Showing posts with label morowali. Show all posts
Showing posts with label morowali. Show all posts

Thursday, June 11, 2020

FIELD TRIP REPORT PT. IMIP

FIELD TRIP REPORT - PT IMIP, MOROWALI, SULAWESI TENGAH.

Tulisan berikut laporan pandangan mata langsung dari seorang kawan di perusahaan RRC yang beroperasi di Sulawesi.

Dear teman2, terkait masalah Cina ini saya ada pengalaman menarik ketika diberi kesempatan ke Morowali, atas kebaikan komandan KBL. 

Melihat salah satu perusahaan pertambangan nikel di sana. 

Yang sudah memiliki smelter  jadi nikel di ekspor bukan dalam bentuk bijih nikel, melainkan dalam bentuk lembaran-lembaran nikel.

Kebetulan pemiliknya adalah orang Cina. 

Saya ingin berbagi kekaguman dan keheranan melihat susana di sana.

Saya terasa berada di luar negeri. Baik dalam cara hidup dan bekerja.

Paling tidak saya teringat ketika tinggal di daerah Caltex, tempat orang tua saya bekerja.

Saya tidak memihak dan tidak ada urusan dukung mendukung terkait dengan banyaknya tenaga asing yang masuk akhir akhir ini dan jadi pembicaraan hangat ditengah merebaknya wabah covid-19.

Tapi ingin berbagi dari sudut pandang yang berbeda, seperti dibawah ini.

Sehingga kita tidak perlu bertanya-tanya lagi. Atau bahkan membuat konklusi sendiri yang kadang jauh dari kenyataan.

1. Kawasan industri dibangun selayaknya kawasan industri moderen yang baik dan benar.

Mensyaratkan adanya living space, public health, food service, dan government authority

A. Dengan adanya Living Space  (tempat tinggal) yang dekat dengan pabrik, maka karyawan tidak memerlukan kendaraan untuk berangkat kerja. Biaya kredit kendaraan dan bbm menjadi NOL. Mereka tidak perlu stress memikirkan kredit bulanan motor dan biaya lainnya. Tempat tinggal mereka sekelas apartemen atau rumah susun menengah atas, dengan sewa yang relatif murah (500 ribuan per bulan)Bayangkan di lokasi lain, karyawan hanya menyewa rumah sederhana di sekitar pabrik. Bahkan tidak jarang jauh dari pabrik. Kelelahan menuju pabrik saja sudah membuat mereka stress.

Living Space ini dikelola oleh perusahaan khusus.

Memastikan pembayaran tepat waktu dan kebersihan terjaga. Sepelemparan batu dari sana terdapat lapangan futsal, badminton, dan volly. Dibuka hanya pada jam tertentu dan saat libur.

Oh ya, per enam bulan mereka dapat pembagian sepatu dan seragam khusus.

B. Dengan adanya Public Health, karyawan tidak memerlukan lagi antri berjam-jam di rumah sakit jika ada gangguan kesehatan. Jika tidak ada, bisa dibayangkan hanya untuk memastikan flu biasa atau sakit yang lainnya, di pabrik lain karyawan perlu izin sehari. Di sana karena ada sekitar 10 klinik dengan sekitar 15 dokter dan ratusan perawat, maka dalam setengah jam mereka sdh bisa diperiksa. Apakah perlu izin istirahat atau tetap bekerja. Obat-obatan disediakan gratis. Karyawan bisa berhemat waktu dan uang. 

C. Dengan adanya Food Service, kita tidak akan melihat ribuan karyawan keluar pabrik dan makan di pinggir jalan. Warung kumuh sebagaimana halnya dengan pabrik di tempat lain (Jakarta dan Bekasi, misalnya) Kesehatan mereka menjadi  taruhannya. 

Tapi di sini,  makan mereka diantar ke tempat istirahat dan mereka bisa makan dengan tenang kemudian sholat. Kebersihan makanan sudah sangat tentu terjaga. Tanpa perlu ke luar area pabrik.

