Showing posts with label lupus eritematosus sistemik. Show all posts
Showing posts with label lupus eritematosus sistemik. Show all posts

Tuesday, February 11, 2014

LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES) – Bagian 6

LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES) – Bagian 6
Bagaimana masa depan penderita dengan sistemik lupus?
Secara keseluruhan, masa depan pasien dengan lupus sistemik mengalami peningkatan setiap dekade dengan adanya pengembangan tes pemantauan dan perawatan yang lebih akurat.
Peran sistem kekebalan tubuh dalam menyebabkan penyakit menjadi dipahami dengan lebih baik melalui berbagai penelitian. Pengetahuan ini akan diterapkan untuk mendesain metode pengobatan yang lebih aman dan lebih efektif. Sebagai contoh,  revisi lengkap sistem kekebalan tubuh pasien yang diberikan perawatan yang sangat agresif yang sementara menghapus sistem kekebalan tubuh sedang dievaluasi. Pebelitian saat ini meliputi pengurangan kekebalan dengan atau tanpa penggantian sel yang dapat membangun kembali sistem kekebalan tubuh (transplantasi sel induk =  stem cell transplantation)
Perlu dicatat bahwa pasien dengan LES memiliki peningkatan risiko untuk mengidap cancer. Risiko cancer paling sering adalah untuk jenis cancer darah seperti leukemia dan limfoma, tetapi juga meningkat untuk cancer payudara (breast cancer). Risiko ini mungkin berkaitan, sebagian, dengan perubahan sistem kekebalan tubuh yang merupakan karakteristik dari LES.
Menurut laporan terbaru, wanita dengan LES tampaknya mengalami peningkatan risiko terkena penyakit jantung (penyakit arteri koroner). Wanita dengan LES harus dievaluasi dan berkonsultasi untuk meminimalkan faktor risiko terkena penyakit jantung, seperti peningkatan kolesterol darah, berhenti merokok, hipertensi dan obesitas.
DHEA (dehydroepiandrosterone) bisa membantu dalam mengurangi kelelahan, memperbaiki kesulitan berpikir, dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan LES. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa DHEA telah terbukti dapat memperbaiki atau menstabilkan tanda-tanda dan gejala-gejala LES. DHEA juga biasanya tersedia di toko makanan kesehatan, apotek dan toko-toko bahan makanan lainnya.
Peta penelitian telah menunjukkan dengan jelas bahwa kontrasepsi oral tidak meningkatkan flare lupus eritematosus sistemik. Temuan penting ini adalah berlawanan dengan apa telah terpikir selama bertahun-tahun. Sekarang kita dapat meyakinkan wanita dengan lupus bahwa jika mereka minumpil kontrol kehamilan, mereka tidak meningkatkan risiko terjadia flares lupus. Catatan: pil control kehamilan atau pengobatan estrogen apapun harus tetap dihindari oleh wanita yang memiliki peningkatan risiko pembekuan darah, seperti wanita dengan lupus yang memiliki antibodi fosfolipid (termasuk antikoagulan antibodi dan lupus cardiolipin).
Individu dengan LES dapat meningkatkan prognosis mereka dengan belajar tentang berbagai aspek penyakit ini serta memantau kesehatan mereka sendiri dengan dokter mereka
ARTIKEL LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES)






Bagian 6 - Bagaimana lupus eritematosus sistemik dapat mempengaruhi kehamilan atau sang bayi? Bagaimana masa depan penderita dengan sistemik lupus?

LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES) – Bagian 5

LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES) – Bagian 5
Bagaimana seorang pasien lupus bisa membantu mencegah aktivitas penyakit (flares)?
LES tidak diragukan lagi merupakan penyakit yang cenderung serius dengan ikut terkenanya berbagai sistem organ. Namun, sangat penting untuk diketahui bahwa kebanyakan pasien dengan LES menjalani kehidupan yang aktif dan sehat. Peningkatan aktivitas penyakit (flares) yang periodik biasanya dapat diatasi oleh obat-obatan yang berbeda-beda. Karena sinar ultraviolet dapat memicu dan memperburuk flares, orang-orang dengan lupus sistemik harus menghindari paparan sinar matahari. Tabir surya dan pakaian yang menutup anggota badan dapat membantu. Penghentian obat dengan tiba-tiba, terutama kortikosteroid, juga dapat menyebabkan flares dan harus dihindari. Orang-orang dengan LES memiliki peningkatan risiko terhadap infeksi, terutama jika mereka minum kortikosteroid atau obat-abatan imunosupresif. Oleh karena itu, setiap demam yang terjadi dengan tak terduga harus dilaporkan dan dievaluasi.
Kunci sukses penanganan LES adalah kontak dan komunikasi teratur dengan dokter, yang memungkinkan pemantauan gejala, kegiatan penyakit dan efek samping pengobatan
Bagaimana lupus eritematosus sistemik dapat mempengaruhi kehamilan atau sang bayi?
Kehamilan dengan lupus layak mendapatkan perhatian khusus karena adanya banyak tantangan. Ibu hamil dengan LES dianggap kehamilan 'beresiko tinggi'. Kehamilan ini memerlukan pemantauan interaktif umumnya oleh ahli rheumatologi yang terlatih dengan ahli kandungan. Wanita yang hamil dengan LES membutuhkan pengamatan yang seksama selama kehamilan, persalinan, dan periode pasca melahirkan. Ini termasuk pemantauan janin oleh dokter ahli kandungan pada masa-masa akhir kehamilan. Wanita-wanita ini memiliki peningkatan risiko untuk terjadinya keguguran (aborsi spontan) dan dapat mengalami flare LES selama kehamilan. Adanya antibodi fosfolipid, seperti antibodi kardiolipin atau antikoagulan lupus dalam darah dapat mengidentifikasi apakah orang-orang memiliki risiko untuk mengalami keguguran. Antibodi kardiolipin berhubungan dengan kecenderungan terjadinya pembekuan darah.
Wanita dengan LES yang memiliki antibodi kardiolipin atau antikoagulan lupus mungkin memerlukan obat pengencer darah (aspirin dengan atau tanpa heparin) selama kehamilan untuk mencegah keguguran. Perawatan lain termasuk penggunaan gamma globulin intravena bagi orang-orang tertentu dengan sejarah keguguran dini dengan elemen pembekuan darah (trombosit) yang rendah selama kehamilan. Wanita hamil yang sebelumnya mengalami pembekuan darah dapat mengambil manfaat dengan melanjutkan pemberian obat pengencer darah selama dan setelah kehamilan untuk enam sampai 12 minggu, di mana saat itu risiko pembekuan yang berkaitan dengan kehamilan tampaknya berkurang. Plaquenil sekarang telah dianggap aman untuk digunakan mengobati LES selama kehamilan. Kortikosteroid, seperti prednisone, juga aman digunakan untuk mengobati manifestasi lupus tertentu selama kehamilan.
Antibodi lupus dapat dipindahkan dari ibu ke janin dan mengakibatkan terjadinya penyakit lupus pada bayi baru lahir (“lupus neonatal”). Ini termasuk terjadinya pengurangan hitung sel darah merah (anemia) dan/atau hitung sel darah putih dan trombosit dan ruam kulit. Masalah juga dapat berkembang pada sistem listrik pada jantung bayi (congenital heart block). Pada keadaan seperti ini kadang-kadang, alat pacu jantung diperlukan untuk jantung si bayi. Lupus neonatal dan congenital heart block lebih sering terjadi pada bayi baru lahir dari ibu dengan LES yang membawa antibodi yang dikenal sebagai anti-Ro (atau SS-A) dan anti-La (atau SS-B). (Sangatlah bijaksana bila dokter bayi yang baru lahir diberitahu bahwa sang ibu adalah pembawa antibodi ini, bahkan sebelum melahirkan. Risiko gagal jantung adalah 2%; risiko Lupus neonatal adalah 5%.). Lupus neonatal biasanya menghilang setelah usia 6 bulan, setelah antibodi sang ibu perlahan-lahan dimetabolisir oleh si bayi.
ARTIKEL LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES)







LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES) – Bagian 4

LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES) – Bagian 4
Apa saja pengobatan untuk lupus eritematosus sistemik?
Tidak ada obat yang permanen untuk LES. Tujuan terapi adalah untuk meringankan gejala dan melindungi organ dengan mengurangi peradangan dan/atau tingkat aktivitas autoimun dalam tubuh. Pengobatan yang tepat diputuskan secara individual. Banyak orang dengan gejala-gejala ringan mungkin tidak memerlukan pengobatan atau hanya minum obat anti-inflamasi secara periodik. Mereka dengan penyakit yang lebih serius yang melibatkan kerusakan organ-organ internal mungkin memerlukan kortikosteroid dosis tinggi dalam kombinasi dengan obat lain yang berkhasiat menekan sistem kekebalan tubuh.
Orang dengan LES perlu lebih banyak istirahat selama periode penyakit yang aktif. Para peneliti telah melaporkan bahwa kualitas tidur (LESep) yang buruk adalah faktor penting dalam terjadinya kelelahan pada orang dengan LES. Laporan-laporan ini menekankan pentingnya bagi orang-orang dan dokter untuk memperhatikan kualitas tidur dan efek yang mendasari depresi (depression), kurang olahraga (exercise), dan strategi perawatan diri-sendiri untuk kesehatan secara keseluruhan. Selama periode ini, arahan latihan dari dokter masih penting untuk menjaga tonus otot dan berbagai lingkup gerakan persendian.
Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid (OAINS) sangat membantu dalam mengurangi peradangan dan nyeri otot, sendi dan jaringan lain. Contoh OAINS termasuk aspirin, ibuprofen (Motrin), naproxen (Naprosyn) dan sulindac (Clinoril). Karena respon individu terhadap OAINS bervariasi, maka umumnya seorang dokter akan mencoba obat OAINS yang berbeda untuk menemukan yang paling efektif dengan efek samping yang paling sedikit. Efek samping yang paling umum adalah perut tidak nyaman, sakit perut, tukak, dan bahkan perdarahan tukak. Obat OAINS biasanya diminum bersama makanan untuk mengurangi efek samping. Kadang-kadang, obat untuk mencegah ulkus saat minum OAINS, seperti misoprostol (Cytotec), diberikan secara bersamaan
Kortikosteroid lebih kuat daripada OANIS dalam hal mengurangi peradangan dan mengembalikan fungsi bila penyakit ini aktif. Kortikosteroid sangat membantu bila ada organ dalam yang terkena. Kortikosteroid bisa diberikan per-oral (diminum), disuntikkan langsung ke sendi dan jaringan lainnya, atau diberikan intravena. Sayangnya, kortikosteroid memiliki efek samping yang serius bila diberikan dalam dosis tinggi untuk jangka waktu yang panjang, dan dokter akan mencoba untuk memonitor aktivitas penyakit agar didapat dosis terendah yang aman. Efek samping dari kortikosteroid meliputi naiknya berat badan, penipisan tulang dan kulit, infeksi, diabetes, wajah bengkak (moon-face), katarak, dan matinya jaringan (nekrosis) pada sendi-sendi besar.
Hydroxychloroquine (Plaquenil) adalah obat anti malaria yang ditemukan efektif terutama bagi penderita LES dengan kelelahan, keterlibatan kulit dan penyakit sendi. Secara konsisten minum Plaquenil dapat mencegah terjadinya flare-up pada pasien lupus. Efek samping jarang ditemukan, tetapi dapat meliputi diare, sakit perut, dan perubahan pigmen mata. Perubahan pigmen mata jarang terjadi, tetapi memerlukan pengawasan oleh dokter mata (spesialis mata) selama pengobatan dengan Plaquenil. Para peneliti telah menemukan bahwa Plaquenil secara signifikan menurunkan frekuensi penggumpalan darah yang abnormal pada penderita lupus sistemik. Selain itu, efek ini tampaknya independen dari penekanan imunitas, yang menyiratkan bahwa Plaquenil langsung berkhasiat pada pencegahan penggumpalan darah.

