Showing posts with label anak. Show all posts
Showing posts with label anak. Show all posts

Sunday, December 23, 2018

BAYI MENONTON TV

BAYI MENONTON TV
Apakah anak balita Anda sudah cukup umur untuk menonton TV?
Sulit menemukan bayi atau balita yang belum pernah menonton setidaknya beberapa program TV, tetapi apakah itu baik untuk mereka? Berikut ini cara memutuskan kapan boleh membiarkan anak-anak Anda menonton TV dan cara mendapatkan hasil maksimal dari program televisi bagi anak-anak.
Kapan anak-anak boleh mulai menonton televisi?
Tunda memperkenalkan televisi dan video kepada bayi Anda selama mungkin. Bahkan, American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan bahwa anak-anak di bawah usia dua tahun dihindari menonton TV sepenuhnya. Para ahli mengatakan bahwa bayi dan balita muda melihat televisi sebagai susunan warna, gambar dan suara yang membingungkan. Anak-anak di bawah usia dua tahun tidak akan mengerti banyak konten yang mereka lihat di TV dan itu menyita banyak waktu mereka yg dibutuhkan untuk penjelajahan yang lebih produktif, seperti berinteraksi dengan orang lain.
Juga, anak-anak muda memiliki pandangan yang sangat harfiah tentang dunia. Bayi dan balita tidak dapat membedakan antara hal yg nyata dan berpura-pura. Banyak anak kecil menafsirkan apa yang mereka lihat di TV sebagai kehidupan nyata. Penelitian telah menemukan bahwa banyak anak kecil percaya bahwa karakter TV benar-benar hidup di dalam perangkat TV mereka. Ini dapat membingungkan pemahaman anak Anda tentang dunia.
Baca selengkapnya di:

