya tenaga asing yang masuk akhir akhir ini dan jadi pembicaraan hangat ditengah merebaknya wabah covid-19.

Tapi ingin berbagi dari sudut pandang yang berbeda, seperti dibawah ini.

Sehingga kita tidak perlu bertanya-tanya lagi. Atau bahkan membuat konklusi sendiri yang kadang jauh dari kenyataan.

1. Kawasan industri dibangun selayaknya kawasan industri moderen yang baik dan benar.

Mensyaratkan adanya living space, public health, food service, dan government authority

A. Dengan adanya Living Space  (tempat tinggal) yang dekat dengan pabrik, maka karyawan tidak memerlukan kendaraan untuk berangkat kerja. Biaya kredit kendaraan dan bbm menjadi NOL. Mereka tidak perlu stress memikirkan kredit bulanan motor dan biaya lainnya. Tempat tinggal mereka sekelas apartemen atau rumah susun menengah atas, dengan sewa yang relatif murah (500 ribuan per bulan)Bayangkan di lokasi lain, karyawan hanya menyewa rumah sederhana di sekitar pabrik. Bahkan tidak jarang jauh dari pabrik. Kelelahan menuju pabrik saja sudah membuat mereka stress.

Living Space ini dikelola oleh perusahaan khusus.

Memastikan pembayaran tepat waktu dan kebersihan terjaga. Sepelemparan batu dari sana terdapat lapangan futsal, badminton, dan volly. Dibuka hanya pada jam tertentu dan saat libur.

Oh ya, per enam bulan mereka dapat pembagian sepatu dan seragam khusus.

B. Dengan adanya Public Health, karyawan tidak memerlukan lagi antri berjam-jam di rumah sakit jika ada gangguan kesehatan. Jika tidak ada, bisa dibayangkan hanya untuk memastikan flu biasa atau sakit yang lainnya, di pabrik lain karyawan perlu izin sehari. Di sana karena ada sekitar 10 klinik dengan sekitar 15 dokter dan ratusan perawat, maka dalam setengah jam mereka sdh bisa diperiksa. Apakah perlu izin istirahat atau tetap bekerja. Obat-obatan disediakan gratis. Karyawan bisa berhemat waktu dan uang. 

C. Dengan adanya Food Service, kita tidak akan melihat ribuan karyawan keluar pabrik dan makan di pinggir jalan. Warung kumuh sebagaimana halnya dengan pabrik di tempat lain (Jakarta dan Bekasi, misalnya) Kesehatan mereka menjadi  taruhannya. 

Tapi di sini,  makan mereka diantar ke tempat istirahat dan mereka bisa makan dengan tenang kemudian sholat. Kebersihan makanan sudah sangat tentu terjaga. Tanpa perlu ke luar area pabrik.

Mereka butuh sekitar 1000 ekor ayam dalam satu hari. 400 kg telur.  Ratusan kilo sayur dan buah. 1.2 ton beras yang dimasak hanya sekitar 45 menit dengan peralatan yang super modern. Beras masuk ke dalam mesin.  Dicuci dan dimasak langsung. 45 menit kemudian, cling.... jadi nasi. Puluhan orang kemudian memasukan nasi tersebut ke dalam kotak khusus tempat makan. Dilengkapi kemudian dengan sayur, buah dan kerupuk. Siap antar ke tempat masing-masing divisi, melalui troli-troli khusus.

Oh ya, sekali menggoreng kerupuk 400 kg untuk satu hari. Maklum orang kita suka makan dengan kerupuk. Kuali penggorengnya sebesar kuali orang betawi memasak dodol. Chef nya beberapa dari hotel terkenal di Jakarta. 

Cold storage nya mampu menampung bahan makan untuk seminggu lebih. Tidak terbayangkan saat kondisi pandemi covid-19 ini. Bagaimana mereka memenuhi bahan makanan ini (?). Atau saat Lebaran dan tahun baru dimana semua harga melonjak. Padahal karyawan harus tetap makan. 

D. Government authority saya lihat ini belum berjalan baik. Khususnya pemda setempat.  Nanti lain waktu saya ceritakan. Bagaimana tabiat orang kita "mencuri dalam kesempatan"

Keempat syarat itulah yang dibutuhkan dalam suatu kawasan industri modern. Kawasan industri lainnya di Indonesia jarang ada yang menerapkan demikian. 

Jadi jangan heran investor memilih negara lain dibandingkan dengan Indonesia.

Itu sebabnya Presiden Jokowi heran tahun lalu. Mengapa sedikit sekali investor yang memindahkan perusahaan mereka ke Indonesia. 

Seharusnya masalah living space di atas bagian dari kebijakan pemerintah. Paling tidak dalam hal menyiapkan lahannya.