Mereka butuh sekitar 1000 ekor ayam dalam satu hari. 400 kg telur.  Ratusan kilo sayur dan buah. 1.2 ton beras yang dimasak hanya sekitar 45 menit dengan peralatan yang super modern. Beras masuk ke dalam mesin.  Dicuci dan dimasak langsung. 45 menit kemudian, cling.... jadi nasi. Puluhan orang kemudian memasukan nasi tersebut ke dalam kotak khusus tempat makan. Dilengkapi kemudian dengan sayur, buah dan kerupuk. Siap antar ke tempat masing-masing divisi, melalui troli-troli khusus.

Oh ya, sekali menggoreng kerupuk 400 kg untuk satu hari. Maklum orang kita suka makan dengan kerupuk. Kuali penggorengnya sebesar kuali orang betawi memasak dodol. Chef nya beberapa dari hotel terkenal di Jakarta. 

Cold storage nya mampu menampung bahan makan untuk seminggu lebih. Tidak terbayangkan saat kondisi pandemi covid-19 ini. Bagaimana mereka memenuhi bahan makanan ini (?). Atau saat Lebaran dan tahun baru dimana semua harga melonjak. Padahal karyawan harus tetap makan. 

D. Government authority saya lihat ini belum berjalan baik. Khususnya pemda setempat.  Nanti lain waktu saya ceritakan. Bagaimana tabiat orang kita "mencuri dalam kesempatan"

Keempat syarat itulah yang dibutuhkan dalam suatu kawasan industri modern. Kawasan industri lainnya di Indonesia jarang ada yang menerapkan demikian. 

Jadi jangan heran investor memilih negara lain dibandingkan dengan Indonesia.

Itu sebabnya Presiden Jokowi heran tahun lalu. Mengapa sedikit sekali investor yang memindahkan perusahaan mereka ke Indonesia. 

Seharusnya masalah living space di atas bagian dari kebijakan pemerintah. Paling tidak dalam hal menyiapkan lahannya.

Di Indonesian Morowali Industrial Park (IMIP) mereka membuatnya sendiri.

Ini agaknya harus menjadi catatan khusus pemerintah jika ke depan hendak mendirikan _industrial park_.

Keempat syarat di atas menjadi mutlak.

2. Dengan kondisi pelayanan seperti di atas, ternyata masih banyak karyawannya yang tidak betah. Khususnya yang berasal dari Indonesia. 

Mengapa bisa terjadi demikian?

Barangkali cerita dibawah ini bisa menjelaskannya.

3. Ketika sampai di lobby penginapan. Saya terkagum-kagum. Semua ruangan sangat simpel. Gedung hotel sekelas bintang lima tersebut sengaja didisain tidak rumit. Namun tetap menarik. Sepertinya mereka memikirkan dalam hal memudahkan perawatan. 

Meja resepsionis clear dari barang-barang yang tidak perlu. Semacam pernak pernik hiasan dan ukiran. Hanya ada bel kecil dan balpoint serta kertas.

Model kursi dan sofa nya juga tidak rumit dan penuh ukiran. Tentu sangat memudahkan untuk dibersihkan pula.

Demikian juga dengan struktur bangunannya. Semuanya memudahkan untuk dibersihkan. Tapi tetap memenuhi estetika sebuah hotel berbintang secara arsitektural. 

Tidak ada ukiran dan lukisan mewah. Tapi tetap menarik. Petugas resepsionisnya hanya satu orang. Lobby yang lapang dan lega serta langit-langitnya yang tinggi membuat sirkulasi udara menjadi bebas. Tidak ada patung mewah dan lukisan mahal terlihat. 

Memasuki restoran ketika sarapan semua tampak sederhana dan lengang. Menunya pagi itu ada ala western, chinese, dan Indonesia.

Saya heran, kok lengang dan tidak ada yang sarapan? 

Ketika saya tanya mengapa sepi. Dijawab oleh petugas restoran, bahwa semua sudah sarapan dan berangkat kerja. Ok

Siangnya ketika saya datang sekitar jam satuan untuk makan juga begitu. Restoran  itu juga terlihat sepi. Jawabannya sama. Semua sudah makan dan berangkat kerja. 

Esok paginya saya sengaja datang lebih awal. Jam setengah tujuh. Baru terlihat para ekspatriat makan. 

