Showing posts with label cansino. Show all posts
Showing posts with label cansino. Show all posts

Friday, August 14, 2020

DAFTAR VAKSIN COVID-19 YANG SIAP UJI TAHAP AKHIR

Jakarta, CNN Indonesia

Para peneliti di seluruh dunia sedang mengembangkan lebih dari 160 vaksin melawan virus corona. Dari ratusan vaksin itu, sekitar 23 vaksin Covid-19 sedang dalam tahap uji coba pada manusia. 

Pandemi Covid-19 memaksa para peneliti bekerja ekstra keras untuk segera menghasilkan vaksin yang aman dan ampuh pada 2021.

Padahal, vaksin biasanya membutuhkan penelitian dan pengujian selama 10 hingga 15 tahun. Waktu selama ini dibutuhkan untuk memastikan vaksin aman dan tidak memberikan efek samping kepada sebagian besar penggunanya.

Tahap pengujian pun terdiri dari tahap pra-klinis dan klinis. Tahap pra klinis, pengujian dilakukan kepada hewan. Sementara tahap klinis berarti vaksin diuji coba pada manusia.

Fase I

Pada Fase I, vaksin akan diuji sekelompok kecil sukarelawan manusia (<100), untuk keamanan efek samping dan respons imun.

Fase II

Pada Fase II,  tes vaksin dilakukan untuk ratusan orang (100-300). Mereka dibagi dalam grup, seperti anak-anak dan orang tua untuk mengetahui apakah ada perbedaan reaksi tergantung umur. 

Vaksin juga diberikan pada mereka yang memiliki karakteristik (umur dan kondisi fisik) yang serupa dengan komunitas yang disasar. Uji coba ini adalah tes lanjutan keamanan vaksin dan respons imun. 

Fase III

Pada Fase III,  pengetesan dilakukan pada ribuan orang (2.500-10 ribu). Peneliti akan melihat apakah orang-orang yang diberikan vaksin terinfeksi Covid-19 atau tidak. 

Vaksin diberikan secara acak, ada yang disuntik vaksin yang diuji dan ada yang di suntik plasebo (obat kosong) . Fase ini akan menguji keampuhan vaksin dalam menangkal virus.

1. University of Oxford/AstraZeneca (Fase III)

Vaksin yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan University of Oxford ini didasarkan pada adenovirus simpanse yang disebut ChAdOx1. 

Vaksin ini dalam uji coba Fase II / III di Inggris dan uji coba Fase III di Brasil dan Afrika Selatan. Proyek ini dapat memberikan vaksin darurat pada bulan Oktober. Pada bulan Juni, AstraZeneca mengatakan total kapasitas produksi adalah dua miliar vaksin.

2. Wuhan Institute of Biological Products/Sinopharm (Fase III)

Perusahaan asal China Wuhan Institute of Biological Products dan Sinopharm menemukan bahwa vaksin inactivated aman dan memicu respons kekebalan. 

Oleh karena itu, kedua perusahaan meluncurkan uji coba Tahap III pada bulan Juli di Uni Emirat Arab (UEA). Di UEA, vaksin akan diuji kepada 15 ribu orang.

3. Moderna (Fase III)

Dilansir dari Livemint, perusahaan asal Amerika Serikat, Moderna juga berencana untuk memulai uji coba tahap akhir bulan ini.

Moderna adalah perusahaan Amerika pertama yang menguji vaksin ke  manusia. Vaksin ini menggunakan messenger RNA (mRNA) untuk memproduksi protein virus. 

Moderna menerbitkan hasil Tahap I yang menjanjikan pada 14 Juli. Uji coba fase III akan dimulai 27 Juli. Perusahaan akan menyiapkan vaksin pada awal 2021.

4. Sinovac (Fase III)

Dilansir dari New York Times, perusahaan swasta China Sinovac Biotech sedang menguji vaksin yang tidak aktif yang disebut CoronaVac. Pada bulan Juni perusahaan mengumumkan bahwa uji coba Fase I / II tidak menemukan efek samping yang parah dan menghasilkan respons kekebalan pada 743 sukarelawan.

Sinovac kemudian meluncurkan uji coba Fase III di Brasil pada bulan Juli. Perusahaan juga membangun fasilitas untuk memproduksi hingga 100 juta vaksin per tahun.

5.  CanSino Biological Inc./Beijing Institute of Biotechnology (Fase II, Persetujuan terbatas)

Perusahaan asal China, CanSino Biologics mengembangkan vaksin berdasarkan adenovirus yang disebut Ad5. Pada bulan Mei, perusahaan menerbitkan hasil yang menjanjikan dari uji coba keselamatan Fase I. 

Kemudian data yang tidak dipublikasikan dari uji coba Fase II menunjukkan vaksin menghasilkan respon kekebalan yang kuat.

Meski baru lewati uji klinis tahap II, tapi pada 25 Juni lalu, pemerintah China telah mengizinkan vaksin ini digunakan untuk kalangan terbatas bagi militer China selama setahun.

Menurut penelitian, hampir setengah dari penerima vaksin Ad5-nCoV melaporkan efek samping demam, 44 persen kelelahan, dan 39 persen merasakan sakit kepala. Secara keseluruhan, 9 persen pasien melaporkan efek samping yang cukup parah sehingga berpotensi mengganggu aktivitas.

Pengembangan vaksin di Indonesia

Tak hanya di Brasil, vaksin buatan Sinovac juga akan diuji klinis di Indonesia. Tim riset Fakultas Kedokteran Universitas Pajajaran bersama Bio Farma dan Sinovach Biotech, Tiongkok, sedang menyiapkan uji klinis vaksin Covid-19.

