Showing posts with label china. Show all posts
Showing posts with label china. Show all posts

Saturday, September 11, 2021

CHINA VS US

"If you think of China as a country that copies rather than innovate - think again!!" (Amy Webb)

Ambillah Tiongkok memang benar mencuri teknologi maka bagi AS untuk mengatasi hal ini sangat mudah. Tinggal buktikan saja didepan pengadilan dan tuntut Tiongkok untuk membayar lunas semua paten yang dilanggar, gampang sekali 'kan? Apalagi AS 'kan gudangnya ahli hukum (lawyer) kelas dunia, kurang apalagi? Jika AS menempuh jalan ini ada banyak keuntungan diperoleh, Tiongkok akan jatuh namanya karena terbukti mencuri dan AS akan menerima banyak uang sebagai ganti rugi paten yang dilanggar. Disinilah kita harus kritis, mengapa AS tidak menempuh jalan hukum yang begitu mudah ini? Namun memilih untuk sekedar berpolitik? Penjelasan rasional yang paling mudah adalah AS tidak memiliki bukti bahwa terjadi pencurian teknologi oleh Tiongkok. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana fenomena ini dapat dijelaskan?

Untuk mendapatkan jawaban ini kita perlu terlebih dahulu memahami perkembang-an teknologi Tiongkok yaitu bahwa ada beberapa bidang teknologi dimana Tiongkok mandiri dari Barat. Sebagai contoh, Kereta Cepat (High-Speed Train), Teknologi Konstruksi, 5G, Space Technology, Railgun Technology, AI, Electric Car, Renewable Energy, Hydrogen Bomb and Thermonuclear yang diluncurkan tahun 1964 - 1967, pada saat Tiongkok masih di-embargo Barat. Disini perlu kita perhatikan hal-hal sbb yaitu:

Pertama, Apa perlunya Tiongkok susah-susah mencuri? Jika Tiongkoklah yang memimpin (world leader) dibidang teknologi tsb? Misalnya untuk Teknologi 5G, Railgun, High-Speed Train, Renewable Technology, AI dan Mobil Listrik.

Untuk 5G, Tiongkok sepenuhnya mandiri, Barat sendiri belum mampu membuat IC 5G dan komponen untuk antena 5G. Oleh karena Huawei memdominasi patent 5G dan semua proyek pembangunan jaringan 5G. (Elizabeth Woyke, "China is Racing Ahead in 5G. Here's What That Means," MIT Technological Review, December 18, 2018;  /s/612617/china-is-racing-ahead-in-5g-heres-what-it-means/).

Demikian juga dengan Railgun yang teknologinya jauh lebih modern daripada Railgun AS. Menurut analis militer, Railgun Tiongkok dapat merontokkan kapal induk AS dalam jarak 150 km dari pantai. Tiongkok begitu maju dalam Railgun Technology ini karena teknologi elektromagnetik-nya jauh lebih canggih daripada Barat (Jamie Seidel, "China's World First: Electromagnetic Railgun Goes to Sea," ,  news-story/ 6e31d167e88308f59ec9633 ef1e867b; Josh K. Elliott, "Why China's Miracle Railgun Weapon Should Scare the US Navy," Global News, January 3, 2019; news/ 4810853/china-railgun-warship-weapon/)

Tiongkok adalah yang terdepan di dunia ini dalam Teknologi Kereta Cepat. Sampai hari ini, AS tidak memiliki sebuah kereta cepatpun, sedangkan Tiongkok memiliki jaringan kereta cepat yang melayani seluruh kota besar yang ada (Agence France Presse, "China First in the World for High-Speed Train," The Jakarta Post, July 4, 2019;  life/2019/07/03/china-first-in-the-world-for-high-speed-trains.html).

Demikian juga untuk AI (Artificial Intelligent), mega investasi yang bernilai multi-milyar dollar US menyebabkan Tiongkok yang terdepan dibidang ini (Amy Webb, "China is Leading in Artificial Intellegence," 201809/amy-webb/china-artificial-intellegence.html; James Vincent, " China is about to overtake America in AI Research." The Verge, March 19, 2019; Louis Columbus, " How China is Dominating Artificial Intellegence." Forbes, December 16, 2018)

Untuk Enerji Terbarukan (Renewable Energy) ini adalah enerji masa depan. Pada saat perkembangan enerji terbarukan di Barat terhambat karena lobby politik perusahaan minyak. Tiongkok justru memimpin kemajuan di bidang ini (Dominic Dudley, "China is Set to Become the World's Energy Superpower," Forbes, January 11, 2019; Dominic Chiu, "The East is Green: China's Global Leadership in Renewable Energy," CSIS Report, e-energy)

Demikian juga dengan Teknologi Mobil Listrik. Teknologi ini adalah masa depan industri mobil. Saat ini kemajuan teknologi mobil listrik di Barat stagnan. Kini Tiongkoklah yang terdepan didunia ini (Bloomberg Businessweek, " China is Leading the World to an Electric Car Future," November 15, 2018; Alex Thornton, "China is Winning the Electric Vehicle Race," World Economic Forum, 04 February 2019;)

Kedua, Bagaimana Mungkin Tiongkok Mencuri Teknologi Jika Saat Itu Tiongkok diembargo dan di-isolasi oleh Barat? Misalnya, Teknologi Bom Hydrogen dan Bom Nuklir? Untuk Hydrogen Bomb (UPI Archives, "China Fires H-Bomb," June 17, 1967; "China First Hydrogen Test Successful, 1967")

Untuk Persenjataan Nuklir, Tiongkok adalah yang terbaik, bahkan melewati AS dan Russia, dalam Teknologi Persenjataan Nuklir (lihat, Alex Lockie, "We Ranked the World's Nuclear Arsenals. Here's Why China Came Out on Top." Business Insider, January 25, 2019).

Ketiga, Apabila Tiongkok Mencuri Teknologi, pasti teknologinya jauh lebih buruk dibandingkan Barat. Bagaimana mungkin bisa mendominasi hak Paten Teknologi? Paten diajukan untuk penemuan produk & teknologi baru dari segi ini Barat telah tertinggal oleh Tiongkok.

World Intellectual Property Organisation melaporkan bahwa untuk tahun 2017 dari 3.17 juta paten yang diterbitkan. Paten dari Tiongkok ada 1.38 juta (43.53%) sedangkan AS 607,000 (19.14%), Jepang 318,000 (10.03%), Korea Selatan 205,000 (6.46%). Baru disusul Uni Eropa 167,000 (5.26%). Data ini menunjuk kan bahwa selain dominasi teknologi Tiongkok; juga dominasi Asia karena dari 3 negara Asia Timur tsb sudah mendominasi 58.82% paten teknologi. Jika dilihat Asia secara keseluruhan ada 65% dari total paten. Sedangkan AS dan Eropa hanya 24.40%, jadi kini penemuan teknologi didominasi Asia, bukan oleh Eropa dan AS. Trend seperti ini stabil sejak tahun 2011 yl. Ini membuktikan bahwa Asia telah bangkit dan telah mendominasi teknologi ("China Continues to Dominate Worldwide Patent Applications" Engineering and Technology, December 4, 2018; Barney Thompson and Nian Liu, "China Leads the Way in Legal Technology Patents," Financial Times, 17 February 2019; IPPro, "China is Overtaking the US as the World's Largest Innovator," 20 November 2018,  specialistfeatures/ specialistfeature.php?specialist_id=26).

