Showing posts with label mobil listrik. Show all posts
Showing posts with label mobil listrik. Show all posts

Sunday, September 26, 2021

ALHAMDULILLAH TIDAK GILA

Oleh Dahlan Iskan

Sabtu, 25 Mei 2019 – 04:04 WIB

jpnn.com - Saya naik taksi. Kemarin. Tanpa tujuan.

"Muter-muter saja. Sambil menunggu salat Jumat," kata saya kepada sopir.

Nama sopir ini Sorong DM. Kata 'sorong' diambil dari nama kota di Papua Barat. Tempat ayahnya bertugas. Sebagai TNI AL.

Saat Sorong lahir ayahnya sedang bertugas di Sorong. Sedang DM singkatan dari Darmojo. Menandakan ia orang Jawa. Dari Solo.

"Muter ke mana?" tanya Pak Sorong.

"Terserah," jawab saya. 

Saya memang hanya ingin mencoba taksi ini: taksi listrik. Yang pertama di Jakarta. Dioperasikan oleh Blue Bird. Sejak Hari Kebangkitan Nasional, Senin 20 Mei lalu.

Hari itu saya ingin merayakan Hari Kebangkitan Nasional dengan cara naik mobil listrik impor. Hari Senin itu saya mencoba menghubungi call center Blue Bird. Berhasil, tetapi gagal mendapatkan taksinya. "Kami tidak bisa menjanjikan jam berapa bisa melayani bapak," ujar petugas call center.

Keesokan harinya saya terima WeChat dari Bung Joko Intarto. Ia tidak bisa pakai WA hari itu. Lagi dikendalikan pemerintah.

Namun kami sudah biasa pakai WeChat. "Saya menang 1-0," tulis Joko Intarto. "Tadi saya sudah naik taksi listrik," tambahnya.

Saya pun mengaku kalah. Lalu minta tolong agar dipesankan taksi itu untuk keesokan harinya.

Saya diminta telepon sendiri. Ke sopir itu. Ke nama itu. Nomor teleponnya: +6285215103008.

Beres. 

Blue Bird baru punya 25 unit mobil listrik. Mereknya BYD. Produksi Hangzhou, ibu kota Provinsi Zhejiang. Satu provinsi dengan pabrik mobil Geely.

Secara fisik mobil BYD ini sempurna sekali. Tidak ada bedanya dengan sedan biasa. Kelas taksi ini secara fisik sejajar dengan Toyota Camry. Saya sudah biasa naik taksi listrik. Di Tianjin. Atau Chengdu.

Karena itu pertanyaan saya langsung saja: hari pertama pegang mobil listrik apa yang paling Anda khawatirkan?

Pak Sorong pun sama: takut kehabisan listrik di jalan. Lebih takut lagi: belum ada tempat charging umum di Jakarta.

Pak Sorong rupanya tidak tahu di PLN Gambir sudah menyediakan itu. Dulu.

"Sekarang sudah tidak khawatir lagi," ujar Pak Sorong. "Sudah biasa," tambahnya.

Jumat kemarin itu, misalnya. Pak Sorong berangkat dari pool di Blue Bird pukul 7 pagi. Ia langsung ke Bandara Soekarno-Hatta. Tanpa penumpang. Ingin cari penumpang di bandara.

Pak Sorong sudah diberitahu manajemen: mobil listrik tidak perlu antre. Bisa langsung ambil penumpang.

Pak Sorong dapat penumpang dengan tujuan Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Mengantar orang Balikpapan. Yang akan ke Pesantren Darunnajah. "Saya akan menjemput putri saya yang sekolah di Darunnajah," ujar Pak Dimas, pengusaha properti dari Balikpapan itu. "Untuk liburan lebaran di Balikpapan," tambahnya.

"Saya pilih taksi listrik karena ingin mencoba," ujar Pak Dimas, pemilik PT Bulan Bintang Abadi.

Kemarin itu saya memang lama menunggu kedatangan Pak Sorong. Yang sudah janjian pukul 09.00.

Namun saya persilakan saja Pak Sorong melayani penumpangnya itu dulu. Sampai selesai.

Hanya saja saya minta bisa bicara dengan penumpangnya itu. Pak Dimas itu. Yang ternyata ia kenal saya.

Dari Ulujami itulah pak Sorong menjemput saya di SCBD Jakarta. Tanpa penumpang. Lalu muter-muter bersama sejauh lima kilometer: SCBD-Monginsidi-Semanggi-SCBD.

