Showing posts with label bharatayudha. Show all posts
Showing posts with label bharatayudha. Show all posts

Tuesday, May 5, 2020

SENJATA DIAM DI ERA PERANG BHARATAYUDHA

Cerita klasik pewayangan Mahabharata

"Dengan Gugurnya Prabu Salya, Wabah Penyakit Aneh Itu Turut Sirna."

Nun, di arena Kurusetra tampak ribuan manusia menggelepar. Mereka serempak batuk-batuk sambil memegang dada yang panas & kepala yang tiba-tiba menjadi pusing, lalu ambruk di tanah.

Prabu Salya tersenyum menyaksikan kejadian yang mengerikan itu. Tujuannya adalah menunggu lawan seimbang yang akan dimajukan oleh pihak Pandawa untuk menghadapi dirinya. Pun, ajian pamungkasnya itu dikeluarkan semata-mata untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Dia tahu bahwa ajian "Candrabhirawa" miliknya itu tentu ada yang bisa menangkalnya, namun dia tak tahu siapa yang dapat menanggulanginya.

Di seberang lautan manusia yang sedang berperang itu, dengan pandangan batinnya yang tajam, Kresna menyaksikan betapa mengerikan ajian Candrabirawa yang semakin lama terus tersebar, membelah diri dari satu menjadi dua, empat, delapan, enam belas hingga kelipatannya dalam menjangkiti semua orang. 

Di sebelahnya, para Pandawa menatap cemas menyaksikan ribuan manusia menjadi korban keganasan mahkluk tak kasat mata itu.

"Kini saatnya kau maju ke Medan peperangan, wahai adikku Yudhistira (Puntadewa). Tak ada yang dapat menandingi kakek Nakula dan Sadewa itu kecuali dirimu. Lihatlah perbuatannya yang begitu kejam membantai orang-orang tanpa belas kasihan lagi” kata Kresna.

Yudhistira yang berdiri di sebelahnya terhenyak ketika namanya disebut. "Mengapa harus aku yg maju, kangmas Kresna ?" tanya Yudhistira.

"Apa yg kau lihat itu, hai adikku ?" Kresna balik bertanya.

"Aku melihat berjuta-juta mahluk berupa raksasa kerdil sedang menyerang banyak prajurit. Tidak hanya dari pasukan kita saja yang diserang, tapi pasukan Kurawa pun turut diserbunya. Aneh..!," jawab Yudistira.

"Itulah kedasyatan Candrabirawa. Prabu Salya dulu mendapatkan senjata itu dari Resi Bagaspati, mertuanya, dan mertuanya itu memperolehnya dari wejangan "Kesadaran Tumiba Lahir (arwah)" dari Sukrasana saat dia bertapa. 

"Dan hanya manusia yang berjiwa tenanglah yang sanggup menghentikan." 

"Majulah, hadapi kakekmu itu tanpa harus melawan. Turuti apa yang dikehendakinya. Bawalah panahku ini jika beliau memang menghendakinya,"  kata Kresna.

Yudhistira menerima sebuah 'panah bermata cahaya' dari tangannya, lalu maju ke tengah kecamuk perang yang mengerikan dan aneh itu.

Dada Prabu Salya bergetar ketika Yudhistira maju dihadapannya dalam jarak beberapa puluh meter dalam sikap menyembah (anjali) sebagai tanda bakti & hormat

"Mengapa yang maju justru engkau, hai anakku Yudhistira? Aku menginginkan yang melawanku adalah adikmu si Bima (Werkudara) yang gagah perkasa atau Arjuna yang pandai dlm hal memanah" kata Salya.

"Aku datang menghadap hanya minta tolong untuk menghentikan wabah penyakit yang kau tebarkan itu, kek. Aku tak tega menyaksikan ribuan orang yang menjadi korban keganasannya. Kalau kau tak mau, segera bunuhlah aku daripada orang yang tak bersalah itu terbunuh. Jika aku mati, maka pihak Pandawa kalah. Itu sudah cukup" jawab Yudhistira.

"Oh, Yudhistira. Tidak semudah itu dalam peperangan ini. Jika kau ingin mati, maka panahlah aku dengan senjata di tanganmu itu, biar aku pun akan memanahmu dengan senjataku" kata Prabu Salya.

Maka, dengan setengah hati Yudhistira menyanggupi tantangannya. 

Senjata  Cakra Baskara pemberian Kresna dilesatkan tanpa semangat, pun tak ditujukan ke arah lawannya melainkan hanya menghadap ke bawah. Matanya terpejam ketika senjata itu melesat lemah dari gandewa di tangannya. 