Keempat, Menurut intelektual dan akademisi Barat yaitu Joseph Needham, seorang ilmuwan yang terhormat (well-respected) dari Cambridge University, UK. Penulis ensiklopedia Science and Civilization in China. Needham menulis bahwa: "Tiongkok adalah Peradaban Sains dan Teknologi (Science and Technology Civilization). Masyarakat Tiongkok sangat menghargai proses belajar, studi dan meneliti, sehingga mereka memiliki kemampuan mengembangkan sains dan teknologi secara mandiri." Tulisan Needham ini menjelaskan mengapa pada saat diisolasi/diembargo Barat. Kemajuan teknologi Tiongkok untuk industri dasar, hydrogen dan nuklir tetap melaju kedepan secara mengesankan.

Lebih lanjut, Needham menulis bahwa kompas, jam (penunjuk waktu), mesiu, senjata api (senapan, meriam, dinamit, roket, dsb), crossbow, astronomi, kertas, uang kertas, bank, bank cheque, teknik percetakan, seismograph - alat pengukur gempa. Saat itu kaisar Tiongkok sudah bisa mengetahui kapan terjadi gempa, seberapa besar gempa tsb dan dimana lokasi gempa sehingga bisa cepat mengirim bantuan. Menarik bahwa seismograph modern masih tetap meng-gunakan prinsip teknologi yang sama dengan seismograph Tiongkok kuno. Serta masih banyak lagi seperti kincir air, irigasi, matematika, dsb. Seluruh teknologi ini telah biasa digunakan di Tiongkok dijaman dinasti Tang. Baru 1000 tahun kemudian diperkenalkan di Barat oleh rahib Jesuit, yang waktu itu ber -kunjung ke Tiongkok, menjadi tamu kaisar dan diijinkan belajar tekonologi Tiongkok. Jadi menurut Needham, Baratlah yang terlebih dulu belajar teknologi dari Tiongkok. Kehadiran teknologi Tiongkok di Eropa mendorong terjadinya Pencerahan (rennaisance) yang merupakan titik awal bangkitnya liberalisme dan humanisme, yang kemudian mendorong kebangkitan Eropa (Joseph Needham, Science and Civilization in China, Cambridge University Press, 2015).

Jika kita meminjam nilai-nilai liberal Barat, fairness, justice, gentleman, ethics dsb yang selama ini dijunjung tinggi dan dibanggakan oleh dunia Barat. AS semestinya membayar lunas semua paten teknologi Tiongkok yang digunakannya terlebih dahulu. Barulah AS bisa klaim pencurian teknologi oleh Tiongkok. Jika hal ini dilakukan maka AS tidak akan lagi mampu tegak berdiri, limbung karena bangkrut.

Selama bertahun-tahun para petinggi di Washington meremehkan (underestimate) Tiongkok. Mereka terjebak kedalam paradigma yang diciptakan sendiri; bahwa Tiongkok dikuasai rejim komunis yang otoritarian, bahwa rakyat Tiongkok menderita dibawah pemerintahan otoritarian, bahwa dengan kemajuan ekonomi yang terjadi, rakyat Tiongkok akan bangkit dan menuntut demokrasi, jika tuntutan demokrasi ini terjadi maka rejim komunispun tumbang dan Tiongkok - pun menjadi demokrasi liberal seperti Barat. Ditambah lagi untuk politisi dari kubu White-Supremacy, Tiongkok adalah non-Caucasian jadi secara budaya, moral dan kecerdasan sangat rendah, jadi tidak mungkinlah bisa berkembang menyaingi AS, dsb.

Ini adalah asumsi yang sepenuhnya irasional; oleh karena tidak didasarkan pada data dan studi kontemporer (contemporary studies) yang mendalam pada struktur sosial-politik Tiongkok. Namun hanya didasarkan pada persepsi "sebagai orang luar terhadap komunisme Tiongkok." Akibatnya seperti intelektual AS Gordon Chang yang laris dan disukai para petinggi Washington. Gordon sejak tahun 2005 yl selalu memprediksikan bahwa rejim politik dan ekonomi Tiongkok akan runtuh dan prediksinya selalu keliru. Sekalipun selalu keliru, Gordon tetap digandrungi para petinggi Washington karena Gordon berceritera apa yang ingin didengar oleh para petinggi Washington, bukan apa yang sebenarnya terjadi. Akibatnya, kebijakan Washington terhadap Tiongkok tidak pernah efektif, bahkan sepenuhnya tidak tepat sehingga Washington gagal menghentikan kemajuan Tiongkok. Puncak dari kegagalan Washington ini adalah perang dagang baru saja berlalu.

Frustasi menghadapi Tiongkok, langkah paling mudah adalah melancarkan hoax politik "mencuri teknologi" dengan tujuan membentuk persepsi dan opini publik AS dan dunia bahwa Tiongkok adalah negara inferior dengan tingkat kecerdasan rendah, bermoral rendah, bisanya cuma mencuri. Sedangkan AS adalah sang adikuasa yang superior, pembela demokrasi dan HAM, sumber ilmu dan teknologi; yang telah mejadi "korban" kejahatan Tiongkok.

Hoax politik ini sangat jitu dalam menenangkan publik AS atas rontoknya superioritas teknologi AS oleh Tiongkok. Gambaran bahwa AS adalah "korban" kejahatan dan kelicikan Tiongkok cukup meyakinkan kaum White Supremacist dan dapat menenangkan kemarahan kaum buruh dan para penganggur korban PHK karena relokasi industri ke Tiongkok. Film yang dibuat Peter Navarro, "Death by China" menggambarkan dengan jelas upaya politik ini. Tiongkok menjadi kambing hitam kegagalan kebijakan ekonomi AS sehingga sektor manufaktur dalam negeri rontok, hutang menumpuk, pengangguran meningkat, produktivitas nasional menurun dan AS menjadi sangat konsumtif yang mengakibatkan defisit perdagangan meledak semua ini berujung pada meningkatnya angka kemiskinan. Kini jauh lebih banyak jumlah orang miskin di AS daripada di Tiongkok. Pada tahun 2017 yl UN Rapporteur Philip Alston berkunjung ke AS untuk meneliti kemiskinan yang terjadi dan dia melapor-kan ada sejumlah 51 juta orang yang dikategorikan sebagai on extreme poverty (Ed Pilkington,"The UN Rapporteur on Extreme Poverty in America," The Guardian, 1 December 2017). Pada tahun yang sama jumlah orang miskin di Tiongkok tinggal 9 juta dan Xi mentarget-kan bahwa ditahun 2020 kemiskinan tidak ada lagi di Tiongkok.

