Showing posts with label tiongkok. Show all posts
Showing posts with label tiongkok. Show all posts

Saturday, September 11, 2021

CHINA VS US

"If you think of China as a country that copies rather than innovate - think again!!" (Amy Webb)

Ambillah Tiongkok memang benar mencuri teknologi maka bagi AS untuk mengatasi hal ini sangat mudah. Tinggal buktikan saja didepan pengadilan dan tuntut Tiongkok untuk membayar lunas semua paten yang dilanggar, gampang sekali 'kan? Apalagi AS 'kan gudangnya ahli hukum (lawyer) kelas dunia, kurang apalagi? Jika AS menempuh jalan ini ada banyak keuntungan diperoleh, Tiongkok akan jatuh namanya karena terbukti mencuri dan AS akan menerima banyak uang sebagai ganti rugi paten yang dilanggar. Disinilah kita harus kritis, mengapa AS tidak menempuh jalan hukum yang begitu mudah ini? Namun memilih untuk sekedar berpolitik? Penjelasan rasional yang paling mudah adalah AS tidak memiliki bukti bahwa terjadi pencurian teknologi oleh Tiongkok. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana fenomena ini dapat dijelaskan?

Untuk mendapatkan jawaban ini kita perlu terlebih dahulu memahami perkembang-an teknologi Tiongkok yaitu bahwa ada beberapa bidang teknologi dimana Tiongkok mandiri dari Barat. Sebagai contoh, Kereta Cepat (High-Speed Train), Teknologi Konstruksi, 5G, Space Technology, Railgun Technology, AI, Electric Car, Renewable Energy, Hydrogen Bomb and Thermonuclear yang diluncurkan tahun 1964 - 1967, pada saat Tiongkok masih di-embargo Barat. Disini perlu kita perhatikan hal-hal sbb yaitu:

Pertama, Apa perlunya Tiongkok susah-susah mencuri? Jika Tiongkoklah yang memimpin (world leader) dibidang teknologi tsb? Misalnya untuk Teknologi 5G, Railgun, High-Speed Train, Renewable Technology, AI dan Mobil Listrik.

Untuk 5G, Tiongkok sepenuhnya mandiri, Barat sendiri belum mampu membuat IC 5G dan komponen untuk antena 5G. Oleh karena Huawei memdominasi patent 5G dan semua proyek pembangunan jaringan 5G. (Elizabeth Woyke, "China is Racing Ahead in 5G. Here's What That Means," MIT Technological Review, December 18, 2018;  /s/612617/china-is-racing-ahead-in-5g-heres-what-it-means/).

Demikian juga dengan Railgun yang teknologinya jauh lebih modern daripada Railgun AS. Menurut analis militer, Railgun Tiongkok dapat merontokkan kapal induk AS dalam jarak 150 km dari pantai. Tiongkok begitu maju dalam Railgun Technology ini karena teknologi elektromagnetik-nya jauh lebih canggih daripada Barat (Jamie Seidel, "China's World First: Electromagnetic Railgun Goes to Sea," ,  news-story/ 6e31d167e88308f59ec9633 ef1e867b; Josh K. Elliott, "Why China's Miracle Railgun Weapon Should Scare the US Navy," Global News, January 3, 2019; news/ 4810853/china-railgun-warship-weapon/)

Tiongkok adalah yang terdepan di dunia ini dalam Teknologi Kereta Cepat. Sampai hari ini, AS tidak memiliki sebuah kereta cepatpun, sedangkan Tiongkok memiliki jaringan kereta cepat yang melayani seluruh kota besar yang ada (Agence France Presse, "China First in the World for High-Speed Train," The Jakarta Post, July 4, 2019;  life/2019/07/03/china-first-in-the-world-for-high-speed-trains.html).

Demikian juga untuk AI (Artificial Intelligent), mega investasi yang bernilai multi-milyar dollar US menyebabkan Tiongkok yang terdepan dibidang ini (Amy Webb, "China is Leading in Artificial Intellegence," 201809/amy-webb/china-artificial-intellegence.html; James Vincent, " China is about to overtake America in AI Research." The Verge, March 19, 2019; Louis Columbus, " How China is Dominating Artificial Intellegence." Forbes, December 16, 2018)

Untuk Enerji Terbarukan (Renewable Energy) ini adalah enerji masa depan. Pada saat perkembangan enerji terbarukan di Barat terhambat karena lobby politik perusahaan minyak. Tiongkok justru memimpin kemajuan di bidang ini (Dominic Dudley, "China is Set to Become the World's Energy Superpower," Forbes, January 11, 2019; Dominic Chiu, "The East is Green: China's Global Leadership in Renewable Energy," CSIS Report, e-energy)

Demikian juga dengan Teknologi Mobil Listrik. Teknologi ini adalah masa depan industri mobil. Saat ini kemajuan teknologi mobil listrik di Barat stagnan. Kini Tiongkoklah yang terdepan didunia ini (Bloomberg Businessweek, " China is Leading the World to an Electric Car Future," November 15, 2018; Alex Thornton, "China is Winning the Electric Vehicle Race," World Economic Forum, 04 February 2019;)

Kedua, Bagaimana Mungkin Tiongkok Mencuri Teknologi Jika Saat Itu Tiongkok diembargo dan di-isolasi oleh Barat? Misalnya, Teknologi Bom Hydrogen dan Bom Nuklir? Untuk Hydrogen Bomb (UPI Archives, "China Fires H-Bomb," June 17, 1967; "China First Hydrogen Test Successful, 1967")

Untuk Persenjataan Nuklir, Tiongkok adalah yang terbaik, bahkan melewati AS dan Russia, dalam Teknologi Persenjataan Nuklir (lihat, Alex Lockie, "We Ranked the World's Nuclear Arsenals. Here's Why China Came Out on Top." Business Insider, January 25, 2019).

