Showing posts with label alzheimer disease. Show all posts
Showing posts with label alzheimer disease. Show all posts

Saturday, November 2, 2013

TENTANG PENYAKIT ALZHEIMER’S – Bagian 4


Bagaimana Penyakit Alzheimer Didiagnosa?

Dokter dapat mendiagnosa kebanyakan kasus Alzheimer. Namun, tak seorang pun dapat menjadi 100% yakin sampai setelah kematian, yakni ketika pemeriksaan autopsi  mikroskopis otak mendeteksi adanya bercak-bercak (plak) dan kekusutan. Tidak ada pengujian dasar, seperti tes darah, tes urine, biopsi atau gambar scan untuk mendiagnosa penyakit Alzheimer. Scan otak mungkin dapat membantu mengidentifikasi perubahan yang terjadi dalam otak.

Cakrawala Tes darah untuk Alzheimer - Ilmuwan dari Saarland University dan Unit Perawatan Kesehatan Siemens melaporkan dalam Genome Biology bahwa mereka telah mengidentifikasi tes darah baru yang mungkin pada suatu hari dapat mendiagnosa penyakit Alzheimer secara akurat jauh lebih awal. Mereka menambahkan bahwa tes darah ini juga mungkin berguna dalam mendiagnosis gangguan degeneratif lainnya.
  
Menyingkirkan kondisi lain

Dokter biasanya akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk menyingkirkan kondisi lain yang biasanya memiliki gejala yang juga ada pada Alzheimer. Berikut adalah beberapa contoh dari penyakit dan kondisi yang harus disingkirkan:
  • Kecemasan/anxietas
  • Tumor otak
  • Depresi
  • Infeksi
  • Masalah tiroid
  • Kekurangan Vitamin
Pemeriksaan berikut mungkin akan dilakukan:

#1 - Pemeriksaan darah: - untuk melihat jika pasien memiliki gangguan tiroid atau kekurangan vitamin

#2 - Pemeriksaan neuropsikologis - ini mencakup penilaian yang ekstensif tentang daya kognitif (berpikir) dan keterampilan mengingat. Ini memerlukan beberapa jam. Jenis-jenis pemeriksaan ini sangat berguna dalam mendeteksi Alzheimer maupun demensia lainnya secara dini.

#3 - Scan MRI (Magnetic Resonance Imaging) – Suatu medan magnet yang kuat diciptakan dengan mengalirkan arus listrik melalui loop kawat. Sementara itu, kumparan lainnya dalam medan magnet mengirim dan menerima gelombang radio. Ini memicu proton dalam tubuh untuk mensejajarkan diri. Setelah sejajar, gelombang radio akan diserap oleh proton, yang memicu terjadinya putaran. Energi kemduian dilepaskan setelah 'menarik' molekul, yang pada gilirannya memancarkan energi sinyal yang ambil oleh kumparan. Informasi ini kemudian dikirim ke komputer yang memproses semua sinyal dan menghasilkan sebuah gambar. Produk akhir merupakan representasi gambar 3-D dari daerah yang sedang diperiksa; yang dalam hal ini adalah otak.

#4 - Scan PET (Positron Emission Tomography) – Ini menggunakan radiasi, atau nuclear medicine imaging, untuk menghasilkan gambar berwarna 3-dimensi dari proses fungsional dalam tubuh manusia. Hal ini sangat berguna dalam membantu dokter mendiagnosa penyakit Alzheimer. Sebuah studi mengungkapkan bahwa scan PET yang mengukur penyerapan gula di otak secara signifikan meningkatkan akurasi diagnosis satu jenis dementia yang sering keliru dianggap penyakit Alzheimer. 

#5 - CT (computerized tomography) scan - Perangkat ini menggunakan pengolahan geometri digital untuk menghasilkan gambar 3-dimensi (3-D) dari bagian dalam sebuah objek. Gambar 3-D dibuat setelah banyak gambar 2-dimensi sinar-X diambil sekeliling satu sumbu rotasi - dengan kata lain, banyak gambar dari daerah yang sama yang diambil dari berbagai sudut dan kemudian ditempatkan bersama-sama untuk menghasilkan gambar 3-D.

#6 - Apakah perbedaan antara PET, CT scan atau MRI? Sebuah CT scan atau MRI dapat menilai ukuran dan bentuk organ tubuh dan jaringan. Namun, mereka tidak bisa menilai fungsi. PET scan melihat pada fungsi. Dengan kata lain, MRI atau CT scan memberitahu kita seperti apa tampilannya, sementara PET scan dapat memberitahu kita bagaimana ini bekerja.

