Showing posts with label imunisasi. Show all posts
Showing posts with label imunisasi. Show all posts

Saturday, September 26, 2020

BERENANG TENGGELAM

Oleh: Dahlan Iskan

Sabtu, 26 September

SETELAH vaksin Covid-19 ditemukan, ternyata kita tidak boleh egois minta untuk divaksinasi duluan. Pun seandainya WHO sudah mengumumkan vaksin buatan Tiongkok akan diizinkan beredar.

Padahal berita gembira itu belum sepasti itu –meski pun kelihatannya akan menuju ke sana. Sampai-sampai sudah membuat harga saham tiga perusahaan farmasi BUMN melejit tiba-tiba di bursa saham Jakarta. Naik luar biasa: sekitar 30 persen. Yakni Indofarma, Kimia Farma, dan Paphros.

Sedang saham perusahaan farmasi swasta seperti Kalbe Farma tetap jalan di tempat.

Dan ilmuwan wanita India ini tiba-tiba dapat simpati luas di Tiongkok –meski dua negara itu lagi bersitegang di perbatasan.

Ilmuwan India itulah yang kemarin disebut-sebut  membuat pengumuman yang melegakan Tiongkok: WHO sudah menyetujui vaksin buatan Tiongkok.

Padahal yang disampaikan Soumya baru tahap harapan agar kalau nanti diizinkan baiknya Tiongkok membuka kesempatan ke seluruh dunia untuk bisa mendapatkan vaksin tersebut.

Tapi ucapannya memang penuh harapan. Apalagi ia ilmuwan senior di WHO.

Nama ilmuwan itu: Soumya Swaminathan Yadav. Jabatannya: ilmuwan WHO. Dia tetap jadi ilmuwan WHO meski baru pensiun sebagai pejabat tinggi di WHO.

Dia seorang wanita. Umur 60 tahun. Lahir di Chennai India. Satu keluarga ilmuwan semua. Bapak-ibunyi pasangan sama-sama profesor. Kakak-adiknyi profesor. Suaminyi juga profesor.

Sebelum persetujuan itu  diumumkan, kini WHO harus  mengatur kapan vaksinasi boleh dilakukan di seluruh dunia.

Masing-masing negara tidak boleh berebut duluan.

Itu menyangkut masalah strategi pemberantasan pandemi sedunia. Agar Covid-19 lenyap dari muka bumi.

Prinsip ilmiahnya: vaksinasi itu harus dilakukan serentak dalam waktu yang sama.

Kenapa kita tidak boleh berebut duluan melakukan vaksinasi?

Itu karena daya tahan imunisasi itu terbatas. Sekitar 1 tahun. Setelah itu imun kita terhadap Covid-19 habis. Saat imun habis itu tidak boleh ada virus Covid-19 yang masih gentayangan di dalam tubuh sebagian orang. Bisa jadi virus itu menyerang lagi dengan serangan yang lebih ganas.

Demikian juga imun yang sudah muncul setelah seseorang sembuh dari Covid-19. Mereka tidak imun selamanya. Saya belum menemukan literatur berapa lama imunitas seseorang yang sembuh dari Covid bisa bertahan. Ada yang bilang 3 bulan. Ada yang bilang 6 bulan. Mungkin tergantung kondisi badan masing-masing. Ada orang yang ”boros” imun. Ada juga yang ”hemat”. Pun ada yang saat terkena Covid imunnya muncul dalam jumlah besar. Ada yang kemunculan imunnya tidak banyak.

Manusia begitu dibuat berbeda-beda.

Tapi dalam hal imunisasi Civid-19 ini semua harus taat pada aturan bersama –yang dibuat WHO.

Ada istilah yang bisa menyadarkan kita untuk tidak egois: kita ini akan berenang bersama atau tenggelam bersama.

Kalau sebagian dari kita melakukan vaksinasi duluan, kelihatannya kita hebat: tetap bisa berenang menuju pantai. Sedang yang lain tenggelam. Tapi akhirnya kita akan tenggelam juga sebelum sampai di pantai.