Sunday, November 11, 2018

PENGARUH PELUKAN AYAH

PENGARUH PELUKAN AYAH
Khusus untuk para AYAH.
Di ruang  praktek Prof.Dr. Djauhar Ismail,SpA, MPH, PhD. di klinik tumbuh kembang RS Sardjito tergantung foto ayah yg memeluk anaknya.
Tidak lama saya berada di ruangan ini hanya sekitar 20 menit, namun luar biasa tamparan besar buat saya, karena kekurang-syukurnya saya, karena kesombongan saya, karena keterlenaan saya.
Ruangan klinik tumbuh kembang masih sepi hanya ada 3 pasien..
Sudut pandangan yang pertama, duduklah saya disamping seorang ibu yang sangat muda menggendong babynya yang sepertinya microchepaly (ukuran kepala kecil) yang artinya membuat perkembangan motorik anak menjadi terganggu, di usianya yang sudah 9 bulan, dia belum sanggup mengangkat kepalanya. Yang membuat saya kagum si ibu ini hanya datang sendiri tanpa suami dan keluarganya. Padahal dalam keadaan demikian saya yakin perempuan butuh laki-laki.
Di sudut pandangan sebelah timur, tampak seorang ibu yang sudah kelihatan agak sepuh sedang menitah anaknya. Ya, anak itu sudah berusia 5 tahun tapi belum bisa berjalan, menurut sang ibu (sebelumnya saya kira neneknya) anaknya terdiagnosa down syndrome. Dan lagi-lagi ibu itu hanya ditemani oleh anak perempuannya yang masih SMA. 
Di sudut pandangan depan saya, seorang anak sedang di terapi speech delayed. Dia masih kesulitan dan malas bicara padahal usianya sudah 4 tahun. Hanya ada 2 kata yang selalu diucap yaitu mamah dan maem. Dan sekali lagi tidak tampak sosok laki-laki di dekatnya, hanya ada mamah dan neneknya.
Tidak berapa lama, beliau datang dan meminta saya ke ruangan dan tidak sampai 3 menit urusan acc ujian beres, selebihnya kami banyak berbincang. Penasaran saya tanyakan makna dan maksud beliau memajang gambar "FATHER'S TOUCH"
Penjelasan beliau panjang lebar yang intinya saat ayah memeluk, menyentuh sesungguhnya ayah  sedang mentransfer kemampuan dan kemandirian pada diri anak. Selain itu aspek yang sifatnya berani berinteraksi dengan figur otoritas yang dimiliki ayah. 
Hmmmm....dalem sekali maknanya.
Beliau mengatakan, "Coba, njenengan lihat di ruangan ini mana anak yang diantar ayah, kakek atau om atau pakdhenya?.." hehee iya juga ya.
Tak heran, jika banyak anak perempuan yang dekat dengan ayahnya akan tumbuh sebagai pribadi yang tangguh. Tentu tak heran pula jika banyak para gadis kemudian berusaha mencari dan menikahi laki-laki pujaannya kelak yang memiliki sifat dan sikap seperti ayah yang dikaguminya.
Sedangkan pelukan dari ibu akan mentransfer sifat penuh kasih atau empati pada anak. Ibu itu figur afeksi, yang ketika anak sakit, ia akan memeluk anak maupun mengambilkan obat untuk anak. Anak yang sering mendapat pelukan ibu akan menjadi pribadi yang mudah memberikan kasih sayang atau rasa simpati kepada orang lain.
Ditilik dalam kehidupan nyata, ayah memang tak selalu intens dalam memberikan pelukan kepada anak. 
Bisa jadi, ayah yang sulit memeluk dulunya juga mungkin jarang dipeluk.... (ehmmmm.....)
Karena si ayah tumbuh dan berkembang jarang dipeluk, ia akan melakukan hal yang sama kepada anaknya. Tetapi kalau ia biasa dipeluk, ia akan memeluk anaknya. 
Dalam penelitian yang dirilis dalam buku The Miracle of Hug, mengungkap bahwa pelukan orangtua kepada anaknya dapat membangun konsep diri yang positif, mengurangi emosi negatif seperti kesepian, cemas atau frustasi, serta meningkatkan kecerdasan otak, merangsang keluarnya hormon oksitosin yang memberikan perasaan tenang pada anak.
Dengan pelukan pula, anak akan merasa dicintai dan dihargai. Anak yang sering mendapat pelukan dari orang tuanya akan lebih efektif sembuh dari depresi, dan akan timbul rasa percaya dirinya untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Bahkan, pelukan saat inisiasi dini, sesaat setelah bayi terlahir ke dunia, akan mentransfer sejenis mikroorganisme yang membuat daya tahan tubuh bayi semakin kuat.
Tak perlu khawatir dengan mitos yang mengatakan bahwa anak yang sering mendapat pelukan akan menjadi cengeng. Lupakan paradigma kalau anak saya laki-laki harus bermental kuat, kalau dipeluk-peluk nanti melempem. 
Enyahkan pikiran kalau anak saya cuman perempuan satu-satunya ini, dengan didikan "kenceng" supaya dia mandiri tidak manja. 
Tegas, mandiri, kuat tidak harus dibentuk dengan kekerasan (verbal atau fisik sekalipun). 
Banyak pakar yang sudah ber-quotion bahwa sentuhan dan pelukan orang tua kepada anaknya sungguh memiliki kehebatan luar biasa yang tidak dimiliki obat-obat ciptaan dokter di dunia. 
Jadi, siapkan sentuhan dan pelukan terbaik untuk anak-anak tersayang. 
Minta maaflah dan sadarlah sudah sering bertindak "kasar" kepada anak-anak.