Begitu turun dari taksi, saya lihat listriknya: masih 74 persen. Pak Sorong kelihatan tenang. Dari jam 7 pagi sampai jam 10 baru menghabiskan 26 persen listrik.

"Kekhawatiran kehabisan listrik di jalan sudah hilang sama sekali," ujar Pak Sorong yang mengaku seorang mualaf. Pun selama lima hari ini. Pak Sorong selalu masih menyisakan 40 persen listrik. Saat ia kembali ke pool. Padahal ia menjalankan taksinya sejak pukul 7 pagi sampai 11 malam.

"Teman saya juga sudah mengantar penumpang dari Jakarta ke Cilegon. Pulang-pergi. Ternyata tidak sampai 60 persen," katanya.

Sebenarnya ia masih punya satu kekhawatiran lagi. Namun juga sudah hilang: yakni saat melintasi rel kereta api.

"Ini kan mobil listrik. Saya dengar mobil yang melintasi rel itu bisa kesetrum," katanya.

Waktu pertama melintasi rel di Kemayoran Pak Sorong sengaja berhenti dulu. Agar mobil-mobil di depannya melewati rel dulu. Pak Sorong punya ruang untuk melintas dengan cepat.

Ternyata aman. Sejak itu ia tidak khawatir lagi.

Saya juga pernah punya satu kekhawatiran. Saat saya mengendarai Tesla. Di musim hujan. Ketika air di jalan di depan rumah saya menggenang cukup dalam.

Saya masuki genangan itu. Ternyata tidak apa-apa. Saya ceritakan pengalaman saya itu ke Pak Sorong. Ia berterima kasih. Bisa lebih tenang. Ia belum pernah mengalami berhadapan dengan genangan air di jalan.

Sebagai anak ke 10, Pak Sorong hanya punya anak satu. Putri. Lulusan Gadjah Mada. Jurusan hubungan internasional.

Anak itu kini sudah bekerja di perusahaan swasta.

Pak Sorong sendiri lulusan D3 akuntansi di Jakarta selatan. Lalu bekerja di pabrik pembuatan alat-alat pengeboran minyak di Batam. Lebih 10 tahun bekerja di sana.

Mendapatkan istri pun di Batam. Ketika perusahaan itu ikut krisis di tahun 1998 Pak Sorong terkena PHK.

Ia mencoba usaha sendiri. Di banyak bidang. Mulai percetakan sampai kirim TKI. Gagal semua.

"Mungkin sudah terbiasa bekerja ikut orang. Tidak bisa jadi pengusaha," katanya.

Akhirnya ia berlabuh di Blue Bird. Sebagai sopir. Sejak hampir 10 tahun lalu. Mobil listrik sudah hadir. Sambutannya biasa-biasa saja. Tidak ada charging umum. Tidak ada parkir istimewa. Tidak ada nomor khusus. Tidak ada fasilitas istimewa seperti di negara yang gila green energy.

Kita, alhamdulillah, tidak gila.(###)

Saturday, September 11, 2021

CHINA VS US

"If you think of China as a country that copies rather than innovate - think again!!" (Amy Webb)

Ambillah Tiongkok memang benar mencuri teknologi maka bagi AS untuk mengatasi hal ini sangat mudah. Tinggal buktikan saja didepan pengadilan dan tuntut Tiongkok untuk membayar lunas semua paten yang dilanggar, gampang sekali 'kan? Apalagi AS 'kan gudangnya ahli hukum (lawyer) kelas dunia, kurang apalagi? Jika AS menempuh jalan ini ada banyak keuntungan diperoleh, Tiongkok akan jatuh namanya karena terbukti mencuri dan AS akan menerima banyak uang sebagai ganti rugi paten yang dilanggar. Disinilah kita harus kritis, mengapa AS tidak menempuh jalan hukum yang begitu mudah ini? Namun memilih untuk sekedar berpolitik? Penjelasan rasional yang paling mudah adalah AS tidak memiliki bukti bahwa terjadi pencurian teknologi oleh Tiongkok. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana fenomena ini dapat dijelaskan?

