Showing posts with label vaksin covid-19. Show all posts
Showing posts with label vaksin covid-19. Show all posts

Saturday, September 26, 2020

BERENANG TENGGELAM

Oleh: Dahlan Iskan

Sabtu, 26 September

SETELAH vaksin Covid-19 ditemukan, ternyata kita tidak boleh egois minta untuk divaksinasi duluan. Pun seandainya WHO sudah mengumumkan vaksin buatan Tiongkok akan diizinkan beredar.

Padahal berita gembira itu belum sepasti itu –meski pun kelihatannya akan menuju ke sana. Sampai-sampai sudah membuat harga saham tiga perusahaan farmasi BUMN melejit tiba-tiba di bursa saham Jakarta. Naik luar biasa: sekitar 30 persen. Yakni Indofarma, Kimia Farma, dan Paphros.

Sedang saham perusahaan farmasi swasta seperti Kalbe Farma tetap jalan di tempat.

Dan ilmuwan wanita India ini tiba-tiba dapat simpati luas di Tiongkok –meski dua negara itu lagi bersitegang di perbatasan.

Ilmuwan India itulah yang kemarin disebut-sebut  membuat pengumuman yang melegakan Tiongkok: WHO sudah menyetujui vaksin buatan Tiongkok.

Padahal yang disampaikan Soumya baru tahap harapan agar kalau nanti diizinkan baiknya Tiongkok membuka kesempatan ke seluruh dunia untuk bisa mendapatkan vaksin tersebut.

Tapi ucapannya memang penuh harapan. Apalagi ia ilmuwan senior di WHO.

Nama ilmuwan itu: Soumya Swaminathan Yadav. Jabatannya: ilmuwan WHO. Dia tetap jadi ilmuwan WHO meski baru pensiun sebagai pejabat tinggi di WHO.

Dia seorang wanita. Umur 60 tahun. Lahir di Chennai India. Satu keluarga ilmuwan semua. Bapak-ibunyi pasangan sama-sama profesor. Kakak-adiknyi profesor. Suaminyi juga profesor.

Sebelum persetujuan itu  diumumkan, kini WHO harus  mengatur kapan vaksinasi boleh dilakukan di seluruh dunia.

Masing-masing negara tidak boleh berebut duluan.

Itu menyangkut masalah strategi pemberantasan pandemi sedunia. Agar Covid-19 lenyap dari muka bumi.

Prinsip ilmiahnya: vaksinasi itu harus dilakukan serentak dalam waktu yang sama.

Kenapa kita tidak boleh berebut duluan melakukan vaksinasi?

Itu karena daya tahan imunisasi itu terbatas. Sekitar 1 tahun. Setelah itu imun kita terhadap Covid-19 habis. Saat imun habis itu tidak boleh ada virus Covid-19 yang masih gentayangan di dalam tubuh sebagian orang. Bisa jadi virus itu menyerang lagi dengan serangan yang lebih ganas.

Demikian juga imun yang sudah muncul setelah seseorang sembuh dari Covid-19. Mereka tidak imun selamanya. Saya belum menemukan literatur berapa lama imunitas seseorang yang sembuh dari Covid bisa bertahan. Ada yang bilang 3 bulan. Ada yang bilang 6 bulan. Mungkin tergantung kondisi badan masing-masing. Ada orang yang ”boros” imun. Ada juga yang ”hemat”. Pun ada yang saat terkena Covid imunnya muncul dalam jumlah besar. Ada yang kemunculan imunnya tidak banyak.

Manusia begitu dibuat berbeda-beda.

Tapi dalam hal imunisasi Civid-19 ini semua harus taat pada aturan bersama –yang dibuat WHO.

Ada istilah yang bisa menyadarkan kita untuk tidak egois: kita ini akan berenang bersama atau tenggelam bersama.

Kalau sebagian dari kita melakukan vaksinasi duluan, kelihatannya kita hebat: tetap bisa berenang menuju pantai. Sedang yang lain tenggelam. Tapi akhirnya kita akan tenggelam juga sebelum sampai di pantai.

