Showing posts with label new normal. Show all posts
Showing posts with label new normal. Show all posts

Thursday, July 2, 2020

JAGAD ANYAR KANG DUMADI

Gending 'Jagad Anyar Kang Dumadi" Soimah, Bikin Merinding

Lama tak terdengar, seniman berdarah Jawa, Soimah Pancawati merilis single terbaru berbahasa Jawa kuno berjudul "Jagad Anyar Kang Dumadi".

Klip lagu berbahasa Jawa ini-pun sukses membuat pendengarnya merinding dan tak jarang mereka mengaku treyuh dan menangis setelah mendengarkannya.

Judul lagu yang diciptakan Boedhie Pramono ini jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah "Dunia Baru akan Terjadi".

Lagu ini setidaknya cocok dengan konteks kekinian ketika dunia menghadapi dunia baru New Normal di tengah pandemi virus Corona.

Dalam klipnya, Soimah seakan menunjukkan levelnya sebagai seniman besar Indonesia. Meski berbahasa Jawa, musik lagu ini dibalut dengan orchestra klasik sehingga mampu membuat level berbeda pada gending Jawa.

Lagu Jagad Anyar Kang Dumadi resmi dirilis di kanal YouTube ShowImah TV pada 18 Juni 2020 yl dan hingga Kamis, 2 Juli 2020 telah ditonton lebih dari 1,6 juta kali


Tuesday, June 2, 2020

NEW NORMAL ADALAH MATINYA HIPEREALITA

Tulisan ini bagus, sayangnya gak ada nama penulisnya

Pertama-tama saya akan bilang, New Normal ini sebenarnya adalah Back to Normal. Justru kehidupan kemarin itu yang abnormal

Kedua, saya akan cerita apa itu hiperealita?

Sederhananya ketika anda beli segelas kopi starbuck seharga 40an ribu. Mengapa segelas kopi bisa begitu mahal? anggaplah harga dasar kopi itu 7 ribu, maka 33 ribu sisanya anda membayar harga sewa sofa outlet dan membeli simbol starbuck. Angka 33 ribu itulah hiperealita. Sebuah kondisi mental yang menganggap sesuatu itu nyata dan kita butuhkan melebihi kebutuhan dasar kita sendiri.

(fyi istilah hiperealita diperkenalkan oleh filusuf Perancis bernama Jean Baudrillard dalam bukunya tentang Simulacra)

Kita sesungguhnya tidak akan menemui hiperealita sedahsyat kemarin andai saja tidak ditemukan yang namanya facebook, instagram, twitter, dan teman-temannya.

Tiba-tiba datanglah Covid-19. Mendadak kita semua takut keluar rumah, takut berkerumun, aktivitas di luar dibatasi. Apa-apa serba dari rumah. Lalu bagaimana nasib para hiperealista? (sebutan saya untuk pelaku hiperealita)

Starbuck sepi, kafe sepi, mall sepi. Tidak ada orang yang meng-upload imej-imej mereka di outlet-outlet pendongkrak citra diri itu. Masihkah relevan kebutuhan akan luxury, prestise dan status hari ini? masih mungkinkah kita membutuhkan itu? Atau kita langsung ke puncak pertanyaannya : masihkah dibutuhkan hal-hal seperti itu hari ini?

Pandemi Covid-19 ini ibarat tombol reset.

Sekali ditekan langsung semua berbondong-bondong menuju ke titik awal. Kita sudah merasakan PSBB, di mana pada masa itu kita diarahkan untuk melakukan segala hal yang kita butuhkan saja. Ini kabar buruk untuk usaha seperti pariwisata, hotel, mall, kafe-kafe dan semua usaha yang menjadikan CITRA, LUXURY atau PRESTISE sebagai core bisnisnya.

‘Social Distancing’ alias 'Pembatasan sosial' itu adalah hantu bagi usaha-usaha tadi. Di mana letak kesalahannya kalau begini?

Benarkah kehidupan sosial benar-benar dibatasi?

Sebetulnya tidak salah. Karena yang terjadi sesungguhnya bukanlah pembatasan sosial tetapi mengembalikan kehidupan sosial kita ke titik yang wajar ketika kehidupan sosial kita sudah benar-benar overdosis (40k for a cup of coffee ??)

Kesalahannya adalah Starbuck dkk, membasiskan bisnisnya kepada materi yang imajiner (citra, luxury, prestise, status). Kalau anda mengira starbuck dkk itu menjual minuman/makanan sebetulnya tidak bisnis mereka adalah jual-beli simbol. Simbol akan berubah menjadi status manakala kehidupan sosial manusia didorong sampai puncak di luar kebutuhan wajar manusia, dan ketika ruang manusia untuk saling bertemu hancur lebur seperti hari ini saat itulah simbol-simbol itu runtuh nilai jualnya.

