Showing posts with label bung hatta. Show all posts
Showing posts with label bung hatta. Show all posts

Saturday, May 9, 2020

TRIO MINANG PENAKLUK PASAR SENEN

Seorang bujang Minang tamatan kelas 2 sekolah rakyat pergi merantau ke Betawi di tahun 1921. Namanya Djohan yang kemungkinan berasal dari Sawahlunto. Waktu itu saudagar-saudagar bumiputra di Padang sudah mulai sering berbelanja ke Betawi. Sudah sejak dekade sebelumnya jalur pelayaran Padang – Batavia semakin lancar, yang dilayani oleh perusahaan kapal pemerintah (misalnya, tahun 1927 kapal api Ophir melayani rute Betawi – Padang secara rutin yang dapat ditempuh dalam satu setengah hari; lih: Pandji Pestaka, No. 61, Th. V, 2 Augustus 1927: 1048 [Kroniek]). Djohan nekat pergi ke ibukota Hindia Belanda itu membawa tulang delapan kerat. Niatnya hendak bekerja jadi pegawai negeri atau swasta. Akan tetapi sesampai di Betawi ia melihat dunia perdagangan yang ramai.

Maka Djohan pun bertukar pikiran. Menjadi pegawai hanya tamat kelas 2 sekolah rendah tak akan dapat mengubah nasib, pikiranya. Kini ia ingin jadi pedagang. Tapi apa daya modal tak ada. Djohan pun memutar otak. Didekatinya seorang pedagang Arab, lalu dimintanya beberapa helai barang dagangannya, kemudian dikembangnya lapak di tepi jalan. Begitulah Djohan memulai usaha dagangnya secara kecil-kecilan. Lama-lama anak muda yang hemat dan berkemauan keras itu dapat menyimpan uang sedikit demi sedikit. Akhirnya ia berhasil mengumpulkan modal sendiri, lalu ia melepaskan diri dari induk semang Arabnya. Kini Djohan membeli sendiri barang-barang dagangannya secara kontan. Dengan demikian harganya jadi lebih murah, dan dengan demikian ia pun dapat menjual dagangannya dengan harga yang lebih murah pula.

Lama-kelamaan Djohan berhasil menyewa sebuah toko di Pasar Senen. Akan tetapi keberhasilan yang sudah diraihnya tidak menjadikan ia cepat puas. Dengan uang tabungannya, kemudian ia berhasil membeli toko itu. Kini ia sudah memiliki toko sendiri. Dagangannya pun makin laris manis. Itu tak lain karena layanannya yang ramah tamah kepada para pembeli. Lama kelamaan tokonya bertambah luas, hingga mencapai enam pintu (meminjam istilah pedagang Minang di Tanah Abang sekarang).

Djohan kini sudah jadi pedagang kaya. Maka disuruhnya saudaranya, Djohor namanya, menyusulnya ke Betawi. Waktu itu Djohor masih bersekolah di Sawahlunto. Djohor pun datang ke Betawi membantu Djohan. Maka tokonya yang besar itu diberi nama “Handelsvereeniging Djohan-Djohor” (Perusahaan Dagang Djohan-Djohor). Toko Djohan-Djohor terus berkembang. Kemudian dua bersaudara itu mengajak seorang saudagar Minang lainnya berkongsi, namanya Ajoeb Rais.

Latar belakang Ajoeb Rais cukup jelas dipaparkan dalam Memoir Mohammad Hatta (Jakarta: Tintamas Indonesia, 1979). Ia, yang dipanggil oleh Hatta sebagai ‘Ma’ Etek Ajoeb’, adalah ‘penjamin’ hidup Wakil Presiden pertama Indonesia itu selama beliau bersekolah di Batavia (kini: Jakarta), sejak kedatangannya di ibukota Hindia Belanda itu sekitar Juni 1919 sampai keberangkatannya ke Padang pada bulan Juni 1921 untuk kemudian terus ke Belanda pada bulan Agustus pada tahun yang sama, sampai Hatta kembali lagi ke Batavia pada bulan Agustus 1932 (lihat fotonya dalam Memoir Bung Hatta, 1979:63). Bahkan setelah itu Hatta pergi ke Jepang dengan Ajoeb Rais untuk mengadakan perjanjian dagang dengan pengusaha-pengusaha Jepang.