Vaksinasi harus bersamaan waktu. Tentu tidak harus di tanggal dan jam yang sama. Setidaknya dalam satu kurun. Misalnya, harus selesai seluruh dunia dalam waktu 1 tahun.

Gerakan vaksinasi sudah harus selesai mencapai 70 persen penduduk tiap-tiap wilayah sebelum kelompok yang pertama divaksinasi kehabisan imunitasnya.

Masalahnya begitu jelas: dari mana negera miskin bisa beli vaksin untuk setidaknya 70 persen penduduknya.

Kali ini negara kaya tidak bisa mentang-mentang kaya. Itulah sebabnya semua teman saya di Tiongkok belum ada yang vaksinasi. Padahal, semula, saya menduga mereka akan vaksinasi duluan.

WHO sudah mendata: ada 92 negara yang tidak mampu membeli vaksin. Kalau mereka dipaksa untuk membeli vaksin, bisa-bisa mereka mati duluan sebelum vaksin tiba: mati kelaparan.

Yang mampu mandiri  hanya 80 negara. Tiongkok, Rusia, Amerika sudah menyatakan bisa beli sendiri. Tentu juga Indonesia?

Untuk 92 negara miskin tersebut diperlukan dana 15 miliar dolar. Sekitar Rp 20.000 triliun. Dana yang ada di WHO baru terkumpul 3 miliar dolar.

Sekaya-kaya Bill Gate, sumbangannya hanya cukup untuk membeli 300 juta unit.

Padahal sebelum jatah untuk negara-negara miskin tersebut tersedia, vaksinasi tidak bisa dimulai.

Ups… Ini yang tidak kita bayangkan sebelumnya. Tapi ini juga sekaligus membuat kita untuk lebih sabar.

Kita ingin bisa berenang bersama.

Entahlah kalau  Donald Trump –yang memutuskan Amerika keluar dari WHO– akan berenang sendirian, menuju Wuhan.

https://memorandum.co.id/berenang-tenggelam/

Friday, August 14, 2020

DAFTAR VAKSIN COVID-19 YANG SIAP UJI TAHAP AKHIR

Jakarta, CNN Indonesia

Para peneliti di seluruh dunia sedang mengembangkan lebih dari 160 vaksin melawan virus corona. Dari ratusan vaksin itu, sekitar 23 vaksin Covid-19 sedang dalam tahap uji coba pada manusia. 

Pandemi Covid-19 memaksa para peneliti bekerja ekstra keras untuk segera menghasilkan vaksin yang aman dan ampuh pada 2021.

Padahal, vaksin biasanya membutuhkan penelitian dan pengujian selama 10 hingga 15 tahun. Waktu selama ini dibutuhkan untuk memastikan vaksin aman dan tidak memberikan efek samping kepada sebagian besar penggunanya.

Tahap pengujian pun terdiri dari tahap pra-klinis dan klinis. Tahap pra klinis, pengujian dilakukan kepada hewan. Sementara tahap klinis berarti vaksin diuji coba pada manusia.

Fase I

Pada Fase I, vaksin akan diuji sekelompok kecil sukarelawan manusia (<100), untuk keamanan efek samping dan respons imun.

Fase II

Pada Fase II,  tes vaksin dilakukan untuk ratusan orang (100-300). Mereka dibagi dalam grup, seperti anak-anak dan orang tua untuk mengetahui apakah ada perbedaan reaksi tergantung umur. 

Vaksin juga diberikan pada mereka yang memiliki karakteristik (umur dan kondisi fisik) yang serupa dengan komunitas yang disasar. Uji coba ini adalah tes lanjutan keamanan vaksin dan respons imun. 

Fase III

Pada Fase III,  pengetesan dilakukan pada ribuan orang (2.500-10 ribu). Peneliti akan melihat apakah orang-orang yang diberikan vaksin terinfeksi Covid-19 atau tidak. 

