Showing posts with label afghanistan. Show all posts
Showing posts with label afghanistan. Show all posts

Monday, September 6, 2021

WHO'S THE BOSS

NEGARA MANA YG LAYAK DISEBUT NEGARA ADI DAYA/SUPER POWER.

BY Chandra Suwono.

Rombongan pasukan Amerika Serikat terakhir hengkang dari Afganistan pada tgl 31agustus yg lalu dengan meninggalkan berbagai masalah untuk rezim baru diafganistan Taliban, setelah hampir 20 tahun invasi militernya di Afganistan dan GAGAL dalam menjalankan misinya maupun untuk mencapai targetnya. 

Dengan hengkang nya AS dari Afganistan,menteri pertahanan Inggris Ben Wallace sebagai saudara kandung nya AS mengeluarkan pernyataan sebagai penilaian terhadap AS, bahwa AS saat ini tidak layak lagi disebut negara Adi daya atau Super power.

Kini penguasa baru diafganistan Taliban menghadapi masalah baru sepeninggalan AS,karena harus kembali berperang melawan ISIS khorasan dan milisi lembah panjshir. 

AS telah Gagal mengendalikan dan memelihara ISIS ciptaan nya yg selama perang disuriah tidak pernah menyentuh kepentingan AS barat,namun ISIS di Afganistan telah bermutasi menjadi ganas terhadap kepentingan AS Barat. 

Bom bunuh diri yg terjadi di gerbang bandara internasional Hamid Karzai di ibukota Kabul pada tgl 27 agustus yg menewaskan 13 militer AS dan melukai 170 orang, adalah menandakan ISIS - K diAfganistan telah bermutasi dan berbalik menyerang kepentingan As Barat.

Sebab ISIS - K mengaku bertanggung jawab atas serangan bom bunuh di Bandara internasional di Kabul dan serangan tsb juga merusak kredibilitas rezim Taliban yg telah berusaha keras sebagai penjamin keamanan dan stabilitas disekitar bandara Kabul sementara AS dan sekutunya menyelesaikan evakuasi.

Hal inipun dapat mengganggu kesepakatan antara Tiongkok dengan rezim Taliban, karena didalam pertemuan antara delegasi Taliban dengan menteri luar negeri tiongkok Mr Wang Yi di kota chong Qing pada tgl 16/08-2021.

Tiongkok meminta rezim taliban untuk melakukan Rekonsiliasi perdamaian dan Rekonstruksi di Afganistan untuk mewujudkan kebijakan yang sesuai prinsip islam moderat,

Itu merupakan syarat dari tiongkok untuk bekerja sama dengan rezim Taliban dalam membangun kembali,Rehabilitasi dan Rekonstruksi untuk transformasi ekonomi di Afganistan,agar kesejahteraan dan kedamaian dapat dinikmati rakyat Afganistan dibawah Rezim Taliban.

Sektor ekonomi Afganistan yg sudah buruk sejak invasi militer AS tahun 2001 dan akan semakin buruk pasca serangan Isis - K, untuk Rehabilitasi dan tranformasi ekonomi Afganistan akan akan masuk kedalam kamp BRI, Belt Road Initiative mengikuti negara tetangga nya seperti Bangladesh dan Pakistan yg terlebih dahulu ikut dalam kamp tsb.

BRI, BELT ROAD INITIATIVE atau sebelum nya dikenal dengan nama OBOR, ONE BELT ONE ROAD adalah mega proyek di inisiasi oleh pemerintah Tiongkok untuk pembangunan global yg melibatkan puluhan negara didunia ini.

Untuk itu pemerintah tiongkok telah menyiapkan dana investasi sebesar total 8 triliun USD dalam mega proyek BRI untuk mengerakan dan mengedukasi ekonomi global khususnya negara peserta dengan keuntungan yg berimbang,dan berbagi kemakmuran dengan negara peserta mega proyek BRI.

Misalnya Pakistan yg mengambil keuntungan untuk negaranya dalam mega proyek BRI yg diberi nama KORIDOR EKONOMI TIONGKOK - PAKISTAN (CPEC) proyek pembangunan insfraktruktur jalan tol, kereta cepat,dan pipa minyak dan gas yg menghubungkan pelabuhan Gwadar di Pakistan Barat daya dengan wilayah otonom Xin Jiang di tiongkok Barat.