Seri Artikel TENTANG PENYAKIT ALZHEIMER



Jakarta, 2 November 2013
By©Mimuk Bambang Irawan

TENTANG PENYAKIT ALZHEIMER’S – Bagian 3


Penyakit Alzheimer dan harapan hidup

Penyebab utama penyakit Alzheimer memendeknya harapan hidup penderita Alzheimer biasanya bukan karena penyakit itu sendiri, tapi oleh komplikasi yang terjadi karenanya. Saat pasien menjadi kurang mampu untuk menjaga diri mereka sendiri, maka apapun penyakit yang kemudian berkembang, seperti infeksi, akan cenderung memburuk dengan cepat. Perawat akan semakin sulit untuk mengetahui adanya komplikasi karena berkurangnya kemampuan pasien untuk mengatakan apakah dia sehat, merasa tidak nyaman, atau kesakitan.Radang paru-paru dan tukak karena tekanan (Ulkus decubitus) adalah contoh umum komplikasi yang dapat mengakibatkan kematian bagi orang-orang dengan penyakit Alzheimer yang parah

Apa penyebab atau faktor risiko penyakit Alzheimer?

Meskipun banyak penelitian telah dilakukan dan saat ini sedang terus dilakukan untuk menemukan penyebab Alzheimer, para ahli masih belum yakin tentang penyebab mengapa sel-sel otak menjadi rusak. Namun, ada beberapa faktor yang diketahui berhubungan dengan risiko yang lebih tinggi untuk mengidap penyakit Alzheimer. Ini termasuk:

USIA

Setelah usia 65, risiko untuk terjadinya  Alzheimer menjadi dua kali lipat setiap lima tahun. Meskipun Alzheimer adalah penyakit yang banyak terjadi di usia tua, namun beberapa orang muda juga dapat mengembangkan kondisi ini. Menurut Canadian Medical Association Journal risiko terjadinya Alzheimer adalah sebagai berikut:
  • Usia 65-74, 1 dari 100 orang
  • Usia 75-84, 1 dari 14 orang
  • Umur lebih dari 85, 1 dari 4

RIWAYAT KELUARGA

Orang yang memiliki anggota keluarga dekat yang mengembangkan Alzheimer memiliki risiko sedikit lebih tinggi untuk juga menderita Alzheimer (hanya sedikit lebih tinggi dan tidak secara signifikan). Hanya sekitar 7% dari semua kasus berkaitan dengan gen yang menurunkan penyebab timbulnya penyakit sebagai warisan keluarga. Di antara mereka yang mewarisi kondisi ini, kemungkinan terjadinya Alzheimer bisa mulai pada usia dini.

DOWN’S SYNDROME

Orang dengan Down’s syndrome memiliki extra-copy dari kromosom 21, yang mengandung protein yang juga ada di otak orang-orang dengan Alzheimer. Oleh karena orang-orang dengan Down’s syndrome memiliki sejumlah besar protein ini dibanding yang lain, maka risiko timbulnya penyakit Alzheimer pada mereka akan lebih besar.

SABETAN CEMETI DAN CEDERA KEPALA

Beberapa penelitian telah menujukkan adanya hubungan antara sabetan cemeti dan cedera kepala dengan risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya Alzheimer. Catatan: sabetan cemeti adalah suatu cara untuk menghukum anak nakal di masa yang lalu dengan pecutan menggunakan alat, misalnya ikat pinggan, sapu lidi dan cemeti sungguhan … sadis banget ya)

ALUMINIUM

Satu keterkaitan dalam sebuah teori yang oleh kebanyakan ilmuwan telah diabaikan. Unsur aluminium ternyata ada dalam bercak-bercak dan kekusutan dalam otak pasien Alzheimer. Beberapa ahli telah menyatakan bahwa penyerapan aluminium oleh manusia dapat meningkatkan risiko terkena Alzheimer. Namun, penelitian tidak berhasil menemukan keterkaitan antara 2 hal tersebut. Aluminium terkandung dalam beberapa makanan dan tanaman. Juga ditemukan dalam beberapa bahan pembuatan panci memasak, obat-obatan dan bahan kemasan. Ilmuwan meragukan adanya keterkaitan ini, karena tubuh kita hanya menyerap aluminium dalam jumlah minimum dan oleh tubuh kita dikeluarkan melalui urin

GENDER

Ditemukan persentase yang lebih tinggi bagi wanita untuk menderita Alzheimer daripada pria. Karena nyatanya perempuan hidup lebih lama daripada laki-laki, dan risiko Alzheimer seiring dengan usia, maka ini mungkin merupakan sebagian alasannya.