Ajaib,...........…....... panah itu justru melesat secepat kilat ketika terantuk tanah dan menghujam tepat  di dada prabu Salya yang meremehkan semangat perang Yudhistira si lelaki lemah lembut itu. 

Terdengar suara menggelegar dan seketika dia tersungkur tewas. Pasukan manusia kerdil tak kasat mata yang sedang menyerang semua orang itu menjadi terkejut dan menghentikan perbuatannya. 

Tampaklah manusia dengan sinar suci berdiri dengan tenang hingga membuat mereka menjadi lemah dan akhirnya musnah. 

"Sejak kematian prabu Salya itu maka berangsur-angsur wabah penyakit aneh itu pun ikut lenyap."

Makna perenungan :

Dalam kisah di atas penyakit aneh atau jaman sekarang disebut sebagai wabah penyakit itu sudah pernah ada sejak zaman purwa carita.

"Yudhistira, putra Pandu yang dikenal jujur, & berdarah putih  itu berhasil mengatasi wabah penyakit dengan *tanpa berperang"

Namun, sikap berperangnya dengan cara mata terpejam (diam, bersamadhi, Work From Home, WFH).

Senjata Cakra Baskara adalah senjata ampuh dapat mengatasi marabahaya wabah penyakit ganas berlipat-lipat yang akhirnya musnah oleh ksatria berjiwa tenang dan jujur. 

Apa yg dapat dipetik dari kisah ini ?

"Marilah tetap tenang, tidak panik. Kita nantikan ksatria berjiwa jujur* dan berbudi luhur yang segera hadir menuntaskan wabah penyakit saat ini. Hingga kehidupan pulih normal kembali"

Semoga banyak Yudistira di negeri ini secara tulus untuk berkarya. Bukan cercaan, penolakan atau olok olok yang malah diberikan kepada anak negeri ini. 