Vaksin asal Tiongkok ini rencananya akan disuntikkan kepada 1.620 relawan di Kota Bandung sesuai prosedur uji klinis vaksin.

Indonesia juga sedang mengembangkan vaksin Merah Putih untuk melawan virus corona (Covid-19). Uji coba vaksin segera selesai dan hasilnya pada 2021.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan  vaksin ini dipimpin oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan melibatkan Kemenristek, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian BUMN.


Monday, July 27, 2020

DRAMA CHEN WEI

Senin 27 July 2020

Oleh : Dahlan Iskan

Pemenang putaran pertama balapan vaksin ini jelas: CanSino Biologics. Yakni penemu vaksin yang dari Wuhan itu. Yang dipimpin jenderal wanita Chen Wei itu. Di balapan putaran kedua terjadi saling salip. Boleh dikata imbang. 

Tapi di putaran ketiga terjadi pembalikan. Yang finis duluan adalah Sinovac. Yakni vaksin Covid-19 yang dari Beijing itu. Setidaknya Sinovac-lah yang lebih dulu mencapai garis finis di Bandung. Di ibu kota Jawa Barat itu Sinovac akan dicoba terhadap 1.600 orang sukarelawan yang mendaftar secara gratis.

Walhasil Indonesia telah memilih berpartner dengan Sinovac. Kalau uji coba tahap 3 nanti berhasil Indonesia akan diizinkan memproduksi sendiri vaksin itu. Biofarma, milik BUMN, mampu melakukannya.

Amerika kelihatannya akan memilih CanSino Biologics yang dari Wuhan itu. Atau memilih vaksin produk Moderna Inc. Yang milik Swedia-Amerika itu. Brasil, di samping memilih menguji Sinovac, juga sudah disetujui untuk uji coba penemuan dari Oxford University Inggris.

Sinovac, CanSino, Moderna, Oxford. Empat vaksin itulah yang sekarang lagi balapan di kelompok pertama. Di belakang itu masih banyak yang siap masuk arena balapan.

Dari empat vaksin Covid-19 itu mana yang lebih hebat?

Sepanjang perkembangan yang saya ikuti kelihatannya kurang lebih saja. Tapi saya bukan orang yang berhak beropini di bidang ini. Saya sangat awam, pun di bidang mikrobiologi.

Bahwa Amerika memilih Moderna Inc barangkali karena itulah satu-satunya yang berbau Amerika.

Kalau pun nantinya Amerika akan memilih juga CanSino Biologics barangkali juga bukan asal berbeda dengan Indonesia. Mungkin saja karena CanSino bukan kelahiran asli Wuhan. Nama CanSino sendiri singkatan dari Canada-China.

Apa hubungannya dengan Kanada?

Para pendiri CanSino itu adalah orang-orang Tiongkok lulusan Kanada. Tokoh utama CanSino, Yu Xuefeng, kini 57 tahun, meraih gelar doktor di McGill University Montreal, Kanada. Yakni doktor di bidang mikrobiologi. Setelah lulus McGill mereka tidak pulang. Mereka bekerja di perusahaan farmasi yang terkemuka di dunia: Sanofi Pasteur.

Anda pasti pernah makan obat bikinan Sanofi, saking banyaknya jenis obat bikinan Sanofi.

Mereka pun sangat berprestasi di situ. Banyak yang sampai menduduki posisi level atas.

Suatu malam mereka pesta daging bakar di halaman belakang rumah Yu Xuefeng. Di situlah mereka terlibat dalam pembicaraan serius: mengapa pabrik obat di negara mereka ketinggalan. Khususnya ketinggalan dari dunia Barat. Baik dalam hal mutu maupun keamanannya.

Pesta malam itu diakhiri dengan kebulatan tekad: pulang!

Mereka ingin mewujudkan idealisme di bidang farmasi bagi kemajuan Tiongkok. Mereka pun berhenti dari Sanofi. Ada 4 orang yang segera memilih pulang. Mereka inilah yang mendirikan perusahaan farmasi di kota Tianjin, sebelah timur Beijing. Kata 'Kanada' mereka abadikan dalam nama depan perusahaan itu: CanSino.

Pemerintah Kanada memberikan dukungan pada perusahaan itu. Bahkan membolehkan menjalin kerja sama dengan lembaga riset milik pemerintah Kanada.

Ketika ada wabah Ebola, CanSino aktif mengembangkan vaksin itu. Saat itulah mereka bertemu Jenderal Chen Wei, ahli mikrobiologi yang juga kepala pusat riset farmasi militer Tiongkok. Mereka pun bekerja sama.

Sebelum itu pun mereka sudah lama mengenal nama Chen Wei. Nama jenderal wanita ini amat harum. Juga heroik. Terutama saat terjangkit wabah SARS di Tiongkok. Kala itu Chen Wei melakukan riset sangat serius. Dia ingin menemukan vaksin anti-SARS. Dan dia berhasil.

Keberhasilan itu bukan tidak dramatik. Sangat-sangat dramatik. Chen Wei menjadikan anak lelaki satu-satunya sebagai objek uji coba vaksin yang dia temukan itu. Umur si anak masih 4 tahun.

Itu bukan karena Chen Wei tidak sayang anak. Tapi dia begitu yakin akan penemuannya itu. Dia memastikan anaknya tidak akan bermasalah.

Kalau tahun lalu di Tiongkok beredar film Wolf Warrior II yang sangat laris di bioskop-bioskop, inspirasinya dari perjalanan kepahlawanan Chen Wei itu.  Kali ini, untuk vaksin anti-Covid-19 ini, Chen Wei merangkul CanSino.

Sayangnya CanSino tidak bisa finish di Bandung.(Dahlan Iskan)

https://www.disway.id/r/1016/drama-chen-wei