Semua ini hanyalah mentalitas pihak yang kalah (the loser mentality). Tidak akan menolong AS untuk memperbaiki dirinya. AS bagaikan atlit yang kalah bertanding kemudian sibuk menyalahkan lawannya (Tiongkok) dan wasitnya (WTO).

"Sebagai akhir kata, data diatas menunjuk dengan jelas bahwa kini Asia memimpin dunia dalam Inovasi Teknologi sehingga langkah Asia memasuki abad 21 adalah dengan tegap. Fajar telah merekah di Asia, yang dulu adalah budak dan jajahan Barat. Akhirnya semua kembali kepada kita, Apakah kita akan menoleh ke Timur dimana fajar merekah dengan indah? Ataukah tetap terpaku ke Barat untuk menyaksikan matahari terbenam? Apakah kita akan ikut berderap bersama para tetangga memasuki abad Asia sambil memberi warna Indonesia? Ataukah kita memilih sibuk bertengkar masalah Suku, Ras, Agama dan Politik? Langkah apapun yang kita ambil adalah pilihan kita sendiri"


Friday, May 1, 2020

CHINA, KHILAFAH BARU PASCA- AMERIKA?

Dunia berubah sangat cepat. Kapan hari Amerika Serikat masih jagoan. Hajar sana, hajar sini, hantam kanan, hantam kiri. Gertak depan gebrak belakang. Tapi, tiba-tiba sekarang terlihat loyo, tidak tahu harus berbuat apa.

Melawan teroris, jago. Menghadapi Iraq, Iran, Syria, Amerika seperti Jango. Tapi menghadapi musuh yang tak kelihatan, Covid-19, malah jadi bego. Donald Trump bingung. mau lockdown takut ekonomi bangkrut. Mau tetap buka-bukaan, maju mundur, karena serangan oposisi sangat gencar. Ia membuat banyak komentar menggelikan, seperti menyuntikkan deterjen dan pemutih ke tubuh untuk mencegah virus.

Sampai sekarang kasus positif Corona di Amerika hampir mencapai 900 ribu, terbanyak di seluruh dunia, dengan kematian 50 ribu jiwa, lebih dari sepuluh kali lipat korban tewas di China. Korban tewas diperkirakan akan melampaui korban Perang Vietnam, 60 ribu tewas.

Kelas Donald Trump

Krisis ini menjadi ujian kepemimpinan dunia, dan Trump tidak menunjukkan kelasnya. Alih-alih mengambil tindakan cepat, Trump sibuk cari kambing hitam. Menyalahkan China, memusuhi Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan mengacam menghentikan iuran.

Di dalam negeri Trump lebih suka cari ribut dengan gubernur-gubernur yang berseberangan partai dengannya. Para gubernur dari Demokrat itu menghendaki lockdown total.

Trump tidak sependapat dan malah memprovokasi warga untuk menolak lockdown. Demo menolak lockdown pecah di beberapa tempat, dan Trump terang-terangan mendukungnya.

Ekonomi Amerika suram. Pengangguran mencapai 10 juta orang dan diprediksi bisa bertambah sampai dua kali lipat. Pertumbuhan bisa negatif dan Amerika bisa terperangkap dalam resesi terburuk sejak depresi besar, 1930.

Ekonomi seluruh dunia akan mengalami nasib sama merasakan resesi atau bahkan depresi. Dunia tunggang langgang mencari kepemimpinan. Amerika tak bisa diharapkan. Dulu waktu Perang Teluk di awal 1990-an Amerika bisa menggalang koalisi untuk menggempur Saddam Husein di Iraq.

Paling tidak negara-negara sahabat setia Amerika seperti Inggris dan Australia rela kirim pasukan gabung Amerika. Begitu juga ketika Amerika menguber Osama bin Laden dalam perang melawan teror setelah serangan WTC 2001. Tapi sekarang, tidak ada sekutu, tidak koalisi, semua sibuk selamatkan diri sendiri.

‘Khilafah’ China

Dunia seperti vakum kekuasaan sekarang dan setelah krisis Corona usai. Siapa yang akan mengisi kekosongan itu? Tak mudah diprediksi. Tapi, kandidat paling kuat, siapa lagi, kalau bukan China.

Orang boleh bicara apa saja mengenai China. Tapi, tak bisa dibantah bahwa China sudah keluar sebagai pemenang dalam krisis ini. Ketika hampir seluruh dunia masih panik menghadapi wabah, China sudah menuntaskan persoalannya.

China mengirim tenaga medis dan peralatan kesehatan ke berbagai penjuru dunia. Ketika Italia dan Spanyol menjadi episentrum wabah di Eropa ,dan negara-negara tetangganya setengah hati membantu, China cepat tanggap mengirim berbagai bantuan.

Gerakan China menjangkau cepat dan efektif ke negara-negara Asia, Afrika, dan sebagian Timur Tengah. Di Asia dan Afrika, China dianggap sebagai dewa penyelamat. Bukan saja di saat krisis seperti sekarang, tapi juga nanti ketika pemulihan ekonomi membutuhhkan pasar-pasar baru, maka pasar China yang bisa diandalkan untuk tujuan ekspor.

Pasar Amerika tak bisa diharapkan. Apalagi dengan kepemimpinan Trump yang tertutup seperti sekarang. Bahkan, Australia, sekutu lama Amerika, sudah berancang-ancang untuk beralih ke lain hati dengan melirik China. Gaya Amerika yang suka pamer hard power, kekuatan keras, sudah tidak laku lagi, dan gaya diplomatik halus, soft power lebih bisa diterima.

Jack Ma Versus Bill Gates

Wajah diplomasi soft power China makin kuat dengan munculnya Jack Ma, manusia terkaya di China, yang aktif mengirimkan bantuan peralatan dan obat-obatan ke seluruh penjuru dunia dan diterima dengan tangan terbuka.

Beda dengan Bill Gates yang bantuan-bantuannya malah dicurigai bahkan dia dituduh menciptakan virus ini untuk mengurangi dengan paksa populasi dunia sampai 10 persen. Upaya filantropi Gates malah makin memperburuk wajah Amerika. Sementara, WHO sendiri terlihat lebih dekat ke China daripada Amerika.

Dirjen Tedros Adhanom Ghebreyesus dari Etiopia adalah orang pilihan China, dan China mempunyai hubungan sangat akrab dengan Etiopia yang dijuluki sebagai “Little China” dan menjadi gerbang masuknya investasi China ke berbagai negara Afrika.