Ketiga, Apabila Tiongkok Mencuri Teknologi, pasti teknologinya jauh lebih buruk dibandingkan Barat. Bagaimana mungkin bisa mendominasi hak Paten Teknologi? Paten diajukan untuk penemuan produk & teknologi baru dari segi ini Barat telah tertinggal oleh Tiongkok.

World Intellectual Property Organisation melaporkan bahwa untuk tahun 2017 dari 3.17 juta paten yang diterbitkan. Paten dari Tiongkok ada 1.38 juta (43.53%) sedangkan AS 607,000 (19.14%), Jepang 318,000 (10.03%), Korea Selatan 205,000 (6.46%). Baru disusul Uni Eropa 167,000 (5.26%). Data ini menunjuk kan bahwa selain dominasi teknologi Tiongkok; juga dominasi Asia karena dari 3 negara Asia Timur tsb sudah mendominasi 58.82% paten teknologi. Jika dilihat Asia secara keseluruhan ada 65% dari total paten. Sedangkan AS dan Eropa hanya 24.40%, jadi kini penemuan teknologi didominasi Asia, bukan oleh Eropa dan AS. Trend seperti ini stabil sejak tahun 2011 yl. Ini membuktikan bahwa Asia telah bangkit dan telah mendominasi teknologi ("China Continues to Dominate Worldwide Patent Applications" Engineering and Technology, December 4, 2018; Barney Thompson and Nian Liu, "China Leads the Way in Legal Technology Patents," Financial Times, 17 February 2019; IPPro, "China is Overtaking the US as the World's Largest Innovator," 20 November 2018,  specialistfeatures/ specialistfeature.php?specialist_id=26).

Keempat, Menurut intelektual dan akademisi Barat yaitu Joseph Needham, seorang ilmuwan yang terhormat (well-respected) dari Cambridge University, UK. Penulis ensiklopedia Science and Civilization in China. Needham menulis bahwa: "Tiongkok adalah Peradaban Sains dan Teknologi (Science and Technology Civilization). Masyarakat Tiongkok sangat menghargai proses belajar, studi dan meneliti, sehingga mereka memiliki kemampuan mengembangkan sains dan teknologi secara mandiri." Tulisan Needham ini menjelaskan mengapa pada saat diisolasi/diembargo Barat. Kemajuan teknologi Tiongkok untuk industri dasar, hydrogen dan nuklir tetap melaju kedepan secara mengesankan.

Lebih lanjut, Needham menulis bahwa kompas, jam (penunjuk waktu), mesiu, senjata api (senapan, meriam, dinamit, roket, dsb), crossbow, astronomi, kertas, uang kertas, bank, bank cheque, teknik percetakan, seismograph - alat pengukur gempa. Saat itu kaisar Tiongkok sudah bisa mengetahui kapan terjadi gempa, seberapa besar gempa tsb dan dimana lokasi gempa sehingga bisa cepat mengirim bantuan. Menarik bahwa seismograph modern masih tetap meng-gunakan prinsip teknologi yang sama dengan seismograph Tiongkok kuno. Serta masih banyak lagi seperti kincir air, irigasi, matematika, dsb. Seluruh teknologi ini telah biasa digunakan di Tiongkok dijaman dinasti Tang. Baru 1000 tahun kemudian diperkenalkan di Barat oleh rahib Jesuit, yang waktu itu ber -kunjung ke Tiongkok, menjadi tamu kaisar dan diijinkan belajar tekonologi Tiongkok. Jadi menurut Needham, Baratlah yang terlebih dulu belajar teknologi dari Tiongkok. Kehadiran teknologi Tiongkok di Eropa mendorong terjadinya Pencerahan (rennaisance) yang merupakan titik awal bangkitnya liberalisme dan humanisme, yang kemudian mendorong kebangkitan Eropa (Joseph Needham, Science and Civilization in China, Cambridge University Press, 2015).

Jika kita meminjam nilai-nilai liberal Barat, fairness, justice, gentleman, ethics dsb yang selama ini dijunjung tinggi dan dibanggakan oleh dunia Barat. AS semestinya membayar lunas semua paten teknologi Tiongkok yang digunakannya terlebih dahulu. Barulah AS bisa klaim pencurian teknologi oleh Tiongkok. Jika hal ini dilakukan maka AS tidak akan lagi mampu tegak berdiri, limbung karena bangkrut.

Selama bertahun-tahun para petinggi di Washington meremehkan (underestimate) Tiongkok. Mereka terjebak kedalam paradigma yang diciptakan sendiri; bahwa Tiongkok dikuasai rejim komunis yang otoritarian, bahwa rakyat Tiongkok menderita dibawah pemerintahan otoritarian, bahwa dengan kemajuan ekonomi yang terjadi, rakyat Tiongkok akan bangkit dan menuntut demokrasi, jika tuntutan demokrasi ini terjadi maka rejim komunispun tumbang dan Tiongkok - pun menjadi demokrasi liberal seperti Barat. Ditambah lagi untuk politisi dari kubu White-Supremacy, Tiongkok adalah non-Caucasian jadi secara budaya, moral dan kecerdasan sangat rendah, jadi tidak mungkinlah bisa berkembang menyaingi AS, dsb.