Vaksin diberikan secara acak, ada yang disuntik vaksin yang diuji dan ada yang di suntik plasebo (obat kosong) . Fase ini akan menguji keampuhan vaksin dalam menangkal virus.

1. University of Oxford/AstraZeneca (Fase III)

Vaksin yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan University of Oxford ini didasarkan pada adenovirus simpanse yang disebut ChAdOx1. 

Vaksin ini dalam uji coba Fase II / III di Inggris dan uji coba Fase III di Brasil dan Afrika Selatan. Proyek ini dapat memberikan vaksin darurat pada bulan Oktober. Pada bulan Juni, AstraZeneca mengatakan total kapasitas produksi adalah dua miliar vaksin.

2. Wuhan Institute of Biological Products/Sinopharm (Fase III)

Perusahaan asal China Wuhan Institute of Biological Products dan Sinopharm menemukan bahwa vaksin inactivated aman dan memicu respons kekebalan. 

Oleh karena itu, kedua perusahaan meluncurkan uji coba Tahap III pada bulan Juli di Uni Emirat Arab (UEA). Di UEA, vaksin akan diuji kepada 15 ribu orang.

3. Moderna (Fase III)

Dilansir dari Livemint, perusahaan asal Amerika Serikat, Moderna juga berencana untuk memulai uji coba tahap akhir bulan ini.

Moderna adalah perusahaan Amerika pertama yang menguji vaksin ke  manusia. Vaksin ini menggunakan messenger RNA (mRNA) untuk memproduksi protein virus. 

Moderna menerbitkan hasil Tahap I yang menjanjikan pada 14 Juli. Uji coba fase III akan dimulai 27 Juli. Perusahaan akan menyiapkan vaksin pada awal 2021.

4. Sinovac (Fase III)

Dilansir dari New York Times, perusahaan swasta China Sinovac Biotech sedang menguji vaksin yang tidak aktif yang disebut CoronaVac. Pada bulan Juni perusahaan mengumumkan bahwa uji coba Fase I / II tidak menemukan efek samping yang parah dan menghasilkan respons kekebalan pada 743 sukarelawan.

Sinovac kemudian meluncurkan uji coba Fase III di Brasil pada bulan Juli. Perusahaan juga membangun fasilitas untuk memproduksi hingga 100 juta vaksin per tahun.

5.  CanSino Biological Inc./Beijing Institute of Biotechnology (Fase II, Persetujuan terbatas)

Perusahaan asal China, CanSino Biologics mengembangkan vaksin berdasarkan adenovirus yang disebut Ad5. Pada bulan Mei, perusahaan menerbitkan hasil yang menjanjikan dari uji coba keselamatan Fase I. 

Kemudian data yang tidak dipublikasikan dari uji coba Fase II menunjukkan vaksin menghasilkan respon kekebalan yang kuat.

Meski baru lewati uji klinis tahap II, tapi pada 25 Juni lalu, pemerintah China telah mengizinkan vaksin ini digunakan untuk kalangan terbatas bagi militer China selama setahun.

Menurut penelitian, hampir setengah dari penerima vaksin Ad5-nCoV melaporkan efek samping demam, 44 persen kelelahan, dan 39 persen merasakan sakit kepala. Secara keseluruhan, 9 persen pasien melaporkan efek samping yang cukup parah sehingga berpotensi mengganggu aktivitas.

Pengembangan vaksin di Indonesia

Tak hanya di Brasil, vaksin buatan Sinovac juga akan diuji klinis di Indonesia. Tim riset Fakultas Kedokteran Universitas Pajajaran bersama Bio Farma dan Sinovach Biotech, Tiongkok, sedang menyiapkan uji klinis vaksin Covid-19.

Vaksin asal Tiongkok ini rencananya akan disuntikkan kepada 1.620 relawan di Kota Bandung sesuai prosedur uji klinis vaksin.

Indonesia juga sedang mengembangkan vaksin Merah Putih untuk melawan virus corona (Covid-19). Uji coba vaksin segera selesai dan hasilnya pada 2021.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan  vaksin ini dipimpin oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan melibatkan Kemenristek, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian BUMN.