Apakah ini pertanda buruk ? Yap ini pertanda buruk, yang menunjukan betapa lugunya kita kemarin selama ini rutin bekerja 8 jam sehari, 5 hari seminggu hanya untuk mengongkosi kebutuhan imajiner (hiperealita) kita. Kemarin kita benar-benar dijauhkan dari apa yang benar-benar kita butuhkan. Kita malah membiayai ilusi.

New Normal, adalah hancurnya sebuah abnormalitas dan kembalinya sebuah kehidupan normal. Sebelum revolusi industri, kehidupan itu relatif sangat normal. Manusia setara bekerja untuk kebutuhannya. Ketika 'ngopi' mereka ya ngopi untuk menghilangkan penat. Kedai kopi pun sebagai ruang publik untuk saling guyub berinteraksi, bukan ruang halusinasi atau untuk menyendiri. Selesai ngopi kembali ke kehidupannya. (bukannya pindah kasta). Upah yang mereka dapat pun untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Bukan untuk 'membeli' merek.

Ketika kondisi di atas dihantam kejadian luar biasa seperti pandemi, kemungkinan tidak akan se-dramatis seperti yang terjadi hari ini. Hari ini ribuan pekerja menggantungkan hidupnya pada bisnis imajiner seperti mall, starbuck dkk. Bisa terbayang efek domino kehancurannya... rubuh satu sirna banyak. Ribuan pekerja terancam kehidupannya seiring hilangnya pekerjaan mereka. Mereka teralienasi dari pekerjaannya sehingga merasa bukan siapa-siapa dan tidak berdaya ketika hilang profesinya.

Sudah waktunya dunia-dunia usaha imajiner itu merombak plan bisnisnya ke usaha-usaha yang nyata (riil) dan beradaptasi bila ingin survive hari ini. Alih-alih mempertahankan bisnis yang sama seolah-olah kita masih hidup di dunia kemarin. (gagal move on)

New Normal adalah sebuah terapi psikis dan efek kejut bagi kita untuk memikirkan ulang, untuk introspeksi betapa rapuhnya kehidupan sosial kita kemarin bak jaring laba-laba besar. Tertata, tersistem dan terstruktur rapih dan massif tetapi tidak kita sadari begitu rapuh dan labil ketika sebuah batu menimpanya.

New Normal mendorong kita untuk fokus dan mengefisiensikan tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yang kita butuhkan saja. Dan petunjuk atas matinya kebutuhan-kebutuhan halusinasi kita. Seolah-olah hidup kita serba dicukupkan. Kita didorong memikirkan kembali apa yang benar-benar kita butuhkan. Kembali ke jati diri dan fungsi diri kita yang nyata.

It's all done. We' are shifting.

Change or we die. Get real.

Dunia kita yang kemarin sudah mati

Dunia hari ini ibarat sebuah rumah sakit yang besar. Dan kita tergeletak di dalamnya dan hanya berpikir untuk tetap sehat dan tetap hidup. Pernah lihat orang selfie saat tergeletak sekarat di rumah sakit? Itulah matinya hiperealita

Jika Baudrillard di tahun 80an lalu sudah memikirkan kondisi hiperealita, sesungguhnya saat itu dia sudah melihat bahaya dan sedang menyalakan simbol SOS (save our soul) itu kepada kita agar kita lekas sadar dan menyelamatkan diri bahwa kita berdiri di atas bom waktu.

New Normal...??? Welcome normal life...

Keep waras... Keep alive.

Tuesday, May 19, 2020

WHEN ABNORMALITIES BECOMING A NEW NORMAL

Bila Tatanan Abnormal Menjadi Norma Baru

By Galatia Chandra

Author of Hacking Your Mind Book

Pada suatu ketika ada seorang Milyarder yang sangat kaya tinggal di kota Suzhou China. Milyarder ini mengidap sakit mata yang sangat berat dan akut. Sehinga Ia berkonsultasi dengan banyak sekali ahli medis, dokter-dokter mata yang hebat-hebat di sana dan meminum obat yang jumlahnya buanyak sekali. Berulang-ulang ia harus menerima injeksi juga disekitar matanya. Namun begitu, rasa sakitnya tidak kunjung sirna. 

Akhirnya ia menyerah, pikirnya… cara dunia Barat tidak berhasil, maka tidak ada salahnya untuk mencoba methode timur. Tidak jauh dari kota Suzhou, ada seorang tabib yang terkenal bisa mengobati apa saja. Ia bisa mendiagnosa hanya dengan memegang nadi yang ada pergelangan tangan dan langsung tau apa yang menjadi masalahnya. Tanpa membuang waktu ia pun segera ke sana.