Penelitian yang menarik ini menekankan betapa pentingnya bagi penderita dan dokter guna mempertimbangkan Plaquenil untuk penggunaan jangka panjang, terutama bagi orang-orang LES yang berisiko untuk terjadinya pembekuan darah di vena dan arteri, seperti mereka dengan antibodi fosfolipid (antibodi cardiolipin, antikoagulan lupus, dan tes penyakit seksual menular positif palsu pada laboratorium penelitian). Ini berarti bahwa Plaquenil tidak hanya mengurangi kemungkinan terjadinya flare kembali pada LES, tetapi juga bermanfaat untuk mengencerkan darah guna mencegah terjadinya pembekuan darah abnormal yang berlebihan. Plaquenil biasanya digunakan dalam kombinasi dengan pengobatan lain untuk lupus.
Untuk penyakit kulit yang resisten, obat antimalarial lainnya, seperti klorokuin (Aralen) atau quinacrine, dianggap dan dapat digunakan dalam kombinasi dengan hydroxychloroquine. Obat-obat Alternatif untuk penyakit kulit meliputi dapsone dan retinoic acid (Retin-A). Retin-A seringkali efektif untuk penyakit kulit lupus yang tidak lazim berbentuk seperti kutil. Untuk penyakit kulit yang lebih parah, penggunaan obat imunosupresif  sebagaimana dijelaskan di bawah.
Obat-obatan yang menekan kekebalan tubuh (obat imunosupresif) juga disebut obat-obatan sitotoksik. Obat imunosupresif digunakan untuk merawat pasien dengan manifestasi LES yang lebih parah, seperti kerusakan organ-organ dalam. Contoh obat imunosupresif: methotrexate (Rheumatrex, Trexall), azathioprine (Imuran), cyclophosphamide (Cytoxan), chlorambucil (Leukeran), dan siklosporin (Sandimmune). Semua obat imunosupresif dapat menekan jumlah sel darah dengan serius dan meningkatkan risiko infeksi dan perdarahan. Obat imunosupresif tidak boleh diminum selama kehamilan (pregnancy) atau konsepsi karena berisiko bagi janin. Efek samping lain berbeda-beda untuk masing-masing obat. Sebagai contoh, Rheumatrex dapat menyebabkan toksisitas hati, sementara Sandimmune dapat mengganggu fungsi ginjal. 
Dalam beberapa tahun terakhir, mycophenolate mofetil (CellCept) telah digunakan sebagai obat yang efektif untuk lupus, terutama bila dikaitkan dengan penyakit ginjal. CellCept telah membantu membalikkan penyakit ginjal lupus aktif (penyakit ginjal lupus) dan mencegah serangan ulang setelah keadaan tenang. Efek sampingnya yang lebih rendah merupakan keunggulan dibanding obat-obatan imunosupresif tradisional lainnya.
Pada pasien dengan LES otak (lupus cerebritis) atau penyakit ginjal (Nefritis lupus) yang serius, Plasmaperesis kadang-kadang digunakan untuk menyingkirkan antibodi dan zat kekebalan lain dari darah untuk menekan kekebalan. Plasmaperesis adalah proses pengambilan dan penyaringan darah dengan cara melewatkannya melalui mesin penyaringan darah, kemudian darah yang bersih tanpa antibodi dialirkan kembali ke tubuh. Jarang, orang-orang dengan LES mengalami keadaan rendah trombosit yang serius, sehingga meningkatkan risiko pendarahan spontan dan berlebihan. Karena limpa diyakini menjadi tempat utama penghancuran trombosit, operasi pengangkatan limpa kadang-kadang perlu dilakukan untuk meningkatkan trombosit. Perawatan lainnya termasuk Plasmaperesis dan penggunaan hormon laki-laki. Plasmaperesis juga telah digunakan untuk menyingkirkan protein (kryoglobulin) yang dapat menyebabkan vaskulitis. Kerusakan ginjal stadium akhir dari LES memerlukan dialisis dan/atau transplantasi ginjal.
Penelitian terbaru menunjukkan manfaat rituximab (Rituxan) dalam mengobati lupus. Rituximab adalah infus antibodi intravena yang menekan sel darah putih tertentu, yakni sel B, dengan mengurangi jumlah mereka dalam sirkulasi darah. Sel B telah ditengarai memainkan peran sentral dalam kegiatan lupus, dan jika mereka ditekan, penyakit cenderung menunjukan perbaikan. Hal ini mungkin sangat bermanfaat bagi orang-orang dengan penyakit ginjal.  
Pengobatan B-sel-supresan yang baru adalah belimumab (Benlysta). Belimumab memblokir stimulasi sel B (satu B-lymphocyte stimulator atau BLyS-spesifik inhibitor) dan diindikasikan untuk pengobatan pasien dewasa dengan autoantibodi positif aktif, lupus eritematosus sistemik yang diberikan terapi standar. Hal ini penting untuk dicatat bahwa kemanjuran belimumab belum dievaluasi pada pasien dengan lupus nefritis aktif yang parah atau lupus sistem saraf pusat aktif yang parah juga. Belimumab belum dtelitii dalam kombinasinya dengan intravenous cyclophosphamide atau terapi biologik lainnya
Para ilmuwan juga telah menemukan bahwa dosis rendah suplementasi diet dengan minyak ikan omega-3 dapat membantu pasien lupus melalui penurunan aktivitas penyakit dan kemungkinan mengurangi risiko penyakit jantung.
ARTIKEL LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES)






LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES) – Bagian 3

LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES) – Bagian 3

Bagaimana lupus eritematosus sistemik didiagnosis?