Jalur sutera abab 21 yg membentang dari Gwadar sampai kashgar sepanjang 3000 km ini akan memakan biaya sekitar 46 milliar USD, proyek yg akan memakan waktu pembangunan selama beberapa tahun.

Ini adalah investasi luar negeri terbesar yg pernah dilakukan oleh Tiongkok,dan koridor ini diperkirakan akan segera beroperasi serta akan menjadi pemain penting yg strategis di kawasan ini,proyek yg akan mengubah tatanan nasib negara2 dikawasan Asia Selatan. 

Dalam jangka panjang, koridor ini akan menjadikan negara Pakistan sebagai negara  maju yang kuat, makmur dan sejahterah dari pada masa2 sebelumnya. 

Bangladesh sudah ikut serta dalam mega proyek ini dan mungkin Afganistan akan menyusul,ini akan menjadikan Asia Selatan sebagai kekuatan ekonomi baru,yg sebelumnya untuk bermimpi saja tidak ada yg berani,tapi hari ini dan seterusnya akan menjadi kenyataan.

Demikian juga perjalanan jalur sutera abab 21 BRI  yg telah sampai dibenua Afrika,Etiophia yg beberapa dekade yg lalu merupakan negara termiskin didunia, busung lapar,penyakit kekurangan gizi adalah penyakit yg selalu diderita oleh rakyat dari negara miskin seperti Ethiopia pada beberapa dekade yg lalu. 

Namun sejak masuknya investasi Tiongkok melalui mega proyek BRI, Ethiopia mengalami pertumbuhan ekonomi yg luar biasa dan pada awalnya sempat tumbuh 2 digit dan sekarang stabil tumbuh 8.6%,kemakmuranpun mulai nampak dalam kehidupan rakyat Ethiopia

Bahkan Ethiopia sedang membangun platform media sosial nya sendiri yg mampu menggantikan Facebook, Zoom,Twitter hingga whats App,sehingga 

Ethiopia pun disebut little china, karena juga merupakan pintu gerbang masuk nya investasi Tiongkok keseluruh benua Afrika.

Inilah yg akan menjadikan negara Tiongkok untuk layak disebut sebagai  negara ADI DAYA baru dan dengan kekuatan ekonominya untuk membagikan kemakmuran keseluruh pelosok dunia,SOFT POWER.

Tiongkok akan menjadi pusat ekonomi global dan pusat peradapan manusia untuk saat ini dan pada masa yg akan datang.

Sesuai dengan apa yg pernah diramalkan Napoleon ketika berkunjung ketiongkok pada pertengahan abab ke18, bahwa Tiongkok adalah Naga Raksasa yg sedang tertidur,biarkan lah dia tertidur, namun ketika dia bangun akan mengguncangkan dunia dengan Membawa perdamaian dan kemakmuran pada dunia,dan hari ini telah terbukti. 

Pada sisi lain super power yg kita kenal selama ini AS, setelah perang dunia kedua dan selesainya perang dingin dengan Uni soviet(blok Timur) yg selalu memaksakan kepentingan nya dengan kekuatan militernya pada negara2 ketiga,dengan jargon demokrasi dan Ham AS hamtan kiri dan kanan dengan tujuan untuk menguasai sumber kekayaan alam. 

AS selama beberapa dekade ini telah menjadi kerajaan jahat, dengan dalih palsu nya mengebom Libya, Suriah, Irak,yaman dan Afganistan,dengan menciptakan bencana kemanusiaan pengungsi yg harus ditanggung masyarakat dunia. 

AS juga mengguncang Amerika latin seperti Argentina, meksiko, Venezuela dan juga beberapa negara Afrika dengan target penguasaan atas sumber kekayaan alam,AS adalah negara diatas hukum internasional dan dapat melakukan apa saja yg mereka suka dan menguntungkan mereka.

Bagaimana pengganggu  besar dan bajingan dipanggung internasional, yg berkelakuan seperti preman kampung ini layak disebut ADI DAYA,sehingga kita menjadi sepakat dengan pernyataan menteri pertahanan Inggris Ben Wallace, bahwa AS saat ini tidak layak disebut negara ADI KUASA,dan Afganistan adalah kutukan terakhir untuk masyarakat dunia.