Saturday, October 6, 2018

BUAH ORANG TUA YANG CEREWET

BUAH ORANG TUA YANG CEREWET
Kisah berikut ini adalah tentang apa yang terjadi di rumah tangga..
Seorang putra tidak suka tinggal di rumah, karena ayah ibunya selalu ‘ngomel’; ia tak suka bila ayahnya mengomelinya untuk hal-hal kecil ini..
"Nak,  kalau keluar kamar matikan kipas anginnya."
“Matikan TV, jangan biarkan hidup tapi tak ada yang menonton”
“Simpan pena di tempatnya,  yang jatuh ke kolong meja ”
Tiap hari dia harus ta'at pada hal-hal ini sejak kecil, saat bersama keluarga di rumah.
Maka tibalah hari ini, saat dia menerima panggilan untuk wawancara kerja...
“Dalam hati dia berkata: "Begitu  mendapat pekerjaan, saya akan sewa rumah sendiri. Tak akan ada lagi omelan ibu ayah," begitu pikirnya.
Ketika hendak pergi untuk interview, ayahnya berpesan:
“Nak, jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu. 
Bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri.. ” Ayahnya memberinya uang lebih banyak dari ongkos yang dibutuhkan untuk menghadiri wawancara..
Setiba di pusat wawancara, diperhatikannya bahwa tidak ada penjaga keamanan di gerbang. Meskipun pintunya terbuka, gerendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut grendel
Dia geser gerendel ke posisi yang benar, menutup pintu dan 
masuk menuju kantor.
Di kedua sisi jalan dia lihat tanaman bunga yang indah. Tapi ada air mengalir dari selang dan tak ada seorang pun disekitar situ. Air meluap ke jalan setapak. 
Diangkatnya selang dan diletakkannya di dekat salah satu tanaman dan melanjutkan kembali langkahnya.
Tak ada seorang pun di area resepsionis. Namun, ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. . Dia perlahan menaiki tangga.
Lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal sudah pukul 10 pagi. Peringatan ayahnya terngiang di telinganya: "Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu!" Dia merasa agak jengkel oleh pikiran itu, namun dia tetap mencari saklar dan mematikan lampu.
Di lantai atas di aula besar dia lihat banyak calon duduk menunggu giliran.
Melihat banyaknya pelamar, dia bertanya-tanya, apakah masih ada peluang baginya untuk diterima?
Diapun menuju aula dengan sedikit gentar dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan "Selamat Datang" . 
Diperhatikannya bahwa karpet itu terbalik. Spontan saja dia betulkan, walau dengan sedikit kesal. 
Dilihatnya di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong, 
Terdengar suara kipas angin, Dimatikanya kipas yang tidak dimanfaatkan dan duduk di salah satu kursi yang kosong..
Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain. Sehingga tak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara.
Tibalah gilirannya, Dia masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pesimis..
Sesampainya di depan meja,  pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya langsung berkata "Kapan Anda bisa mulai bekerja?"
Dia terkejut dan berpikir, "apakah ini pertanyaan jebakan, atau tanda bahwa telah diterima untuk bekerja disitu?" 
Dia bingung.
Apa yang Anda pikirkan?" tanya sang boss lalu melanjutkan: "Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini. 
Sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun. 
Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut..
Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon..
Kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yang dilakukannya ketika melihat gerendel di pintu, selang air yang mengalir, keset "selamat datang", kipas atau lampu yang tak perlu..
Anda satu-satunya yang melakukan. Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda ”
Hatinya terharu, dia ingat ayahnya..
Dia yg selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan ibu ayahnya. Kini dia  menyadari bahwa justru omelan dan disiplin yg ditanamkan orang tua-nyalah yang membuatnya diterima pada perusahaan yang diinginkannya..
Kekesalan dan kemarahannya pada ayahnya seketika sirna..
....hanya Anda satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari seorang manajer, maka kami putuskan menerima Anda bekerja disini.......
Ayah, ma'afkan anakmu,  bisiknya dalam hati penuh rasa haru dan bersyukur.
Dia akan minta maaf kepada ayahnya, dia akan ajak ayahnya melihat tempat kerjanya..
Dia pulang ke rumah dengan bahagia..
Apapun yang orang tua katakan pada anaknya,  adalah demi kebaikan anak-anak itu sendiri, untuk menyiapkan masa depan yang baik!
"Batu karang tak akan menjadi patung yang indah bernilai tinggi, jika tak dapat menahan rasa sakit saat  pahat bekerja memotongnya".
Untuk menjadi pribadi  yang indah, kita perlu menerima dan mematuhi nasehat yang baik.
Kebiasaan baik akan muncul dari perilaku buruk yg dipahat dan dibuang dari diri kita...
Ibu menggendong anak di pinggangnya untuk memeluk, memberi makan dan untuk membuatnya tidur..
Tetapi ayah mengangkat anak dan mendudukkan di pundaknya untuk membuatnya melihat dunia yang tidak bisa dilihat anaknya..
Ayah dan ibu adalah pahlawan yang kasih sayangnya layaknya guru yang mendampingi anak sepanjang kehidupan..
Perlakukanlah orang tua sebaik-baiknya, agar jadi contoh dan bimbingan dari generasi ke generasi, yang menerima estafet kehidupan..
Untuk dibagikan ke orang tua dan anak-anak tercinta.. 
Semoga bermanfaat
#copas