Amerika dan sekutu-sekutu Eropa tidak membiarkannya menjadi lokomotif baru. Mereka menuntut dibentuk tim investigasi internasional untuk menyelidiki kemungkinan China melakukan keteledoran dalam penyebaran pandemi ini. Amerika yang paling bersikeras, kemudian Prancis dan Jerman mulai masuk barisan. Perang perebutan kepemimpinan global tak terhindarkan.

The Clash of Civilization

Siapa yang bakal jadi jawara? Amerika tetap masih terlalu tangguh. Tapi China adalah penantang serius dan satu-satunya. Seperti diprediksi Samuel Huntington dalam “The Clash of Civilization” (1996) perebutan kepemimpinan global akan terpolarisasi pada empat peradaban besar, Barat, Timur Konfusian, Kristen Ortodoks, dan Islam.

Peperangan berbasis ideologi antara kapitalisme vs komunisme dianggap sudah tamat sejak runtuhnya Uni Soviet dan sekutunya di Eropa Timur pada 1990.

Francis Fukuyama kemudia memproklamasikan “The End of Hisrory” (1990), sejarah telah berakhir dengan kemenangan kapitalisme sebagai kampiun dunia.

Perang yang muncul kemudian adalah perang peradaban ala Huntington. China mewakili peradaban Timur yang konfusianis melawan Amerika representasi peradaban Barat Kristen. Inilah dua kekuatan yang sekarang ini paling digdaya dan di tengah krisis pandemi ini China menunjukkan keunggulan.

Bagaimana dengan peradaban lainnya? Rusia yang mewakili peradaban Kristen Ortodoks Eropa Timur belum bisa membuktikan kepemimpinan global di tengah pandemi, karena masih harus berjuang mengatasi pandemi di dalam negeri. Presiden Vladimir Putin juga lebih sibuk melakukan konsolidasi politik sehingga penanganan pandemi dan dampak ekokominya agak terbengkelai. Pada akhir perang peradaban Ortodoks Rusia akan cenderung berkoalisi dengan China atau bahkan Islam untuk melawan musuh bersama, Amerika Serikat.

Di mana kekuatan Islam dalam percaturan geopolitik pandemi sekarang? Belum juga kelihatan. Di tengah situasi keos seperti sekarang para aktivis khilafah mungkin berharap bisa mencuri kesempatan untuk mengambil alih kepemimpinan global.

Tapi, belum ada tanda-tanda ke arah itu. Negara-negara Islam masih sibuk dengan urusan dalam negeri, termasuk Turki yang masih kelabakan mengatasi pandemi.

Khilafah global Amerika, sangat mungkin, telah memasuki episode akhir, tapi khilafah islamiyah belum juga menunjukkan kesiapan untuk mengambil alih. Tampaknya, khilafah China yang jauh lebih siap.

Editor Mohammad Nurfatoni.

Oleh : Dhimam Abror Djuraid, 

Wartawan senior, tinggal di Surabaya.


Thursday, April 2, 2020

CHINA VERSUS US

CHINA VERSUS US

USA:"This is a lesson for the whole world. Open your economy and industries to US technologies and risk having your nation being held to ransom by a present or future US administration!"

IS AMERICA JEALOUS OF CHINA?

By: George King

George King has lived in the United States of America and China.

It is now very clear to everyone in the world that USA has no intention to allow any country to surpass her and she will use all tactics, evil or otherwise, to subjugate any one.

In the past, USA executed soft power to expound her reasonableness, projects that she cared about, human rights, freedom of the press; she wanted freedom and democracy for all and also the right of underdeveloped and developing countries to progress. This facade, held  since WW II, was all brutally torn apart by Trump who had showed the real and ugly face of USA by his attacks and economic sanctions on allies and others.

Underneath this facade, even when she purportedly helped Japan and Germany with the Marshal plan, created the UN, World Bank, IMF, NATO, WTO etc, they were in fact instruments and tools of US control, for USA governance and companies.

When it became untenable to have gold as a standard to benchmark the value of her currency, she changed the standard and benchmarked the dollar against a commodity such as oil (energy) and thus made her currency “international”. An agreement was struck between the  USA and Saudi Arabia that all oil transactions be denominated in dollars (the so-called petrodollars) and the dollar would then be re-circulated in the USA through the purchase of weapons and other investment.

This way, the USA can keep printing “paper” money without any kind of real asset such as “gold” to back up her dollar. In effect, she can go into deficit, spend without care (as she is in effect bankrolled by the  world) but other countries cannot do so the same. This was clearly shown in the Asian Financial Crisis in 1997 and in Argentina.

Many countries tried to break away from this system by "de-dollarization" or to achieve advanced technology but all these countries were toppled by the CIA, direct military intervention or crippled economically such as Chile, Iran, Iraq, Japan etc.

When China rose spectacularly, the USA was blindsided because her rise was too fast.

In a short 40 years, she lifted more than half of her 1.4 billion people out of poverty without firing a bullet. This is unprecedented in human history.

She also advanced in high technology and was able to produce high speed trains, build huge infrastructures such as roads, railway networks, bridges. Electric cars, power plants. She sent men up to space and created internet giants like Alibaba, Tencent, Baidu and  Huawei. She is now the second biggest economy in the world, encroaching to overtake USA as the biggest economy.

The USA is not jealous. She is frightened and nervous that her hegemony over the world in terms of politics, economic and governance will be toppled and therefore the USA is out to derail and stop China in any way she can. If peaceful means cannot stop  China, I will not be surprised that the US will use military methods such as instigating a war of some kind like between Taiwan and China or dragging China into a North Korean War or a direct “limited” nuclear war.

Let's hope that better heads prevail and the USA does not act out of desperation. The resources of the world are bountiful enough to make all of us rich when properly utilized. There is no such thing as a "limited" nuclear war. It take only  10 or 20 nuclear detonations to create a nuclear winter and this planet will be doomed. Remember this is the only known planet that have “intelligent” life.

As I had lived in both China and USA, I can say that the ordinary Chinese wants to dance, make money, be with their family n have a stable life. In the same way as the ordinary Americans want to watch football, baseball, basketball  , drink beer and watch TV.

However, the US ruling elite is aggressive in historical terms. The question here is about “America”, not “Americans” being jealous.

To put this is in perspective, below are some facts for you to ponder in which China is not a victim but a nation moving from undeveloped country of 1970s to now. Also you may want to read the US intelligentsia concept of "Project for the New  Century ”to know the mindset of the US neocon mentality that led to the Iraq war.

Even without the USA market, Huawei surpassed Apple in smart phone sales, earning $ US100 plus billions last year. Even without the USA car market, China is now leading in electric car manufacturing. In space, even without any help, China put the rover  on the far side of the moon and have their own space station. Independently, China has created their own supercomputers and accelerated their renewal energy industries.