Sesuai dengan tulisan MARTIN JACQUES bahwa abab 21 adalah waktu kebangkitan dunia Timur dan akhir dunia barat,when China Rules the world,perdamaian dan kemakmuran dunia akan terwujud.

Jakarta 6 september 2021. 

Friday, September 3, 2021

TALIBAN, AFGHANISTAN DAN INDONESIA

SUMANTO AL QURTUBY ;  Pendiri dan Direktur Nusantara Institute; Pengajar King Fahd University of Petroleum & Minerals; dan Kontributor Middle East Institute, Washington DC

KOMPAS, 3 September 2021

Sejumlah kelompok agama dan elite politik di Indonesia tampak kegirangan dengan keberhasilan milisi Taliban mengontrol dan mengambil alih kekuasaan di Afghanistan.

Mereka juga mendesak Pemerintah RI untuk segera mendukung rezim Taliban. Entah apa yang ada di benak mereka. Padahal, Taliban memiliki sejarah dan reputasi sangat buruk dalam menjalankan roda kepolitikan dan pemerintahan yang membuat rakyat Afghanistan ketakutan dan hidup dalam penderitaan lahir-batin.

Fakta bahwa ratusan ribu warga Afghanistan mencoba kabur dari negara mereka sejak Taliban mengambil alih kekuasaan menunjukkan apa atau siapa “jati diri” Taliban sesungguhnya. Jelas bahwa rakyat Afghanistan trauma terhadap rezim Islamis-fundamentalis Taliban saat lima tahun (1996-2001) berkuasa, yang penuh dengan kebiadaban dan ketidakmanusiawian. Dengan jatuhnya kembali Afghanistan ke tangan Taliban, mimpi buruk dan drama horor terbayang di depan mata mereka.

Selama kekuasaan rezim Taliban yang disokong Pakistan dan Al Qaeda, Afganistan (oleh Taliban diberi nama Emirat Islam Afghanistan) menjelma jadi “neraka” dunia mengerikan. Bahkan Korea Utara jauh lebih baik ketimbang Afghanistan di masa Taliban. Kemiskinan, kelaparan, dan malnutrisi merajalela. Kekerasan demi kekerasan tak pernah berhenti. Perang sipil antarfaksi Islam dan kelompok suku terus berkecamuk.

Pembantaian warga terjadi di mana-mana, bukan hanya terhadap kelompok minoritas etnis dan agama saja (misalnya, kelompok Syiah Hazara) tetapi juga terhadap siapa saja dan kelompok mana saja yang mereka anggap dan cap rival dan musuh pengganggu kekuasaan.

Penting untuk dicatat, rezim Taliban bukan hanya melakukan genosida atas manusia tetapi juga atas produk-produk spiritual-kebudayaan mereka (oleh Raphael Lemkin disebut “cultural genocide”) seperti aneka ragam karya seni, monumen bersejarah, peninggalan kepurbakalaan, atau bahkan bangunan tempat peribadatan karena dicap kafir-sesat, berpotensi menyekutukan Tuhan, tidak religius, atau dianggap menodai kemurnian akidah dan ajaran fundamental Islam yang mereka pegang dan yakini.

Selama berkuasa, rezim Taliban mengunci atau menggembok Afghanistan dari dunia luar. Mereka juga menolak bantuan makanan PBB untuk jutaan warga yang kelaparan. Mereka melarang media dan berbagai aktivitas publik yang dianggap berpotensi mengganggu kekuasaan. Berbagai aktivitas seni-budaya diharamkan termasuk musik, fotografi, lukisan, film, tarian, dan sebagainya.

Kaum perempuan jadi obyek paling mengenaskan. Mereka harus berpakaian tertutup rapat dari ujung kaki hingga ujung kepala, tak boleh pergi ke tempat umum sendirian tanpa ditemani muhrim (biasanya anggota keluarga), dilarang bekerja di sektor publik (kecuali dokter atau perawat untuk melayani pasien perempuan karena petugas medis laki-laki tak boleh menangani pasien perempuan), anak perempuan dilarang sekolah. Dan masih banyak lagi kisah pilu mereka. Jika melanggar aturan, mereka akan dihukum cambuk di hadapan publik.