Thursday, September 6, 2018

DRAMA REMAJA DALAM GUA

DRAMA REMAJA DALAM GUA
Kisah yang menarik perhatian dunia hampir 2 minggu terakhir ini... 
Drama Remaja Dalam Gua - Senin 9 Juli 2018 
Oleh: Dahlan Iskan
Ini seperti kisah-kisah petualangan remaja ala Enid Blyton. Sejumlah anak remaja masuk gua. Terjebak di dalamnya. Berhari-hari. Orang tua mereka cemas. Pahlawan tidak segera datang.
Tapi ini sungguhan. 12 remaja beneran ini sudah dua minggu terjebak dalam gua beneran. Terperangkap.
Minggu kemarin lebih 1.000 wartawan beneran berkumpul di depan gua. Sejak beberapa hari sebelumnya. Tagihan tilpon saya pasti membengkak. Kisah ini terlalu dramatik untuk dilewatkan. Saya harus menuliskannya. Dari jarak jauh. Dari Samarinda.
Drama ini bermula tanggal 23 Juni lalu. Hari Sabtu. Saat Korea Selatan melawan Mexico. Di babak penyisihan Piala Dunia Russia.
Saat itu satu tim sepakbola remaja di pedalaman Thailand giat berlatih. Kampung mereka di pegunungan. Sulit dijangkau. Di perbatasan antara Thailand dan Myanmar. Dekat kampung mereka ada gua terkenal: Tham Luang.
Panjangnya 10 km. Bercabang. Berbelok. Mulut guanya kecil. Di dalamnya melebar-menyempit. Dasar guanya naik-turun.
Pelatih 12 anak itu lagi absen. Hari itu tim diasuh asisten pelatih berumur 25 tahun: Ekapol. Nama panjangnya sulit dieja: Ekapol Chanthawong.
Sebelum sesi latihan Ekapol mengajak anak asuhnya rekreasi sambil bertualang: masuk gua. Ini penting. Untuk pembentukan kekuatan mental  pemain sepakbola.
Salah seorang remaja itu, Pheeraphat, dipesani khusus oleh orangtuanya: habis latihan agar cepat pulang. Malam itu adalah malam ulang tahunnya yang penting: sweet seventeen. Umurnya 16 tahun. Tapi dihitung 17 untuk tahun Thailand. Yang punya kalender sendiri.
Orang tua Pheeraphat sudah masak-masak. Dan beli kue ultah. Juga sudah mengundang kerabat.
Tapi sampai matahari tenggelam Pheeraphat belum pulang. Tamu mulai berdatangan. Kepanikan mulai muncul. Ditelepon tidak ada nada sambung.
Sesama orang tua saling terhubung. Sama-sama bingung. Sama-sama gagal kontak. Satu-satunya anggota tim yang bisa tersambung mengecewakan: hari itu ia tidak ikut latihan.
Pelatih utama tim sepakbola desa itu ikut panik. Tapi juga gagal mengontak asistennya. ”Sejak pagi saya sudah berpesan padanya agar hati-hati. Agar naik sepedanya di posisi paling belakang. Untuk bisa mengawasi anak asuh,” ujar sang pelatih pada para orang tua.
Sampai tengah malam tidak ada kabar. Usia anak-anak itu antara 11 sampai 16 tahun. Kepanikan kian tinggi. Hujan deras tidak henti-hentinya. Pegunungan itu kian mencekam.
Bulan Juli-Agustus adalah musim moonson. Kita, di negara tropis, hanya mengenal musim kemarau dan musim hujan. Dunia belahan utara dan selatan hanya mengenal empat musim: dingin, semi, panas, gugur.
Tapi di belahan dunia tertentu mengenal musim moonson: India, Pakistan, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, Tiongkok bagian selatan. Yakni di wilayah antara dua musim dan empat musim.
Di musim moonson seperti ini hujan, badai, banjir dan taifun hampir terjadi setiap hari. Simaklah berita tv. Selalu ada banjir besar di negara-negara itu.