Waktu Hatta sampai di Batavia, Ajoeb Rais sudah terkenal juga sebagai seorang saudagar besar,tapi hidupnya tetap sederhana. Ia dan istrinya Daidah (yang dipanggil ‘Mintuo’ oleh Hatta) dan seorang anak perempuannya yang bernama Nelly tinggal sebuah rumah di Jalan Jakarta di bilangan Kota (kini Jakarta Pusat). Bung Hatta menyebut Ajoeb Rais sebagai pamannya. Memang ia juga berasal dari Bukittinggi tapi tidak dijelaskan bagaimana persisnya hubungan kekeluargaan mereka.

Diceritakan oleh Hatta dalam Memoir-nya (hlm. 61-62): Ajoeb Rais meninggalkan Bukittinggi, sebentar tinggal di Padang, sebelum kemudian pergi ke Betawi. Mula-mula ia bekerja sebagai jurutulis pada seorang bangsa Jerman, yang berdagang berbagai rupa. Untuk mencapai kemajuan ia belajar mengetik 10 jari. Dalam waktu yang singkat sekali ia memperoleh diploma. Hal itu menarik perhatian induk semang Jermannya itu. Akhirnya ia diberi pekerjaan yang lebih banyak yang selalu dikerjakannya dengan rajin dan bersemangat.

Ajoeb akhirnya mendapat warisan uang dari induk semangnya itu sebesar f 10.000 ketika induk semangnya itu pensiun dari dunia dagang. Ajoeb juga dijadikan anak angkat oleh induk semangnya itu karena induk semangnya itu tidak punya anak. Karena tangan dinginnya, akhirnya Ajoeb Rais berhasil dalam dunia dagang. Waktu itu ia menjalankan perdagangannya lebih banyak dengan cara spekulasi. Ia ambil sejumlah barang dari orang dalam partai besar, lalu tiga bulan kemudian harga barang itu dibayarkan. Kalau harga-harga naik, maka dapatlah ia untung yang lumayan besar. Tapi jika sebaliknya yang terjadi, alamat bangkrut akan didapat. Cara dagang seperti itu beresiko besar akan jatuh pailit. Oleh sebab itu, setelah berhasil mengumpulkan uang sebanyak f 500.000, Ajoeb Rais pergi naik haji ke Mekah. Setelah pulang dari Tanah Suci, ia beralih ke usaha lain. Setelah itulah tampaknya ia bergabung dengan Firma Johan Johor.

Hatta mencatat dalam Memoir-nya (hlm. 255-57) bahwa ia disambut oleh Ma’ Etek Ajoeb Rais ketika sampai lagi di tanah air pada tahun 1932. Ajoeb ikut ke Pelabuhan Tanjung Priok untuk melihat proses pemeriksaan buku-bukunya yang berpeti-peti oleh duane pelabuhan. Buku-buku itu dikirim dari Belanda dan sebelum diambil oleh pemiliknya di Batavia, harus diperiksa terlebih dahulu. Hatta menyebutkan bundelan Majalah IndonesiaMerdeka ditahan oleh duane karena dianggap bacaan berbahaya. Hatta mengatakan bahwa semua bukunya itu kemudian disimpan di rumah Ma’ Etek Ajoeb Rais di Defensielijn Van den Bosch yang sebelumnya merupakan sebuah hotel. Letaknya tepat pada Jalan Sawah Besar menuju Lapangan Terbang Kemayoran (belakangan disebut daerah Bungur Besar).