KERUSAKAN KOGNITIF RINGAN

Orang yang menderita kerusakan kognitif ringan hanya mengalami masalah ingatan, tetapi bukan Alzheimer. Ingatannya lebih buruk dibanding orang sehat lain pada usia yang sama. Persentase yang lebih tinggi untuk terjadinya Alzheimer terjadi pada orang-orang dengan kerusakan kognitif ringan, dibandingkan dengan orang lain. Beberapa orang mengatakan bahwa hal ini bukanlah faktor risiko, karena mereka yang menderita kerusakan kognitif ringan dianggap merupakan tahap sangat awal dari penyakit Alzheimer yang tidak terdiagnosis. Orang lain tidak setuju dengan hal ini. Anehnya, penelitian di Inggris  menunjukkan bahwa orang dengan kerusakan kognitif ringan  kurang berisiko untuk menderita demensia sebagaimana diperkirakan sebelumnya.

FIBRILASI ATRIUM (Bergetarnya Serambi Jantung)

Sebuah penelitian pada lebih dari 37.000 pasien menunjukkan hubungan yang kuat antara fibrilasi atrium dan terjadinya penyakit Alzheimer.

FAKTOR RESIKO PENYAKIT JANTUNG

Orang-orang yang memiliki faktor risiko penyakit jantung - tekanan darah tinggi (hipertensi), kolesterol tinggi, dan diabetes yang kurang terkontrol - juga memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita Alzheimer. Jika Anda memiliki tekanan darah tinggi, kadar kolesterol darah tinggi, dan atau diabetes tipe 2 yang kurang terkontrol sebagai hasil dari gaya hidup, maka factor-faktor itu disebut faktor gaya hidup. Menjalankan diet seimbang, melakukan banyak latihan, mempertahankan berat badan ideal, dan tidur antara 7-8 jam setiap malam mungkin dapat menghilangkan faktor-faktor gaya hidup ini. Jika Anda tidak dapat mengatasi diabetes 2, maka pengendalian penyakit diabetes yang baik akan membantu.

Kadang-kadang faktor-faktor ini tidak ada hubungannya dengan gaya hidup, misalnya jika anda mempunyai tekanan darah tinggi karena sebab yang lain, menderita diabetes tipe 1, atau rentan terhadap terjadinya kolesterol darah tinggi meskipun berat badan yang sudah tepat, berolahraga, dll. Kontrol yang baik dan perawatan kondisi membantu memperkecil risiko terjadinya penyakit Alzheimer (dan penyakit jantung).

TINGKAT PENDIDIKAN

Ada beberapa data yang menunjukkan risiko lebih tinggi terjadinya Alzheimer antara orang-orang dengan kualifikasi pendidikan yang lebih rendah, dibandingkan dengan individu yang berkualifikasi pendidikan yang lebih tinggi. Namun, tak seorang pun benar-benar tahu mengapa hal demikian terjadi.

MAKANAN OLAHAN DAN PUPUK (nitrat)

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Rhode Island Hospital menemukan hubungan yang signifikan antara peningkatan kadar nitrat dalam lingkungan dan makanan, dengan peningkatan kematian karena penyakit, termasuk Alzheimer, diabetes dan Parkinson. Penelitian ini memperhatikan peningkatan yang progresif dari pemaparan manusia terhadap nitrat, nitrit dan nitrosamin melalui makanan yang diproses dan diawetkan serta juga terhadap pupuk.

STRES

Sara Bengtsson dan tim Universitas Umea, Swedia menemukan bahwa stres dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya Alzheimer.

Dr Simon Ridley, kepala penelitian di Alzheimer Research UK yang merupakan perkumpulan amal, menunjukkan bahwa penelitian dilakukan pada tikus, jadi kami tidak dapat memastikan apakah penemuan-penemuan itu berlaku juga bagi manusia.