Saturday, May 9, 2020

5 NEGARA

5 Negara Ini Sudah Siap Uji Coba Vaksin Corona COVID-19 ke Manusia

Produksi vaksin Corona COVID-19 di beberapa negara dilaporkan telah berada dalam tahap siap untuk diuji pada manusia. Uji coba pada manusia pertama untuk mengevaluasi kandidat vaksin terhadap Virus Corona COVID-19, dilaporkan telah dimulai di Seattle, Amerika Serikat. 

Inggris juga dikatakan bakal menguji coba vaksin tersebut pada manusia di pertengahan pekan ini.

Negara selanjutnya adalah China, yang telah berada di tahap persetujuan pada tes terhadap manusia dalam tahap awal, untuk dua vaksin Virus Corona COVID-19 eksperimental. 

Selain Amerika Serikat, Inggris dan China, negara lainnya yang telah memiliki tahap uji coba vaksin Virus Corona COVID-19 adalah Rusia, dimana pusat penelitian utama di negara itu mengkonfirmasi pada Presiden Vladimir Putin bahwa labnya siap untuk memulai uji coba vaksin Virus Corona COVID-19 eksperimental pada manusia di bulan Juni mendatang.

Negara kelima yang paling baru mengumumkan uji coba vaksin Virus Corona COVID-19 pada manusia adalah Jerman, yang telah mendapatkan izin dari pemerintah negara tersebut. Berikut ini ulasannya:

1. Amerika Serikat

Uji coba manusia pertama untuk mengevaluasi kandidat vaksin terhadap Virus Corona COVID-19 telah dimulai di Seattle. Hal ini disampaikan oleh pejabat kesehatan AS pada Senin 16 Maret. Temuan ini kemudian meningkatkan harapan dalam perang global melawan penyakit tersebut.

Tetapi mungkin perlu satu tahun hingga 18 bulan sebelum vaksin Virus Corona COVID-19 dapat tersedia. Uji coba ini telah melewati lebih banyak fase uji coba untuk membuktikannya berhasil dan aman.

Melansir Channel News Asia, Selasa (17/3/2020), vaksin ini disebut mRNA-1273 dan dikembangkan oleh para ilmuwan dan kolaborator National Institutes of Health (NIH) AS di perusahaan bioteknologi Moderna, yang berbasis di Cambridge, Massachusetts.

"Uji coba label terbuka akan mendaftarkan 45 sukarelawan dewasa sehat berusia 18 hingga 55 tahun selama sekitar 6 minggu," kata NIH. "Peserta pertama menerima vaksin investigasi hari ini."

Hingga saat ini, belum ada vaksin atau perawatan yang disetujui untuk melawan penyakit Virus Corona COVID-19.

"Menemukan vaksin yang aman dan efektif untuk mencegah infeksi SARS-CoV-2 adalah prioritas kesehatan masyarakat yang mendesak," kata Anthony Fauci, kepala penyakit menular di NIH, menggunakan nama teknis untuk virus yang diyakini berasal dari kelelawar

"Studi Fase 1 ini, diluncurkan dalam kecepatan rekor, merupakan langkah pertama yang penting untuk mencapai tujuan itu."

Percobaan di Seattle ini akan mempelajari dampak dari dosis yang berbeda, yang diberikan oleh injeksi intramuskular di lengan bagian atas. Peserta akan  dimonitor untuk efek samping yang dirasakan seperti nyeri atau demam.

2. Inggris

Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock mengungkapkan pihaknya terus mengembangkan vaksin virus corona covid-19. Bahkan tengah pekan ini vaksin tersebut bakal diujicoba pada manusia.

Inggris menjadi salah satu negara terdampak besar pandemi virus corona covid-19. Hingga Rabu, (22/4/2020) ada 129.044 kasus positif dan menewaskan 17.337 orang.

Seluruh kegiatan di luar ruangan telah dihentikan oleh Pemerintah Inggris. Lockdown juga diberlakukan untuk memutus rantai penyebaran virus.