Pada bulan Februari 1933 Hatta diajak oleh Ajoeb Rais pergi ke Jepang untuk urusan bisnis dagang pamannya itu. Mereka berangkat dari Batavia via Singapura dengan menumpang kapal Johor Maru. Perjalanan Hatta dan Ajoeb Rais ke Jepang ditemani oleh seorang rekan dagangnya orang Jepang yang juga punya kantor perusahaan di Batavia, yang dipanggilnya Tuan Ando. Ando, Hatta dan Ma’ Eteknya tinggal di Singapura selama 5 hari. Keberangkatan Hatta tak lepas dari intaian spion Belanda. Di Singapura Hatta bertemu dengan beberapa orang Minangkabau, termasuk salah satu pemilik warung Padang yang selalu menggratiskan ia makan di restorannya, dan seorang saudagar Minang pemilik Toko Padang di Batavia bernama Haji Usman yang terpaksa lari ke Singapura karena jatuh bangkrut dan dikejar-kejar oleh orang-orang yang menagih utang kepadanya. Perjalanan mereka bertiga di Jepang diceritakan pada halaman 293-308 dalam Memoir Bung Hatta. Selama berada di Jepang, Hatta dan pamannya itu tinggal di Hotel Koshien, sebuah hotel yang terbilang bagus yang terletak antara Kobe dan Osaka. Ajoeb Rais yang diasisteni oleh Hatta dan Ando mengadakan perjanjian dagang dengan beberapa pengusaha Jepang dan melihat beberapa pabrik di Kobe, Osaka dan Tokyo. Namun, kunjungan Hatta itu diketahui oleh insan pers di Jepang, sehingga banyak wartawan yang mengerubuti “Gandhi of Java” itu, demikian pers Jepang menyebutnya, begitu kapal Johor Maru yang ditumpangi Hatta merapat di Pelabuhan Kobe sekitar Maret 1933.

Pada Bulan Maret 1942 Hatta sempat bertemu dengan Johor yang dipanggilnya ‘Etek’ di Hotel Des Indes di Jakarta. Waktu itu Hatta dijemput dari Sukabumi untuk bicara dengan para pentinggi militer Jepang di Batavia. Johor sendiri menyebut Hatta sebagai ‘[A]nak Gadang’, maksudnya jelas ‘Anak yang kini menjadi orang besar’ (Hatta 1979:396). Dalam kesempatan itu Johor menyediakan pakaian baru yang bagus untuk Hatta melalui toko jahitnya Nam Mie di Jalan Antara. Maksudnya, supaya Hatta kelihatan necis dan gagah ketika berhadapan nanti dengan para pembesar militer Jepang. Hatta sempat mampir ke Firma Johan Johor di Senen mengisi waktu luangnya di Jakarta sebelum berunding dengan para pembesar Jepang (Gunseiken dan Sumobuco). Pakaian yang dibuatkan oleh penjahitNam Mie pesanan Etek Johor sangat cocok di tubuh Bung Hatta.

Membaca Memoir Hatta, kita mendapat kesan betapa dekatnya hubungan tiga serangkai pemilik Firma Johan Johor dengan Bung Hatta, khususnya Ajoeb Rais. Ajoeb bahkan menyediakan biaya sekolah untuk Hatta selama ia belajar di Prins Hendrik School di Batavia. Terkesan pada waktu ikatan emosional sesama perantau Minang di Jakarta sangat kuat.

Perusahaan dagang Djohan-Djohor terus berkembang dan mempunyai cabang di Pekalongan, Semarang, Surabaya, Bandung, dan Medan. Sumber tulisan ini mencatat:“Semendjak itoe keadaan di Pasar Senen jadi beroebah benar. Dahoeloe jang ada disana hanja toko orang Tionghoa semata-mata, tetapi semendjak toko Djohan-Djohor berdiri, toko-toko orang Boemipoetera jang lain didirikan poela. Dan sekarang toko-toko kain orang Boemipoetera soedah sebanding banjaknja dengan toko-toko orang Tionghoa”.