Ini adalah asumsi yang sepenuhnya irasional; oleh karena tidak didasarkan pada data dan studi kontemporer (contemporary studies) yang mendalam pada struktur sosial-politik Tiongkok. Namun hanya didasarkan pada persepsi "sebagai orang luar terhadap komunisme Tiongkok." Akibatnya seperti intelektual AS Gordon Chang yang laris dan disukai para petinggi Washington. Gordon sejak tahun 2005 yl selalu memprediksikan bahwa rejim politik dan ekonomi Tiongkok akan runtuh dan prediksinya selalu keliru. Sekalipun selalu keliru, Gordon tetap digandrungi para petinggi Washington karena Gordon berceritera apa yang ingin didengar oleh para petinggi Washington, bukan apa yang sebenarnya terjadi. Akibatnya, kebijakan Washington terhadap Tiongkok tidak pernah efektif, bahkan sepenuhnya tidak tepat sehingga Washington gagal menghentikan kemajuan Tiongkok. Puncak dari kegagalan Washington ini adalah perang dagang baru saja berlalu.

Frustasi menghadapi Tiongkok, langkah paling mudah adalah melancarkan hoax politik "mencuri teknologi" dengan tujuan membentuk persepsi dan opini publik AS dan dunia bahwa Tiongkok adalah negara inferior dengan tingkat kecerdasan rendah, bermoral rendah, bisanya cuma mencuri. Sedangkan AS adalah sang adikuasa yang superior, pembela demokrasi dan HAM, sumber ilmu dan teknologi; yang telah mejadi "korban" kejahatan Tiongkok.

Hoax politik ini sangat jitu dalam menenangkan publik AS atas rontoknya superioritas teknologi AS oleh Tiongkok. Gambaran bahwa AS adalah "korban" kejahatan dan kelicikan Tiongkok cukup meyakinkan kaum White Supremacist dan dapat menenangkan kemarahan kaum buruh dan para penganggur korban PHK karena relokasi industri ke Tiongkok. Film yang dibuat Peter Navarro, "Death by China" menggambarkan dengan jelas upaya politik ini. Tiongkok menjadi kambing hitam kegagalan kebijakan ekonomi AS sehingga sektor manufaktur dalam negeri rontok, hutang menumpuk, pengangguran meningkat, produktivitas nasional menurun dan AS menjadi sangat konsumtif yang mengakibatkan defisit perdagangan meledak semua ini berujung pada meningkatnya angka kemiskinan. Kini jauh lebih banyak jumlah orang miskin di AS daripada di Tiongkok. Pada tahun 2017 yl UN Rapporteur Philip Alston berkunjung ke AS untuk meneliti kemiskinan yang terjadi dan dia melapor-kan ada sejumlah 51 juta orang yang dikategorikan sebagai on extreme poverty (Ed Pilkington,"The UN Rapporteur on Extreme Poverty in America," The Guardian, 1 December 2017). Pada tahun yang sama jumlah orang miskin di Tiongkok tinggal 9 juta dan Xi mentarget-kan bahwa ditahun 2020 kemiskinan tidak ada lagi di Tiongkok.

Semua ini hanyalah mentalitas pihak yang kalah (the loser mentality). Tidak akan menolong AS untuk memperbaiki dirinya. AS bagaikan atlit yang kalah bertanding kemudian sibuk menyalahkan lawannya (Tiongkok) dan wasitnya (WTO).

"Sebagai akhir kata, data diatas menunjuk dengan jelas bahwa kini Asia memimpin dunia dalam Inovasi Teknologi sehingga langkah Asia memasuki abad 21 adalah dengan tegap. Fajar telah merekah di Asia, yang dulu adalah budak dan jajahan Barat. Akhirnya semua kembali kepada kita, Apakah kita akan menoleh ke Timur dimana fajar merekah dengan indah? Ataukah tetap terpaku ke Barat untuk menyaksikan matahari terbenam? Apakah kita akan ikut berderap bersama para tetangga memasuki abad Asia sambil memberi warna Indonesia? Ataukah kita memilih sibuk bertengkar masalah Suku, Ras, Agama dan Politik? Langkah apapun yang kita ambil adalah pilihan kita sendiri"


Monday, September 6, 2021

WHO'S THE BOSS

NEGARA MANA YG LAYAK DISEBUT NEGARA ADI DAYA/SUPER POWER.

BY Chandra Suwono.

Rombongan pasukan Amerika Serikat terakhir hengkang dari Afganistan pada tgl 31agustus yg lalu dengan meninggalkan berbagai masalah untuk rezim baru diafganistan Taliban, setelah hampir 20 tahun invasi militernya di Afganistan dan GAGAL dalam menjalankan misinya maupun untuk mencapai targetnya. 

Dengan hengkang nya AS dari Afganistan,menteri pertahanan Inggris Ben Wallace sebagai saudara kandung nya AS mengeluarkan pernyataan sebagai penilaian terhadap AS, bahwa AS saat ini tidak layak lagi disebut negara Adi daya atau Super power.

Kini penguasa baru diafganistan Taliban menghadapi masalah baru sepeninggalan AS,karena harus kembali berperang melawan ISIS khorasan dan milisi lembah panjshir. 

AS telah Gagal mengendalikan dan memelihara ISIS ciptaan nya yg selama perang disuriah tidak pernah menyentuh kepentingan AS barat,namun ISIS di Afganistan telah bermutasi menjadi ganas terhadap kepentingan AS Barat. 

Bom bunuh diri yg terjadi di gerbang bandara internasional Hamid Karzai di ibukota Kabul pada tgl 27 agustus yg menewaskan 13 militer AS dan melukai 170 orang, adalah menandakan ISIS - K diAfganistan telah bermutasi dan berbalik menyerang kepentingan As Barat.

Sebab ISIS - K mengaku bertanggung jawab atas serangan bom bunuh di Bandara internasional di Kabul dan serangan tsb juga merusak kredibilitas rezim Taliban yg telah berusaha keras sebagai penjamin keamanan dan stabilitas disekitar bandara Kabul sementara AS dan sekutunya menyelesaikan evakuasi.