Semua tertib. Tidak ada yang ngobrol sambil makan. Selesai mengambil sarapan, makan. Selesai makan langsung ke luar restoran. 

Sementara saya selesai sarapan ngobrol-ngobrol dulu dengan rekan satu team. Ngalor ngidul sebelum berangkat survey. Giliran mereka yang heran melihat saya demikian.

Oh ya, di tiap meja restoran hotel sekelas bintang lima itu tidak ada pernak pernik hiasan semacam bunga cantik kecil dalam vas unik. 

Begitu efisiennya mereka dalam hidup. Buat apa lukisan mahal, patung berkelas, bunga hidup dan vas cantik? Bukankah semua itu pemborosan?

Trus mengapa saya bisa mengatakan hotel itu sekelas bintang lima?

Memasuki kamar hotel dan melihat fasilitas di dalamnya baru terasa.

Sorenya saya ke living space. Semua terlihat rapi. Ada kantor pengelola di sebelah kanan lobby dan kantin/mini market di sebelah kirinya. Semua yang masuk melepaskan alas kaki. Itu sebab lantainya licin dan mengkilap. Jauh dari kesan hunian buruh pabrik.

Kemudian dijelaskan oleh pengelola mengenai aturan tinggal di sana. Antara lain yang jualan kue dari penduduk setempat tidak boleh masuk ke areal tempat tinggal. Hanya boleh di luar pagar. Begitu juga dengan laundry. Tempat olah raga hanya dibuka pada sore hari dan diwaktu libur. Di luar itu tidak boleh. 

Melihat “mini marketnya" saya jadi ingat KPK dengan program nya kantin jujur. Silahkan ambil barang. Catat dibuku yang sudah disediakan. Kemudian masukan uang pada kotak disebelahnya sesuai jumlah harga yang kita beli. 

Aturan lainnya,  dilarang juga bergerombol dan ngobrol di luar apartemen. Ada ruangan yang disediakan. Serba tertib dan penuh aturan.

Pantesan suatu sore ketika saya menuruni hotel menuju kolam renang dan pantai tidak ada satupun yang berenang dan main di pantai. Baik pagi maupun sore hari. Jangan-jangan peraturan yang berlaku di apartemen ini juga berlaku buat direksi.

Saya yang tadinya mau berenang di hari biasa jadi mengurungkan niat.

Dugaan saya benar. Ketika saya tanya kepada petugas yang berkeliling, mengapa sepi dan tidak ada yang berenang. Kan bukan hari libur pak, jawabnya. Demikian juga di pinggir pantai. Tidak ada satupun yang terlihat.

Sorenya ketika hendak kembali ke Jakarta via Kendari, saya berkesempatan naik pesawat Cessna barengan dengan beberapa direksi.  

Menuju ke private bandara (mereka memiliki lapangan udara sendiri) saya melewati beberapa bangunan pabrik. Dari luar terlihat sepi.

Saya membayangkan yang bekerja di dalam tentu sangat sibuk sekali. 

Hampir 40 ribu tenaga kerja dalam tiga shift (35 ribu orang Indonesia, 5000 ekspatriat Cina). Karena menggunakan teknologi tinggi (konon pertambangan nikel yang diolah langsung menjadi lembaran lembaran nikel itu menggunakan teknologi moderen dan canggih) , maka semua harus disiplin.  Jika tidak tentu hasil akhir yang akan jadi taruhan. Dan disiplin itu harus dimulai dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari cara hidup di living space. Memanfaatkan public health dengan benar. Dan tentunya makan tertib dengan menu yang sudah disediakan. Termasuk mengikuti jadwal olah raga yang sudah ditetapkan. 

Sore yang cerah itu pesawat Cessna berpenumpang 10 orang itu terbang dengan tenang. Setenang laut biru teluk Morowali dibawahnya. Mengantarkan rombongan ke Bandara di Kendari. Kembali ke Jakarta dengan pesawat berikutnya. 

Semoga anak-anak muda dari sekitar Sulawesi dan beberapa wilayah lainnya di Indonesia yang bekerja di sana dapat beradaptasi dengan model kerja dan kehidupan di pabrik canggih tersebut, sembari menyerap ilmunya. 