Dr Riley berkata: “Beberapa penelitian telah berhasil menyoroti keterkaitan antara stress yang kronis, penurunan kognitif dan berkembangnya penyakit Alzheimer, dan dibutuhkan studi lebih lanjut pada orang untuk dapat menyelidiki keterkaitan ini sepenuhnya. Jika kita dapat lebih memahami faktor-faktor risiko terjadinya Alzheimer kita juga dapat memberdayakan orang untuk melakukan perubahan gaya hidup guna mengurangi risiko mereka.

BEBERAPA PENYAKIT DAN KONDISI LAINNYA

Beberapa penyakit dan kondisi lain telah dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya Alzheimer.
  • Beberapa kondisi peradangan kronis
  • Riwayat adanya episode depresi klinis
  • Stroke dan/atau stroke-mini
  • Obesitas/kegemukan/overweight
Pada bulan Oktober 2012, para peneliti dari Drexel University College of Medicine di Philadelphia melaporkan dalam PLoS ONE, bahwa mereka menemukan sebuah mekanisme anti-kanker alami dalam tubuh manusia yang dapat mendorong terjadinya penyakit Alzheimer.

Seri Artikel TENTANG PENYAKIT ALZHEIMER



Jakarta, 2 November 2013
By©Mimuk Bambang Irawan

TENTANG PENYAKIT ALZHEIMER’S – Bagian 2


Apa sajakah gejala-gejala penyakit Alzheimer?

Para dokter mengatakan bahwa penyakit Alzheimer kadang-kadang bisa sulit untuk didiagnosa karena setiap pasien memiliki tanda dan gejala yang unik. Artinya, beberapa tanda dan gejala yang hadir pada penyakit Alzheimer juga ada pada kondisi dan penyakit lainnya.
Penyakit Alzheimer diklasifikasikan ke dalam beberapa tahap. Beberapa dokter menggunakan kerangka 7 tahap, sementara orang lain mungkin menggunakan satu 4, 5 atau 6-tahap.

Kerangka yang umum digunakan mencakup:

  1. Tahap pra-demensia.
  2. Tahap ringan Alzheimer.
  3. Tahap Alzheimer moderat.
  4. Tahap berat Alzheimer.
Contoh di bawah ini adalah kerangka 7 tahap.

7 Tahap Kerangka Diagnostik
Sebagian besar pasien memerlukan 8 sampai 10 tahun untuk melalui semua ke-tujuh tahapan ini. Namun, beberapa dapat hidup sampai 20 tahun setelah perubahan pertama pada neuron terjadi.

Tahap 1 - Tidak Ada Penurunan Daya Ingat dan Kognitif

Ingatan dan kemampuan kognitif tampaknya normal. Selama wawancara medis petugas kesehatan profesional mencatat bahwa tidak terbukti adanya masalah ingatan maupun masalah kognitif

Tahap 2 - Gangguan Minimal (penurunan kognitif yang sangat ringan)

Bisa terjadi perubahan secara normal sesuai umur, atau tanda-tanda awal Alzheimer.
Teman, keluarga dan petugas kesehatan profesional hampir tidak menemukan adanya kelainan pada ingatan. Sekitar 50% dari orang-orang berusia 65 ke atas mulai mengalami sedikit kesulitan untuk mengingat sebuah kata dan kesulitan untuk konsentrasi. Pasien bersangkutan mungkin memang merasa ada beberapa kelainan pada ingatannya, seperti lupa kata atau nama, atau tempat di mana mereka meletakkan kunci, kacamata atau objek sehari-hari lainnya .

Tahap 3 – Kebingungan Dini (early confusional, penurunan kognitif yang ringan). Jangka waktunya: 2 - 7 tahun.

Tahap awal Alzheimer kadang-kadang didiagnosis pada tahap ini.

  • Pasien memiliki sedikit kesulitan yang memberikan dampak pada fungsi tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Dalam banyak kasus, pasien akan mencoba untuk menyembunyikan masalah mereka ini.
  • Masalah meliputi  kesulitan dalam mengingat kata, pengorganisasian, perencanaan, meletakkan barang tidak pada tempatnya, kegagalan untuk mengingat data yang baru saja diajarkan yang dapat menimbulkan masalah di tempat kerja maupun di rumah. Di sini anggota keluarga dan rekan-rekan dekat menjadi sadar bahwa ada sesuatu yang salah pada anggota keluarga atau teman mereka ini..
  • Masalah dalam membaca sebuah bagian bacaan dan mengingat informasi yang ada pada bagian bacaan itu
  • Kemampuan untuk belajar suatu hal baru mungkin akan terpengaruh.
  • Masalah dengan pengorganisasian.
  • Adanya kemurungan, kecemasan, dan ditemukannya depresi dalam beberapa kasus.