Many US intellectuals convinced themselves that China cannot innovate, based on the Harvard Business School publication on March 2014, describing parallel control of CCP and the university ’s or business ’administration stifling creativity. Similar to the idiotic writing of Francis Fukuyama ’s“ End of History ”.

In fact, the USA cannot compete and is technologically in decline although she is ahead now. She wants to stop the rise of China by screaming that China is communist, authoritarian, evil and corrupt and that the USA is promoting democracy, freedom and rule of  law.

So let ’s examine the USA ’s premise:

For any country ’s development, the proof of the pudding is in the eating i.e. what are the deliverables from China thus far?

a) Rule of law for who? Look at what is happening: A US President who does not dare to show his taxes, a Republican Party which discards the US constitution that they swore to uphold by not answering congress; he openly lied to  his people, withdrew from an UN security council mandated agreement with Iran and then threatened and stopped other countries who wanted to trade with Iran, withdrew from a Climate Agreement that was signed by 120 nations and TPP (Trans Pacific Partnership) signed by 12 nations and  stopped the process of WTO by not appointing a judge for arbitration.

The USA only adopted the rule of law when it suited her interest and she will use economic sanctions on others to obey her position on the rule of law they like.

b) Freedom for whom? In the USA, real freedom is for the top 1 percent. The middle class and students are sliding into debt that they cannot pay in their lifetime. Even women n doctors there are slowly being criminalized and deprived of  freedom of choice over their own bodily health.

When other countries (like Germany) who do not want to follow her lawlessness and want to trade with emerging markets like China or Russia (via Nord Stream II gas pipeline and against the Huawei ban) or Iran, they are threatened with sanctions because USA does  not want these freedoms for these countries and companies. What right does the USA have to apply their laws on other countries and companies? If the USA wants to punish, then she should punish her own companies, not the companies and subsidiaries of other countries.

c) Democracy for whom? In Iran, the USA toppled a democratic government in 1953 under Moseddaq using CIA and now she want to provoke a war in order topple the Islamic government and make the Iranian people suffer.

The USA also illegally withheld Venezuela ’s wealth, such as repatriation of profit from her oil company and stopped Citibank which is holding her funds to pay for insulin for her people. It was rumoured that the USA also used cyber hacking to attack her electrical grid.

To punish a whole nation just because you do n’t like an Islamic government or any government is inhuman. If this is not an example of the evil of the USA, what is?

All people have a right to choose their own government, rightly or wrongly. No one demanded USA to change their regime when they toppled other governments using CIA. No one demanded the USA people to topple their government when they use “gun boat” and economic  sanctions diplomacy in Venezuela and Iran in this 21st century.

Democracy is supposed to lift many out of poverty, give the people a voice for peaceful existence and not to be used as a pretext to fight “democracy and freedom” wars or create conflicts for your own political and economic interests.

The USA is very good at this type of “democracy and freedom wars”. Not all nations are Christian and they don't follow the Christian ethos which by the way, historically, is an ethos and culture that subjugated people using slavery, physical and  cultural genocide of native people, divide and conquer tactics, racism and colonization.

China, India and Iran have their own thousands of years of ethos and culture and combined with other non Christian countries consist of more than 70% of the world population.

They do not believe the history or culture that the world's and human progress revolved around the bible or her unbelievable stories derived from Greek and Egyptian mythology. These stories caused havoc in Middle East and other l ands that had suffered greatly for hundreds of years under these  pretext of colonial wars to “civilize” the natives.

At the present time, we know and have proof that a meritocratic communist country like China can also practice Capitalist type of economic system and able to distribute wealth much better than a so-called democratic country like the USA.

For example, China lifted 700 to 800 millions people out of poverty (more than twice the population of USA) in the last 40 years without firing a bullet to enslave or subjugate another nation. This is the essence of Socialism which is to benefit the maximum  number of ordinary citizens instead of just the 1% rich. It is an epic achievement of historical proportion esp when you know that in 1970s China's GDP was dwarfed by the USA (China's $ USD1 billion vs the USA's hundreds of billions).

Am I saying what China achieved is the “be all and end all”.? Certainly not! China still has a long way to go to give her 1.4 billion people a decent livelihood (compared to USA of 300+ million people). But she  is going to do it in accordance to the historical lessons she inherited and mould the governance to suit herself.

Till today, China does not have and universal healthcare system but neither does the USA! Can you imagine that !! Being in the same situation as China !! But China is targeting to rectify that and USA is trying to deny that to her citizens by  getting rid of Obamacare.

Why can't the USA lift up her people out of poverty and homelessness and create great infrastructures such as roads, railways, airports, high speed trains, safe bridges, renewal energy etc with the wealth they had from 1970s till now? Where has all  that USA wealth gone to? Why is it that China can do this from such a low GDP in 1970s till now and the USA can't? Where is the US creativity?

Why are the American people so docile and brainwashed that they are unable to see this great gap of deliverables by their government? Is anyone calling for a people ’s revolution in USA?

All the above mentioned infrastructures were done in China in the last 40 years and these are the proof of deliverables of China ’s governance.

No amount of fear mongering and disinformation on China can negate this kind of achievement. People are not stupid. They can see for themselves by just visiting China and that's why China wants to open up to showcase their achievement n let others judge their governance and compare  .

India is envisaged to be next in line to lift her people up from poverty so long as her leadership is united. Hopefully, she will follow the direction of China (without necessarily following China's governance) and focus on the development of her people and not just  stock markets or leaders' personal glorification. Also not to open her economy to such an extent for rabid and unruly Western exploitation like that was done to the USSR. We are eagerly watching if she can deliver and cheer her on with the hope that she is  strong enough to resist Western / USA dictates against her when she wants to trade with Russia and China.

In short, we know evil n corruption when see it.

Evil  is when the USA sanctions n strangles a whole nation and companies just because she lost the competition for technology and governance.

Corruption  is when you buy influence to those that benefit you only.

Authoritarianism  is when you put a gun at someone ’s head to ensure that your economic sanctions are obeyed and when you blatantly rip off international agreements and want to change them to your benefit like the WTO and force others to follow your rule of law.

No one respects that kind of rule of law.

The USA and the West always complain that China enforced technology transfer. This is not really correct.

Remember that when China joined the WTO in 2000, she was classified as a developing nation even till now. Under that category and playing by the rules of WTO, China can protect certain industries so that these industries can grow in her country.

The US said that Huawei telecom equipment has backdoors to spy for China but they could not show any proof. They are said to have stolen intellectual properties. However, we know for a fact that the USA spied on everyone including Germany's Angela Merkel (revealed by  Edward Snowden) using Cisco equipment, Facebook, Google and Apple. Perhaps the USA wants to ban Huawei because they cannot spy through Huawei's products. On intellectual properties, Apple sued Samsung, Samsung sued Apple; it is normal in the tech world, so for  Huawei to be embroiled in these are not uncommon.