Untuk mendapatkan jawaban ini kita perlu terlebih dahulu memahami perkembang-an teknologi Tiongkok yaitu bahwa ada beberapa bidang teknologi dimana Tiongkok mandiri dari Barat. Sebagai contoh, Kereta Cepat (High-Speed Train), Teknologi Konstruksi, 5G, Space Technology, Railgun Technology, AI, Electric Car, Renewable Energy, Hydrogen Bomb and Thermonuclear yang diluncurkan tahun 1964 - 1967, pada saat Tiongkok masih di-embargo Barat. Disini perlu kita perhatikan hal-hal sbb yaitu:

Pertama, Apa perlunya Tiongkok susah-susah mencuri? Jika Tiongkoklah yang memimpin (world leader) dibidang teknologi tsb? Misalnya untuk Teknologi 5G, Railgun, High-Speed Train, Renewable Technology, AI dan Mobil Listrik.

Untuk 5G, Tiongkok sepenuhnya mandiri, Barat sendiri belum mampu membuat IC 5G dan komponen untuk antena 5G. Oleh karena Huawei memdominasi patent 5G dan semua proyek pembangunan jaringan 5G. (Elizabeth Woyke, "China is Racing Ahead in 5G. Here's What That Means," MIT Technological Review, December 18, 2018;  /s/612617/china-is-racing-ahead-in-5g-heres-what-it-means/).

Demikian juga dengan Railgun yang teknologinya jauh lebih modern daripada Railgun AS. Menurut analis militer, Railgun Tiongkok dapat merontokkan kapal induk AS dalam jarak 150 km dari pantai. Tiongkok begitu maju dalam Railgun Technology ini karena teknologi elektromagnetik-nya jauh lebih canggih daripada Barat (Jamie Seidel, "China's World First: Electromagnetic Railgun Goes to Sea," ,  news-story/ 6e31d167e88308f59ec9633 ef1e867b; Josh K. Elliott, "Why China's Miracle Railgun Weapon Should Scare the US Navy," Global News, January 3, 2019; news/ 4810853/china-railgun-warship-weapon/)

Tiongkok adalah yang terdepan di dunia ini dalam Teknologi Kereta Cepat. Sampai hari ini, AS tidak memiliki sebuah kereta cepatpun, sedangkan Tiongkok memiliki jaringan kereta cepat yang melayani seluruh kota besar yang ada (Agence France Presse, "China First in the World for High-Speed Train," The Jakarta Post, July 4, 2019;  life/2019/07/03/china-first-in-the-world-for-high-speed-trains.html).

Demikian juga untuk AI (Artificial Intelligent), mega investasi yang bernilai multi-milyar dollar US menyebabkan Tiongkok yang terdepan dibidang ini (Amy Webb, "China is Leading in Artificial Intellegence," 201809/amy-webb/china-artificial-intellegence.html; James Vincent, " China is about to overtake America in AI Research." The Verge, March 19, 2019; Louis Columbus, " How China is Dominating Artificial Intellegence." Forbes, December 16, 2018)

Untuk Enerji Terbarukan (Renewable Energy) ini adalah enerji masa depan. Pada saat perkembangan enerji terbarukan di Barat terhambat karena lobby politik perusahaan minyak. Tiongkok justru memimpin kemajuan di bidang ini (Dominic Dudley, "China is Set to Become the World's Energy Superpower," Forbes, January 11, 2019; Dominic Chiu, "The East is Green: China's Global Leadership in Renewable Energy," CSIS Report, e-energy)

Demikian juga dengan Teknologi Mobil Listrik. Teknologi ini adalah masa depan industri mobil. Saat ini kemajuan teknologi mobil listrik di Barat stagnan. Kini Tiongkoklah yang terdepan didunia ini (Bloomberg Businessweek, " China is Leading the World to an Electric Car Future," November 15, 2018; Alex Thornton, "China is Winning the Electric Vehicle Race," World Economic Forum, 04 February 2019;)

Kedua, Bagaimana Mungkin Tiongkok Mencuri Teknologi Jika Saat Itu Tiongkok diembargo dan di-isolasi oleh Barat? Misalnya, Teknologi Bom Hydrogen dan Bom Nuklir? Untuk Hydrogen Bomb (UPI Archives, "China Fires H-Bomb," June 17, 1967; "China First Hydrogen Test Successful, 1967")

Untuk Persenjataan Nuklir, Tiongkok adalah yang terbaik, bahkan melewati AS dan Russia, dalam Teknologi Persenjataan Nuklir (lihat, Alex Lockie, "We Ranked the World's Nuclear Arsenals. Here's Why China Came Out on Top." Business Insider, January 25, 2019).