Musim moonson adalah musim yang paling tidak enak di wilayah-wilayah tersebut. Kebalikan dari kenyamanan di Sumba. Bukan saja terlalu basah. Tapi udaranya juga sangat humid. Sumuk. Kemringet. Hen men. Swety. Jangan ke Thailand dan sekitarnya di musim seperti ini. Ke Sumba saja.
Sampai sekian hari itu tidak ada yang tahu kalau anak mereka sebenarnya terjebak di dalam gua. Tidak ada yang mendengar rencana ke gua. Tidak ada yang menyangka anak mereka diajak ke gua di musim moonson.
Keesokan harinya keberadaan mereka masih gaib. Hujan masih tercurah dari langit yang hitam. Hari-hari berikutnya tetap gaib. Satu negara iikut heboh. Mistis ikut mewarnai.
Akhirnya ada yang menemukan sepeda mereka. Di mulut gua. Yang tergenang air.
Hampir dipastikan 12 remaja dan satu asisten pelatih itu ada di dalam gua. Kalau begitu masihkah mereka hidup? Bagaimana cara memasuki gua yang mulutnya tertutup air? Apakah mereka punya makanan? Seberapa jauh mereka memasuki gua?
Diskusi publik pun beralih: dari di mana mereka ke bagaimana cara menolong mereka. Tiap hari berita di Thailand didominasi drama gua ini. Seperti tidak ada piala dunia di sana. Tim Prancis, tim Inggris kalah populer dengan tim sepakbola desa pegunungan ini.
Ketika drama ini menjadi berita internasional tim penyelamat dunia turun tangan. Memperkuat tim penyelamat bentukan pemerintah. Anggota tim umumnya para penyelam. Dari angkatan laut. Dan profesional.
Seorang mantan penyelam angkatan laut Thailand jibaku. Akan masuk ke mulut gua itu. Pemerintah mengijinkan. Atas dasar reputasi orang ini.
Nama: Saman Kunan.
Umur: 38 tahun.
Prestasi: Juara 4 kali lomba petualang. Selalu ikut kejuaraan petualangan. Peraih tropi menyeberangi sungai Kwai.
Dengan oksigen cukup Saman memasuki air di mulut gua. Membawa banyak oksigen untuk para remaja itu.
Satu hari ditunggu. Tidak ada kabar dari Saman. Ternyata Saman meninggal. Kehabisan oksigen. Drama pun bertambah seru. Satu pahlawan telah ikut jadi bintang.
Penyelamat dari berbagai negara tertantang. Mereka berdatangan. Menawarkan pertolongan. Terkumpul tim penyelamat dari sembilan negara: Tiongkok, Australia, Inggris, Russia, Amerika dan sebagainya. Bahkan bos besar Tesla ikut turun tangan: Elon Musk. Ia menawarkan alat pendeteksi. Bagaimana keadaan alam di dalam gua. Juga menawarkan mega baterai.
Hari silih berganti. Jalan keluar tidak segera ditemukan. Publik gemes. Orang tua mereka pada lemes.
Akhirnya didatangkan pompa raksasa. Untuk menguras air di mulut gua.
Pompa bekerja 24 jam sehari. Air yang dipompa kelua sudah mencapai 128 juta liter. Mulut gua tidak juga terbuka. Hujan moonson tidak kunjung berhenti.
Maka muncul ide melakukan pertolongan dalam bentuk lain: mengebor gunung di atas gua itu. Tujuannya: agar ada udara masuk. Siapa tahu mereka kekurangan oksigen. Yang akan membuat mereka mati lemas.
Satu tim pendahuluan mencari lokasi pengeboran. Mereka menaiki terjalnya gunung. Kendaraan mereka tergelincir. Masuk jurang. Semua mengalami cedera. Meski tidak ada yang tewas.
Pada hari kesepuluh datang pahlawan baru: dua penyelamat dari Inggris. Nama mereka: Richard Stanton dan John Volanthen. Umur 50 dan 40 tahun. Yang satu petugas pemadam kebakaran. Satunya lagi teknisi internet. Tapi keduanya kompak: lebih menyukai petualangan dan penyelamatan.