Vaksinasi harus bersamaan waktu. Tentu tidak harus di tanggal dan jam yang sama. Setidaknya dalam satu kurun. Misalnya, harus selesai seluruh dunia dalam waktu 1 tahun.

Gerakan vaksinasi sudah harus selesai mencapai 70 persen penduduk tiap-tiap wilayah sebelum kelompok yang pertama divaksinasi kehabisan imunitasnya.

Masalahnya begitu jelas: dari mana negera miskin bisa beli vaksin untuk setidaknya 70 persen penduduknya.

Kali ini negara kaya tidak bisa mentang-mentang kaya. Itulah sebabnya semua teman saya di Tiongkok belum ada yang vaksinasi. Padahal, semula, saya menduga mereka akan vaksinasi duluan.

WHO sudah mendata: ada 92 negara yang tidak mampu membeli vaksin. Kalau mereka dipaksa untuk membeli vaksin, bisa-bisa mereka mati duluan sebelum vaksin tiba: mati kelaparan.

Yang mampu mandiri  hanya 80 negara. Tiongkok, Rusia, Amerika sudah menyatakan bisa beli sendiri. Tentu juga Indonesia?

Untuk 92 negara miskin tersebut diperlukan dana 15 miliar dolar. Sekitar Rp 20.000 triliun. Dana yang ada di WHO baru terkumpul 3 miliar dolar.

Sekaya-kaya Bill Gate, sumbangannya hanya cukup untuk membeli 300 juta unit.

Padahal sebelum jatah untuk negara-negara miskin tersebut tersedia, vaksinasi tidak bisa dimulai.

Ups… Ini yang tidak kita bayangkan sebelumnya. Tapi ini juga sekaligus membuat kita untuk lebih sabar.

Kita ingin bisa berenang bersama.

Entahlah kalau  Donald Trump –yang memutuskan Amerika keluar dari WHO– akan berenang sendirian, menuju Wuhan.

https://memorandum.co.id/berenang-tenggelam/

Saturday, March 17, 2018

DIFTERI

DIFTERI
Buat para eyang yang punya cucu dan orang tua yang punya anak balita.....
Berita mengenai wabah/kejadian luar biasa (KLB) difteri merebak beberapa hari terakhir. Inilah rilis resmi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) terkait difteri di Indonesia.
Himbauan IDAI Tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Kasus Difteri
Sehubungan dengan peningkatan kasus difteri di beberapa wilayah Indonesia, maka Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa:
Ø  Penyakit difteri sangat menular dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit difteri dapat dicegah dengan melakukan imunisasi sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan atau Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Ø  Imunisasi adalah perlindungan terbaik terhadap kemungkinan tertular penyakit difteri, dan dapat diperoleh dengan mudah di berbagai fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta.
Ø  Lengkapi imunisasi DPT/DT/Td anak anda sesuai jadwal imunisasi anak usia  Kementeria Kesehatan atau Ikatan Dokter Anak Indonesia. Imunisasi difteri lengkap adalah sebagai berikut:
Ø  Usia kurang dari 1 tahun harus mendapatkan 3 kali imunisasi difteri (DPT).
Ø  Anak usia 1 sampai 5 tahun harus mendapatkan imunisasi ulangan sebanyak 2 kali.
Ø  Anak usia sekolah harus mendapatkan imunisasi difteri melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) siswa sekolah dasar (SD) kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 atau kelas 5.
Ø  Setelah itu, imunisasi ulangan dilakukan setiap 10 tahun, termasuk orang dewasa. Apabila status imunisasi belum lengkap, segera lakukan imunisasi di fasilitas kesehatan terdekat.
Ø  Kenali gejala awal difteri. Gejala awal difteri bisa tidak spesifik, seperti:
·         Demam tidak tinggi
·         Nafsu makan menurun
·         Lesu
·         Nyeri menelan dan nyeri tenggorok
·         Sekret hidung kuning kehijauan dan bisa disertai darah
·         Namun memiliki tanda khas berupa selaput putih keabu-abuan di tenggorok atau hidung, yang dilanjutkan dengan pembengkakan leher atau disebut sebagai bull neck.
Ø  Segera ke fasilitas kesehatan terdekat apabila anak anda mengeluh nyeri tenggorokan disertai suara berbunyi seperti mengorok (stridor) atau pembesaran kelenjar getah bening leher, khususnya anak berumur < 15 tahun.
Ø  Anak harus segera dirawat di rumah sakit apabila dicurigai menderita difteri agar segera mendapat pengobatan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah anak benar menderita difteri.
Ø  Apabila anak anda didiagnosis difteri, akan diberikan tatalaksana yang sesuai termasuk perawatan isolasi
Ø  Untuk memutuskan rantai penularan, seluruh anggota keluarga serumah harus segera diperiksa oleh dokter dan petugas dari Dinas Kesehatan, serta mendapat obat yang harus dihabiskan untuk mencegah penyakit, apakah mereka juga menderita atau karier (pembawa kuman) difteri dan mendapat pengobatan.
Ø  Anggota keluarga yang tidak menderita difteri, segera dilakukan imunisasi DPT/DT/Td sesuai usia.
Ø  Laksanakan semua petunjuk dari Dokter dan Petugas Kesehatan setempat
Ø  Setelah imunisasi DPT, kadang-kadang timbul demam, bengkak dan nyeri ditempat suntikan DPT, yang merupakan reaksi normal dan akan hilang dalam 1-2 hari. Bila anak mengalami demam atau bengkak di tempat suntikan, boleh minum obat penurun panas parasetamol sehari 4 x sesuai umur, sering minum jus buah atau susu, serta pakailah baju tipis atau segera berobat ke petugas kesehatan terdekat.
Ø  Anak dengan batuk pilek ringan dan tidak demam tetap bisa mendapatkan imunisasi DPT/DT/Td sesuai usia. Jika imunisasi tertunda atau belum lengkap, segera lengkapi di fasilitas kesehatan terdekat.