Ketiga, Apabila Tiongkok Mencuri Teknologi, pasti teknologinya jauh lebih buruk dibandingkan Barat. Bagaimana mungkin bisa mendominasi hak Paten Teknologi? Paten diajukan untuk penemuan produk & teknologi baru dari segi ini Barat telah tertinggal oleh Tiongkok.

World Intellectual Property Organisation melaporkan bahwa untuk tahun 2017 dari 3.17 juta paten yang diterbitkan. Paten dari Tiongkok ada 1.38 juta (43.53%) sedangkan AS 607,000 (19.14%), Jepang 318,000 (10.03%), Korea Selatan 205,000 (6.46%). Baru disusul Uni Eropa 167,000 (5.26%). Data ini menunjuk kan bahwa selain dominasi teknologi Tiongkok; juga dominasi Asia karena dari 3 negara Asia Timur tsb sudah mendominasi 58.82% paten teknologi. Jika dilihat Asia secara keseluruhan ada 65% dari total paten. Sedangkan AS dan Eropa hanya 24.40%, jadi kini penemuan teknologi didominasi Asia, bukan oleh Eropa dan AS. Trend seperti ini stabil sejak tahun 2011 yl. Ini membuktikan bahwa Asia telah bangkit dan telah mendominasi teknologi ("China Continues to Dominate Worldwide Patent Applications" Engineering and Technology, December 4, 2018; Barney Thompson and Nian Liu, "China Leads the Way in Legal Technology Patents," Financial Times, 17 February 2019; IPPro, "China is Overtaking the US as the World's Largest Innovator," 20 November 2018,  specialistfeatures/ specialistfeature.php?specialist_id=26).

Keempat, Menurut intelektual dan akademisi Barat yaitu Joseph Needham, seorang ilmuwan yang terhormat (well-respected) dari Cambridge University, UK. Penulis ensiklopedia Science and Civilization in China. Needham menulis bahwa: "Tiongkok adalah Peradaban Sains dan Teknologi (Science and Technology Civilization). Masyarakat Tiongkok sangat menghargai proses belajar, studi dan meneliti, sehingga mereka memiliki kemampuan mengembangkan sains dan teknologi secara mandiri." Tulisan Needham ini menjelaskan mengapa pada saat diisolasi/diembargo Barat. Kemajuan teknologi Tiongkok untuk industri dasar, hydrogen dan nuklir tetap melaju kedepan secara mengesankan.

Lebih lanjut, Needham menulis bahwa kompas, jam (penunjuk waktu), mesiu, senjata api (senapan, meriam, dinamit, roket, dsb), crossbow, astronomi, kertas, uang kertas, bank, bank cheque, teknik percetakan, seismograph - alat pengukur gempa. Saat itu kaisar Tiongkok sudah bisa mengetahui kapan terjadi gempa, seberapa besar gempa tsb dan dimana lokasi gempa sehingga bisa cepat mengirim bantuan. Menarik bahwa seismograph modern masih tetap meng-gunakan prinsip teknologi yang sama dengan seismograph Tiongkok kuno. Serta masih banyak lagi seperti kincir air, irigasi, matematika, dsb. Seluruh teknologi ini telah biasa digunakan di Tiongkok dijaman dinasti Tang. Baru 1000 tahun kemudian diperkenalkan di Barat oleh rahib Jesuit, yang waktu itu ber -kunjung ke Tiongkok, menjadi tamu kaisar dan diijinkan belajar tekonologi Tiongkok. Jadi menurut Needham, Baratlah yang terlebih dulu belajar teknologi dari Tiongkok. Kehadiran teknologi Tiongkok di Eropa mendorong terjadinya Pencerahan (rennaisance) yang merupakan titik awal bangkitnya liberalisme dan humanisme, yang kemudian mendorong kebangkitan Eropa (Joseph Needham, Science and Civilization in China, Cambridge University Press, 2015).

Jika kita meminjam nilai-nilai liberal Barat, fairness, justice, gentleman, ethics dsb yang selama ini dijunjung tinggi dan dibanggakan oleh dunia Barat. AS semestinya membayar lunas semua paten teknologi Tiongkok yang digunakannya terlebih dahulu. Barulah AS bisa klaim pencurian teknologi oleh Tiongkok. Jika hal ini dilakukan maka AS tidak akan lagi mampu tegak berdiri, limbung karena bangkrut.

