Showing posts with label suami. Show all posts
Showing posts with label suami. Show all posts

Saturday, January 6, 2018

KISAH PILU KAKEK NENEK

KISAH PILU KAKEK NENEK
Kemarin sore seorang teman menunjukkan sebuah foto yang ada di WAG RT-Nya, wilayah Mungkid Magelang. Mayat dua orang sepuh yang sudah membengkak, menghitam dan mulai berair. Saya hanya melihat sekilas karena tidak punya cukup nyali memandangnya lekat.
Jenasah kakek nenek itu  ditemukan beberapa hari setelah kematiannya oleh menantu dan tetangga. Tak ada yang tahu persis kapan mereka berdua wafat. Kata polisi kemungkinan sudah seminggu berlalu. Mereka meninggal tanpa kata, tanpa pamit dan yang pasti tanpa didampingi oleh anak, menantu dan cucu-cucunya. 
Bukan karena mereka tak punya, namun tak ada satu pun anak yang bisa menemani dan merawat  mereka di hari-hari tuanya. Anak-anak mereka tinggal di luar kota.  Saya ikut sesak menahan air mata… Lelaki  sepuh itu  akhirnya  meninggal dalam keadaan duduk  bersandar pada  kursi kayu di ruang tamunya.
Lelaki itu sehar-harinya adalah suami yang merawat istrinya yang stroke dan sudah tidak bisa beraktivitas apapun kecuali berbaring di tempat tidur. Polisi memperkirakan kematian lelaki sepuh ini terjadi lebih dulu. Istrinya menyusul wafat kemudian, banyak orang mereka-reka : sang istri meninggal karena selama berhari-hari tak makan minum atau melakukan aktivitas lainnya, karena sang suami yang selama ini menjadi satu-satunya 'perawat' terlebih dahulu meninggal dunia. 
Bisakah anda bayangkan keadaan mereka berdua? Saat sang istri memanggil suaminya berkali-kali dalam resah namun tak ada jawaban apapun. Resah bukan saja karena ia sendiri merasa lapar, sakit dan tak berdaya. Namun mengkhawatirkan keadaan belahan jiwa namun tak bisa berbuat apa-apa karena badan tak lagi bisa digerakkan bersebab stroke menahun. 
Sang suami juga tak bisa mengabarkan siapapun untuk menggantikannya merawat istri tercinta. Kematian datang tanpa mengucapkan salam pemberitahuan. Begitu tiba-tiba dan sangat nyata. 
Mereka berdua meninggal di dalam rumah mereka sendiri. Rumah yang menjadi saksi saat pernikahan mereka bermula, saat mereka melahirkan anak demi anak. Membesarkan anak-anak mereka dari bayi merah, hingga akhirnya bisa merangkak perlahan, berjalan, berlari … dan akhirnya pergi sendiri-sendiri menapaki jalan takdirnya. 
Menjadi orang tua memang adalah jalan panjang untuk melepaskan seorang anak agar mampu menjalani kehidupan mereka sendiri … karena itulah mengapa kisah pengasuhan anak menjadi rumit. Karena pengasuhan karena  telah melibatkan berjuta ragam emosi dan kenangan. Anak-anak lahir dari Rahim ibunya, membawa DNA bapaknya, besar dengan keringat dan airmata orang tuanya : namun bukan milik orang tuanya. 
Orang tua harus ridho melepaskan anaknya menjalani peran kehidupannya sendiri, suatu waktu. Bahkan saat sang anak memutuskan untuk pergi mengembara menggapai mimpi-mimpi mereka Dan bagi orang tua, ternyata berpisah dengan anak itu bukan urusan mudah.
Meski teknologi membuat kita bisa menatap wajah keriput mereka di layar HP, ternyata tak ada yang bisa mengobati rindu sebaik dekapan hangat dan ketulusan cinta. Sebanyak apapun uang tak akan bisa membeli perhatian, senyuman, dukungan dan pelayanan tulus.
Saya menuliskan ini bukan hendak menyalahkan si anak atau keluarganya, saya pun tak tahu persis apa kesulitan mereka. Saya hanya ingin menuliskan catatan untuk diri saya sendiri. Karena saya dan suami pun juga tinggal jauh dari orang tua. 