Keduanya menjauh dari wartawan. Ketika banyak yang ingin populer, keduanya tidak mau diwawancara. ”Saya ke sini untuk berbuat. Bukan untuk bicara,” katanya singkat.
Lalu menyelam. Memasuki mulut gua. Lenyap ke dalam kegelapan.
Berhasil! Keduanya menemukan 12 remaja itu. Dan asisten pelatih mereka.
Satu tim sepakbola ditemukan selamat setelah terperangkap 9 hari di dalam gua (Image via EPA)
Mereka itu terjebak di rongga ketiga di dalam gua itu. Duduk-duduk di atas tanah yang agak tinggi. Dikelilingi genangan air. Luas tanah gundukan itu hanya sekitar 10m2. Sangat sempit. Gelap. Pengap.
Mereka masih hidup. Semua. Masih tidak kelihatan lemah. Atau frustrasi. Atau panik. Padahal sembilan hari sudah. Terjebak di dalam gua. Tanpa tahu apakah akan ada jalan keluarnya.
Dua orang itu membawa makanan. Juga membawa harapan. Keberadaan mereka direkam. Masing-masing menyampaikan pesan kepada orang tua. Dalam bentuk rekaman video.
Mereka juga diminta menulis surat. Untuk masing-masing keluarga. Tapi umumnya hanya menulis pendek. Mengabarkan keadaan mereka baik-baik saja.
Sang asisten pelatih menulis agak panjang: berjanji akan terus bersama anak asuhnya, memperhatikan mereka dan yang utama meminta maaf pada semua orang tua mereka.
Semua itu dibawa ke luar gua. Kegembiraan lantas melanda seluruh negara. Hujat dan caci  berganti puja dan puji.
Publik sepakat: mental anak-anak mereka kuat berkat asisten pelatih itu. Asisten itulah yang terus mengajarkan optimisme pada anak asuhnya. Mengajarkan sabar. Mengajarkan doa.
Mengajarkan tenggang rasa. Membagi makanan yang ada sehemat-hematnya. Secara merata. Agar tidak ada yang rebutan makanan. Atau yang kuat dapat makanan lebih banyak.
Makanan itu sangat terbatas. Hanya yang dibeli untuk mengulangtahuni teman mereka: Pheeraphat. Sebelum masuk gua sang asisten pelatih  membeli makanan kecil untuk ulang tahun itu.
Asisten pelatih ini memang bukan pemuda biasa. Ia ditinggalkan mati ayahnya. Saat umurnya baru 10 tahun. Lalu memutuskan untuk mengabdi di jalan Tuhan: sekolah bikhu Budha. Lalu tumbuh menjadi bikhu remaja.
Tapi ibunya sakit keras. Ia harus merawat ibunya. Ia pamit meninggalkan pagoda. Untuk sembahyang yang sebenarnya: melayani ibunya. Sampai ibunya meninggal dunia.
Lalu jadi pembina remaja di kampungnya.
Publik percaya di dalam gua itu sang asisten terus menguatkan anak-anaknya.
Tim penyelamat Inggris itu justru melihat sang asistenlah yang fisiknya lemah. Diduga ia yang paling sedikit mengambil jatah makannya. Selama sembilan hari itu sang asisten lebih banyak puasa.
Minggu kemarin ribuan orang berkumpul di depan gua. Wartawannya saja lebih seribu orang. Sudah dua hari ini tidak ada hujan. Hanya mendung menggelayut seperti tersangkut jaring superman.
Kemarin adalah hari terbaik untuk penyelamatan akhir. Kalau tidak, mendung itu akan runtuh. Musim moonson belum lewat. Air dalam gua bisa-bisa naik lagi. Mengancam daratan kecil yang dihuni para remaja itu.
”Mereka berada 1,5 km dari mulut gua,” ujar penyelam Inggris itu. ”Saya harus menyelam di air sekitar separo dari jarak itu,” tambahnya.