By accident or by luck, China protected her internet based industries and disallowed Google and other internet based companies to enter their spheres. If she had opened to Google, China will not have Alibaba, Tencent, Baidu, Huawei etc and all the present subsequent emerging  industries esp

AI and 5G. Also, had she opened up to Google, she would thus have invited in a “Trojan Horse”. Now, with Google banning her from using their OS, the Chinese internet industries would have been severely crippled.

This is a lesson for the whole world. Open your economy and industries to the USA technologies and risk having your nation being ransomed (by a present or future USA administration who is mad for personal, racial and seemingly fascist type of power and has no respect  for international law) when you disagree with her policies or governance like buying gas or products from Russia or China or any country which USA wants to strangle like Iran and especially when the payment transaction are not in US dollars.

The USA / Trump at present is using the rule that if you lie loud, strong n long enough, you can get the US and other media to amplify your concern then the whole world will believe you.

Huawei n China showed their performance through facts and they followed the rule of law set up by the West to show their achievements. They did their hard work and spent money for the past 30 to 40 years on research on technology and development.

China deserves to succeed!


Friday, December 14, 2018

NAGA CHINA BERSINAR

NAGA CHINA BERSINAR
Oleh: DAHLAN ISKAN
Seluruh dunia tidak ada yang berani menantang Amerika, China tidak hanya berani, malahan telah berhasil melakukannya! Ya, Naga China telah datang!!
Kissinger pernah berkata: Siapa yang menguasai minyak, dialah yang mengendalikan semua negara di dunia, siapa yang menguasai bahan makanan, dialah  yang mengendalikan umat manusia, Siapa yang memegang hak peredaran mata uang, dialah yang mengendalikan dunia.
Tidak ada negara yang tidak membutuhkan minyak, tetapi tidak setiap negara memproduksi minyak.
Melihat peluang bisnis yang luar biasa ini, saat itu Amerika menerapkan peraturan terhadap Arab Saudi dan negara lainnya yang kaya dengan hasil minyak, bahwa semua perdagangan minyak harus dilakukan dalam dolar AS, yang berarti bahwa negara mana pun yang akan membeli minyak, untuk pembayaran impor harus menukarkan mata uang mereka ke dalam dolar AS.
Negara-negara penghasil minyak, harus menerima dolar AS sebagai pembayaran baru boleh menjual minyaknya. Dengan ancaman akan mendapat segala macam masalah jika tidak menurut.
Ini berarti bahwa perdagangan minyak dunia dikuasai oleh Amerika dengan cara yang tidak jujur.
剪羊毛 (Fleecing of the Flock- to take someone's money dishonestly, by charging too much money or by cheating them).  Mengambil uang seseorang secara tidak jujur, dengan memungut terlalu banyak atau dengan menipu uang mereka.
Mengapa bisa terjadi demikian, apa dasarnya ? Dengan dasar kekuatan pesawat terbang dan artileri Amerika, bagi Amerika kebenaran adalah apa yang berada dalam jangkauan meriam mereka.
Di bawah tinju besar hegemoni Amerika, siapa yang berani membangkang ?
Dengan mengandalkan hegemoni kekuatan dolar, Amerika telah memperoleh keuntungan dan  manfaat yang luar biasa besarnya, maka siapa saja yang menantang hegemoni Amerika, mereka pasti akan diakhiri nasibnya.
Di Timur Tengah Saddam Hussein yang ambisius menyatakan ide untuk menggantikan  dolar ke euro, akibatnya oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Colin Powell yang  hanya dengan santai memegang dan mengacungkan sebungkus bubuk cuci pakaian di sidang PBB sebagai pertanda untuk menggulingan diktator  Irak Saddam Hussein, dengan sekejab Irak telah dihancur luluhkan dan Saddam Hussein menemui nasibnya ditiang gantung. Sekarang yang ketinggalan hanya Irak yang dengan dalih  "demokrasi" telah hancur porak poranda.
Di era siapa yang kuat makan yang lemah, kapal induk Amerika adalah penegak kebenaran. Siapa memiliki kepalan tinju yang besar dialah yang berkuasa.
Jangankan Irak, bahkan dalam kubu mereka sendiri jika ada yang berani mempersoalkan hegemoni dolar Amerika, mereka akan senasib mendapat hajaran bertubi tubi tanpa ampun.
Kanselir Jerman Angela Merkel yang yang sangat berpengaruh di Uni Eropa hanya memberikan sedkit pernyataan bahwa Euro lebih sesuai untuk penyelesaian pembayaran minyak dari pada dolar, Amerika segera bertindak, krisis moneter di Yunani mengakibatkan seluruh Uni Eropa kacau balau, sehingga Uni Eropa yang kokoh kuat hampir berantakan dan babak belur, Angela Merkel tidak berani lagi sekecap pun menyebutkan euro sebagai alat pembayaran.
Amerika dengan cara menyembelih ayam untuk menakuti monyet memperingatan kepada orang lain siapa berani menyentuhnya pasti akan tamat !
Tahun 2014, Rusia dengan berani mendahului menggunakan RMB untuk melakukan perdagangan minyak dengan China, ini adalah satu letupan yang sangat mengejutkan. Setelah itu Iran juga meninggalkan dolar AS dan menggunakan RMB. Bahkan Irak, yang "dibebaskan" oleh Amerika Serikat, ikut juga bergabung dengan kubu RMB. Venezuela bahkan lebih hebat, walau menghadapi tekanan keras dari Amerika, tidak lagi menggunakan dolar AS sama sekali.
Sejauh ini, dua pertiga pembelian minyak China telah menggunakan renminbi,  dolar AS yang telah melekat pada minyak selama bertahun-tahun ditinggalkan !
Untuk sepenuhnya mematahkan hegemoni dolar, maka China memelopori, setiap eksportir minyak yang  menerima RMB sebagai pembayaran diperbolehkan untuk menukar yuan RMB ke emas di Shanghai Gold Exchange, dengan demikian akan sangat mendorong internasionalisasi yuan, kali ini Amerika Serikat benar-benar panik.
Mengikatkan minyak, renminbi dan emas, sama dengan meningkatkan kepercayaan terhadap renminbi setara dengan emas, tidak diragukan lagi akan mendorong seluruh dunia bersaing untuk menggunakan renminbi sebagai cadangan.
Setelah langkah renminbi ditukar dengan emas, selain Amerika, ada negara lain yang cemas. Negara ini adalah Arab Saudi penguasa minyak Timur Tengah. Karena tahun demi tahun  upaya China membeli minyak dari negara-negara dengan menggunakan RMB, maka pembelian minyak dari dari Arab Saudi secara drastis berkurang.
Menghadapi pasaran besar China akhirnya, Arab Saudi pada waktu akhir akhir ini terpaksa harus  menunjukan sikap lebih akrab  dengan menyatakan harapan agar bisa bekerja sama dengan lebih baik.
Bermacam-macam  indikasi menunjukan bahwa Arab Saudi, saudara tersetia Amerika di Timur Tengah, pun akan mengikuti kecenderungan menggunakan RMB.
Jangan lupa Arab Saudi adalah penguasa besar minyak Timur Tengah, sangat besar pengaruhnya terhadap penghasil minyak lainnnya di Timur Tengah, apabila Arab Saudi membelot,  blockade  minyak terhadap China benar-benar akan berantakan! Pada saat itu, China benar-benar dapat menyingkirkan cengkeraman tangan hitam Amerika! Akan terwujud semua pembayaran impor minyak akan diselesaikan dalam RMB.
Berani menghadapi Amerika sebagai penyebab masalah, ini sama dengan menyerobot makanan dari mulut harimau, Amerika benar-benar cemas dan marah !