Kuncinya hanya satu: DISIPLIN.

Konon kabarnya sebentar lagi akan berdiri pula pabrik battery yang bahan utamanya nikel. Tentu membutuhkan pekerja yang banyak dan harus memiliki kedispilinan yang tinggi pula. 

Karena dari teknologi yang hanya menghasilkan bijih nikel, tentu berbeda dengan teknologi yang menghasilan nikel dalam bentuk lembaran. Apalagi kalau sudah berubah menjadi battery. Tentu lebih tinggi lagi teknologi dan kedisiplinan yang diperlukan.

B. No Note: Mengenai government authority nanti saya akan cerita kalau momennya pas..

Sunday, May 10, 2020

SEMBURAN RASIS MOROWALI

Langkah kecil sebagai pijakan menuju Indonesia Raya

Sama dengan orang memilah sampah, selalu aduk dan aduk. Demikian pula bila sampah memenuhi mulut,  mereka senang dengan mengaduk aduk. 

Rasisme seharusnya tak lagi memiliki ruang dalam benak kita. Terlalu kuno. Terlalu jauh dari nilai logis untk menjadi perdebatan dalam ruang pikiran kita.

Ingat narasi Presiden saat Uni Eropa ingin menggugat Indonesia ke WTO atas larangan ekspor nikel dalam bentuk ore? "Siapkan lawyer terbaik..!!" Itu jawaban Presiden. Jawaban logis dari pernyataan logis yang dilontarkan oleh EU.

Itu dulu. Dulu para petinggi EU berpikir bahwa masalah hukum diselesaikan melalui jalur hukum. Kita dapat berdebat disana.

Namun para kapitalis itu sangat paham bahwa berbiaya hukum akan sangat mahal. Disisi lain, mereka mengerti bagaimana mentalitas para politisi Indonesia. Mentalitas para politisi yang berseberangan dan apalagi birokrat yang sakit hati karena sudah tak terpakai.

Menyewa mulut penuh sampah para oposan dan mantan birokrat dalam barisan sakit hati yang pernah dipecat berbiaya murah sekaligus akan berdampak besar. Mereka akan terima hasil lebih besar daripada apa yang mereka beli. Ya.., mereka mendapatkan ember dengan harga gayung.

Bukan tentang nasionalisme para oposan ini berikhtiar, ini tentang kekuasaan yang ingin direbutnya..! Bukan tentang bagaimana birokrat seharusnya mengabdi pada negara, ini selalu tentang berapa banyak uang ingin mereka timbun.

Dalam revisi Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, smelter adalah kewajiban. Jokowi sebagai Presiden hanya menjalankan amanat undang undang dan kini dia harus bertempur dengan EU karena itu. Salahkah?

EU tak mau berinvestasi dan membuat smelter dengan banyak alasan. Mereka hanya ingin beli barang mentah. Mereka menggugat ke WTO atas UU yang dubuat pada era SBY yang kini dijalankan oleh Jokowi.

Mempersiapkan dan membangun smelter dinilai lebih mahal daripada menggugat produk UU negara kita di WTO, dipilihlah gugatan ke sana. 

Membuat efek dramatis seolah akan membuat takut seorang Jokowi dengan ancaman dan  larangan ekspor sawit ke Eropa, justru efek yang sama didapat dari bagaimana ekspresi kaget mereka ketika Jokowi menjawab "ga mau beli ya ga apa-apa..., saya makan sendiri..!"  dan disel B30 menampar kemustahilan EU.

Pada sisi lain, China melihat dengan cara berbeda. China melihat tantangan Indonesia bukan sebagai hambatan, namun sebagai peluang. 

Mereka tahu bahwa masa depan adalah lithium, maka diambilah peluang itu. Tidak ada hal politis disana. Ini murni masalah bisnis dan bisnis adalah tentang untung dan rugi.

China menawarkan diri menjadi investor. China siap menginvestasikan miliaran dolar bukan hanya demi smelter, bahkan pabrik baterai mobil, sekaligus pabrik besi dan turunannya dibangun disana.