Dua momen bude dan pakde saya meninggal pun saya tak bisa takziah langsung, dada saya sesak setiap kali mengingatnya. Sudah tak mampu memuliakan mereka saat hidup, ternyata saya pun tak bisa memuliakan jenasahnya sebelum dikubur selamanya. Semoga Allah memberikan kami kekuatan dan kesempatan menyempurnakan bakti pada orang tua dan mertua. 
Mereka adalah pintu surga yang terbuka. Berbuat baik pada mereka bahkan lebih didahulukan daripada jihad. Menafkahi mereka adalah keutamaan yang besar. Bersabar atas mereka adalah pahala yang besar dihadapan ALLAH. 
Waktu berlalu, usia mereka bertambah, badan mereka makin lemah, kematian semakin mendekat. Bukan tentang kematian mereka, namun juga tentang jatah kematian diri kita. Adakah yang bisa menjamin bahwa kita bisa setua mereka dan punya waktu untuk melanjutkan mimpi yang tak ada habisnya ?
PULANGLAH 
“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata “Saya berbai’at kepadamu untuk berhijrah dan berjihad, aku mengharapkan pahala dari Allah.” Beliau bertanya, “Apakah salah satu orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab, “Ya, bahkan keduanya masih hidup.” Rasulullah bertanya lagi, “Maka apakah kamu masih akan mencari pahala dari Allah?” Ia menjawab, “Ya.” Maka beliau pun bersabda, “Pulanglah kepada kedua orang tuamu lalu berbuat baiklah dalam mempergauli mereka.” (HR. Muslim)
Pulanglah, ada surga yang bisa kita raih dalam bakti padanya. Pulanglah, ada berkah dan kebaikan yang besar yang akan kita dapatkan untuk memperbaiki kehidupan kita sendiri. Pulanglah, kesempatan terbatas dan tak bisa diulang. Sempatkanlah pulang, supaya kita bisa memohon maaf atas bakti yang tak sempurna, atas semua kedurhakaan dan belum mampunya kita membahagiakan mereka. 
Pulanglah, karena sampai kita menjadi orang tua bagi anak-anak kita pun masih saja merepotkan mereka.  Pulanglah, untuk mengucapkan terimakasih yang tak pernah cukup …
Jika mereka sakit hari ini, sungguh sakit mereka pun bisa jadi karena kita anak-anaknya. Masa muda dan kekuatan mereka berkurang untuk membesarkan kita anak-anaknya. 
“Rindu itu berat, hidup dalam sepi tanpa anak cucu di akhir masa tua itu jauh lebih berat”
Sungguh tak ada orang tua yang ingin merepotkan anak-anaknya. Tak ada yang ingin sakit di masa lemahnya. Tak ada yang ingin berhitung budi dengan anak-anaknya. Mereka ikhlas. 
Bukan orang tua yang sebenarnya membutuhkan anak-anaknya. Tapi justru anak-anaknya lah yang sangat membutuhkan orang tuanya. Karena sadar bahwa amal yang tak seberapa ini, dosa yang banyak ini hanya bisa lebur dengan amalan istimewa di mata ALLAH. Salah satunya adalah berbakti pada orang tua. 
“Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid-), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)]
“Setiap dosa, Allah akan menunda (hukumannya) sesuai dengan kehendakNya pada hari Kiamat, kecuali durhaka kepada orang tua. Sesungguhnya orangnya akan dipercepat (hukumannya sebelum hari Kiamat).” [HR Bukhari]
Memang tak ada orang tua yang sempurna namun yang pasti bahwa setiap anak berhutang pada orang tuanya. Bukan tentang nominal angka-angka yang mereka habiskan untuk membesarkan dan mendidik kita, namun tentang cinta, ketulusan, perhatian, doa dan pegorbanan yang tak berbilang. 
Maka, ketika seorang anak yang  menggendong sang ibu bertawaf bertanya pada Ibnu Umar “apakah aku sudah membalas baktiku pada ibuku?” 
“Belum, bahkan engkau belum membalas satu tarikan nafas dan rasa sakitnya saat ia melahirkanmu”
Rabbifghfirli waliwali dayya warham humaa kamaa rabbayani shoghiroo….