Hal inipun dapat mengganggu kesepakatan antara Tiongkok dengan rezim Taliban, karena didalam pertemuan antara delegasi Taliban dengan menteri luar negeri tiongkok Mr Wang Yi di kota chong Qing pada tgl 16/08-2021.

Tiongkok meminta rezim taliban untuk melakukan Rekonsiliasi perdamaian dan Rekonstruksi di Afganistan untuk mewujudkan kebijakan yang sesuai prinsip islam moderat,

Itu merupakan syarat dari tiongkok untuk bekerja sama dengan rezim Taliban dalam membangun kembali,Rehabilitasi dan Rekonstruksi untuk transformasi ekonomi di Afganistan,agar kesejahteraan dan kedamaian dapat dinikmati rakyat Afganistan dibawah Rezim Taliban.

Sektor ekonomi Afganistan yg sudah buruk sejak invasi militer AS tahun 2001 dan akan semakin buruk pasca serangan Isis - K, untuk Rehabilitasi dan tranformasi ekonomi Afganistan akan akan masuk kedalam kamp BRI, Belt Road Initiative mengikuti negara tetangga nya seperti Bangladesh dan Pakistan yg terlebih dahulu ikut dalam kamp tsb.

BRI, BELT ROAD INITIATIVE atau sebelum nya dikenal dengan nama OBOR, ONE BELT ONE ROAD adalah mega proyek di inisiasi oleh pemerintah Tiongkok untuk pembangunan global yg melibatkan puluhan negara didunia ini.

Untuk itu pemerintah tiongkok telah menyiapkan dana investasi sebesar total 8 triliun USD dalam mega proyek BRI untuk mengerakan dan mengedukasi ekonomi global khususnya negara peserta dengan keuntungan yg berimbang,dan berbagi kemakmuran dengan negara peserta mega proyek BRI.

Misalnya Pakistan yg mengambil keuntungan untuk negaranya dalam mega proyek BRI yg diberi nama KORIDOR EKONOMI TIONGKOK - PAKISTAN (CPEC) proyek pembangunan insfraktruktur jalan tol, kereta cepat,dan pipa minyak dan gas yg menghubungkan pelabuhan Gwadar di Pakistan Barat daya dengan wilayah otonom Xin Jiang di tiongkok Barat.

Jalur sutera abab 21 yg membentang dari Gwadar sampai kashgar sepanjang 3000 km ini akan memakan biaya sekitar 46 milliar USD, proyek yg akan memakan waktu pembangunan selama beberapa tahun.

Ini adalah investasi luar negeri terbesar yg pernah dilakukan oleh Tiongkok,dan koridor ini diperkirakan akan segera beroperasi serta akan menjadi pemain penting yg strategis di kawasan ini,proyek yg akan mengubah tatanan nasib negara2 dikawasan Asia Selatan. 

Dalam jangka panjang, koridor ini akan menjadikan negara Pakistan sebagai negara  maju yang kuat, makmur dan sejahterah dari pada masa2 sebelumnya. 

Bangladesh sudah ikut serta dalam mega proyek ini dan mungkin Afganistan akan menyusul,ini akan menjadikan Asia Selatan sebagai kekuatan ekonomi baru,yg sebelumnya untuk bermimpi saja tidak ada yg berani,tapi hari ini dan seterusnya akan menjadi kenyataan.

Demikian juga perjalanan jalur sutera abab 21 BRI  yg telah sampai dibenua Afrika,Etiophia yg beberapa dekade yg lalu merupakan negara termiskin didunia, busung lapar,penyakit kekurangan gizi adalah penyakit yg selalu diderita oleh rakyat dari negara miskin seperti Ethiopia pada beberapa dekade yg lalu. 

Namun sejak masuknya investasi Tiongkok melalui mega proyek BRI, Ethiopia mengalami pertumbuhan ekonomi yg luar biasa dan pada awalnya sempat tumbuh 2 digit dan sekarang stabil tumbuh 8.6%,kemakmuranpun mulai nampak dalam kehidupan rakyat Ethiopia

Bahkan Ethiopia sedang membangun platform media sosial nya sendiri yg mampu menggantikan Facebook, Zoom,Twitter hingga whats App,sehingga 

Ethiopia pun disebut little china, karena juga merupakan pintu gerbang masuk nya investasi Tiongkok keseluruh benua Afrika.

Inilah yg akan menjadikan negara Tiongkok untuk layak disebut sebagai  negara ADI DAYA baru dan dengan kekuatan ekonominya untuk membagikan kemakmuran keseluruh pelosok dunia,SOFT POWER.

Tiongkok akan menjadi pusat ekonomi global dan pusat peradapan manusia untuk saat ini dan pada masa yg akan datang.

Sesuai dengan apa yg pernah diramalkan Napoleon ketika berkunjung ketiongkok pada pertengahan abab ke18, bahwa Tiongkok adalah Naga Raksasa yg sedang tertidur,biarkan lah dia tertidur, namun ketika dia bangun akan mengguncangkan dunia dengan Membawa perdamaian dan kemakmuran pada dunia,dan hari ini telah terbukti. 

Pada sisi lain super power yg kita kenal selama ini AS, setelah perang dunia kedua dan selesainya perang dingin dengan Uni soviet(blok Timur) yg selalu memaksakan kepentingan nya dengan kekuatan militernya pada negara2 ketiga,dengan jargon demokrasi dan Ham AS hamtan kiri dan kanan dengan tujuan untuk menguasai sumber kekayaan alam. 

AS selama beberapa dekade ini telah menjadi kerajaan jahat, dengan dalih palsu nya mengebom Libya, Suriah, Irak,yaman dan Afganistan,dengan menciptakan bencana kemanusiaan pengungsi yg harus ditanggung masyarakat dunia. 