https://www.facebook.com/Ikatan-Dokter-Anak-Indonesia-1608972579344722/

Saturday, August 6, 2016

IMUNISASI BAYI MUSLIM

Imunisasi Bayi Muslim
Sebagai seorang muslim selama keberadaannya di muka bumi ini mengalami 3 fase peribadatan :
1.   Fase kelahiran
2.   Fase pernikahan
3.   Fase kematian.
Ketiga fase ini ada ritual peribadatannya. Namun yang akan difokuskan dalam tulisan ini adalah fase kelahiran seorang bayi, di saat-saat awal kelahirannya. Untuk saat ini saya ingin sedikit memberi gambaran bahwa sejak zaman Nabiullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam setiap bayi yang baru lahir ada rukun-rukun ritual peribadatannya sebagai berikut:
#1 – Imunisasi (Tahnik)
Pada tahap awal fase kelahiran si bayi lahir langsung di imunisasi terlebih dahulu (tahnik). Caranya orangtuanya yang sholeh/orang yg dianggap sholeh, mengunyah kurma "ajwa " sampai lembut sekali.setelah itu kurma dido'ai kemudian kurma dioleskan kelangit-langit / lidah si bayi.
#2 – Minum ASI yang mengandung colostrum.
Begitu selesai di imunisasi dengan kurma (tahnik) maka si bayi diserahkan kepada ibunya untuk diberikan ASI, karena ASI yang pertama keluar itu namanya colostrum dimana colostrum ini merupakan imunisasi/protector alami bagi anak/bayi baik secara fisik maupun rohani.
#3. Aqiqah
Masuk hari ke-7 dari fase kelahirannya maka dilakukan aqiqah. Bila lahir anak laki maka memotong 2 ekor kambing sedangkan bila lahir perempuan 1 ekor kambing.
#4. Tahalul
Pemotongan rambut bayi, dimana kemudian potongan rambut bayi ditimbang. Hasil berat timbangan merupakan jumlah berat emas yang akan diinfaq-kan
#5. Pemberian Nama
Si bayi diberikan nama yang baik, yang Islami dan mengandung makna positif.
Demikian sedikit gambaran ritual fase kelahiran seorang bayi muslim.