Showing posts with label uang. Show all posts
Showing posts with label uang. Show all posts

Sunday, December 2, 2018

BERHALA JAMAN NOW

BERHALA JAMAN NOW
Red: Agung Sasongko
REPUBLIKA.CO.ID, OLEH: Muhammad Arifin Ilham
Kontennya menjangkau peristiwa yang akan datang.
"Akan datang suatu zaman atas manusia, perut-perut mereka menjadi Tuhan-Tuhan mereka. Perempuan-perempuan mereka menjadi kiblat mereka. Dinar-dinar (uang) mereka menjadi agama mereka. Dan kehormatan mereka terletak pada kekayaan mereka."
Para sahabat menyimak penuh khidmat. Lanjut Sang Nabi, "Waktu itu, tidak tersisa dari iman kecuali namanya saja. Tidak tersisa dari Islam kecuali ritual-ritualnya saja. Tidak tersisa Al Quran kecuali sebatas kajiannya saja. Masjid-masjid mereka makmur, tetapi hati mereka kosong dari petunjuk (hidayah- Nya). Ulama-ulama mereka menjadi makhluk Allah yang paling buruk di permukaan bumi."
Tergurat dari wajah para sahabat, rasa sedih dan cemas.  Dipandanginya lekat-lekat wajah Rasul, disimaknya kalam-kalam bertutur manusia pilihan tersebut. Hingga sampailah Sang Murabby Agung itu menggambarkan keadaan apa yang akan terjadi nanti jika sudah sedemikian menyedihkan kondisi umatnya.
"Kalau sudah terjadi zaman seperti itu, Allah akan menyiksa mereka dan menimpakan kepada mereka empat perkara (azab). Pertama, kekejaman tak berperi dari para penguasa.  Kedua, kekeringan tak terhingga yang sangat lama. Ketiga, beraneka kezaliman para pejabat kepada rakyat jelata. Dan keempat, pisau hukum para hakim tumpul, sekarat, dan berkarat."
Atas tuturan ini, para sahabat pun terheran-heran. Mereka bertanya, "Wahai Rasul Allah, apakah mereka ini para penyembah berhala?"
"Ya! Bagi mereka, setiap dirham (uang) menjadi berhala (dipertuhankan/disembah)" pungkas Nabi SAW.
Hadist yang cukup panjang riwayat Bukhari Muslim yang muttafaq alaih ini pun akhirnya menjadi renungan kita semua. Berhala itu bukan lagi patung- patung atau arca. Berhala zaman now itu berupa uang.
Kini, kita lihat bagaimana keadaan kita. Hari-hari kita fokusnya selalu uang. Detik, menit, dan jam dihitungnya dengan standar uang. Berangkat pagi pulang malam, bahkan hingga tidak pulang, yang dicari dan dikejar adalah uang.
Pemimpin dan para pejabatnya berusaha mati-matian untuk mengekalkan zona nyamannya; ternyata pengorbitnya adalah uang. Para hakim kehilangan muruah agungnya.
Hukum dipermainkan atas kepentingan pemilik modal. Jika modal kuat, pisau hukum kelihatan tumpul. Sebaliknya terhadap pihak yang tidak ada modal pisau hukum sangat tajam. Ujung-ujungnya bisa ditebak semua karena uang.
Ikhwah fillah, mari sadarkan diri kita semua. Uang memang bisa membeli rumah, tapi tidak bisa membeli ketenangan. Uang bisa membeli dunia, tapi tidak akan pernah bisa membeli bahagia. Bahagia dan surga hanya bisa dibeli dengan 'sekadar uang' yang dikuasakan oleh ketaatan yang sempurna kepada Allah dan rasul-Nya.

Wallahu a'lam.