Taliban juga menerapkan kebijakan scorched earth, yakni sebuah strategi untuk menghancurkan aset apa saja (kawasan, fasilitas publik, sumber-sumber ekonomi, industri, dan lainnya) yang dipandang memberi manfaat pihak lawan.

Karena itu jangan heran kenapa ketika Taliban berkuasa mereka memusnahkan banyak kawasan subur dan membakar rumah-rumah dan perkampungan penduduk. Ketika kekuasaan rezim Taliban rontok tahun 2001 karena digempur tentara AS setelah tragedi terorisme 9/11, kekerasan yang mereka lakukan tak serta-merta berhenti.

Berbagai aksi pengeboman dan terorisme keji untuk menggoyang pemerintah terus mereka lancarkan tanpa henti selama 20 tahun (2001–2021), memakan korban ribuan nyawa dan kerusakan fisik tak terhingga.

Sasaran terorisme (biasanya berupa aksi bom bunuh diri) bukan hanya aparat keamanan atau kantor pemerintahan, tetapi bisa siapa saja (warga sipil, jurnalis, anak-anak, perempuan, dan sebagainya) dan apa saja (termasuk madrasah dan masjid). Mereka disinyalir juga jadi pelaku pengeboman di area kerumunan massa yang ingin kabur di kompleks bandara Kabul.

Nafsu kekuasaan

Kenapa Taliban menerapkan politik totalitarian dan membabi buta yang membuat Afghanistan kian terperosok dan porak-poranda? Jawabannya sangat simpel. Karena mereka tak mengerti cara memimpin warga yang majemuk dan memerintah sebuah negara. Mereka tidak memiliki pengetahuan, wawasan, strategi, dan skill untuk memerintah dan mengelola sebuah negara-bangsa. Hanya nafsu kekuasaan yang mereka miliki.

Akhirnya, untuk mengontrol ketaatan publik serta membuat warga tunduk dan patuh, yang bisa mereka lakukan hanya meneror dan menakut-nakuti warga dengan berbagai peraturan dan hukuman keras atas nama “penegakan syariat Islam”. Jadi Taliban pada dasarnya adalah “para bandit berjubah agama.”

Taliban memang bukan kelompok cerdik-cendikia yang berwawasan luas tentang seluk-beluk ilmu pemerintahan, kepolitikan, perekonomian, atau kebudayaan.

Dalam sejarahnya, Taliban adalah sebuah gerakan politik-agama yang terdiri dari kumpulan murid/alumni madrasah (taliban berarti murid/ siswa) yang berafiliasi ke sekolah-sekolah Deobandi (tersebar di berbagai daerah di Asia Selatan) yang bercorak literalis-revivalis-konservatif yang sangat ketat, rigid, closed-minded dan ekstrem dalam memahami, menafsirkan, dan mempraktikkan teks, wacana dan ajaran keislaman.

Baca juga : Tak Ada Hitam Putih di Afghanistan

Lebih jelasnya, kelompok atau gerakan Taliban adalah kombinasi antara ajaran Islam revivalis-konservatif ala Deobandi, ideologi militan Islamisme ala Al Qaeda, dan norma sosial Pasthunwali, yakni gaya hidup tradisional masyarakat Pasthun karena mayoritas Taliban memang dari suku/etnik Pasthun.

Taliban dibentuk tahun 1994 oleh Muhammad Umar (1960-2013, dikenal sebagai Mullah Umar), mantan siswa madrasah Deobandi dan bekas milisi Mujahidin dalam perang Afghanistan - Soviet (1979–1989), yang kala itu baru berumur 34 tahun.

Taliban berhasil menguasai panggung kekuasaan Afghanistan setelah berhasil memanfaatkan situasi chaos dan konflik internal antar-faksi Islam lantaran kegagalan elite politik-agama Afghanistan capai kesepakatan pemerintah koalisi nasional pasca-hengkangnya Tentara Merah Soviet.