Tampaknya tiga anak muda Minang bersaudara ini adalah kompetitor pedagang Tionghoa pertama di Pasar Senen. Mereka termasuk generasi perantau Minang awal yang sukses mengembangkan usaha dagangnya di Betawi (Jakarta). Seperti sering diekspresikan dalam cerita-cerita lisan Minangkabau, Djohan tiga bersaudara betul-betul menggambarkan dunia perantauan orang Minang: pergi meninggalkan kampuang diiringi sebak sudut mata bunda kandung, dan tanpa modal apapun, untuk kemudian pulang membawa tuah. Kuncinya adalah sifat rendah hati, hemat, dan suka bekerja keras. Sumber tulisan ini menulis:“Kadang-kadang […] tampak kedoea saudara itoe melihat-lihat pekerdjaan pegawainja. Air moekanja tenang dan ramah, sedikitpoen tidak tampak ketinggiannja. Akan tetapi dibalik air moeka jang tenang itoe tersemboenji kekerasan hati jang sebagai wadja”. Hal itu betul belaka kiranya, sebagaimana dapat dilihat dan dikesan dalam foto ini: yang duduk Djohan, dan yang berdiri Ajoeb Rais (kiri) dan Djohor (kanan).

Kisah sukses Handelsvereeniging Djohan-Djohor menambah lagi pengetahuan kita tentang sejarah perantauan orang Minangkabau di awal abad ke-20, khususnya mengenai perintis keberadaan para pedagang Minangkabau di Pasar Senen, Jakarta. 


Wednesday, April 6, 2016

THE BLUE BIRD STORY

BlueBird Story
The Magic of Sharing Economy.