Karena individu dengan LES bisa memiliki berbagai gejala dan kombinasi keterlibatan organ yang berbeda, tidak ada hanya satu pemeriksaan yang dapat menegakkan diagnosis Lupus sistemik. Untuk membantu dokter meningkatkan ketepatan diagnosis LES, 11 kriteria ditetapkan oleh American Rheumatism Association. Ke-11 kriteria ini berhubungan erat dengan gejala-gejala yang dibahas di atas. Beberapa orang yang dicurigai menderita LES tidak pernah memiliki kriteria yang cukup untuk menegakkan diagnosis yang pasti. Sedangkan orang lain mengumpulkan cukup kriteria hanya setelah beberapa bulan atau tahun pengamatan. Ketika seseorang memiliki empat atau lebih dari kriteria, maka diagnosis LES bisa direkomendasikan. Walaupun demikian, diagnosis LES dapat dilakukan dalam beberapa pengaturan pada beberapa orang hanya menggunakan beberapa kriteria klasik ini, dan kadang-kadang pengobatan mungkin dapat diberikan pada tahap ini. Ada orang-orang dengan kriteria yang minimal, yang kemudian mungkin mengembangkan kriteria lain, tetapi banyak yang tidak.


Berikut ini adalah 11 kriteria yang digunakan untuk mendiagnosis lupus eritematosus sistemik:
  • 'Ruam kupu-kupu’ di atas pipi wajah
  • Ruam kulit discoid (bercak kemerahan di sana-sini dengan hiperpigmentasi dan hipopigmentasi yang dapat menyebabkan jaringan parut )
  • Fotosensitifitas (ruam kulit karena reaksi terhadap paparan sinar matahari/sinar ultraviolet)
  • Tukak lapisan mukosa (tukak spontan atau borok pada lapisan mulut, hidung, atau tenggorokan )
  • Arthritis (dua atau lebih sendi ekstremitas yang membengkak dan nyeri)
  • Pleuritis atau perikarditis (peradangan pada jaringan selaput luar jantung atau paru-paru, biasanya berhubungan dengan nyeri dada saat bernapas atau perubahan dari posisi tubuh)
  • Kelainan ginjal (sejumlah protein urin abnormal atau gumpalan elemen selular yang disebut cast dapat dideteksi dengan sebuah analisa urin). Catatan: Pada pasien dengan penyakit ginjal karena lupus eritematosus sistemik (lupus nefritis), biopsi ginjal mungkin akan diperlukan baik untuk mendefinisikan penyebab penyakit ginjal sebagai keadaan yang berhubungan dengan lupus maupun untuk menentukan tahap penyakit ginjal untuk mendapatkan acuan pengobatan yang optimal. Biopsi ginjal biasanya dilakukan menggunakan jarum halus yang mengarah ke ginjal di bawah bimbingan radiologi, namun dalam keadaan tertentu, biopsi ginjal dapat dilakukan saat melakukan operasi perut terbuka.
  • Iritasi otak (ditunjukkan dengan adanya kejang-kejang dan/atau psikosis, yang disebut sebagai “lupus cerebritis”)
  • Kelainan hitung sel darah:  Hitung sel darah putih (WNC), sel darah merah (RBC) maupun trombosit rendah pada pemeriksaan darah lengkap rutin.
  • Gangguan immunologis (tes imun abnormal meliputi anti-DNA atau anti-Sm (Smith) antibodi, tes darah positif palsu untuk sifilis, antibodi antikardiolipin, antikoagulan lupus, atau tes LE prep positif)
  • Antibodi antinuklear (tes antibodi ANA [= antibodi antinuklear dalam darah]) positif
Selain untuk ke 11 kriteria, tes lainnya dapat membantu dalam mengevaluasi orang dengan LES untuk menentukan keparahan organ yang terlibat. Hal ini termasuk tes darah rutin untuk mendeteksi peradangan (contohnya, tes yang dinamakan  sedimentation rate dan C-reactive protein), tes kimia darah, analisis langsung atas cairan tubuh internal, dan biopsi jaringan. Kelainan pada cairan tubuh (cairan sendi atau serebrospinal) dan sampel jaringan (biopsi ginjal, kulit, dan saraf) bisa merupakan dukungan lebih lanjut untuk mendiagnosa LES. Pemeriksaan yang sesuai prosedur dipilih secara individual bagi pasien oleh dokter.