NGLURUG TANPO BOLO , MENANG TANPO NGASORAKE

Sunday, May 20, 2018

YUDHISTIRA MOKSA

YUDHISTIRA MOKSA
Mari kita coba baca teks kuno dari Mahabharata ini. Episode ini  jarang dilihat orang, tapi maknanya top markotop
CUPLIKAN MAHABHARATA - kandha-14
Yudhistira Moksa
Beberapa tahun setelah darah mengering di medan Kurusetra, Hastinapura menjelma menjadi negara yang agung di bawah pimpinan Prabu Parikesit.  
Saat itulah Yudhistira merasa tugasnya telah selesai. Maka ia mengutarakan keinginannya untuk mencari kesejatian, kembali kepada “Sangkan Paraning Dumadi” dengan mendaki Gunung Himawan/Mahameru
Keempat saudaranya, dan Drupadi, terkesiap. Mereka tak mau ditinggalkan di istana.
“Aku tak punya siapa-siapa lagi, Kakang…” isak Drupadi “Aku hanya punya dirimu dan Pandhawa…”.
Drupadi benar. Seluruh keluarganya terbunuh di Bharatayudha. Ayahnya, Drupada tewas di tangan Dorna. Drestajumena, adiknya, yang disusupi roh dendam kesumat Ekalaya berhasil membunuh Dorna. Namun hanya dalam hitungan hari Asuatama menuntut balas membantai Drestajumena.
Bersimpuh di kaki suaminya, Drupadi meleleh mengenang nasibnya yang remuk. Nun di balairung Hastinapura kemolekan tubuhnya nyaris terumbar oleh tangan mesum Dursasana ketika ksatria ini mempertaruhkan dirinya di meja dadu.
Yudhistira terdiam mendengar isak Drupadi, Namun keputusannya telah bulat. Ia harus pergi, tugasnya di dunia telah selesai.
Maka berangkatlah Pandhawa Lima dan Drupadi menuju pegunungan Mahameru. Tak lupa mereka membawa serta seekor anjing putih kecil.
Perjalanan sangat berat. Medan dan cuaca yang ganas membuat Drupadi mulai mengeluh. Berkali-kali Yudhistira berusaha memapahnya agar terus berjalan. Tapi Drupadi tak sanggup meneruskan langkahnya dan terjatuh.
“Aku tak sanggup lagi, Kakang..” ia merintih.
Yudhistira memutar kembali ingatannya. Bertahun-tahun ia meredam perih tatkala mendapati bahwa selama ini sebenarnya Drupadi mencintai Arjuna. Bukan dirinya. Drupadi jualah yang membuat Adipati Karna mabuk kepayang hingga ajal menjemput diujung Pasopatinya Arjuna. Dan kini, "belahan jiwa" itu sekarat di lengannya ketika mereka baru mencapai kaki Gunung Himawan.
Berlima mereka meneruskan langkah di tengah cuaca yang kian mendera. Panas yang mengelupas kulit berubah dingin yang mendera tulang. Sadewa mulai limbung. Ia menguat-nguatkan dirinya agar mampu mengikuti langkah kakak-kakaknya.
“Kakang… tolonglah aku” keluh Sadewa. Ia mencoba merangkak tapi seluruh persendiannya seakan terlepas. Nafasnya tersengal-sengal dan tak sanggup meneruskan perjalanan. Sadewa tewas ketika perjalanan baru mencapai lereng.
Kematian Sadewa ternyata baru awal. Tak lama kemudian menyusul satu demi satu Nakula dan Arjuna. Bima menggeram. "Kenapa adik-adikku harus mati dengan cara yang mengenaskan, Kakang, aaarrrgggh!”
“Bima…” suara Yudhistira bergetar “Tuhan tidak menyukai kesombongan. Sadewa merasa dirinya paling tampan. Nakula mengangap dirinya paling pandai. Sedang Arjuna, hmmm….”
Yudhistira menerawang. “Kesaktian Arjuna setingkat Dewa” ujar Yudhistira. “Ia gemar tapabrata dan kekasih Hyang Batara Indra. Tapi ia jumawa. Masih ingatkah kau ketika adikmu itu menggugat darah balas darah, pati balas pati tatkala puteranya gugur? Ia bersumpah akan membalas kematian Abimanyu sebelum matahari lengser. Ternyata ia tidak menepati janjinya. Tuhan tidak suka.”
Sekuat tenaga mereka berdua meneruskan langkah. Puncak Gunung Himawan temaram di antara halimun.
Bima mulai gontai. Terseok-seok ia berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya beberapa langkah di belakang Yudhistira. Tapi ia semakin tertinggal jauh. Hingga akhirnya tubuh raksasa itu berdebam jatuh menimpa bumi.
“Kakang… aku tak sanggup lagi… ” teriak Bima._
Yudhistira menghentikan langkahnya untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pahlawan Bharatayudha itu.
Batinnya bergumam. “Wahai Putera Bayu kesayangan Dewa Ruci… engkau jumawa dan merasa dirimu tak terkalahkan oleh siapapun. Bicaramu kasar, dan engkau tak pernah merasa bersalah. Selamat jalan, pergilah, adikku…”
Yudhistira meneruskan langkahnya ditemani anjing putih yang setia itu. Hingga sampailah keduanya di puncak Gunung Mahameru.
Suasana hening. Siluet tubuh Yudhistira tampak merunduk menghitam dilatari salju. Rambut sebahu yang puluhan tahun disemati makuta berlian itu lusuh memburai.
“Semua telah pergi. Sebentar lagi giliranku. Duh Yang Maha Agung… terimalah adik-adik hamba…” Ia menarik nafas panjang, lalu membungkukkan badan berbicara kepada anjingnya. “Aku gundah bukan karena harus menghadapi ajalku. Namun aku tak tega meninggalkanmu sendirian di puncak gunung ini…”
Tiba-tiba anjing putih itu lenyap menjadi asap bergulung. Yudhistira terdongak mendengar suara gemuruh di angkasa. Dari balik awan Betara Indra muncul mengendarai kereta kencana yang dihela delapan kuda sembrani putih. Berhenti tepat di hadapan putera sulung Pandu Dewanata ini.
“Samiaji…” ujar Betara Indra “adik-adikmu gagal karena hidup mereka sarat dengan pamrih. Mereka merasa bahwa dirinya “penuh berisi” padahal sejatinya “kosong”. Sedang engkau sebaliknya. Engkau “mengisi”, dengan “mengosongkan” dirimu”.
Betara Indra mengangsurkan tangannya “Ayo. Naiklah ke atas keretaku... kuantar engkau ke surga karena keutamaanmu”.
MORAL OF THIS STORY
Saudaraku. Kita tak harus menjejali diri penuh-penuh untuk “mengisi” diri kita, namun dengan "mengosongkan" hati. Percayalah... Sang Maha Pemberi akan mengisinya.

Semoga bermanfaat cuplikan-cuplikan dari Mahabharata yang tak lekang oleh waktu..