Apa yang akan terjadi? Dalam waktu singkat saja, produk unggulan Eropa yakni besi nirkarat atau stainless steel akan mendapat saingan dari Indonesia.

Bahan baku baterai yakni nikel akan hilang dari Eropa, padahal kebutuhan mereka sedang sangat tinggi akibat trend mobil listrik yang kini jadi primadona di Amerika dan Eropa.

Tiba-tiba muncul pabrik baterai mobil bertehnologi tinggi di Morowali. Investasi dan alih tehnologi dari China akan mendongkrak posisi Indonesia menjadi pusat industri mobil listrik dunia.

Morowali akan menjadi bagian dari salah satu kota prestisius dunia. Bangga?

“Haruskah barat marah?"

Kedigdayaan adalah soal keunggulan dalam banyak bidang. Kedigdayaan barat sedikit demi sedikit sedang tergerus. Superioritas mereka dalam banyak hal secara perlahanpun sedang beralih ketimur dimana Indonesia adalah salah satunya.

Nikel sang calon primadona dunia sebagai lithium dalam baterai adalah tentang bagaimana energi bersih tersimpan. Bukankah energi bersih adalah tentang masa depan? Ya.., kesanalah dunia sedang berjalan.

Secara bersama masyarakat dunia sedang bergerak menuju tempat yang lebih baik dan bersih. Energi fosil yang dianggap kotor secara perlahan ditinggalkan. Mereka melihat masa depan yang bersih dan sehat itu ada pada lithium, benda ajaib dalam bentuk baterai yang mampu menyimpan energi bagi semua kebutuhannya.

Nikel sebagai bahan terbaik bagi pembuatan lithium serta merta menjadi primadona, jadi rebutan siapapun. Dan barat kini gigit jari akibat sikapnya sendiri.

Ada apa dengan Morowali?

Disanalah cikal bakal primadona itu sedang diwujudkan. Disana raksasa dengan sisipan DNA super perkasa industri baterai mobil listrik sedang menggeliat. 

Tunggu saja apa yang akan diberikan kepada bangsa dan negara saat dia telah bangun dan bekerja. Sesuatu yang sangat besar. Sesuatu yang dalam mimpipun tak pernah ada sebelum presiden yang satu ini hadir.

Dari sana pulalah pabrik besi nirkarat yang hanya mampu dibuat oleh segelintir bangsa  akan segera lahir demi memenuhi takdirnya menjadi tulang perkasa penyangga republik ini.

Disana, pernah pintu itu ditawarkan kepada Eropa, namun mereka menolaknya. Kini pintu itu telah ditutup, disana partner kita, partner yang lebih mengerti dan lebih memahami kita sudah bekerja. 

"China bukan partner, PKI adalah musuh..!!"

Narasi tak kenal malu sekaligus menunjukkan betapa bodoh para pemilik mulut sampah itu berteriak adalah bukti bahwa mereka sedang sekarat.

Sampah dalam mulutnya kini sedang berubah menjadi racun yang akan membunuhnya.

Mereka yang sudah gila akibat dendam dan kebencian ini kini semakin ngawur. Mereka tak pernah belajar sejarah tapi berteriak sejarah.

Mereka yang hanya tau bentuk baju berteriak seolah paling beragama dan Tuhan adalah sekutu yang kapan saja dapat diperintah dan dikerahkan.

Untuk mendapatkan sumber tenaga listrik hingga 3000 MW atau sepertiga dari jumlah keseluruhan tenaga listrik di Jawa, harus dibangun Paiton dan Suralaya. Butuh waktu puluhan tahun. Di Morowali tenaga listrik sebesar itu sudah terbangun.

Investasi China di Morowali yang membawa 2700 pekerja dari negaranya, ternyata telah membuka atau menciptakan 45.000 pekerjaan bagi masyarakat kita.

"Apa gak kebanyakan 2700?"

Aturan tentang banyak sedikitnya pekerja asing yang boleh dan tidak boleh kerja di Indonesia tertuang dalam Perpres Nomor 20 tahun 2018 yang terdiri dari 10 bab dan 39 pasal yang membahas mengenai TKA. Apabila ada pelanggaran, gugat saja. Tidak perlu berpolemik soal jumlah yang mengaburkan hukum itu sendiri.