AS juga mengguncang Amerika latin seperti Argentina, meksiko, Venezuela dan juga beberapa negara Afrika dengan target penguasaan atas sumber kekayaan alam,AS adalah negara diatas hukum internasional dan dapat melakukan apa saja yg mereka suka dan menguntungkan mereka.

Bagaimana pengganggu  besar dan bajingan dipanggung internasional, yg berkelakuan seperti preman kampung ini layak disebut ADI DAYA,sehingga kita menjadi sepakat dengan pernyataan menteri pertahanan Inggris Ben Wallace, bahwa AS saat ini tidak layak disebut negara ADI KUASA,dan Afganistan adalah kutukan terakhir untuk masyarakat dunia.

Sesuai dengan tulisan MARTIN JACQUES bahwa abab 21 adalah waktu kebangkitan dunia Timur dan akhir dunia barat,when China Rules the world,perdamaian dan kemakmuran dunia akan terwujud.

Jakarta 6 september 2021. 

Sunday, September 6, 2020

MOVE ON TROPIK

Sabtu 05 September 2020

Oleh : Dahlan Iskan

JANGAN tertawa – biarpun itu di balik masker. Defisit perdagangan Amerika Serikat (atas Tiongkok) justru lebih lebar dibanding sebelum Donald Trump menjadi presiden.

Tapi, saya tidak bisa menahan tawa. Dengan sangat spontan. Bagaimana bisa itu terjadi. Janji Trump saat kampanye dulu begitu menggiurkan. Begitu membakar emosi. Begitu berapi-api. Bisa membuat orang Amerika ikut emosi.

”Kita ini seperti celengan besar yang isinya habis dirampok,” ujar Trump ketika kampanye pada 2016. ”Kita itu punya banyak kartu, punya kekuatan besar, kenapa celengan kita bisa dirampok Tiongkok,” katanya di Indiana waktu itu.

Tapi, menurut data terbaru yang diumumkan oleh Amerika sendiri kemarin, defisit tersebut justru kian lebar. Itu terjadi di bulan Juli 2020. Dibanding Juli 2016 –saat Trump berkampanye tadi. Lebih lebar sampai 4,3 persen. Atau 9 persen lebih lebar kalau bandingannya dengan Mei 2016 –saat Trump memberikan angin surga itu.

”Kita tidak boleh membiarkan Tiongkok terus memerkosa negara kita. Itulah yang terjadi selama ini. Itulah perampokan terbesar dalam sejarah dunia,” kata Trump.

Dan hasilnya defisit yang kian lebar seperti itu.

Trump bukan tidak berbuat apa-apa. Terutama setelah terpilih sebagai presiden. Bahkan Trump terlalu banyak berbuat. Sampai melebihi batas. Ia ibarat Rambo yang membawa senjata otomatis. Tembak sana bombardir sini. Tapi yang lagi dihadapi sang Rambo ini bukan lagi partai kaipang.

Hasilnya: defisit perdagangan pada Juli 2020 sebesar USD 31,6 miliar. Itu 4,3 persen lebih tinggi dari defisit bulan Juli 2016. Bagaimana kenyataan itu bisa menyetop orang agar jangan tertawa.

Semua langkah sudah dilakukan: menaikkan tarif bea masuk; melarang perusahaan seperti Huawei dkk jualan ke Amerika; melarang mahasiswa dan ilmuwan Tiongkok ke Amerika; mengancamkan senjata di Taiwan, Hong Kong, dan Laut Tiongkok Selatan; minta sekutu untuk ikut menghukum Tiongkok; dan segala macam tindakan sejenis.

Tapi, angka tidak bisa bohong. Perut tidak bisa diatur-atur. Kebiasaan belanja rakyat Amerika sudah mendarah daging borosnya.

Ada atau tidak ada perang dagang, Amerika tetap defisit. Ada atau tidak ada Covid-19, Amerika ternyata juga tetap defisit.

Sekarang ini lagi musim kampanye pilpres lagi. Trump masih ”jualan” anti-Tiongkok, tapi juga lagi sibuk jualan isu kerusuhan di dalam negeri.

Tiongkok ternyata benar-benar selalu membalas apa pun hukuman yang dijatuhkan oleh Amerika.

Huawei pun tidak bisa distop. Huawei secara resmi sudah nomor satu di dunia. Tiga bulan lalu Huawei sudah menggeser Samsung dari puncak klasemen.

Padahal kurang apa siksaan yang diberikan kepada Huawei.

Tiongkok memang seperti tidak terhentikan. Untuk menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Menggeser posisi Amerika. Sepuluh tahun lagi: 2030 atau 2032. Itulah kesepakatan banyak ahli sekarang ini.

Tiongkok kini sudah bisa dibilang hidup normal lagi. Industrinya sudah full speed lagi. Justru ketika negara pun seperti Amerika masih bergelut dengan Covid-19.

Angka penularan Covid-19 di Tiongkok hampir selalu di bawah 10 orang per hari. Itu bisa dianggap nyaris tidak ada artinya untuk negara penduduk 1,3 miliar manusia. Apalagi, angka kematiannya juga hampir selalu 0.

Bagaimana Indonesia?

Kenyataan itu mau tidak mau harus diterima. Agar pikiran kita bisa lebih fokus untuk memikirkan ”what next”.

Move On!

Lima tahun lagi kita harus sudah bisa ekspor besar-besaran ke Tiongkok. Agar kita tidak terus hanya bisa impor dari sana.

Kenapa lima tahun lagi?

Itu karena kita harus mengolah tanah, bercocok tanam, menyiapkan fasilitas antibakteri/virus, mendidik tenaga-tenaga terampil, dan menetapkan fokus baru: pertanian produk tropik. Terutama buah tropik.