"Dalam waktu normal ujicoba vaksin biasanya membutuhkan waktu setahun. Namun apa yang kita capai sekarang sungguh luar biasa," ujar Matt seperti dilansir Evening Standard.

"Kami mendukung maksimal apa yang dilakukan peneliti. Semoga saja vaksin virus corona covid-19 bisa diproduksi secara massal secepatnya," ujarnya menambahkan.

Di sisi lain Matt juga menegaskan sedang bekerja keras memenuhi permintaan APD dari petugas medis. Dia menyebut Pemerintah telah bekerja sama dengan 159 pabrik di Inggris dan ribuan lainnya masih menunggu persetujuan.

"Menjadi negara pertama yang bisa mengembangkan vaksin dengan berhasil sangat besar artinya. Itu sebabnya kami mengerahkan segalanya untuk penelitian ini," ujarnya.

"Saya juga bersyukur dengan pihak yang sudah bekerja sama dalam penyediaan APD. Apalagi beberapa pabrik punya skala yang besar untuk memproduksinya."

3. China

China telah menyetujui tes terhadap manusia dalam tahap awal untuk dua vaksin Virus Corona COVID-19 eksperimental, karena negara tersebut masih berjuang untuk menampung kasus impor dan mencegah adanya gelombang kedua COVID-19. 

Mengutip laman Al Jazeera, Rabu (15/4/2020), vaksin eksperimental sedang dikembangkan oleh unit Sinovac Biotech yang berbasis di Beijing dan oleh Institut Produk Biologi Wuhan, sebuah afiliasi dari Grup Farmasi Nasional China milik negara.

Laporan Al Jazeera mengatakan Komisi Kesehatan Nasional China juga mengonfirmasi bahwa persidangan akan dilanjutkan.

4. Rusia

Kepala pusat penelitian utama Rusia mengatakan kepada Presiden Vladimir Putin bahwa labnya siap untuk memulai uji coba manusia terhadap Virus Corona COVID-19 eksperimental pada bulan Juni mendatang.

Dikutip dari laman Channel News Asia, Rabu (8/4/2020) Rinat Maksyutov, kepala Pusat Vrologi dan Bioteknologi Negara Vektor, mengatakan ia mengusulkan uji klinis fase pertama dari tiga vaksin mulai 29 Juni, pada 180 sukarelawan.

Maksyutov berbicara selama pertemuan tautan video antara Putin dan para kepala pusat penelitian terkemuka.

"Kelompok-kelompok sukarelawan telah dibentuk," katanya kepada Putin

Ia juga menambahkan bahwa banyak orang ingin mengambil bagian dalam uji coba tersebut.

"Kami telah menerima lebih dari 300 aplikasi."

Maksyutov mengatakan para ilmuwan di kompleks lab rahasia yang terletak di Koltsovo di luar kota Siberia Novosibirsk telah mengembangkan beberapa vaksin prototipe.

Tes saat ini sedang dilakukan pada tikus, kelinci dan hewan lain untuk menentukan vaksin Virus Corona mana yang paling menjanjikan.

Vektor merencanakan studi pra-klinis pada 22 Juni sebelum meluncurkan pengujian pada manusia. Tetapi percobaan manusia pertama dapat dimulai pada bulan Mei "jika kementerian kesehatan mengizinkannya".

Vektor memiliki teknologi platform vaksin yang telah diuji pada manusia untuk infeksi lain dan juga dapat digunakan untuk Virus Corona.

Otoritas dan perusahaan perkeretaapian Rusia, Russian Railways, akan menangguhkan hubungan kereta api internasional dengan negara tetangga. Hal itu dilakukan untuk mengekang penyebaran Virus Corona COVID-19.

Layanan sepur Rusia dari dan ke Ukraina, Moldova dan Latvia akan ditunda mulai 17 Maret 2020 hingga batas waktu yang tidak ditentukan, bunyi pengumuman pada 15 Maret 2020, seperti dikutip dari Xinhua.