"Tetap saja kebanyakan..! Pokoknya kami menentang pekerja dari China..!!".

Jumlah investasi China di Indonesia adalah US$ 4,74 miliar atau kira-kira Rp 70 triliun dalam bentuk 2.130 proyek. Sementara, total jumlah pekerja China di Indonesia adalah 23.000 orang. 

Bila ingin berlaku adil seharusnya Indonesia juga harus berinvestasi ke China paling tidak senilai US$ 16 miliar atau Rp 240 triliun demi 80.000 warganya yang sudah dan sedang bekerja di China. Sudahkah?

Sungguh..,dengan jelas semut diseberang sungai tampak namun gajah dipelupuk mata tak mampu kita melihatnya.

"Jokowi tetap gak adil, masa rakyatnya sendiri dirumahkan, 500 orang China malah diijinkan masuk saat pandemi??"

Peraturan Menteri Hukum dan HAM nomor 11 tahun 2020 pasal 3 ayat (1) huruf f dimana menyebut orang asing yang akan bekerja pada proyek strategis nasional tidak dilarang masuk Indonesia selama pandemi Covid-19. 

Proyek strategis adalah ranah negara menentukannya, bukan segelintir ahli ekonomi dan filsafat berolah kata.

Menjadi makin jelas bahwa mereka, para politisi dan birokrat itu tidak lebih dari maling yang berteriak maling. Tak mungkin mereka tak tau ada PERMEN tersebut. 

Mereka mencuri keuntungan dalam keriuhan pandemi ini dari rakyat yang memang tak harus paham adanya aturan ini. Ya..,mereka teriak pemerintah maling namun merekalah yang mendapat keuntungan seolah 500 TKA tersebut batal datang gara-gara kepahlawanan mereka.

Tampak jelas bahwa para pecundang itu adalah antek asing yang sesungguhnya. EU yang menggugat ke WTO, mereka yang ribut menunggangi pandemi sebagai peluang.

Tidak ada keberuntungan asing dinikmati lebih dari apa yang EU dapatkan. EU hanya perlu keluar uang seharga gayung namun ember mereka dapatkan. Kericuhan anti China didapat dengan harga murah.

Sejarah mencatat baik etnis Cina maupun Arab sudah ratusan tahun tinggal bersama kita. Trus kita dengan congkak dapat membuat garis batas antara pri dan non pri? Siapa yang bisa menjamin bahwa darah yang mengalir dalam tubuh kita 100%. Indonesia? 

Tak ada satupun diantara kita memiliki privilege untuk memilih menjadi anak si China, Arab bahkan pribumi. 

Bila kita percaya bahwa menjadi anak siapa adalah murni hak Tuhan, mungkinkah Tuhan sebagai pihaka yang telah LALAI bila kerumitan cara berpikir manusia rasis itu adalah kebenaran?

Sopan santun, saling tolong adalah apa yang dulu menjadi milik kita. Gotong royong adalah moto kita sebagai bangsa beradab yang dengan mudah kita cari jejaknya. Rasis sama sekali tak ada dalam DNA kita.

Bukan tentang China atau barat akan kita pilih untuk menjadi partner kita. Menjadi negara besar dengan basis ilmu pengetahuan dan teknologi terdepan adalah arah yang sedang kita tuju. Di sana, masa depan penuh senyum anak cucu kita, tergantung pada apa yang kita putuskan hari ini.

"That's one small step for man, one giant leap for mankind" Morowali adalah langkah kecil tersebut. Disana, masa depan Indonesia akan mendapatkan pijakannya demi langkah yang jauh lebih besar menuju Indonesia Raya.

Ayo Semangattttt!!!


Friday, February 14, 2020

RACIKAN JOKOWI

RACIKAN JOKOWI

Diitulis oleh: Rudy Soekarno

Racikan Jokowi Untuk Indonesia Dimata Dunia

Sang penguasa dunia sedang sakit. Tubuh tambunnya kini terlihat lemah dan bergerak sangat lamban. AS negara adidaya itu jatuh dan terjerembab dengan luka paling parah dan jumlah korban meninggal paling memilukan di negara tersebut.