ARTIKEL LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES)







LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES) – Bagian 1

LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES) – Bagian 1
(Systemic Lupus Erythematosus)

Apakah lupus eritematosus sistemik itu? Apa saja jenis-jenis lupus?

Lupus adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan peradangan akut dan kronis dari berbagai jaringan tubuh. Penyakit autoimun adalah penyakit yang terjadi ketika jaringan tubuh diserang oleh sistem kekebalan tubuh sendiri. Sistem kekebalan adalah sistem yang kompleks dalam tubuh yang dirancang untuk melawan zat-zat penular penyebab penyakit, seperti bakteri dan mikroba asing lainnya. Salah satu cara sistem kekebalan tubuh melawan infeksi adalah dengan memproduksi antibodi yang mengikat mikroba. Orang-orang dengan lupus memproduksi antibodi abnormal dalam darah mereka yang mentargetkan jaringan dalam tubuh mereka sendiri, bukan zat-zat asing penyebab infeksi. Antibodi ini dinamakan sebagai auto-antibodi.

Karena antibodi dan sel-sel yang menyertai peradangan dapat mempengaruhi jaringan di mana saja dalam tubuh, lupus memiliki potensi untuk menyerang berbagai wilayah dalam tubuh. Kadang-kadang lupus dapat menyebabkan penyakit kulit, jantung, paru-paru, ginjal, sendi, dan sistem saraf. Bila hanya kulit yang terlibat, kondisi ini disebut lupus dermatitis atau lupus eritematosus kulit. Satu bentuk lupus dermatitis yang dapat diisolasi pada kulit saja, tanpa penyakit internal, disebut lupus discoid. Ketika organ dalam terlibat, kondisi ini disebut sebagai lupus eritematosus sistemik (LES).  
Baik lupus discoid maupun LES lebih umum terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki (sekitar delapan kali lebih umum). Penyakit dapat mempengaruhi segala usia tetapi paling sering dimulai pada umur 20-45 tahun. Statistik menunjukkan bahwa lupus agak lebih sering diderita orang-orang Afrika Amerika dan keturunan Cina dan Jepang.
Apa penyebab lupus eritematosus sistemik? Apakah lupus merupakan penyakit keturunan?
Penyebab yang tepat untuk autoimunitas yang abnormal penyebab lupus tidak diketahui. Faktor heriditas (keturunan), virus, sinar ultraviolet, dan obat-obatan tertentu semuanya mungkin memainkan beberapa peran.
Faktor genetik meningkatkan kecenderungan berkembangnya penyakit autoimun, dan penyakit-penyakit autoimun seperti lupus, rheumatoid arthritis dan gangguan autoimun lebih umum di antara keluarga dari orang dengan lupus dibanding populasi umum. Beberapa ilmuwan percaya bahwa sistem kekebalan tubuh dalam lupus lebih mudah dipicu oleh faktor-faktor eksternal seperti virus atau sinar ultraviolet. Kadang-kadang, gejala Lupus dapat dicetuskan atau diperburuk oleh hanya periode singkat dari paparan sinar matahari
Juga diketahui bahwa beberapa wanira dengan LES dapat mengalami perburukan gejala sebelum periode haid mereka. Fenomena ini, bersama dengan dominasi perempuan terkena LES, menunjukkan bahwa hormon-hormon wanita memainkan peran penting dalam timbulnya LES. Hubungan hormonal ini adalah wilayah aktif studi yang berkelanjutan yang dilakukan oleh para ilmuwan.
Penelitian telah menunjukkan bukti bahwa kegagalan satu enzim kunci untuk menyingkirkan sel-sel mati dapat berkontribusi pada perkembangan LES. Enzim ini, DNase1, biasanya menyingkirkan apa yang disebut “sampah DNA” dan puing-puing selular lain dengan memotong mereka menjadi fragmen-fragmen kecil untuk memudahkan pembuangan. Peneliti mematikan gen DNase1 pada tikus. Tikus tampil sehat pada saat kelahiran, namun setelah enam sampai delapan bulan, mayoritas tikus tanpa DNase1 menunjukkan tanda-tanda LES. Dengan demikian, mutasi genetik pada gen yang dapat mengganggu sistim pembuangan limbah selular tubuh mungkin terlibat dalam inisiasi LES.
Apa yang dimaksud dengan lupus yang terinduksi obat (drug-induced lupus)?
Puluhan obat telah dilaporkan dapat memicu LES. Namun, lebih dari 90% dari kasus 'drug-induced Lupus' terjadi sebagai efek samping oleh salah satu dari enam obat-obatan berikut:
  1. Hydralazine (Apresoline) untuk hipertensi (high blood pressure); 
  2. Quinidine (Quinidine Gluconate, Quinidine Sulfate) dan procainamide (Pronestyl; Procan-SR; Procanbid) digunakan untuk ritme jantung abnormal (abnormal heart rhythms); 
  3. Phenytoin (Dilantin) digunakan untuk epilepsi;
  4. Isoniazid (Nydrazid, Laniazid) digunakan untuk tuberculosis; dan
  5. d-penicillamine (digunakan untuk rheumatoid arthritis).
Obat-obatan ini diketahui merangsang sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan LES. Untungnya, drug-induced LES jarang terjadi (hanya kurang dari 5% dari semua orang penderita LES) dan biasanya sembuh ketika obat dihentikan.