Wednesday, August 23, 2017

PASANGAN SUAMI ISTRI DI USIA LANJUT

PASANGAN SUAMI ISTRI DI USIA LANJUT
Di sebuah rumah sederhana yang asri, tinggal sepasang suami istri yang sudah memasuki usia senja. Pasangan ini dikaruniai dua orang anak yang telah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri yang mapan. Sang suami merupakan seorang pensiunan sedangkan istrinya seorang ibu rumah tangga.
Suami istri ini lebih memilih untuk tetap tinggal dirumah, mereka menolak ketika putra-putri mereka menawarkan untuk ikut pindah bersama mereka. Jadilah mereka, sepasang suami istri yang hampir renta itu menghabiskan waktu mereka yang tersisa dirumah yang telah menjadi saksi berjuta peristiwa dalam keluarga itu.
Suatu senja ba’da Isya disebuah masjid tak jauh dari rumah mereka, sang istri tidak menemukan sandal yang dikenakannya ke masjid tadi.
Saat sibuk mencari, suaminya datang menghampiri seraya bertanya mesra : “Kenapa Bu?”
Istrinya menoleh sambil menjawab “Sandal Ibu tidak ketemu Pak”.
“Ya sudah pakai ini saja” kata suaminya sambil menyodorkan sandal yang dipakainya.
Walau agak ragu sang istri tetap memakai sandal itu dengan berat hati.
Menuruti perkataan suaminya adalah kebiasaannya. Jarang sekali ia membantah apa yang dikatakan oleh sang suami. Mengerti kegundahan istrinya, sang suami mengeratkan genggaman pada tangan istrinya.
“Bagaimanapun usahaku untuk ber terima kasih pada kaki istriku yang telah menopang hidupku selama puluhan tahun itu, takkan pernah setimpal terhadap apa yang telah dilakukannya".
Kaki yang selalu berlari kecil membukakan pintu untuk-ku saat aku pulang kerja,
Kaki yang telah mengantar anak-anak-ku ke sekolah tanpa kenal lelah, serta kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari berbagai kebutuhanku dan anak-anakku”.
Sang istri memandang suaminya sambil tersenyum dengan tulus dan merekapun mengarahkan langkah menuju rumah tempat bahagia bersama….
Karena usia yang telah lanjut dan penyakit diabetes yang dideritanya, sang istri mulai mangalami gangguan penglihatan.
Saat ia kesulitan merapikan kukunya, sang suami dengan lembut mengambil gunting kuku dari tangan istrinya.
Jari-jari yang mulai keriput itu dalam genggamannya mulai dirapikan dan setelah selesai sang suami mencium jari-jari itu dengan lembut dan bergumam :“Terima kasih ya Bu ”.
“Tidak, Ibu yang seharusnya berterima kasih sama Bapak, telah membantu memotong kuku Ibu” tukas sang istri tersipu malu.
“Terimakasih untuk semua pekerjaan luar biasa yang belum tentu sanggup aku lakukan. Aku takjub betapa luar biasanya Ibu. Aku tahu semua takkan terbalas sampai kapanpun” kata suaminya tulus.
Dua titik bening menggantung disudut mata sang istri ......
“Bapak kok bicara begitu? Ibu senang atas semuanya Pak, apa yang telah kita lalui bersama adalah sesuatu yang luar biasa. Ibu selalu bersyukur atas semua yang dilimpahkan pada keluarga kita, baik ataupun buruk. Semuanya dapat kita hadapi bersama.”
Hari Jum’at yang cerah setelah beberapa hari hujan. Siang itu sang suami bersiap hendak menunaikan ibadah Shalat Jum’at. Setelah berpamitan pada sang istri, ia menoleh sekali lagi pada sang istri menatap tepat pada matanya sebelum akhirnya melangkah pergi.
Tak ada tanda yang tak biasa di mata dan perasaan sang istri hingga saat beberapa orang mengetuk pintu membawa kabar yang tak pernah diduganya.
Ternyata siang itu sang suami tercinta telah menyelesaikan perjalanannya di dunia. Ia telah pulang menghadap Sang Penciptanya ketika sedang menjalankan ibadah Shalat Jum’at, tepatnya saat duduk membaca Tasyahud Akhir. Masih dalam posisi duduk sempurna dengan telunjuk kearah Kiblat, ia menghadap Yang Maha Kuasa. "Innaa Lillaahi Wainnaa ilaihi Rooji'uun" “Subhanallah.... sungguh akhir perjalanan hidup yang indah” demikian gumam para jama’ah setelah menyadari ternyata dia telah tiada di akhir shalat Jum'at....
Sang istri terbayang tatapan terakhir suaminya saat mau berangkat ke masjid. Terselip tanya dalam hatinya, mungkinkah itu sebagai tanda perpisahan pengganti ucapan "Selamat Tinggal"....
Ataukah suaminya khawatir meninggalkannya sendiri didunia ini. Ada gundah menggelayut dihati sang istri, Walau masih ada anak-anak yang akan mengurusnya,
Tapi kehilangan suami yang telah didampinginya selama puluhan tahun cukup membuatnya terguncang. Namun ia tidak mengurangi sedikitpun keikhlasan dihatinya yang bisa menghambat perjalanan sang suami menghadap Sang Khalik. Dalam do’a dia selalu memohon kekuatan agar dapat bertahan dan juga memohon agar suaminya ditempatkan pada tempat yang layak.
Tak lama setelah kepergian suaminya, sang istri bermimpi bertemu dengan suaminya. Dengan wajah yang cerah sang suami menghampiri istrinya dan menyisir rambut sang istri dengan lembut.
“Apa yang Bapak lakukan?’ tanya istrinya senang bercampur bingung.
“Ibu harus kelihatan cantik, kita akan melakukan perjalanan panjang. Bapak tidak bisa tanpa Ibu, bahkan setelah kehidupan didunia ini berakhir sekalipun. Bapak selalu butuh Ibu. Saat disuruh memilih pendamping Bapak bingung, kemudian bilang pendampingnya tertinggal, Bapakpun mohon izin untuk menjemput Ibu.”
Istrinya menangis sebelum akhirnya berkata:“Ibu ikhlas Bapak pergi, tapi Ibu juga tidak bisa bohong kalau Ibu takut sekali tinggal sendirian.... Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lagi dan untuk selamanya tentu saja tidak akan Ibu sia-siakan."
Sang istri mengakhiri tangisannya dan menggantinya dengan senyuman. Senyuman indah dalam tidur panjang selamanya….
"…. Istrimu itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi istrimu… ” ~ QS (2) Al-Baqarah : 187 ~