Rasanya saya sudah hampir bosan menulis soal buah tropik ini. Tapi selalu semangat lagi kalau ingat bahwa kita harus ”move on” ketika memikirkan Tiongkok. (Dahlan Iskan)

https://www.disway.id/r/1056/move-on-tropik

Sunday, May 10, 2020

PILIH SHANGHAI

Minggu 10 May 2020

Oleh : Dahlan Iskan

Ini memang bacaan hari Minggu. Tapi ibu satu ini luar biasa: Suami kerja di Amerika. Istri kerja di Shanghai. Di manakah dua anaknya akan ”disembunyikan” dari Covid-19? 

Menariknya suami-istri itu orang Amerika. Bukan keturunan Tionghoa. Mereka pun diskusi tentang keselamatan dua anaknya itu. Topik diskusinya: lebih selamat di mana, di Tiongkok atau di Amerika?

Setiap rumah tangga punya problemnya sendiri-sendiri. Demikian juga pasangan ini.

Sejak sebelum Tiongkok dilanda Covid-19, dua anak mereka sudah ikut ibunya di Shanghai. Mereka sekolah di kota terbesar di Tiongkok itu.

Ketika wabah kian hebat melanda Tiongkok, di Amerika masih tenang-tenang saja. Seperti tidak mungkin wabah yang sama akan masuk ke Amerika.

Shanghai pun mengumumkan sekolah-sekolah harus tutup.

Maka sang ibu mengirim dua anaknya pulang ke Amerika. Tanpa ada yang menemani. Di bandara Washington dijemput sang ayah. Sementara Tiongkok dilanda Covid biarlah mereka tinggal bersama sang ayah di Washington DC.

Mereka pun pindah sekolah ke sana. Kembali ke sekolah mereka yang lama.

Sebulan kemudian, ternyata Covid mulai merajalela di Amerika. Cepat sekali. Mulailah ada pengumuman: sekolah akan ditutup.

Sang istri mengikuti perkembangan itu demi anaknyi. Dengan tingkat waswas yang tinggi.

Tak lama kemudian Tiongkok mulai berhasil mengatasi Covid-19. Sedang Amerika kian kedodoran. Sang ibu ambil putusan cepat: lebih selamat kalau anaknyi ditarik kembali ke Shanghai. Toh sekolah di Washington akan ditutup.

Soal penanganan pandemi, sang istri menjadi lebih percaya pada kemampuan Tiongkok. 

Sedang keadaan di Amerika justru sangat mengkhawatirkannyi. Dia tidak percaya sistem di Amerika bisa bertindak keras seperti di Tiongkok. 

Maka dia pun terbang ke Washington DC. Menjemput sang anak. Begitu mendarat di Washington dia sudah mengambil kesimpulan: keputusannyi benar. Yakni untuk menarik kembali anaknyi ke Shanghai.

Saat mendarat di bandara pun dia sudah tahu: Amerika sangat sembrono --sangat menganggap enteng pandemi ini. Dia lihat di bandara itu: tidak ada pemeriksaan yang memadai. Di Washington pun dia lihat sikap orang-orangnya cuek-bebek. Seperti sedang tidak ada pandemi. Jalan-jalan raya masih ramai. Orang masih berlalu-lalang di mana-mana. Restoran masih penuh. ”Ini bahaya,” katanyi dalam hati. 

Maka tidak sampai hitungan hari dia sudah berangkat lagi ke bandara. Bersama dua anaknyi. Tujuannya bulat: Shanghai. Anaknyi akan lebih aman daripada di Amerika.

Hanya 36 jam sang ibu di Amerika. 

Kelak, beberapa hari kemudian, dia merasa lebih benar lagi. Yakni ketika dia ikuti perkembangan Covid-19 di Amerika. Yang korbannya terus meroket seperti tak terkendali.

Itulah gambaran seorang ibu yang lagi terjepit pandemi di antara dua benua.

Kisah berikutnya tidak hanya menarik, tapi juga penting bagi kita. Agar kita tahu beginilah cara mengelola masyarakat di tengah pandemi. Harian South China Morning Post, Hongkong, memuat kisah sang ibu itu. Tanpa menyebutkan nama dan identitas lengkap.

Begitu mendarat kembali di Shanghai sang ibu menemukan suasana yang begitu berbeda. Begitu ketat. Padahal wabah sudah mulai bisa diatasi di Shanghai.

Tanggal 15 Maret 2020 dia mendarat kembali di bandara Shanghai. Bersama dua anaknyi. Suasananya berbeda sekali dengan di bandara Amerika. 

Penumpang pesawat tidak boleh langsung meninggalkan pesawat. Harus lama duduk manis di dalam dulu. Sampai semua pemeriksaan selesai. Satu persatu ditanya tentang keadaan badan mereka. Suhu badan. Obat yang sedang di makan. Pernah pergi ke kota mana saja. Banyak dokumen kesehatan yang harus diisi. Lalu diperiksa begitu teliti. Dua jam lamanya ibu dan anak Amerika itu berada di dalam pesawat. 

Ketika penumpang akhirnya diizinkan meninggalkan pesawat, masih harus antre menjelang proses imigrasi. Dua jam lamanya berdiri di barisan antre itu.

Begitu tiba di depan, seorang petugas bandara melakukan pemeriksaan lagi. Semua dokumen diperiksa teliti lagi. Yang memeriksa mengenakan pakaian APD lengkap.

Setelah lolos pemeriksaan itu masuk lagi ke dalam antrean berikutnya: antre mem-foto copy semua dokumen kesehatan. Yang sudah lolos dua pemeriksaan sebelumnya. Ada mesin foto copy Xerox di situ. 

Copy-an dokumen tersebut lantas ditempeli kertas kuning. Artinya, itulah tanda boleh antre di tahap berikutnya. Yakni antre untuk dilakukan pemeriksaan cepat Covid-19.