AS sedang terpuruk. Tertatih-tatih sang jagoan no. 1 dunia itu mencoba bangkit, namun beban tambun tubuh dan banyaknya luka membuat dia hanya mampu terduduk lesu.

Mungkinkah  kepemimpinan dunia sedang beralih?

Dolar AS sampai hari ini masih menjadi mata uang dunia. Salah jalan dolar dalam pengembaraanya telah membuatnya bukan lagi menjadi alat tukar, dolar telah berubah menjadi komoditas. Komoditas yang berbentuk uang. Sehatkah orang memiliki wajah ganda?

Siapa menguasai minyak adalah siapa yang memiliki dunia, itu adalah moto AS dan para kapitalis yang berdiri dibelakangnya. Namun minyakpun telah salah jalan, dia membunuh terlalu banyak manusia dan merusak alam.

Dua kekuasaan besar tersebut kini sedang sekarat dan menunggu ajalnya. Seperti baju zirah, pelindung itu kini justru membebaninya.

Dolar yang sudah sejak 50 tahun lalu berjalan pada arah yang salah sedang menunggu saat jatuhnya. Tak ada lagi underlaying dalam bentuk emas atau apapun dalam pencetakannya.

Disisi lain, uang elektronik China yang memakai underlaying emas sudah mulai beredar. Dengan kekuatan ekonomi China yang sangat spektakuler dan menguasai seluruh perdagangan dunia, jelas sudah, ini adalah ancaman. Hanya masalah waktu saja dolar akan meredup.

Dimulai dengan Kesepakatan Iklim Paris 2015  pengurangan pemakaian Bahan Bakar Minyak terjadi dimana-mana.  Mereka melirik pada tekhnologi Lithium.

Lithium, sang takdir pembunuh minyak sudah tumbuh makin dewasa. Periode dan kejayaan minyak sedang terus digerogoti oleh hadirnya sang penyimpan energi yang jauh lebih bersih dan terbarukan.

Mata dunia, terutama generasi milenial yang sebentar lagi menguasai panggung politik dan disisi lain sebagai kaum yang sangat peduli dengan lingkungan sedang menengok kesana. 

Lithium adalah masa depan, Lithium adalah baterai, dan Lithium adalah Indonesia. 

Lho koq???

Ingat Uni Eropa menggugat Indonesia di WTO beberapa waktu silam?  Ingat Uni Eropa memboikot sawit kita?

Saat digugat di WTO karena kebijakan tak lagi mengijinkan ekspor nikel dalam bentuk ore Jokowi dengan Pe-De nya bilang "SIAPKAN LAWYER TERBAIK..!!" Dan saat sawit di boikot, dengan ekspresi muka ngenyek dia bilang "GAK MAU YA SUDAH..,SAYA KONSUMSI SENDIRI.."  dan..., Eropa kaget karena dari Indonesia langsung muncul disel B30.

Saat ini, infrastruktur kita di Morowali sudah sangat siap. Disana sudah ada Kawasan Industri Morowali dan di Virtue Dragon, Weda Bay. Disana juga sudah terbangun politeknik bagi siapnya masyarakat lokal menerima alih tehnologi tinggi dalam bidang baterai.

Lho koq baterai?

Lithium adalah baterai, dan lithium adalah tentang nikel sebagai bahan bakunya. Disana, di Morowali Sulewesi Tengah bahan baku nikel terhampar sangat luas, dan itu adalah masa depan yang sedang menanti kita.

Seluruh mata dunia sedang mengarah kesana, dimana masa depan gemilang Indonesia ada pada jalur yang tepat. Jalur trend dunia dengan tehnologi hijaunya.

Kenapa harus dengan China?

Ingat isu pekerja China yang menjadi senjata bombastis lawan politik Jokowi saat pemilu tahun lalu? Disinilah, di Morowali diisukan ada ribuan pekerja China.

Lithium adalah apa yang juga menjadi senjata unggulan China dalam melawan dominasi minyak AS. Dengan lithium China mampu membuat dunia sedikit demi sedikit meninggalkan minyak.