Di Indonesian Morowali Industrial Park (IMIP) mereka membuatnya sendiri.

Ini agaknya harus menjadi catatan khusus pemerintah jika ke depan hendak mendirikan _industrial park_.

Keempat syarat di atas menjadi mutlak.

2. Dengan kondisi pelayanan seperti di atas, ternyata masih banyak karyawannya yang tidak betah. Khususnya yang berasal dari Indonesia. 

Mengapa bisa terjadi demikian?

Barangkali cerita dibawah ini bisa menjelaskannya.

3. Ketika sampai di lobby penginapan. Saya terkagum-kagum. Semua ruangan sangat simpel. Gedung hotel sekelas bintang lima tersebut sengaja didisain tidak rumit. Namun tetap menarik. Sepertinya mereka memikirkan dalam hal memudahkan perawatan. 

Meja resepsionis clear dari barang-barang yang tidak perlu. Semacam pernak pernik hiasan dan ukiran. Hanya ada bel kecil dan balpoint serta kertas.

Model kursi dan sofa nya juga tidak rumit dan penuh ukiran. Tentu sangat memudahkan untuk dibersihkan pula.

Demikian juga dengan struktur bangunannya. Semuanya memudahkan untuk dibersihkan. Tapi tetap memenuhi estetika sebuah hotel berbintang secara arsitektural. 

Tidak ada ukiran dan lukisan mewah. Tapi tetap menarik. Petugas resepsionisnya hanya satu orang. Lobby yang lapang dan lega serta langit-langitnya yang tinggi membuat sirkulasi udara menjadi bebas. Tidak ada patung mewah dan lukisan mahal terlihat. 

Memasuki restoran ketika sarapan semua tampak sederhana dan lengang. Menunya pagi itu ada ala western, chinese, dan Indonesia.

Saya heran, kok lengang dan tidak ada yang sarapan? 

Ketika saya tanya mengapa sepi. Dijawab oleh petugas restoran, bahwa semua sudah sarapan dan berangkat kerja. Ok

Siangnya ketika saya datang sekitar jam satuan untuk makan juga begitu. Restoran  itu juga terlihat sepi. Jawabannya sama. Semua sudah makan dan berangkat kerja. 

Esok paginya saya sengaja datang lebih awal. Jam setengah tujuh. Baru terlihat para ekspatriat makan. 

Semua tertib. Tidak ada yang ngobrol sambil makan. Selesai mengambil sarapan, makan. Selesai makan langsung ke luar restoran. 

Sementara saya selesai sarapan ngobrol-ngobrol dulu dengan rekan satu team. Ngalor ngidul sebelum berangkat survey. Giliran mereka yang heran melihat saya demikian.

Oh ya, di tiap meja restoran hotel sekelas bintang lima itu tidak ada pernak pernik hiasan semacam bunga cantik kecil dalam vas unik. 

Begitu efisiennya mereka dalam hidup. Buat apa lukisan mahal, patung berkelas, bunga hidup dan vas cantik? Bukankah semua itu pemborosan?

Trus mengapa saya bisa mengatakan hotel itu sekelas bintang lima?

Memasuki kamar hotel dan melihat fasilitas di dalamnya baru terasa.

Sorenya saya ke living space. Semua terlihat rapi. Ada kantor pengelola di sebelah kanan lobby dan kantin/mini market di sebelah kirinya. Semua yang masuk melepaskan alas kaki. Itu sebab lantainya licin dan mengkilap. Jauh dari kesan hunian buruh pabrik.

Kemudian dijelaskan oleh pengelola mengenai aturan tinggal di sana. Antara lain yang jualan kue dari penduduk setempat tidak boleh masuk ke areal tempat tinggal. Hanya boleh di luar pagar. Begitu juga dengan laundry. Tempat olah raga hanya dibuka pada sore hari dan diwaktu libur. Di luar itu tidak boleh. 

Melihat “mini marketnya" saya jadi ingat KPK dengan program nya kantin jujur. Silahkan ambil barang. Catat dibuku yang sudah disediakan. Kemudian masukan uang pada kotak disebelahnya sesuai jumlah harga yang kita beli. 

Aturan lainnya,  dilarang juga bergerombol dan ngobrol di luar apartemen. Ada ruangan yang disediakan. Serba tertib dan penuh aturan.

Pantesan suatu sore ketika saya menuruni hotel menuju kolam renang dan pantai tidak ada satupun yang berenang dan main di pantai. Baik pagi maupun sore hari. Jangan-jangan peraturan yang berlaku di apartemen ini juga berlaku buat direksi.

Saya yang tadinya mau berenang di hari biasa jadi mengurungkan niat.