Keputusan itu dibuat setelah tiga negara Eropa mengumumkan penutupan lalu lintas kereta api, kata perusahaan mengatakan dalam dua pernyataan terpisah.

Penumpang yang terlanjur memesan tiket perjalanan bisa mendapatkan pengembalian uang di kantor layanan terdekat.

Rusia telah mengurangi banyak penerbangan ke negara-negara Eropa di tengah wabah virus corona.

5. Jerman

Pemerintah Jerman telah menyetujui uji klinis vaksin untuk mencegah COVID-19. Perusahaan asal Jerman BioNTech bakal melibatkan 200 orang sehat berusia 18-55 tahun dalam uji coba ini.

Nantinya, uji klinis kandidat vaksin ini bakal juga dilakukan pada lebih banyak orang. Termasuk mereka yang berisiko terpapar COVID-19 seperti mengutip The Independent, Kamis (23/4/2020).

Uji coba vaksin bernama BNT162 ini dilakukan BioNTech bersama dengan perusahaan farmasi raksasa Pfizer. Rencananya, BNT162 juga bakal dijajal di Amerika Serikat bila sudah mendapat persetujuan dari pihak berwenang.

Saat ini banyak pihak yang berusaha membuat vaksin yang ampuh mencegah COVID-19. Di Inggris, uji klinis vaksin untuk COVID-19 pada manusia bakal dilakukan hari Kamis ini oleh peneliti dari Oxford University.

Cina juga kini tengah mengembangkan vaksin melawan COVID-19. Vaksin tersebut dikembangkan oleh perusahaan asal Beijing yakni Sinovac Biotech dan Wuhan Institute of Biological Products yang berafiliasi dengan China National Pharmaceutical Group.

 


Wednesday, April 15, 2020

DUA SSW

DUA SSW

Rabu 15 April 2020    

Oleh : Dahlan Iskan

Kita terbelalak melihat cepatnya vaksin Covid-19 ditemukan. Oleh jenderal wanita Chen Wei di Wuhan itu (Baca DI’s Way: Bebas Wuhan). 

Ternyata itu kalah cepat.

Kemarin TV pemerintah Tiongkok mengumumkan yang baru lagi: ada satu penemuan vaksin yang sudah dinyatakan lulus uji klinik tahap kedua.

Sedang vaksin penemuan Chen Wei baru memasuki uji klinik tahap kedua. Dua hari lalu.

Tapi, menurut catatan WHO --organisasi kesehatan dunia-- vaksin penemuan Chen Wei adalah satu-satunya yang tercatat di lembaga itu yang sudah melakukan uji klinik tahap kedua.

Berarti penemuan yang lebih cepat itu belum didaftarkan ke WHO --entah dengan maksud apa.

Pemerintah Tiongkok sendiri menyebutkan vaksin yang lebih cepat ini dikembangkan oleh perusahaan di Beijing dan Wuhan. Yakni China Institute Biological Sino Pharmaceutical Group (Wuhan) dan Kexing Zhongwei Biotechnology Co. Ltd (Beijing). 

Jelas sekali di berita itu, pemerintah mengatakan bahwa vaksin ini adalah gelombang pertama yang sudah menyelesaikan uji klinik tahap kedua.

Kalau begitu masih perlu tahap apa lagi? Sebelum diproduksi massal?

Kalau zaman normal-normal saja berarti tinggal diperlukan satu tahap uji klinik lagi.

Atau jangan-jangan Tiongkok akan menggunakan klausul pandemik untuk mempercepat produksi vaksin ini.

Menurut aturan memang diperlukan tiga tahap uji klinik. Begitulah prosedur penemuan obat baru. 

Uji klinik tahap pertama untuk melihat bahaya efek samping obat tersebut. Karena itu jumlah orang yang ikut uji coba tidak perlu banyak.

Dalam hal ini vaksin yang ditemukan Jenderal Chen Wei sudah lolos. Yakni diputuskan dalam sidang jarak jauh tanggal 16 Maret lalu. Yang sidangnya hanya berlangsung dua jam.