Hasil pemeriksaan itu akan menentukan nasib. Ada tiga kemungkinan: harus karantina di rumah masing-masing, atau harus karantina di hotel yang sudah ditunjuk. Atau juga harus langsung masuk rumah sakit. 

Setelah melalui proses itu, barulah bisa ke imigrasi. Untuk pemeriksaan paspor.

Sang ibu bernasib baik: kondisi badannyi dan anak-anaknyi sangat baik. Mereka dinyatakan harus masuk karantina di apartemen mereka sendiri.

Untuk itu dia mendapat dokumen ”lolos” dari bandara. Berarti boleh mengambil bagasi.

Tapi bukan berarti sudah bebas. Untuk pemegang dokumen warna itu dia harus masuk lorong antrean khusus. Yakni yang menuju bus yang sudah ditentukan. Yakni bus jurusan apartemen sang ibu. Tidak boleh pakai taksi atau pakai bus lain.

Tapi sebelum menuju bus khusus itu dia harus men-download Apps khusus. Yakni Apps laporan kesehatan. Dia harus mengisi daftar pertanyaan di Apps itu. Kondisi badannya harus selalu dilaporkan lewat ponselnya.

Sampailah sang ibu dan anak di dekat bus. Dia harus menjalani lagi pemeriksaan suhu badan. Lalu harus menunjukkan bahwa dia sudah memiliki Apps di ponselnyi. 

Masih ada prosedur lain lagi. Dia hanya boleh mengarantina diri di apartemen sendiri kalau bisa memenuhi syarat ini: tetangga di apartemen itu mengizinkan. Yang dimaksud tetangga adalah komite penghuni apartemen (semacam pengurus) dan manajemen apartemen.

Kalau dua pihak itu tidak setuju mereka harus karantina di hotel. Ada dua pilihan hotel. Yang tarifnya 30 dolar dan yang 60 dolar. Itulah hotel yang sudah ditentukan. Agar pemerintah bisa mengawasi dengan ketat.

Sang ibu cukup pede untuk bisa diterima komite apartemen dan manajemenya. Itu karena sang ibu tinggal di apartemen yang penghuninya mayoritas orang asing.

Sebelum sang ibu naik bus, seorang petugas berpakaian ”astronaut” memeriksa paspor. Lalu mengambilnya. Paspor itu baru akan dikembalikan kalau hasil tes Covid-19 sudah keluar.

Tanpa menunggu pengembalian paspor sang ibu naik bus besar. Tidak tahu bus itu akan ke mana. Tidak semua penumpangnya di apartemen yang sama.

Satu jam kemudian tibalah bus besar itu di sebuah gelanggang olahraga. Sang ibu mengecek di mana lokasi itu. Dia pun tahu. Di sebuah distrik yang dia kenal. 

Penumpang diminta turun dari bus. Tapi diperiksa dulu nomor penumpangnya. Lalu harus masuk ke dalam antrean di sport center itu. Sesuai dengan nomor dan warna kertas yang dia pegang.

Sang ibu masuk grup 1. Maka antrean masuk sport center itu pun harus di antrean 1.

Di dalam gelanggang olahraga disediakan tempat duduk yang bisa disandarkan. Agar mereka bisa istirahat. Ada juga pesawat tv dengan program video on demand.

Mereka harus lama sekali di situ. Untuk menunggu dipanggil satu persatu. Untuk menjalani tes Covid-19.

Petugas astronaut lantas membagikan selimut. Lalu mengantar roti yang ditaruh di kereta dorong. Jumlahnya tak terbatas. Dibagi juga susu impor dari Jerman. Sang ibu menaruh apresiasi tinggi atas susu itu. Orang asing di Tiongkok memang tidak biasa minum susu lokal. Dibagi juga masker dan air dalam botol.

Jam 20.30 (berarti sudah 7 jam setelah mendarat) namanyi dipanggil. Dua orang perawat berpakaian astronaut membawanyi ke belakang gedung. Yakni ke halaman yang dipasangi tenda. 

Di situlah dilakukan tes Covid-19. Yakni dengan cara diambil cairan mukus yang ada di dalam hidung -- dekat tenggorokan. 

Selesai pengambilan mukus sang ibu kembali lagi ke kursi yang bisa disandarkan tadi. Saat inilah sang ibu waswas. Sambil lesehan di kursi ia membayangkan: jangan-jangan hasilnya positif. Jangan-jangan tertular saat di Amerika. Kalau sampai sang ibu positif, berarti akan dipisah dari dua anak kecilnyi. 

Panjanglah bayangan sang ibu. Akan di mana anaknya. Akan di mana pula dia. Bagaimana akan bisa berkomunikasi. Kalut.

Tapi dia juga kagum. Betapa banyak orang yang dites di Tiongkok ini. Beda sekali dengan di Amerika. 

Bayangan itu membuat sang ibu tidak bisa tidur. Padahal sudah jam 00.30. Untungnya anak-anaknyi lelap di balik selimut tebal di kursi sandar itu.

Jam 02.30 terdengarlah pengumuman. Semua penumpang bus tadi dinyatakan negatif. Bukan main leganyi.

Mereka pun boleh siap-siap pulang. Baru siap-siapnya. Masih banyak dokumen yang harus diisi dan diperiksa. Termasuk dokumen pernyataan tidak akan keluar dari apartemen selama 14 hari. 

Jam 04.30 barulah mereka bisa meninggalkan sport center.

Sang ibu akhirnya bisa tiba di apartemennya sendiri. Di Shanghai.

Tapi jam 9 pagi pintu kamarnyi sudah diketok. Petugas berpakaian astronaut melakukan pengukuran suhu badan. Begitu juga sore hari.