Tahap 4 - Penurunan Kemampuan Kognitif Yang Moderat. (Tahap ringan atau awal Alzheimer's Disease). Jangka waktunya: sekitar 2 tahun

Adanya gejala-gejala ini menjadikan diagnosis mudah untuk mengkonfirmasi.

  • Masih bisa mengenal orang-orang yang akrab dengannya dan sadar akan dirinya.
  • Berkurangnya ingatan tentang masa lalunya sendiri.
  • Bermasalah dengan angka yang berdampak pada keuangan keluarga, seperti - mengelola tagihan, buku cek, dll. Latihan numerik yang sebelumnya dapat dilakukan, seperti menghitung mundur dari 88 dalam banyak angka 6 menjadi terlalu sulit baginya.
  • Pengetahuan tentang kejadian atau peristiwa yang baru terjadi menjadi berkurang atau lupa
  • Tugas-tugas yang berurutan menjadi semakin sulit, termasuk mengemudi, memasak, menyiapkan makan malam untuk tamu, tugas-tugas rumah tangga, belanja sendiri, membaca dan kemudian memilih sesuatu yang ada di menu restoran.
  • Menghindarkan diri dari percakapan, situasi sosial dan situasi mental yang menantang.
  • Menyangkal adanya masalah dan bersikap defensif.
  • Memerlukan bantuan untuk beberapa aspek yang lebih rumit dari hidup mandiri.
 Tahap 5 - Penurunan Kognitif Yang Cukup Parah (moderat atau pertengahan tahap penyakit Alzheimer). Jangka waktu: 18 bulan

Terjadi kerusakan kognitif yang lebih serius.

  • Tidak mampu bertahan hidup mandiri di masyarakat dan memerlukan bantuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Lupa akan rincian tentang sejarah pribadi, seperti nama di mana mereka pernah bersekolah, nomor telepon, alamat pribadi, dll
  • Bingung tentang ini hari bulan apa dan tahun berapa
  • Bingung tentang di mana mereka berada atau di mana sesuatu barang berada.
  • Bermasalah dengan angka-angka; kemampuan matematis menjadi lebih buruk.
  • Mudah menjadi korban dari para scammers. (Easy prey for scammer)
  • Memerlukan pengawasan dan kadang-kadang bantuan ketika berpakaian, termasuk dalam memilih pakaian yang tepat untuk musim atau suatu kesempatan.
  • Memerlukan bantuan dalam melaksanakan beberapa kegiatan hidup sehari-hari.
  • Masih mampu untuk makan dan pergi ke toilet tanpa bantuan.
  • Tidak dapat mengingat informasi terkini secara konsisten.
  • Biasanya masih cukup ingat tentang jati diri mereka sendiri, seperti nama, nama pasangan dan anak-anak mereka.
 Tahap 6 - Penurunan Kognitif Yang Parah (cukup parah pertengahan tahap penyakit Alzheimer). Jangka Waktu - sekitar 2 tahun.

Ingatan terus memburuk. Ada perubahan besar dalam kepribadian. Memerlukan berbagai macam bantuan dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

  • Hampir sama sekali tidak mengingat pengalaman sekarang atau yang baru saja terjadi
  • Tidak mampu mengingat sejarah pribadi dengan baik.
  • Biasanya masih dapat mengingat nama mereka sendiri.
  • Mengenal anggota keluarga yang akrab namun tidak bisa mengingat nama-nama mereka.
  • Mampu mengkomunikasikan rasa senang dan rasa sakit secara non-verbal.
  • Kemampuan untuk berpakaian mengalami kemunduran yang cepat. Butuh bantuan saat mengenakan dan menanggalkan pakaian.
  • Kemampuan untuk mandi dan mencuci sendiri semakin memburuk.
  • Kecenderungan untuk buang air besar dan kecil yang tak terkontrol
  • Memerlukan bantuan ketika pergi ke toilet – menggelontor wc, cebok, membuang kertas tissue.
  • Gangguan pola tidur.
  • Berkeliaran dan tersesat.
  • Bersikap curiga, paranoid dan agresif. Menganggap bawa perawatnya adalah bajingan, penipu, licik, jahat, tidak jujur.
  • Mengulangi kata-kata, kalimat atau berulang-ulang mengeluarkan suara.
  • Gejala perilaku kompulsif, seperti berulang merobek kertas tissue atau meremas-remas tangannya sendiri.
  • Merasa terganggu, gelisah, terutama pada waktu menjelang sore hari.
  • Berhalusinasi,  juga sering menjelang sore hari, seperti mendengar suara, mencium bau atau melihat hal-hal yang sebetulnya tidak ada.
  • Pada akhirnya memerlukan perawatan dan pengawasan, walau masih dapat merespons rangsangan non-verbal.