Lalu dikeluarkan izin untuk melakukan uji klinik tahap kedua.

Chen Wei pun mencari relawan sebanyak 500 orang. Penyuntikan pertama uji klinik tahap kedua itu sudah dilakukan: tanggal 13 April kemarin. Termasuk kepada kakek berumur 84 tahun. 

Mengapa diujicobakan kepada orang yang begitu tua? ”Karena banyak juga orang setua itu terserang Covid-19. Padahal dosis vaksin untuk orang umur 80 harus berbeda dengan yang umur 60,” tulis berita itu.

Uji coba tahap kedua diperlukan untuk melihat kemanjuran vaksin. Karena itu jumlah orang yang ikut uji coba lebih banyak lagi.

Di tahap ini vaksin penemuan Chen Wei kalah cepat dengan yang cepat tadi.

Sedang vaksin yang ditemukan ahli Amerika Serikat kini masih menunggu hasil uji klinik tahap pertama. Berarti Amerika kalah dua langkah --dari segi kecepatan. Entahlah dari segi kualitas.

Sebenarnya saya masih menunggu perkembangan terbaru dari Tiongkok. Tadi malam. Saya berharap ada berita susulan: tidak diperlukan lagi uji klinik tahap ketiga. Dengan alasan ini kan zaman pandemik.

Tapi yang saya nantikan tidak datang. Padahal saya menunggunya sampai pukul 22.00. Sampai saya terkantuk-kantuk.

Ya sudahlah. Mata sudah tidak kuat lagi. Sudah tidak seperti dulu --yang kuat menunggu hasil pertandingan sepak bola Eropa sampai pukul 1 malam-Uji klinik tahap ketiga itu sebenarnya ”hanya” untuk extra hati-hati. Tujuannya: apakah vaksin itu secara keseluruhan bisa menghasilkan seperti yang direncanakan.

Karena itu di uji coba tahap ketiga ini orang yang divaksin lebih banyak lagi. Seolah seperti sudah dipergunakan untuk masyarakat luas. 

Tujuan lainnya: untuk dibandingkan dengan obat sejenis di penyakit yang sama.

Lho. Dalam hal vaksin Covid-19 ini mau dibandingkan dengan vaksin yang mana? Bukankah belum ada vaksin serupa dengan itu?

Itulah. Sampai saya menunggu jangan-jangan tahap ketiga itu tidak diperlukan.

”Sebenarnya ada klausul untuk mempercepat penemuan obat baru. Yakni klausul pandemik,” ujar satu dari tiga profesor yang saya ajak bicara soal ini tadi malam. Tiga profesor itu semua aktif di bidang penelitian obat dan virus.

Saya sendiri menduga kali ini vaksin baru itu dicukupkan uji kliniknya sampai tahap kedua saja. Berarti proses produksinya akan segera dilakukan. Di Beijing untuk wilayah utara dan di Wuhan untuk wilayah tengah sampai Selatan.

Sedang uji klinik tahap ketiganya bisa dilakukan sambil jalan. Ini kan zaman pandemik. 

Dengan dua penemuan vaksin Covid-19 di Tiongkok ini, maka lengkaplah: untuk yang telanjur terkena virus sudah ditemukan Carrimycin (Baca DI’s Way: Pusing Ka-Li-Mi-Cin). Sedang untuk yang belum terkena Vovid-19 bisa divaksinasi. 

Tapi kita tetap saja harus lebih bersabar: menunggu keduanya kapan sampai di Indonesia.

Kita senang ketika Covid tidak kunjung bisa masuk Indonesia. Dulu itu. Sampai-sampai kita sangka perizinannya sulit.

Kini kita berharap perizinan masuknya vaksin nanti bisa SSW --set-set-wet, meminjam istilah kecepatan gerakan copet yang kini mulai banyak beraksi. (Dahlan Iskan)

https://www.disway.id/r/901/dua-ssw