Selama bertahun-tahun para petinggi di Washington meremehkan (underestimate) Tiongkok. Mereka terjebak kedalam paradigma yang diciptakan sendiri; bahwa Tiongkok dikuasai rejim komunis yang otoritarian, bahwa rakyat Tiongkok menderita dibawah pemerintahan otoritarian, bahwa dengan kemajuan ekonomi yang terjadi, rakyat Tiongkok akan bangkit dan menuntut demokrasi, jika tuntutan demokrasi ini terjadi maka rejim komunispun tumbang dan Tiongkok - pun menjadi demokrasi liberal seperti Barat. Ditambah lagi untuk politisi dari kubu White-Supremacy, Tiongkok adalah non-Caucasian jadi secara budaya, moral dan kecerdasan sangat rendah, jadi tidak mungkinlah bisa berkembang menyaingi AS, dsb.

Ini adalah asumsi yang sepenuhnya irasional; oleh karena tidak didasarkan pada data dan studi kontemporer (contemporary studies) yang mendalam pada struktur sosial-politik Tiongkok. Namun hanya didasarkan pada persepsi "sebagai orang luar terhadap komunisme Tiongkok." Akibatnya seperti intelektual AS Gordon Chang yang laris dan disukai para petinggi Washington. Gordon sejak tahun 2005 yl selalu memprediksikan bahwa rejim politik dan ekonomi Tiongkok akan runtuh dan prediksinya selalu keliru. Sekalipun selalu keliru, Gordon tetap digandrungi para petinggi Washington karena Gordon berceritera apa yang ingin didengar oleh para petinggi Washington, bukan apa yang sebenarnya terjadi. Akibatnya, kebijakan Washington terhadap Tiongkok tidak pernah efektif, bahkan sepenuhnya tidak tepat sehingga Washington gagal menghentikan kemajuan Tiongkok. Puncak dari kegagalan Washington ini adalah perang dagang baru saja berlalu.

Frustasi menghadapi Tiongkok, langkah paling mudah adalah melancarkan hoax politik "mencuri teknologi" dengan tujuan membentuk persepsi dan opini publik AS dan dunia bahwa Tiongkok adalah negara inferior dengan tingkat kecerdasan rendah, bermoral rendah, bisanya cuma mencuri. Sedangkan AS adalah sang adikuasa yang superior, pembela demokrasi dan HAM, sumber ilmu dan teknologi; yang telah mejadi "korban" kejahatan Tiongkok.

Hoax politik ini sangat jitu dalam menenangkan publik AS atas rontoknya superioritas teknologi AS oleh Tiongkok. Gambaran bahwa AS adalah "korban" kejahatan dan kelicikan Tiongkok cukup meyakinkan kaum White Supremacist dan dapat menenangkan kemarahan kaum buruh dan para penganggur korban PHK karena relokasi industri ke Tiongkok. Film yang dibuat Peter Navarro, "Death by China" menggambarkan dengan jelas upaya politik ini. Tiongkok menjadi kambing hitam kegagalan kebijakan ekonomi AS sehingga sektor manufaktur dalam negeri rontok, hutang menumpuk, pengangguran meningkat, produktivitas nasional menurun dan AS menjadi sangat konsumtif yang mengakibatkan defisit perdagangan meledak semua ini berujung pada meningkatnya angka kemiskinan. Kini jauh lebih banyak jumlah orang miskin di AS daripada di Tiongkok. Pada tahun 2017 yl UN Rapporteur Philip Alston berkunjung ke AS untuk meneliti kemiskinan yang terjadi dan dia melapor-kan ada sejumlah 51 juta orang yang dikategorikan sebagai on extreme poverty (Ed Pilkington,"The UN Rapporteur on Extreme Poverty in America," The Guardian, 1 December 2017). Pada tahun yang sama jumlah orang miskin di Tiongkok tinggal 9 juta dan Xi mentarget-kan bahwa ditahun 2020 kemiskinan tidak ada lagi di Tiongkok.

Semua ini hanyalah mentalitas pihak yang kalah (the loser mentality). Tidak akan menolong AS untuk memperbaiki dirinya. AS bagaikan atlit yang kalah bertanding kemudian sibuk menyalahkan lawannya (Tiongkok) dan wasitnya (WTO).