Tahap 7 - Penurunan Kognitif Yang Sangat Parah (Parah atau tahap akhir penyakit Alzheimer). Jangka waktu: 1 hingga 2 tahun

Selama tahap akhir penyakit Alzheimer ini, pasien kehilangan kemampuan untuk merespon lingkungan mereka, mereka tidak dapat berbicara, dan akhirnya tidak dapat mengontrol gerakan. Jangka waktu tahap ini tergantung pada kualitas perawatan yang diterima pasien.

  • Ketidak-mampuan kognitif sangat parah.
  • Pasien kehilangan kemampuan untuk berbicara, tapi mungkin masih mampu mengucapkan kata-kata singkat atau bergumam untuk berkomunikasi.
  • Biasanya yang pertama-tama hilang ialah kemampuan berjalan tanpa bantuan, kemudian diikuti kemampuan untuk duduk sendiri, lalu kemampuan untuk tersenyum, dan akhirnya kemampuan untuk menegakkan kepala.
  • Berbagai sistem tubuh mulai bermasalah dan kesehatan pasien memburuk.
  • Mengunyah menjadi semakin sulit. Semakin sering tersedak ketika makan/minum.
  • Reflek-reflek menjadi abnormal.
  • Kemungkinan terjadinya kejang-kejang.
  • Otot-otot menjadi kaku.
  • Umumnya kondisi pasien dalam keadaan terbaring di tempat tidur.
  • Menghabiskan lebih banyak waktu untuk tidur.
  • Memerlukan perawatan sepanjang waktu.

Hilangnya indera penciuman - para peneliti dari Perelman School of Medicine at the University of Pennsylvania melaporkan dalam PloS One bahwa ketika seseorang mulai kehilangan rasa penciuman, itu mungkin menjadi salah satu tanda-tanda pertama penyakit Alzheimer, Parkinson, atau beberapa lainnya neurodegeneratif gangguan.

Seri Artikel TENTANG PENYAKIT ALZHEIMER

 Jakarta, 2 November 2013
By©Mimuk Bambang Irawan

TENTANG PENYAKIT ALZHEIMER’S – Bagian 1

TENTANG PENYAKIT ALZHEIMER’S – Bagian 1


PENDAHULUAN

Penyakit Alzheimer adalah penyakit neurologis progresif yang menimpa otak dan menyebabkan hilangnya neuron (sel saraf) secara menetap yang berakibat hilangnya kemampuan intelektual, termasuk ingatan dan daya nalar, yang berkembang cukup parah sehingga menghambat fungsi sosial atau pekerjaan. Penyakit Alzheimer's dikenal juga dengan sebutan hanya Alzheimer saja, atau Senile Dementia of the Alzheimer Type (SDAT)

Selama perjalanan penyakit terjadi pembentukan bercak-bercak dan kekusutan dalam struktur otak. Hal ini menyebabkan sel-sel otak mati terbunuh. Penderita Alzheimer juga mengalami defisiensi dalam kadar beberapa bahan kimia otak penting yang terlibat dalam proses transmisi pesan di otak atau neurotransmiter

Penyakit Alzheimer's adalah bentuk paling umum dari demensia (penyakit kemunduran fisik dan mental yang disebabkan oleh usia tua). Penyakit menjadi semakin parah dengan berlalunya waktu sehingga ia tergolong penyakit progresif. Saat ini belum ada obat untuk Alzheimer, meskipun ada beberapa cara untuk memperlambat perkembangannya serta membantu pasien untuk mengatasi beberapa gejala. Alzheimer juga merupakan penyakit terminal, artinya  tidak dapat disembuhkan dan berakhir dengan kematian

Menurut National Institute on Aging, diperkirakan antara 2,4 juta - 4,5 juta orang Amerika yang terkena Alzheimer. Menurut Alzheimer's Association, sepertiga dari semua orang lanjut usia di Amerika mati dengan Alzheimer atau beberapa demensia lainnya. Kematian karena Alzheimer telah meningkat dengan 68% dari tahun 2000 sampai 2010

Menurut Alzheimer's Society juga ada sekitar 417,000 orang di Inggris yang menderita Alzheimer.