Wednesday, April 18, 2018

BAYAR TUNAI JADI KUNO

BAYAR TUNAI JADI KUNO
By Dahlan iskan - 13 April 2018
Saya jadi orang aneh. Dua hari terakhir ini. Jadi orang kuno.
Misalnya tadi malam. Saat saya jalan-jalan di sebuah gang yang ramai di kota Amoy. Disebut juga kota Xiamen. Kota besarnya suku Hokkian. Saya mampir beli cakue. Di pinggir gang. Di pedagang kaki lima. Ternyata sayalah satu-satunya orang yang membayar dengan uang. Padahal ini di dalam gang. Di kaki lima.
Saya sengaja berdiri sekitar 15 menit. Di gang itu. Untuk menghitung pembeli. Khususnya yang masih membayar dengan uang. Ternyata tetap saja hanya saya sendiri. Pembeli lainnya membayar pakai hand phone: WeChat atau AliPay.
Lihatlah beberapa foto yang saya sertakan di sini. Orang yang beli makanan di kaki lima itu senjatanya hanya hand phone. Bukan lagi dompet. Padahal harga makanan itu hanya satu renminbi. Atau sekitar Rp 2.000. Benar-benar uang kecil pun tidak diperlukan di Tiongkok.
Malamnya saya makan di restoran. Juga jadi orang aneh. Orang kuno. Satu-satunya yang saat itu membayar dengan uang.
Keesokan harinya saya naik kereta peluru. Kecepatannya 300 km/jam. Dari Xiamen ke kabupaten Quanzhou. Sejauh 200 km. Hanya 25 menit.
Saya lagi membayangkan dari Surabaya ke kampung saya di Magetan. 25 menit. Saya juga satu-satunya orang yang membeli tiket dengan uang: 25 RMB. Sekitar Rp 50.000. Jauh lebih murah dari karcis tol baru antara Surabaya-Kertosono.
Stasiun kereta peluru ini ternyata di luar kota. Ongkos taxinya 60 RmB. Dua kali lebih mahal dari harga tiket kereta pelurunya.
Malam tadi saya balik ke Xiamen. Kali ini pilih kereta cepat: 200 km/jam. Bukan kereta peluru. Tiketnya lebih mahal: 35 RMB. Ini karena bisa berhenti di stasiun kota Xiamen. Tidak perlu ada ongkos taksi yang mahal itu.
Sekali lagi saya jadi satu-satunya orang yang beli tiket kereta cepat dengan uang kontan. Meski hanya 35 RMB. Tiga lembar sepuluhan dan satu lembar lima renminbian. Petugas memasukkan tiga lembar uang saya itu ke mesin. Hanya 35 RMB. Diperiksa palsu atau tidak. Sampai dua kali. Rupanya sudah lama petugas itu tidak lihat uang. Kepekaan jarinya rupanya sudah berubah. Tidak bisa lagi meraba perbedaan lembar asli dan palsu.
Di Quanzhou saya makan siang. Di mie favorit saya: Lanzhou Lamian. Mie tarik Lanzhou. Saat mulai duduk pelayannya menunjuk sudut meja saya.
Di situlah tertempel barcode. Dia bilang: bayarnya nanti di pojok meja itu. Saya bilang bahwa saya akan bayar pakai uang. Dia tampak kaget. Lalu lapor ke atasannya. “Ok,” jawab pelayan itu. Setelah berkonsultasi dengan bosnya. Untuk urusan bayar dengan uang tunai!
Saat tiba waktunya membayar, terjadi lagi apa yang saya lihat di stasiun. Kasirnya lama sekali mengamati uang itu. Palsu atau tidak. Dibolak-balik. Baru ok.
Begitulah, saya pernah jadi orang modern: membayar dengan credit card. Kini credit card sudah menjadi kuno. Bahkan lembaran uang pun sudah menjadi usang.
Quangzhou adalah kabupaten. Satu kabupaten di provinsi Fujian. Pelabuhannya pernah menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Di zaman Mojopahit.
Entah berapa puluh ribu orang Hokkian (Fujian) yang pernah menggunakan pelabuhan ini. Zaman itu. Dan zaman berikutnya. Untuk xia nan yang. Mencari hidup baru di wilayah selatan. Yang kelak di tahun 1900-an wilayah itu bernama Indonesia.
Kini pelabuhan itu masih ada. Bekasnya. Sudah sangat usang. Sudah lebih sepi dari pelabuhan Donggala. Hanya perahu-perahu nelayan yang mangkal di situ. Dengan wujud yang tidak bergairah.
Zaman terus bergerak. Yang modern jadi kuno. Yang besar jadi punah. Hidup terus maju. Meninggalkan siapa pun yang tidak setuju. (dis)

http://www.disway.id/