ARTIKEL LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES)







LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES) – Bagian 2

LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES) – Bagian 2

Apa gejala-hejala dan tanda-tanda penyakit Lupus?

Orang-orang dengan LES dapat mengembangkan berbagai kombinasi gejala dan keterlibatan berbagai organ. Keluhan dan gejala umum meliputi kelelahan (fatigue), demam suhu rendah (low-grade fever), hilang nafsu makan (loss of appetite), nyeri otot,  kerontokan rambut (hair loss, alopecia), radang sendi (arthritis), tukak pada mulut dan hidung, bercak kemerahan pada wajah (facial rash, "butterfly rash"), sensitivitas berlebihan terhadap paparan sinar matahari (fotosensitivitas), radang selaput luar paru-paru (pleuritis) dan jantung (pericarditis), kurangnya aliran darah ke jari-jari tangan dan kaki (Raynaud's phenomenon). Komplikasi yang melibatkan organ dalam dapat menyebabkan gejala-gejala lain lebih lanjut yang bergantung pada organ yang terkena dan seberapa parah penyakitnya

Manifestasi kulit sering terjadi pada lupus dan kadang-kadang dapat menimbulkan jaringan parut. Pada lupus discoid, hanya kulit yang biasanya terlibat. Ruam kulit pada lupus discoid sering ditemukan pada wajah dan kulit kepala. Ini biasanya merah dan dan batas tepinya menonjol. Ruam lupus discoid biasanya tidak terasa sakit dan tidak gatal, tapi jaringan parut dapat menyebabkan kerontokan rambut permanen (alopecia). Seiring dengan lewatnya waktu, sekitar 5% - 10% dari orang-orang dengan lupus discoid dapat berkembang menjadi LES.
Lebih dari setengah dari orang-orang dengan LES mengalami ruam wajah merah dan rata yang karakteristik di atas tulang hidung mereka. Karena bentuknya, gejala ini sering dinamai 'ruam kupu-kupu' ("butterfly rash") LES. Ruam ini tidak menyakitkan dan tidak gatal. Ruam pada wajah, bersama dengan peradangan pada organ lain, dapat dicetuskan atau diperparah oleh paparan sinar matahari, suatu kondisi yang disebut fotosensitivitas. Fotosensitivitas ini dapat disertai dengan memburuknya peradangan di seluruh tubuh, keadaan ini disebut 'flare' dari penyakit ini.