Karena lithium adalah unggulan China, maka belajar tehnologi lithium tentu harus dengan China. Itu sesuatu yang sangat logis, bukan masalah komunis dan demokrasi.

Pernah dengar Mercedes dan Tesla? Keduanya ada dibelakang China dalam tehnologi baterai ini. Dua raksasa industri terdepan dalam pengembangan baterai.

Ya.., dapat ditebak dengan mudah, mereka yang sibuk berteriak China, China dan China tentu sangat terkait erat pada siapa yang akan dirugikan dengan terbangunnya industri baterai di Indonesia.

Mungkinkah suatu saat nanti kita akan menjadi pusat baterai dunia?

Morowali sedang diarahkan menjadi penghasil baterai mobil terbesar di dunia. Komponen baterai pada mobil elektrik adalah mencakup 40% dari keseluruhan produk itu, maka demi efisiensi, tentu itu sangat logis. 

Sangat logis bila industi dan produksi mobil elektrik akan memilih Indonesia menjadi pusat produksinya. Ini adalah soal bisnis dan bisnis tak kenal kewarganegaraan.

Kini menjadi semakin jelas kenapa Indonesia menjadi satu dari tiga negara kelompok G 20 yang akan leading. Lima tahun pertamanya Jokowi benar telah membuat semua infrastruktur bagi kemajuan negara ini tersusun rapi dan jelas.

Kepercayaan investor terlihat dengan jelas saat nilai tukar rupiah semakin hari semakin kuat akibat penilaian asing terhadap  bagaimana pemerintah mengendalikan bencana Covid 19 ini.

Global Bond yang diinisiasi oleh Indonesia, kini menjadi alternatif smart bagi banyak negara lain didunia untuk keluar dari jerat ekonomi yang pasti merosot. Arab Saudi dan negara Teluk telah mengikuti jejak Indonesia.

Arah sudah jelas, peminat sudah ngantri, apakah kita benar-benar akan leading, tentu hal itu juga tergantung dari seluruh rakyat Indonesia.

Dominasi AS atas dunia tak mungkin akan dilepas begitu saja. Semua kekacauan dan kericuhan akan semakin intens saat perang posisi ini makin mendekati puncak.

Lantas apa yang harus kita lakukan?

Teriakan China, China dan China akan semakin masif dan kita tahu siapa dibalik teriakan tersebut. Kita tahu siapa yang akan main kasar ketika pertandingan hampir usai. 

Mereka yang kalah dan tak tau harus berbuat apa selain marah dan marah adalah mereka yang harus kita hadapi. Mereka adalah orang orang yang tak mengerti dan tak memiliki rasa cinta tanah air. 

Perkembangan luar biasa atas kepemimpinan Jokowi telah mulai tampak. Baru terjadi BUMN kita telah menggeser posisi Malaysia dan Singapura dalam hal keuntungan sejak tahun 1998.

Baru terjadi Free Port memberikan keuntungan signifikan terhadap Indonesia dari sejak awal dikuasai oleh AS.

Baru kali ini Indonesia masuk menjadi kelompok dengan GDP 1 triliun dolar sejajar dengan beberapa negara maju didunia.

Siapa menguasai minyak akan menguasai dunia adalah cerita masa lalu. Kini, siapa menguasai nikel, dialah pemilik masa depan dunia, dan itu adalah kita.

Ingat AS dengan jumlah penduduk dan luas wilayah yang gak jauh-jauh amat dengan Indonesia mampu menjadi raja dunia lebih dari 50 tahun karena dominasi minyak.

Dengan dominasi nikel kesempatan menjadi pemilik masa depan dunia kini terbuka semakin lebar. Dengan memilih nikel sebagai ujung tombak kemajuan tehnologi dan mendorong Indonesia sebagai basis mobil listrik dunia, potensi menjadi salah satu pemimpin dunia tersebut, semakin mendekati kenyataan.

Dunia sebagai Gadget secara bersama sedang di restart, dan kabar bagusnya, kita menyala paling cepat. Apakah sang operator mampu membuat gadget ini menjadi makin dan semakin hebat, tentu itulah yang menjadi harapan kita.