Konflik internal antarkelompok Islam dan elite politik-agama itu kemudian memicu meletusnya perang sipil mahadahsyat yang membuat Afghanistan untuk kesekian kali hancur lebur. Sekitar enam faksi Islam (Hizbul Islam Gulbuddin, Jamiat Islami, Ittihad Islam, Harakat Inqilab Islam, Hizbul Wahdat, dan Junbish Milli) saling berebut kekuasaan, saling mengkhianati, saling membunuh, dan saling memerangi.

Padahal, kelompok radikal Islamis ini (dengan dukungan AS) dulu bersatu-padu sebagai “pejuang mujahidin” melawan tentara Soviet. Begitu Soviet berhasil dipukul mundur, mereka sendiri yang ironisnya saling gempur demi kekuasaan.

Di saat Afghanistan kacau-balau dilanda perang sipil itulah, milisi Taliban muncul sebagai “kuda hitam” yang berhasil merangsek, mengontrol, dan menguasai dua pertiga wilayah Afghanistan dan mendeklarasikan diri pemerintahan baru dengan nama Emirat Islam Afghanistan tahun 1996.

Apakah dengan pendeklarasian pemerintah oleh Taliban ini dengan sendirinya perang sipil berhenti? Tentu saja tidak. Perang sipil antarkelompok (termasuk “Aliansi Utara” yang dibentuk warlord Ahmad Shah Massoud yang terdiri dari koalisi sejumlah kelompok etnis seperti Uzbek, Tajik, Hazara, Turki, Pasthun) terus berlanjut dan berkecamuk.

Mewaspadai “Indonistan”

Jadi, cerita elite Taliban yang sekarang dianggap mengkhianati klausul/kesepakatan perjanjian damai dengan pemerintah Afghanistan (dan pemerintah AS) bukan hal baru. Cerita pendongkelan/pengambilalihan kekuasaan yang kini Taliban lakukan setelah 20 tahun bergerilya juga bukan cerita baru. Ini hanya kisah lama yang kembali terulang.

Siapapun yang mempelajari sejarah Afghanistan akan tahu negeri di kawasan Asia Tengah dan Asia Selatan ini diwarnai konflik, perang, dan perebutan kekuasaan bukan hanya dengan kelompok luar (non-Afghanistan), tetapi juga dengan sesama kelompok sosial di Afghanistan.

Aksi saling jegal, saling bunuh, dan saling memerangi antarkelompok, baik kelompok agama, ideologi, etnis, suku, klan, keluarga, maupun daerah (misalnya Afghanistan utara vs selatan) sudah lumrah terjadi. Jauh sebelum munculnya kelompok Islamis di panggung politik Afghanistan, kelompok-kelompok sosial lain sudah saling baku hantam demi kekuasaan.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari “drama horor” Afghanistan dan rezim militan Taliban? Satu hal yang tak boleh diabaikan: jangan meremehkan dan membiarkan kelompok agama berhaluan radikal-konservatif.

Meski awalnya kelompok ini barang kali hanya bergerak di wilayah non-politik (dakwah-keagamaan, moralitas publik, akidah/teologi, dan sebagainya), jika ada kesempatan, peluang, sokongan, dan dukungan pihak luar, mereka bisa menjelma jadi kelompok militan agama-politik yang kejam, ekstrem, dan radikal dalam menjalankan paham kepolitikan dan keagamaan.

Baca juga : Talibanisasi dan Kontestasi Perempuan

Anggota Taliban mungkin tidak ada di Indonesia. Tetapi umat Islam yang berhaluan, berwawasan, bermental, dan berpola-pikir ala Taliban cukup banyak populasinya. Mereka menyelinap dan tersebar di parpol, ormas, institusi pendidikan, lembaga dakwah, dan bahkan pemerintah.

Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat yang peduli dengan masa depan perdamaian, toleransi, dan kebinekaan bangsa dan negara Indonesia perlu waspada dengan gerak-gerik mereka. Aparat hukum dan aparat keamanan juga jangan sampai lengah. Jika tidak hati-hati dan tidak ditangani dengan tegas dan saksama, bukan tidak mungkin, mereka kelak bisa menjelma menjadi “Taliban Indonesia” dan menyulap negara ini menjadi “Indonistan”. ●

Sumber :  https://www.kompas.id/baca/opini/2021/09/03/taliban-afghanistan-dan-indonesia/