Gambar kupu-kupu pada ruam wajah, tang merupakan tanda karakteristik lupus eritematosus sistemik (LES)

Biasanya, dengan pengobatan, ruam ini dapat sembuh tanpa terjadinya jaringan parut yang permanen. Kebanyakan orang dengan LES akan mengembangkan arthritis selama perjalanan penyakit mereka Arthritis pada LES umumnya menimbulkan pembengkakan, rasa sakit, kekakuan, dan bahkan cacat pada sendi-sendi kecil tangan, pergelangan tangan, dan kaki. Kadang-kadang arthritis pada LES dapat menyerupai rheumatoid arthritis (yang bukan merupakan penyakit autoimun).

Keterlibatan organ dengan peradangan yang lebih serius terjadi di otak, hati (liver) dan ginjal. Sel darah putih dan faktor-faktor pembekuan darah juga dapat menurun secara khas pada LES, yang masing-masing dikenal sebagai leukopenia (leucopenia) dan berkurangnya trombosit (thrombocytopenia). Leukopenia dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi, dan trombositopenia dapat meningkatkan risiko perdarahan.

Peradangan otot (myositis) dapat menyebabkan nyeri otot (muscle pain) dan kelemahan (weakness). Hal ini dapat menyebabkan peningkatan kadar enzim otot dalam darah.

Radang pembuluh darah (vasculitis) yang memasok oksigen ke jaringan dapat menyebabkan kerusakan saraf tertentu, kulit, atau satu organ dalam. Pembuluh darah terdiri dari arteri yang mengantarkan darah yang kaya oksigen ke jaringan tubuh dan vena yang membawa kembali darah tanpa oksigen dari jaringan ke paru-paru. Vaskulitis ini ditandai dengan peradangan disertai kerusakan dinding berbagai pembuluh darah. Kerusakan menghambat sirkulasi darah melalui pembuluh dan dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang dipasok dengan oksigen oleh pembuluh darah ini.

Peradangan lapisan luar paru-paru (pleuritis) dan jantung (perikarditis) dapat menyebabkan nyeri dada (chest pain) yang tajam. Nyeri dada diperparah oleh batuk, bernapas dalam-dalam, dan perubahan pada posisi tubuh tertentu. Otot jantung itu sendiri jarang mengalami peradangan (carditis). Juga telah ditunjukkan bahwa wanita muda dengan LES memiliki peningkatan risiko secara signifikan untuk terkena serangan jantung yang disebabkan oleh penyakit arteri koroner.

Radang ginjal pada LES (lupus nefritis) dapat menyebabkan kebocoran protein dalam urin, retensi cairan, tekanan darah tinggi, dan bahkan gagal ginjal (kidney failure). Hal ini dapat menyebabkan kelelahan lebih lanjut dan pembengkakan kaki. Pada gagal ginjal, mesin-mesin diperlukan untuk membersihkan darah dari produk-produk limbah yang bertumpuk dalam proses yang disebut dialisis (dialysis) alias cuci darah.

Ikut terkenanya otak dapat menyebabkan perubahan kepribadian, gangguan berpikir (psikosis), kejang-kejang, dan bahkan koma (coma). Kerusakan saraf dapat menyebabkan mati rasa, kesemutan dan kelemahan tubuh atau ekstremitas yang terkena. Terkenanya otak dikenal sebagai lupus cerebritis.

Banyak orang dengan LES mengalami kerontokan rambut (alopecia). Sering kali, ini terjadi secara bersamaan dengan peningkatan aktivitas penyakit mereka. Rambut rontok dapat setempat-setempat atau menyeluruh dan tampaknya lebih seperti rambut yang menipis.

Beberapa orang dengan LES mengalami Fenomena Raynaud. Dalam kondisi ini, pasokan darah ke jari tangan dan/atau jari kaki menjadi terimbas karena paparan dingin, yang menyebabkan pemucatan, perubahan warna keputih-putihan dan/atau kebiru-biruan, rasa nyeri dan mati rasa di jari tngan dan jari kaki yang terkena.

Kondisi lain yang dapat menyertai lupus termasuk fibromyalgia, penyakit jantung koroner (coronary heart disease), penyakit katup jantung non-bakterial, pankreatitis, penyakit esopaghus dengan kesulitan menelan (dysphagia), penyakit hati (liver disease, lupoid hepatitis), dan infeksi lainya.

ARTIKEL LUPUS ERITEMATOSUS SISTEMIK (LES)