Begitulah ketatnya pemeriksaan di Tiongkok. Sejak dari dalam pesawat sampai tiba di rumah. Itulah mengapa Covid-19 cepat teratasi di sana.

Saat itu, pada tanggal itu, penumpang masih begitu bebasnya keluar masuk Indonesia. (Dahlan Iskan)

Foto :Shanghai City 

https://www.disway.id/r/928/pilih-shanghai

Friday, May 1, 2020

US DAN KEADILAN NURANI

Amerika Serikat Telah Tidak memPedulikan "KEADILAN & NURANI"

Badan intelijen Rusia sekali lagi Berhasil mengungkapkan Trik Kotor Amerika Serikat ~Menggunakan virus mahkota baru untuk membahayakan nyawa umat manusia di seluruh dunia ~

2019-COVID - Coronavirus dimulai oleh Amerika Serikat, tetapi wabah itu menjadi tidak terkendali karena dua perusahaan bioteknologi di Amerika Serikat bersaing keras dan ingin mengambil tempat teratas, menguasai pasar vaksin senilai hampir US $ 10 miliar di seluruh dunia, (

Karena kesalahan dalam operasi, virus bocor untuk menginfeksi orang2 Amerika sendiri, menyebabkan sebagian besar orang2 Amerika saling menginfeksi dan mati, tetapi beritanya dimanipulasi sebagai penyakit flu biasa. Pada saat ini, Amerika Serikat memiliki beberapa trik juga pikiran sangat2 kotor juga jahat. Dengan dalih/memframing Corona Virus itu adalah Permainan Militer Dunia Wuhan, virus itu menyebar untuk memperluas infeksi di luar negeri.  Hingga ke seluruh Dunia yang menjadi ikut terancam oleh virus corona dan sekarang sepenuhnya di luar kendali.

Badan Kesehatan Rusia pertama kali secara terbuka telah menyatakan bahwa coronavirus adalah virus yang diproduksi secara sintetis, sama sekali bukan disebabkan oleh virus hewan liar di Wuhan, Tiongkok. Bioteknologi dan komunitas medis di seluruh dunia mencoba yang terbaik untuk melacak sumber virus, guna menemukan cara untuk menyelesaikan persamaan virus, dan menemukan penangkal untuk menyelamatkan umat manusia.  Oleh sebab itu (pada saat Tiongkok melakukan LockDown Kota Wuhan), Hanya Amerika Serikat lah yang tetap diam dan menolak mengumumkan kondisi Amerika, sehingga sebagian besar negara telah mencurigai bahkan meyakini bahwa Amerika Serikat adalah sumber virus corona baru tsb!

Cepat atau lambat, kekejaman orang Amerika pasti akan terungkap , koran tidak akan terbakar, dan penelitian dari intelijen Rusia yang terus bekerja akan mengungkap lagi dengan lebih detail. Amerika Serikat jelas2 telah menggunakan penelitian bioteknologi sebagai umpan untuk melakukan perang bioteknologi, yang jelas2 sangat merugikan negara2 lain dan melihat laporan berikut ini:

Nyata2 Militer AS secara terbuka telah melanggar Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Larangan Senjata Biologis dan Kimia, AS yang secara diam-diam telah melakukan penelitian tentang virus, bakteri, dan racun yang mematikan. Hal Ini telah menyebabkan ratusan ribu orang tak berdosa telah terpapar pada ancaman patogen sangat berbahaya dan berbagai penyakit tak tersembuhkan.

Para ilmuwan perang biologis Pentagon mengandalkan perlindungan diplomatiknya untuk mengembangkan virus buatan di laboratorium biologi yang mencakup 25 negara di seluruh dunia.  Laboratorium biologi AS ini, berdasarkan pada alokasi Departemen Pertahanan (DTRA) AS untuk proyek militer senilai $ 2,1 miliar ($ 2,1 miliar) yang disebut "Program Kerjasama Biologis (CBEP), didirikan di beberapa negara bekas Soviet seperti Georgia, Ukraina dan  Timur Tengah, Asia Tenggara dan Afrika".

Igor Nikulin, anggota Komisi Senjata Biokimia PBB, mantan ahli senjata biokimia Uni Soviet, dan ahli mikrobiologi Rusia, sangat2 meyakini & percaya bahwa coronavirus baru berasal dari luar Tiongkok.  Anggota Kongres Duma Rusia Natalia Poklonskaya dan Ketua Partai Demokrat Liberal Rusia Zhinovsky juga secara terbuka berkomentar bahwa coronavirus baru adalah sabotase dari Amerika Serikat.

Bahkan, terus terang saja, Amerika Serikat menggunakan bioteknologi untuk menyerang Tiongkok dalam perang biotek!

Karena situasi ekonomi dan keuangan Amerika Serikat & Sekutu2nya yang semakin hari menjadi semakin sangat2 buruk,  hanya perang biokimia yang harus mereka2 ambil, karena hanya membutuhkan sangat sedikit uang untuk mencapai tujuan jahatnya tsb , walau untuk itu harus membunuh dan menghancurkan Negara2 Lain*. Karena Tiongkok tidak memiliki penelitian tentang coronavirus baru, Amerika Serikat lah yang baru saja berhasil mengembangkan vaksin virus pneumonia tsb.  

Maka Bangkitlah Seluruh Rakyat Tiongkok, Meskipun untuk itu Anda Semua harus berdagang seumur hidup.

Hanya Satu Tujuan Amerika Serikat berserta Sekutu Bonekanya untuk mempertahankan Tahta Dunianya (Yang Sekarang pun mereka2 bersama sama mengalihkan Realita dengan menuntut Tiongkok & mereka2 saat ini hanya punya 1 cara, yakni menghancurkan perkembangan ekonomi Tiongkok yang semakin kuat.

Semoga Hukum KARMA BerLAKU!