"Sebagai akhir kata, data diatas menunjuk dengan jelas bahwa kini Asia memimpin dunia dalam Inovasi Teknologi sehingga langkah Asia memasuki abad 21 adalah dengan tegap. Fajar telah merekah di Asia, yang dulu adalah budak dan jajahan Barat. Akhirnya semua kembali kepada kita, Apakah kita akan menoleh ke Timur dimana fajar merekah dengan indah? Ataukah tetap terpaku ke Barat untuk menyaksikan matahari terbenam? Apakah kita akan ikut berderap bersama para tetangga memasuki abad Asia sambil memberi warna Indonesia? Ataukah kita memilih sibuk bertengkar masalah Suku, Ras, Agama dan Politik? Langkah apapun yang kita ambil adalah pilihan kita sendiri"


Thursday, November 12, 2020

WAJAH BARU INDONESIA

Kenapa demo? Karena rakyat tidak trust sama pemerintah. Kenapa tidak trust? Karena rakyat tak tahu apa yang sedang dikerjakan pemerintah.

Nah, saya akan menulis panjang!

Gambaran dengan bahasa yang sederhana, agar yang katanya bukan orang pintar, bisa paham 

NIKEL DAN MOBIL LISTRIK

Anda tahu apa yang diam-diam dikerjakan oleh Pak Jokowi? Saat Arab Saudi lagi sadar bahwa minyak mau habis sehingga Putra Mahkotanya diperintah untuk diplomasi kemana-mana membangun investasi di negara lain, Pemerintah kita sadar bahwa masa depan dunia ini bukan lagi Minyak Bumi, tapi Nikel.

China sudah memiliki teknologi dan secara masive memproduksi Mobil Listrik. Uni Eropa tak mau kalah, mereka telah lebih dulu memproduksi Mobil Listrik dan memperkenalkn ke ujung dunia. Namun mendadak Uni Eropa marah! Karena Jokowi melalui PERMEN No 11 tahun 2019 melakukan stop ekspor bahan mentah Bijih Nikel ke Eropa. Uni Eropa menggugat Jokowi ke WTO karena larangan ekspor ini. Dan jokowi menjawab “Indonesia tidak lagi ekspor bijih Nikel, Indonesia akan membangun sendiri pabrik baterai untuk bahan bakar mobil listrik”. Apakah anda tahu cerita ini? Nggak kan?

Apakah Jokowi cuma membual?

Tidak!

PT Vale Indonesia adalah Perusahaan Pertama yang melaksanakan Kontrak Karya di tahun 2014, artinya perusahaan tambang yang 58 % sahamnya adalah milik perusahaan yang ditunjuk oleh Pemerintah, artinya apa? Perusahaan Nikel terbesar ini dikelola oleh bangsa sendiri. Masih banyak lagi perusahaan Nikel lain yang berkonsep Kontrak Karya tersebar di Sulawesi. Dan pembangunan perusahaan Nikel ini masive di periode pertama pemerintahan Jokowi. Apa anda tahu?

Dahulu Indonesia selalu mengekspor Bijih Nikel Mentah ke Uni Eropa, dan Eropa sangat senang karena bisa membeli bahan baku baterai dengan sangat murah dari Indonesia. Apa gunanya Eropa mampu memproduksi Mobil Listrik jika tidak punya bahan baterainya? Gigi ompong! Nah sekarang bayangkan juga konglomerat yang udah makan enak hasil ekspor Nikel ke Eropa? Gigit jari kawan karena sudah dilarang sama Jokowi. Apakah mereka diam? Pastinya tidak dan sudah pasti melawan dengan berbagai cara!

Kini Jokowi menghentikan tabiat buruk itu! Jokowi membangun perusahaan Nikel dari hulu ke hilir sehingga kita tidak akan menjual Nikel dalam bentuk bahan mentah yang murah, tapi dalam bentuk baterai yang mahal. Di satu sisi kita mendapat keuntungan yang melimpah, disisi lain Eropa akan sangat bergantung pada kita 

Apa ini jalan mulus? Kita orang awam melihatnya mulus dan lancar, tapi apa anda paham perlawanan besar dunia sedang menghantam Jokowi saat ini? Even presiden yang anda bilang plonga plongo itu, dibalik layar sedang perang melawan Uni Eropa. Apa anda gak nyadar? Seberapa kuat Jokowi mampu memenangkan perang ini? Wong didalam negeri aja anda kerjaannya cuma dema-demo!