Setelah Tabib memeriksa nadinya, ia mengangguk-angguk tanda ia mengerti apa problema yang dihadapi oleh milyarder tersebut. Tabib itu meminta agar ia menghentikan semua obat-obatan, dan menjalankan terapi fokus warna hijau. Ia untuk sementara dalam perawatan tidak boleh melihat warna yang lain selain warna hijau.

Sepulangnya dari tabib itu, ia mengumpulkan seluruh keluarga dan pegawainya serta mengupah banyak sekali tukang cat untuk mengubah semua warna yang dilihatnya menjadi warna hijau. Semua dinding, peralatan makan, dll semuanya diubahnya menjadi hijau. Kurang lebih seminggu mata milyarder ini pun terasa enakan. Ia pun tambah heboh lagi, meminta agar sekeliling rumah dibangun tembok yang tinggi dan di dalam tembok itu, semuanya diubah menjadi hijau.

Kemudian tiba saatnya sang Milyarder ini harus melakukan pemeriksaan ulang dari Tabibnya. Ia pun meminta Tabib tersebut berkunjung ke rumah Milyarder tersebut. Ketika Tabib itu baru saja masuk, salah seorang pegawainya lari dengan tergesa-gesa dengan seember tinta hijau, byur… baju tabib itu yang berwarna merah di siram warna hijau. Supaya majikannya tidak melihat warna lain selain warna hijau.

Mendengar hal ini, Tabib ini pun tertawa terbahak-bahak… Ia berkata: “Siapa yang suruh mengubah semuanya menjadi warna hijau? Jika saja ia membeli sebuah kacamata hijau yang harganya Cuma beberapa Yuan saja kan masalahnya sudah selesai. Semuanya akan jadi hijau bukan?

Mengapa harus mengubah semua warna-warna yang ada? Coba tuh lihat pot keramik yang bagus begini dan antik lagi, sekarang jadi jelek karena diubah jadi hijau, lagian tuh langit kan masih berwarna biru, bagaimana kamu mewarnai langit?

Friends… Kita tidak dapat mengubah semua hal di dunia sesuai dengan selera yang kita ingini… Sekeras apa pun kita berusaha, kita tidak akan mampu mengubahnya… Hal itu sangatlah kompleks… Hal sederhana yang mampu dan bisa kita lakukan adalah… Ubahlah cara kita atau diri kita dalam memandang sesuatu. Beradaptasilah….

Situasi Covid-19 ini membuat situasi yang ABNORMAL seperti misalnya harus menggunakan masker, hand sanitizer, physical distancing yang kini tanpa kita sadari menjadi sebuah kondisi normal yang baru (new normal). Banyak orang menjadi stress, mereka mengatakan… When all of these will turn back into normal? Kapan semuanya akan menjadi normal Kembali? Semakin kita berharap semakin kita bertambah kecewa dan akhirnya berubah menjadi Stress.

WHO minggu lalu menyatakan bahwa Covid-19 ini akan terus ada di dunia selamanya. https://www.independent.co.uk/news/health/coronavirus-latest-covid-19-who-hiv-mike-ryan-a9513456.html - Jadi tidak ada pilihan lagi… Apakah kita akan adjust diri kita, dengan gaya hidup yang baru ini yang kita rasakan tidak normal ini atau kita tidak akan survive dan akan mati terkena infeksi Covid-19. Banyak orang yang tidak sabar dan akhirnya Kembali ke gaya hidup yang lama. Itu akan berbahaya. Berhati-hatilah….  

Kita tidak diminta untuk mengganti semua yang ada di dunia ini disesuaikan dengan kebutuhan kita. Sebab hal itu tidak mungkin terjadi. Tidak perlu juga berharap semua orang harus mengikuti aturan yang ditetapkan, tata tertib yang diatur oleh pemerintah (sebab itu tugas pemerintah dan akan membuat frustasi kita, jika kita tetap ngotot meminta semua orang mematuhinya). Kita tidak perlu emosi juga ketika orang lain tidak mau join hand untuk menjaga jarak dll. 

Yang bisa kita lakukan adalah… Adjust diri kita, buat aturan untuk diri kita dan keluarga kita supaya tetap aman, mulai membiasakan hidup di dunia yang New Normal ini dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang mungkin membuat kita tidak nyaman pada awalnya. Tapi percayalah, bila kita biasakan… semuanya akan Kembali seperti normal. Saya pribadi sekarang mulai nyaman menggunakan masker saat keluar rumah 

”I can't change the direction of the wind, but I can adjust my sails to always reach my destination” - Jimmy Dean

Stay safe and healthy my friends… Have a GREAT Day! GC