Dugaan saya benar. Ketika saya tanya kepada petugas yang berkeliling, mengapa sepi dan tidak ada yang berenang. Kan bukan hari libur pak, jawabnya. Demikian juga di pinggir pantai. Tidak ada satupun yang terlihat.

Sorenya ketika hendak kembali ke Jakarta via Kendari, saya berkesempatan naik pesawat Cessna barengan dengan beberapa direksi.  

Menuju ke private bandara (mereka memiliki lapangan udara sendiri) saya melewati beberapa bangunan pabrik. Dari luar terlihat sepi.

Saya membayangkan yang bekerja di dalam tentu sangat sibuk sekali. 

Hampir 40 ribu tenaga kerja dalam tiga shift (35 ribu orang Indonesia, 5000 ekspatriat Cina). Karena menggunakan teknologi tinggi (konon pertambangan nikel yang diolah langsung menjadi lembaran lembaran nikel itu menggunakan teknologi moderen dan canggih) , maka semua harus disiplin.  Jika tidak tentu hasil akhir yang akan jadi taruhan. Dan disiplin itu harus dimulai dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari cara hidup di living space. Memanfaatkan public health dengan benar. Dan tentunya makan tertib dengan menu yang sudah disediakan. Termasuk mengikuti jadwal olah raga yang sudah ditetapkan. 

Sore yang cerah itu pesawat Cessna berpenumpang 10 orang itu terbang dengan tenang. Setenang laut biru teluk Morowali dibawahnya. Mengantarkan rombongan ke Bandara di Kendari. Kembali ke Jakarta dengan pesawat berikutnya. 

Semoga anak-anak muda dari sekitar Sulawesi dan beberapa wilayah lainnya di Indonesia yang bekerja di sana dapat beradaptasi dengan model kerja dan kehidupan di pabrik canggih tersebut, sembari menyerap ilmunya. 

Kuncinya hanya satu: DISIPLIN.

Konon kabarnya sebentar lagi akan berdiri pula pabrik battery yang bahan utamanya nikel. Tentu membutuhkan pekerja yang banyak dan harus memiliki kedispilinan yang tinggi pula. 

Karena dari teknologi yang hanya menghasilkan bijih nikel, tentu berbeda dengan teknologi yang menghasilan nikel dalam bentuk lembaran. Apalagi kalau sudah berubah menjadi battery. Tentu lebih tinggi lagi teknologi dan kedisiplinan yang diperlukan.

B. No Note: Mengenai government authority nanti saya akan cerita kalau momennya pas..

Sunday, May 17, 2020

MENYINGKAP TABIR HOAX MOROWALI

Adalah PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang disebut-sebut dalam hoax Morowali tersebut. Dari yang awalnya sebatas isu Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Cina, lalu berkembang lebih liar lagi semisal adanya larangan beribadah (sholat), dan larangan penggunaan jilbab untuk para karyawati yang beragama Islam.

Entah apa tujuan dari isu-isu yang dibuat oleh oknum tidak bertanggung jawab tersebut, tapi yang jelas, isu tersebut harus dijernihkan, dan diluruskan beritanya. Salah satu caranya adalah dengan melakukan fact check ke lapangan, atau observasi langsung ke sumbernya, dan itulah yang saya lakukan bersama beberapa kawan aktivis.

Dari hasil penelusuran yang kami lakukan di IMIP, baik melalui pengamatan di area kerja, maupun audiensi dengan banyak pihak, mulai dari para pekerja hingga ke jajaran direksi, maka saya sampaikan beberapa poin isu dan faktanya sebagai berikut :

1) Isu soal banyaknya TKA asal Cina.

Fakta >> Jumlah TKA di IMIP adalah 3.148 orang dari total karyawan yang berjumlah 30.428. Itu artinya, jumlah TKA hanya sekitar 10% dari keseluruhan karyawan, dan itu jelas tidak melanggar batas ketentuan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

2) Isu soal adanya pelarangan beribadah (sholat) bagi pekerja.

Fakta >> Perlu diketahui bahwa di dalam kawasan IMIP itu terdapat 4 masjid dan 20 mushola yang setiap bulan mampu mengumpulkan dana infak jamaahnya hingga 200 juta rupiah. Nah, bagaimana mungkin dana infak sebesar itu dapat terkumpul kalau tidak ada jamaah yang sholat di sana ?

3) Isu soal pelarangan jilbab.

Fakta >> Para pekerja wanita yang kami temui membantah isu tersebut, dan kami juga melihat langsung bahwa banyak sekali pekerja wanita yang berjilbab. Semua itu bisa dibuktikan melalui foto-foto yang menyertai tulisan ini.

4) Isu soal demo TKA.