Jokowi kemudian membangun perusahaan Baterai Electric Vehicle (EV) yang sekalipun banyak diprakarsai perusahaan China namun tetap prinsipnya adalah Kontrak Karya. Kenapa China? China adalah negara dunia ketiga yang hari ini juga gencar memproduksi Mobil Listrik selain Uni Eropa bahkan melewati prestasi Amerika. Uni Eropa hanya ingin membeli bahan baku Nikel dari kita, dan enggan melakukan kerjasama. China sadar bahwa mereka memiliki teknologi dan SDM Ahli tapi tidak memiliki bahan baku baterai, sementara Indonesia memiliki bahan baku tapi tidak dengan teknologi. Mutualisme ini melahirkan investasi yang saling menguntungkan.

Inilah asal muasal anda pada heboh TKA China. Anda menolak karena belum tahu latar belakang ceritanya bukan? Jika bukan China, masa depan cerah Indonesia akan terlewatkan, Arab Saudi sudah diundang tapi tidak mau invest karena jelas Arab Saudi tidak punya teknologi itu. China tidak merampas kesempatan pekerja, karena dalam perjanjiannya China hanya akan mendatangkan tenaga terkait mesin dan alat produksi yang berkaitan dengan teknologi mereka. Ibarat anda beli AC apa iya anak anda sendiri yang anda suruh pasang blowernya? Pasti anda akan bawa sekalian teknisi dari toko untuk memasang instalasinya ke rumah bukan?

Begitu juga soal TKA China yang di sulawesi, mereka bertugas mengaplikasikan instalasi alat-alat dari perusahaan China ke Indonesia untuk mendirikan pabrik Nikel sampai pada produksi Baterainya.

Apa wajah masa depan Indonesia? Minyak Bumi akan habis, anda gak baca gerak gerik Arab Saudi yang sudah kebingungan nanam investasi kemana-mana? Mereka sadar bahwa minyak buni mau habis! Eropa terutama Jerman dan juga Jepang, sedang banting setir dari otomotif emisi menuju otomotif listrik, tapi mereka tidak punya baterainya. Hanya Indonesia yang punya bahan baku, lahan, sdm, dan pasar.

Nah gimana untuk memperlancar itu semua?

Indonesia harus siap insfratruktur karena bentuk geografis kita adalah pulau dengan jangkauan yang sangat luas. Lalu regulasi, Omnibus Law hari ini adalah senjata jitu untuk memuluskan transisi berpindahnya banyak sekali perusahaan asing ke negeri ini. Lantas apa gak takut nanti negara kita dijajah bangsa asing?

Jangan samakan era sekarang dengan jaman Pak Harto kawan! Sekarang kita sudah memiliki UU Kontrak Karya, apapun bentuk usaha asing yang masuk ke Negeri kita, minimal 51% sahamnya harus milik perusahaan yang ditunjuk oleh Pemerintah. Kalau sudah menguasai 51% saham maka anda adalah pengelola aktif, saham yang lain itu hanya menyokong dana dan saran.

Apa Jokowi bisa menjamin pelaksanaan UU tersebut? Buktinya sudah nyata yaitu Freeport! Dahulu kita cuma menikmati 9% keuntungan, sekarang kita sudah memiliki 51% keuntungan Freeport. Apa anda tahu perjuangan Jokowi untuk merebut 51% itu? Ya sudah pasti enggak wong kerjaan sampean cuma mainan hoaks dan demo kemana-mana kok!

Pada 2030 sudah ditargetkan seluruh armada Trans Jakarta adalah Bus Listrik, dan setelah pabrik baterai, plan berikutnya adalah pabrik Mobil Listrik. Apakah rencana? Indonesia sudah memulai pembangunan kalau gak percaya silahkan googling Mobil Listrik Indonesia. Kalau masih belum percaya lagi? Lihat Perpres Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan. Belum percaya lagi? Lihat produk-produk kebijakan apalagi yang sudah dilandaskan pada Perpres tersebut!

Apa gak mungkin kita akan menjuarai otomotif dunia? Orang bahan bakunya kita yang punya? Apa gak mungkin kita akan semakmur Arab Saudi di masa mendatang? Jokowi tinggal 4 tahun menjabat kawan! Itupun masih anda recoki dengan isu-isu hoaks!

Nikel dan Baterai EV serta Mobil Listrik adalah masa depan Indonesia!

Fikirkan dan resapi!

Jangan percaya saya, carilah informasinya dan bentuklah prinsip kewarganegaraan anda!

Bangga atau tidak masa depan itu nyata!

Hebat Indonesia