Tahukah jika 20 tahun yang lalu, negara yang berani berbuat demikian sama saja dengan mencari mati, Amerika Serikat akan menggunakan seribu satu macam akal untuk menghilangkannya dari muka bumi hingga ampasnya pun tidak tersisa.
Namun, China saat ini bukan  seperti dulu, setelah 20 tahun menanggung kesulitan untuk mencapai ambisinya, akhirnya berhasil mempunyai kekuatan untuk melawan Amerika, Amerika sekarang bukanlah  Amerika seperti  20 tahun yang telah silam. Setelah 20 tahun memerangi disana sini, menguras perbendaharaan negaranya, negara ini yang tadinya adidaya sudah tidak lagi segagah perkasa seperti dulu.
Negara yang memilih melakukan pembayanran dengan RMB China apakah mereka penuh kesadaran seperti Rusia, ataukah seperti Iran yang bertahun tahun dengan sekuat tenaga bertahan terhadap tekanan Amerika atau Venezuela, ataukah, Irak yang baru sadar setelah ditipu, dihancurkan oleh Amerika, semua berani berdiri dan membangkang. Dan lagi yang membuat mereka lebih  kuat dan berani  dikarenakan mitra mereka adalah China  yang diakui oleh dunia sebagai satu-satunya negara yang berani bertanding dengan Amerika.
Sebaliknya Amerika, negara kuat yang berkelahi dimana mana, menghabiskan kekuatan dan uang, utang negara menjadi bertumpuk tumpuk. Hingga membuat tragedy menutup Kongres. Setelah Trump berkuasa, terjadi kontraksi global demi melindungi diri mereka sendiri.
Bagaimanapun murkanya menghadapi merosotnya dolar, jika sebab ini akan menantang China yang sedang bangkit, benar-benar bukanlah pilihan terbaik bagi Amerika yang sedang mendekati akhirnya sebuah era.
Dalam beberapa tahun terakhir Amerika Serikat dimana-mana menjegal China di Lautan Selatan dengan gila gilaan mengganggu, mengancam China, Amerika melalui cara ini mengeluarkan rasa kemarahan hatinya. Tidak heran beberapa sarjana di Amerika mengeluh:  bahwa 20 tahun lalu karena kurang hati hati tidak dengan sengaja melepaskan China membuat Amerika Serikat menjadi sangat pasif hari ini !
Tentunya semua tahu bahwa kebangkitan China saat ini diperoleh dengan penuh kepedihan cucuran darah dan air mata. 
Ketika AS membom kedutaan China, China bertahan mengekang kemarahan. Ketika Amerika menabrak pesawat militer di Laut China Selatan, China bersabar !
Tahun 1996 saat krisis di Selat Taiwan Amerika menutup GPS dua kapal induk China di Selat Taiwan. China masih bersabar.
Saat ini, situasi di laut selatan sudah mantap. Proyek reklamasi lahan China di Gudao telah mengejutkan dunia. Vietnam memprovokasi Xisha dipukul mundur. Presiden Filipina yang anti-Tiongkok turun panggung dan akan segera diadili.
Arbitrasi Laut Tiongkok Selatan yang diprakarsai oleh Amerika Serikat tidak ada lagi juntrungannya. Jepang membeli Kepulauan Diaoyu jadi dagelan, sekarang patroli Kepulauan Diaoyu oleh China telah normal  kembali. Tidak hanya itu, kapal perang dan pesawat terbang China juga terus melaju melintasi laut Jepang, Jepang sangat marah dan tidak henti hentinya memprotes. Sebagai tanggapan, dengan galak China menjawab: "jika berkali kali kami lintasi, Jepang akan merasa terbiasa !"
Di dekat pulau karang (島礁 Daojiao) di mana militer Indonesia pernah mendarat, para ilmuwan China mengumumkan penemuan sebatang tanaman yang terancam punah, beberapa puluh kilometer sekelilingnya dibuat pagar dan dinyatakan sebagai  kawasan lindung dan siapapun dilarang masuk. Ketika berita itu keluar, netizen tertawa dan berkata: Ini adalah sebatang  pohon yang memenangkan kejayaan bagi negara.
Saat ini, di Tiongkok teleskop Tianyan telah menjadi teleskop radio terbesar dan termaju di dunia, manusia mendengarkan suara alam semesta, semua melihat China !  
Sekarang ponsel Huawei China telah mulai muncul,  Samsung sudah menurun ke low end, sering macet dan meledak. Bebrapa model tidak boleh dibawa keatas pesawat. Sedangkan sambutan terhadap pemasaran Apple 8  semakin kurang populer, yang berbaris mengantri pun banyak berkurang.
China telah memulaikan One Belt One Road,  menambahan banyak rute, perdagangan global tidak lagi monopoli Amerika Serikat. Kereta api Changan yang  megah dengan ratusan rentengan kereta barang bagaikan naga yang panjang, membuat setiap orang di negara yang dilewati berbaris sepanjang jalan kagum melihanya, sambil berseru: Naga China telah datang. 
Saat ini, pembayaran elektronik melalui China Mobile telah meningkat secara menyeluruh, bahkan kakek penjual ubi panggang bisa dibayar menggunakan WeChat. Pada hal saat ini di Amerika Serikat masih mengandalkan kartu kredit yang sudah ketinggalan zaman. Banyak orang Barat yang tinggal di China ketika kembali ke negaranya merasa tidak semudah di China. Mereka semua mengatakan bahwa China adalah masyarakat tanpa uang tunai, dan negaranya sendiri terlalu terbelakang. 。
Generasi kelima dari pesawat tempur siluman berat 歼 (jian) -20 telah digunakan. Untuk menghadapi pesawat tempur siluman Amerika. China sudah memiliki ”Bendera Merah” seri ke-9  rudal pertahanan udara, yang membuat pesawat tempur AS tidak lagi berani melanggar wilayah udara China.
Teknologi kapal selam nuklir China telah sepenuhnya ditingkatkan. Sangat menakjubkan kapal induk buatan China sendiri telah berturut-turut diluncurkan.
Armada China  telah memiliki rudal seri Dongfeng 21D, yang dapat dengan mudah menghancurkan armada kapal induk AS.
Setelah berita itu tersebar, garis pertahanan kapal induk AS dengan segera mundur ke jarak 400 kilometer dari China.
Kini China memiliki pesawat peringatan dini (early warning aircraft) model baru, pembom strategis model baru, pesawat angkut besar type 運(yun)20, helikopter tempur, helikopter angkutan berat 武直(wuzhi) 10, 武直(wuzhi)19,  武直 (wuzhi) 20. dan seterusnya sangat mempesona.
Ini adalah kecepatan China ! Ini adalah pertahanan nasional China. Keperkasaan Naga China telah dipertunjukkan.
Seratus tahun yang lalu, China telah mengalami Perang candu, Perang Pemberontakan Boxer melawan aggressor gabungan 8 negara , Perang Sino-Jepang dan sebagainya, menderita penghinaan dan penderitaan yang tak terhingga.
Seratus tahun orang-orang China bekerja keras, tekun dan menahan penderitaan. Dengan tekun membuat bom nuklir, pesawat terbang, tank.  Apa yang musuh tidak miliki, China juga buat ! 
Akhirnya, China hanya menggunakan waktu 60 tahun telah mengejar 200 tahun kecepatan Barat ! Dengan kucuran darah dan air mata leluhur mereka mencapai keberhasilan hari ini! Kejayaan Naga China ada di pelupuk mata. 
Ketika China tiba-tiba mengeluarkan pedang muzizat, memotong putus hegemoni dolar AS, Amerika tiba-tiba menditeksi bahwa dengan berlalunya waktu, sekarang China telah bangkit dan kuat bukan lagi China dulu yang dikendalikan oleh Amerika. Mereka tidak dapat lagi mencegah Naga China melangkah kan kaki menuju kejayaan.  
Saat ini, China dalam gelombang nuklir bergerak maju dengan kecepatan  yang mengejutkan dan telah membuat terobosan satu demi satu. Bangsa China  berharap anak-anak China akan menggunakan usaha mereka sendiri untuk menyinari kemakmuran bangsa China. 
Dari pada mengatakan China membuat keajaiban, lebih tepat jika dikatakan  bahwa China adalah sebuah keajaiban !  
Negara besar, China harus melipat gandakan upayanya untuk memulihkan kembali kejayaannya.
Naga  China bersinar  earah dengan 21st century  !