Tahun lalu total pendapatan Bluebird (BB) group tembus 4,75 triliun. Net profit 735 milyar. Jadi margin sekitar 16%. Angka yang rasional.
Net profit BB 735 Milyar tahun lalu. Jumlah driver 36 ribu. Jadi setahun 1 driver sumbang 20 juta profit ke owner BB. Masuk akal.
Kapitalisme memang seperti itu. Profit 735M hanya terkonsentrasi pada keluarga pemilik BB. 36 ribu supir jadi sekrup. Ya sekrup
Dengan sistem sharing seperti Uber, laba 735M itu bisa terdistribusi lebih merata ke ribuan mitranya. Tidak hanya dinikmati 2 - 3 owner seperti kasus BB.
Kalo Uber jadi berbentuk koperasi, model pembagian laba-nya jadi lebih adil. Lebih bergaya sosialisme. Laba lebih merata. Tidak seperti kapitalisme.
Jika Uber berbentuk koperasi, ribuan driver BB sebenarnya bisa pindah ke Uber. Jadi anggota. Pendapatan bisa lebih tinggi. BB bisa kolaps.
Milih mana? 735 milyar laba dinikmati bu Noni Purnomo dan keluarganya saja. Atau terdistribusi lebih merata dalam bentuk koperasi Uber?
Tantangannya, bagaimana supir ex BB itu sanggup kasi DP buat beli mobil untuk jadi mitra koperasi Uber? Gandeng lembaga keuangan. Buat skema yang pas.
Itulah esensi ekonomi yang diimpikan Bung Hatta. Ribuan supir ex BB punya mobil sndiri sebagai anggota koperasi Uber. Dan bisa dapat profit sharing.
Persis disitulah kejaiban aplikasi teknologi benar2 bisa mewujudkan ide indah sosialisme ala Bung Hatta jadi kenyataan. Via Koperasi Uber.
Karl Marx mungkin tertegun. Bagaimana bisa aplikasi Uber ciptaan negeri kapitalis, menjelma menjadi alat demokratisasi ekonomi rakyat.
Sinergi ribuan supir ex BB, koperasi Uber dan lembaga keuangan dalam skema yang win2; bisa benar2 memajukan ekonomi kelas bawah. Uber revolution.
Jika ribuan supirnya lari jadi mitra Uber karena dapat profit sharing yang lebih fair, bagaimana nasib BB? Ya bisa kolaps. Tapi itulah kemenangan sosialisme.
Supir BB mestinya jangan protes. Dekati koperasi Uber. Tinggalkan BB. Gandeng lembaga keuangan. Ciptakan kerjasama win win.
Laba 735M hanya untk satu keluarga adlh contoh kapitalisme ekstrem. Aliansi ribuan supir ex BB dengan koperasi Uber bisa merobohkan dominasi itu.
Kalau ribuan supir BB bergabung dengan koperasi Uber dalam skema yang lebih fair, pelan-pelan dominasi kapitalisme ekstrem BB bisa dipatahkan.
Aliansi ribuan supir ex BB dengann koperasi Uber mngkin akn dikenang dalam sejarah sebagai bentuk revolusi ekonomi rakyat. Bung Hatta bisa tersenyum.
Apakah aliansi ribuan supir taksi ex BB dkk dengan koperasi Uber bisa jadi realitas? Bisa kalau ada lembaga keuangan yang cerdik dan kreatif.
Paparan tadi mendedahkan sebuah fakta magis : betapa aplikasi teknologi benar-benar menjelma menjadi agen revolusi ekonomi kerakyatan.
Tapi itulah memang kekuatan magis teknologi : membuat sistem kapitalisme yang rakus dan tidak efisien menjadi kolaps.
Dalam buku-buku filsafat ekonomi, skema sharing economy ala Uber itulah yang diimpikan oleh sosok seperti Bung Hatta. Sistem ekonomi yang lebh fair.
Esensi ekonomi sharing ala Uber itulah yang dulu pernah diangankan oleh Bung Hatta. Karena lebih fair, efisien dan terdistribusi dengan adil.
Tidak terkonsentasi seperti dalam kapitalisme ekstrem. Seperti kasus laba 735M yang dinikmati hanya oleh segelintir keluarga pemilik BB.
Sementara 36 ribu drivernya termehek-mehek dalam nestapa. Padahal setahun masing-masing dari mereka sudah sumbang 20 juta ke owner BB.
Sinergi Koperasi Uber, ribuan supir ex BB dan lembaga keuangan yang cerdik, akan membuat penghasilan mereka bisa naik signifikan.
Agak tertegun, ide dasar ekonomi sharing yang dulu diimpikan Bung Hatta, bisa jadi realitas karena aplikasi teknologi buatan silicon valley.
Tapi itulah memang visi esensial pendiri Uber : bagaimana agar aplikasi teknologi bisa wujudkan ide ekonomi sosialisme seperti yang dicitakan bung Hata.
Lembaga keuangan yang cerdik harus segera cari pentolan-pentolan driver BB. Dialog dan rintis skema win win dan bikin aliansi dengan koperasi Uber.
Apakah ide aliansi ribuan supir eks BB dengan koperasi Uber adalah ide utopia (fantasi)? Why not. Nothing is Impossible
Negrei utopia itulah yang dulu juga ditulis Karl Marx dalam adikaryanya Das Kapital. Negeri saat ribuan kaum proletar bersatu, robohkan kapitalisme.
Ide negeri utopia ekonomi sosialis itu berkali-kali gagal jadi realitas. Ajaibnya, aplikasi Uber dengan koperasi Uber, yang bisa wujudkan ide itu.
Itulah Paradoks Teknologi: bagaimana aplikasi buatan negeri kapitalis yang justru akan jadi senjata maut untk membunuh kapitalisme yang rakus.
Karl Marx dan Bung Hatta mngkn tidak pernah mnyangka bahwa ide-ide besarnya tentang sharing economy yang lebih fair, diwujudkan oleh Silicon Valley Guys.
Perjumpaan ide Karl Marx, Impian Bung Hatta dengan kekuatan aplikasi Uber + aliansi supir ex BB, mungkn bisa jadi judul skripsi yang menarik.
Tapi mungkin itulah sejatinya kekuatan indah dari teknologi: sebuah narasi gemilang tentang “The Rise of Smart Apps” dalam mengubah peradaban.
Energi kemarahan ribuan supir BB mungkin akan lebih cantik jika disenyawakan dengan energi sharing economy ala Uber.
Sebab persenyawaan ribuan ex supir taksi BB dengan koperasi Uber-lah yang hanya bisa membuat nasib mereka berubah.
Dan persis pada titik itulah, mungkin mendiang Bung Hatta bisa tersenyum bangga di alam peristirahatannya.