Akankah hari Minggu kemarin menjadi hari kemerdekaan mereka? Kita tunggu beritanya sekarang ini. Saat Anda menjadi pembaca pertama Disway.id Senin subuh ini. (dis)

Saturday, January 6, 2018

KISAH PILU KAKEK NENEK

KISAH PILU KAKEK NENEK
Kemarin sore seorang teman menunjukkan sebuah foto yang ada di WAG RT-Nya, wilayah Mungkid Magelang. Mayat dua orang sepuh yang sudah membengkak, menghitam dan mulai berair. Saya hanya melihat sekilas karena tidak punya cukup nyali memandangnya lekat.
Jenasah kakek nenek itu  ditemukan beberapa hari setelah kematiannya oleh menantu dan tetangga. Tak ada yang tahu persis kapan mereka berdua wafat. Kata polisi kemungkinan sudah seminggu berlalu. Mereka meninggal tanpa kata, tanpa pamit dan yang pasti tanpa didampingi oleh anak, menantu dan cucu-cucunya. 
Bukan karena mereka tak punya, namun tak ada satu pun anak yang bisa menemani dan merawat  mereka di hari-hari tuanya. Anak-anak mereka tinggal di luar kota.  Saya ikut sesak menahan air mata… Lelaki  sepuh itu  akhirnya  meninggal dalam keadaan duduk  bersandar pada  kursi kayu di ruang tamunya.
Lelaki itu sehar-harinya adalah suami yang merawat istrinya yang stroke dan sudah tidak bisa beraktivitas apapun kecuali berbaring di tempat tidur. Polisi memperkirakan kematian lelaki sepuh ini terjadi lebih dulu. Istrinya menyusul wafat kemudian, banyak orang mereka-reka : sang istri meninggal karena selama berhari-hari tak makan minum atau melakukan aktivitas lainnya, karena sang suami yang selama ini menjadi satu-satunya 'perawat' terlebih dahulu meninggal dunia. 
Bisakah anda bayangkan keadaan mereka berdua? Saat sang istri memanggil suaminya berkali-kali dalam resah namun tak ada jawaban apapun. Resah bukan saja karena ia sendiri merasa lapar, sakit dan tak berdaya. Namun mengkhawatirkan keadaan belahan jiwa namun tak bisa berbuat apa-apa karena badan tak lagi bisa digerakkan bersebab stroke menahun. 
Sang suami juga tak bisa mengabarkan siapapun untuk menggantikannya merawat istri tercinta. Kematian datang tanpa mengucapkan salam pemberitahuan. Begitu tiba-tiba dan sangat nyata. 
Mereka berdua meninggal di dalam rumah mereka sendiri. Rumah yang menjadi saksi saat pernikahan mereka bermula, saat mereka melahirkan anak demi anak. Membesarkan anak-anak mereka dari bayi merah, hingga akhirnya bisa merangkak perlahan, berjalan, berlari … dan akhirnya pergi sendiri-sendiri menapaki jalan takdirnya. 
Menjadi orang tua memang adalah jalan panjang untuk melepaskan seorang anak agar mampu menjalani kehidupan mereka sendiri … karena itulah mengapa kisah pengasuhan anak menjadi rumit. Karena pengasuhan karena  telah melibatkan berjuta ragam emosi dan kenangan. Anak-anak lahir dari Rahim ibunya, membawa DNA bapaknya, besar dengan keringat dan airmata orang tuanya : namun bukan milik orang tuanya. 
Orang tua harus ridho melepaskan anaknya menjalani peran kehidupannya sendiri, suatu waktu. Bahkan saat sang anak memutuskan untuk pergi mengembara menggapai mimpi-mimpi mereka Dan bagi orang tua, ternyata berpisah dengan anak itu bukan urusan mudah.
Meski teknologi membuat kita bisa menatap wajah keriput mereka di layar HP, ternyata tak ada yang bisa mengobati rindu sebaik dekapan hangat dan ketulusan cinta. Sebanyak apapun uang tak akan bisa membeli perhatian, senyuman, dukungan dan pelayanan tulus.
Saya menuliskan ini bukan hendak menyalahkan si anak atau keluarganya, saya pun tak tahu persis apa kesulitan mereka. Saya hanya ingin menuliskan catatan untuk diri saya sendiri. Karena saya dan suami pun juga tinggal jauh dari orang tua. 