Friday, November 30, 2018

INTERNET PROTOCOL VERSION 9

INTERNET PROTOCOL VERSION 9
Berita bagus dan mengapa Washington menyimpan begitu banyak rasa iri dan benci terhadap China:
Setelah menonton video "National Sovereign Network IPV9 secara resmi diresmikan", saya menyadari mengapa keamanan cyber adalah keamanan nasional dan apa yang memungkinkan Pemerintah Amerika Serikat untuk mengumpulkan begitu banyak kekayaan dari setiap negara lain di dunia.
Hari demi hari dan setiap kali kami menjelajahi internet, baca email kami, WeChat, QQ, WhatsApp, dll., Dan gunakan WiFi untuk alasan apa pun termasuk streaming video di ponsel cerdas dan smartTV, kami harus menggunakan Protokol Internet Version 4 (IPV4) milik Amerika Serikat. Ini adalah server induk dan server root utama untuk WWW atau Internet di seluruh dunia.
China telah menandatangani perjanjian dengan Amerika Serikat untuk menyewa Internet di seluruh dunia selama 20 tahun dari tahun 2000. Setiap tahun, China dan seluruh dunia telah, dan saat ini masih membayar sewa ke monopoli Amerika Serikat. Sewa tahunan meningkat dengan peningkatan penggunaan yang terus meningkat, termasuk 500 miliar pada tahun 2007 dan 1,8 triliun pada tahun 2017. Pada akhir 2020, diperkirakan akan lebih banyak lagi yang hanya sewa dari China saja! Setiap negara lain di dunia juga membayar sewa untuk penggunaan Internet ke AS. Berapa banyak transfer kekayaan itu! Bagaimana bisa suatu negara tidak menjadi kaya ketika ia memiliki monopoli humungus seperti itu? Jika orang Amerika biasa tidak menerima bagian dari rejeki tak terduga ini, maka elit negara mereka seperti Trump, Clinton, Bush, bankster Wall Street seperti Goldman Sachs, dll., Mungkin dapat dibuat untuk membocorkan rahasia mereka.
Untungnya bagi China (juga sangat mungkin untuk negara-negara Dunia Ketiga) pada tahun 2014, China secara mandiri mengembangkan server induk IPV9 (Internet Protocol Version 9) dan server root utama dengan hak kekayaan intelektual independen. Setelah mencapai lompatan kuantum ini, China mencoba bernegosiasi dengan Amerika Serikat untuk memperkenalkan kepada dunia protokol IPv9 barunya. Tidak mengherankan, itu ditolak.
Kemudian pada tahun 2015, sebuah tim delegasi China ahli teknologi meluncurkan dan memberikan pengenalan uji IPV9 kepada anggota Majelis Umum PBB. Tim ahli dapat membuktikan bahwa baik keamanan dan kualitas IPV9 jauh melebihi IPv4 dan IPv6 Amerika Serikat.
Kedua negara itu kemudian diberi kesempatan untuk mempresentasikan kasus mereka pada akhir sidang Majelis PBB yang sangat mendukung IPV9 China.
Setelah diskusi lebih lanjut, Majelis Umum PBB menyerahkan pengelolaan internet di seluruh dunia ke China selama 100 tahun. Artinya, ketika sewa saat ini dengan AS berakhir pada 2020, China akan mengasumsikan kepemimpinan dan manajemen internet di seluruh dunia dengan server induk IPV9 superlatif dan server root utama.
Semua stasiun penerima dan pemancar di Tiongkok kini telah selesai. Hingga saat ini, 25 negara telah menandatangani perjanjian sewa-beli dengan Tiongkok dengan negara lain di dunia untuk mengikuti. Pada 2019, IPV9 akan dimasukkan ke dalam operasi uji coba. Ketika sewa dengan AS berakhir pada 2020, IPV4 Amerika Serikat lama dan usang akan ditutup dan Internet generasi baru China, yaitu "Internet of Things IPV9", akan mulai beroperasi. Jika Internet IPv4 dan IPv6 membuat Amerika Serikat cemerlang, maka Internet of Things IPV9 akan membawa kemuliaan dan berkah yang luar biasa ke China dan seluruh dunia selama seratus tahun ke depan!