Fakta >> Tidak ada demo TKA, yang melakukan demo kemarin adalah para pekerja lokal terkait permintaan kenaikan gaji pokok. Terkait hal ini, jajaran direksi mengabulkan angka maksimal kenaikan sebesar 13% dari 20% yang dituntut pekerja lokal.

5) Isu soal TKA yang dipekerjakan pada jenis pekerjaan kasar.

Fakta >> TKA asal Cina yang berada di sana hampir seluruhnya bekerja sebagai operator alat yang memang berteknologi asal Cina. Mereka sekaligus bertindak sebagai trainer bagi pekerja lokal dalam rangka alih teknologi. Makanya, dari waktu ke waktu jumlah TKA akan semakin berkurang, sehingga pada tahun 2023 diproyeksikan hanya akan ada 5% (maksimal) TKA dari total karyawan 100.000 orang.

6) Isu Jokowi mengundang Cina untuk menguasai aset Indonesia (IMIP)

Fakta >> IMIP berdiri pada 19 September 2013 yang merupakan tindak lanjut dari penandatanganan perjanjian B to B di hadapan Presiden SBY dan Presiden Xi Jinping di hotel Shangrila Jakarta pada 3 Oktober 2013, yang sekaligus dalam rangka mematuhi UU Nomor.4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara yang menetapkan larangan ekspor mineral mentah mulai 12 Januari 2014. Nah, semua itu terjadi sebelum era pemerintahan Presiden Jokowi.

7) Isu TKA digaji lebih tinggi dari TKI.

Fakta >> IMIP adalah perusahaan profesional di bidangnya, dan sebagaimana perusahaan-perusahaan lain, mereka memiliki standar pengupahan yang merujuk kepada aturan ketenagakerjaan, termasuk di dalamnya standar keahlian dan jabatan. Di IMIP gaji awal untuk lulusan SMA ada di kisaran angka 4,2 juta, masih sedikit lebih tinggi dari upah rata-rata nasional yang berada di angka 3 jutaan.

8) Isu soal TKA Cina yang disembunyikan bila ada kunjungan pihak luar ke IMIP.

Fakta >> Sistem kerja di IMIP itu dibagi ke dalam 3 shift karena beroperasi penuh 24 jam, dan sementara IMIP sendiri terdiri dari beberapa perusahaan di dalamnya. Jumlah TKA yang sekitar 3 ribuan itu hanya sekitar seribuan dalam tiap shiftnya, dan itupun terbagi lagi ke dalam beberapa perusahaan. Jadi bukanlah hal yang mengherankan ketika anda berkunjung ke IMIP, mengelilingi area kerjanya, anda akan jarang berjumpa dengan mereka, padahal area kawasan IMIP itu luas banget sekitar 2.000 hektar.

9) Isu soal adanya bahan makanan yang tidak layak makan pada menu makan karyawan.

Fakta >> Bagian Dapur di IMIP itu besar dengan peralatan-peralatan penunjang yang lengkap semisal lemari pendingin untuk menyimpan daging, buah atau sayur-mayur. Jadi tidak masuk akal kalau mereka menggunakan bahan-bahan yang telah rusak.

Sebagai catatan tambahan

1. Keberadaan IMIP juga membawa dampak keuntungan bagi masyarakat sekitar. Misal, saat ini banyak warga yang memiliki kontrakan atau tempat kost bagi karyawan IMIP dengan jumlah sewa sebesar 1jt/bulan. Sewa yang mahal sebetulnya, jika mengingat fasilitas yang tersedia di sana.

2. IMIP juga membangun fasilitas kesehatan berupa Poliklinik yang melayani masyarakat umum dengan cuma-cuma alias gratis. Anggaran yang disedikan IMIP untuk Poliklinik ini mencapai 1,2 sampai 1,4 milyar perbulannya, dimana 700 juta adalah dana yang dikeluarkan untuk pengadaan obat bagi hampir 400 pasien perhari.

3. Pajak perusahaan yang diterima negara setiap tahun dari IMIP juga besar sekali, yaitu 4 trilyun rupiah (2018), dan estimasi pada 2019 akan berkisar di angka 4,8 trilyun rupiah.

4. IMIP juga merupakan kawasan industri yang mandiri. Ini bisa dibuktikan dengan adanya fasilitas pendukung kawasan seperti pelabuhan khusus, bandara khusus, pengolahan air, pabrik oksigen, dan PLTU sendiri.

5. IMIP juga bekerja sama dengan Politeknik Industri Logam Morowali yang pendiriannya atas inisiasi Kementrian Perindustrian, dimana mahasiswa pada semester 4 & 5 akan melakukan magang di IMIP atau selama 1 tahun penuh.

Gimana, masih mau percaya hoax ?