Dua momen bude dan pakde saya meninggal pun saya tak bisa takziah langsung, dada saya sesak setiap kali mengingatnya. Sudah tak mampu memuliakan mereka saat hidup, ternyata saya pun tak bisa memuliakan jenasahnya sebelum dikubur selamanya. Semoga Allah memberikan kami kekuatan dan kesempatan menyempurnakan bakti pada orang tua dan mertua. 
Mereka adalah pintu surga yang terbuka. Berbuat baik pada mereka bahkan lebih didahulukan daripada jihad. Menafkahi mereka adalah keutamaan yang besar. Bersabar atas mereka adalah pahala yang besar dihadapan ALLAH. 
Waktu berlalu, usia mereka bertambah, badan mereka makin lemah, kematian semakin mendekat. Bukan tentang kematian mereka, namun juga tentang jatah kematian diri kita. Adakah yang bisa menjamin bahwa kita bisa setua mereka dan punya waktu untuk melanjutkan mimpi yang tak ada habisnya ?
PULANGLAH 
“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata “Saya berbai’at kepadamu untuk berhijrah dan berjihad, aku mengharapkan pahala dari Allah.” Beliau bertanya, “Apakah salah satu orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab, “Ya, bahkan keduanya masih hidup.” Rasulullah bertanya lagi, “Maka apakah kamu masih akan mencari pahala dari Allah?” Ia menjawab, “Ya.” Maka beliau pun bersabda, “Pulanglah kepada kedua orang tuamu lalu berbuat baiklah dalam mempergauli mereka.” (HR. Muslim)
Pulanglah, ada surga yang bisa kita raih dalam bakti padanya. Pulanglah, ada berkah dan kebaikan yang besar yang akan kita dapatkan untuk memperbaiki kehidupan kita sendiri. Pulanglah, kesempatan terbatas dan tak bisa diulang. Sempatkanlah pulang, supaya kita bisa memohon maaf atas bakti yang tak sempurna, atas semua kedurhakaan dan belum mampunya kita membahagiakan mereka. 
Pulanglah, karena sampai kita menjadi orang tua bagi anak-anak kita pun masih saja merepotkan mereka.  Pulanglah, untuk mengucapkan terimakasih yang tak pernah cukup …
Jika mereka sakit hari ini, sungguh sakit mereka pun bisa jadi karena kita anak-anaknya. Masa muda dan kekuatan mereka berkurang untuk membesarkan kita anak-anaknya. 
“Rindu itu berat, hidup dalam sepi tanpa anak cucu di akhir masa tua itu jauh lebih berat”
Sungguh tak ada orang tua yang ingin merepotkan anak-anaknya. Tak ada yang ingin sakit di masa lemahnya. Tak ada yang ingin berhitung budi dengan anak-anaknya. Mereka ikhlas. 
Bukan orang tua yang sebenarnya membutuhkan anak-anaknya. Tapi justru anak-anaknya lah yang sangat membutuhkan orang tuanya. Karena sadar bahwa amal yang tak seberapa ini, dosa yang banyak ini hanya bisa lebur dengan amalan istimewa di mata ALLAH. Salah satunya adalah berbakti pada orang tua. 
“Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid-), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)]
“Setiap dosa, Allah akan menunda (hukumannya) sesuai dengan kehendakNya pada hari Kiamat, kecuali durhaka kepada orang tua. Sesungguhnya orangnya akan dipercepat (hukumannya sebelum hari Kiamat).” [HR Bukhari]
Memang tak ada orang tua yang sempurna namun yang pasti bahwa setiap anak berhutang pada orang tuanya. Bukan tentang nominal angka-angka yang mereka habiskan untuk membesarkan dan mendidik kita, namun tentang cinta, ketulusan, perhatian, doa dan pegorbanan yang tak berbilang. 
Maka, ketika seorang anak yang  menggendong sang ibu bertawaf bertanya pada Ibnu Umar “apakah aku sudah membalas baktiku pada ibuku?” 
“Belum, bahkan engkau belum membalas satu tarikan nafas dan rasa sakitnya saat ia melahirkanmu”
Rabbifghfirli waliwali dayya warham humaa kamaa rabbayani shoghiroo….