Orang-orang dengan Alzheimer yang menjalani gaya hidup aktif tampaknya lebih cenderung untuk memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer, sementara orang-orang aktif yang bebas dari Alzheimer memiliki resiko lebih rendah untuk mengembangkan penyakit Alzheimer maupun jenis penyakit demensia lainnya. Hal ini dilaporkan oleh para peneliti dari University of California pada pertemuan tahunan RSNA (Radiological Society of North America) pada bulan November 2012.

Beberapa faktor gaya hidup yang membantu mencegah atau memperlambat Alzheimer meliputi pekerjaan membersihkan halaman, berkebun, dansa, bersepeda, dan semua jenis latihan aerobik.

Mengapa disebut dengan nama penyakit Alzheimer's?

Aloysius Alzheimer adalah ahli neuro-patologi dan psikiater asal Jerman. Dia mendapatkan penghargaan karena publikasi pertamanya tentang kasus 'presenile demensia' pada tahun 1906, Kraepelin, rekan sejawatnya, kemudian memperkenalkan penyakit ini sebagai penyakit Alzheimer, menggunakan nama rekan sejawatnya.

Pada tahun 1901, saat bekerja pada rumah sakit jiwa dan mental di kota Frankfurt am Main, Jerman, Dr. Alzheimer memiliki pasien berusia 51 tahun yang dipanggil dengan nama ibu Auguste Deter. Pasien ini menunjukkan gejala perilaku yang berbeda yang tidak sesuai dengan diagnosa penyakit apapun, antara lain - ia cepat lupa, mengalami disorientasi, kebingungan, kesulitan mengungkapkan pikirannya, dan curiga terhadap anggota keluarganya maupun staf rumah sakit. Gejala-gejalanya terus-menerus berkembang. Dr Alzheimer menulis bahwa pasiennya ini pernah berkata kepadanya 'Saya telah kehilangan diriku sendiri.'

Selama tahun-tahun berikutnya Auguste Deter telah mengambil semakin banyak waktu Dr Alzheimer, sampai pada satu titik di mana penelitian atas pasien ini hampir menjadi obsesi baginya. Wanita itu akhirnya meninggal pada tahun 1906 dan Dr Alzheimer, yang bekerja di laboratorium Kraepelin di kota Munich, mengirim catatan tentang pasien berikut otak pasiennya ke sana.

Bersama dengan dua orang dokter Italia, Dr Alzheimer melakukan sebuah otopsi. Otopsi menyatakan bahwa otak pasien telah menyusut secara dramatis, tetapi tidak ditemukan bukti terjadinya atherosclerosis (penebalan dan pengerasan dinding arteri). Dia menggunakan teknik pewarnaan perak yang telah ia pelajari dari mantan rekan kerja Franz Nissl yang mengidentifikasi adanya bercak (plaque) amiloid dan kekusutan neurofibrilar di otak, yakni 2 ciri yang khas dari penyakit Alzheimer.

Pada November 1906 Dr Alzheimer memberi kuliah pertamanya di mana ia menyajikan gejala patologi dan klinis dari demensia presenile. Kraepelin kemudian mulai menggunakan istilah penyakit Alzheimer, yang mulai tahun 1911 digunakan di seluruh Eropa dan oleh para dokter Eropa ketika mendiagnosa pasien di Amerika Serikat.

Baru-baru ini, temuan Dr. Alzheimer dievaluasi kembali ketika sediaan (preparat) mikroskop yang asli yang digunakan sebagai dasar untuk mengambarkan penyakit itu ditemukan kembali di Munich.

“Seorang peneliti dari Praha, bernama Oskar Fischer dan rekan sebaya Dr Alzheimer's, telah menjelaskan patologi demensia secara lebih mendalam dibanding Alzheimer sendiri”, kata para ilmuwan Ceko yang telah menggali arsip-arsip sejarah di Praha.

Seri Artikel TENTANG PENYAKIT ALZHEIMER

Jakarta, 2 November 2013
By©Mimuk Bambang Irawan