Semoga bisa mempererat cinta kasih yg sejati... karena Allah..
Ya Rabb...  jadikan keluarga kami Sakinah Mawaddah wa Rahmah, wafatkan kami dalam keadaan husnul khotimah… Aamiin ya Mujiibassailiin...

Monday, August 22, 2016

MENGAPA KITA MENIKAH?

Mengapa Kita Menikah?

Orang bertanya kepadaku, mengapa orang menikah? Karena mereka jatuh cinta.
Mengapa rumah tangganya kemudian bahagia? Apakah karena jatuh cinta?
Bukan... Tapi karena mereka terus membangun cinta
Jatuh cinta itu gampang, dalam 10 menit juga bisa. Tapi membangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup...
Mengapa jatuh cinta gampang? Karena saat jatuh cinta itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita. Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yang bisa ditutupi lagi. Dengan interaksi 24 jam per hari 7 hari dalam seminggu, semua belang tersingkap... Di sini letak perbedaan jatuh cinta dan membangun cinta.
Jatuh cinta terjadi dalam keadaan menyukai. Namun membangun cinta perlu dilakukan dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk itikad baik untuk memahami konflik dan bersama-sama mencari solusi yang dapat diterima semua pihak.
Cinta yang dewasa tak menyimpan uneg-uneg, walau ada beberapa hal peka untuk bisa diungkapkan seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga atau masalah sex..  Namun sepeka apapun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut.
Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan pasangan. Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai. Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga sudah berubah bukan surga lagi tapi neraka.
Apakah kondisi ini bisa diperbaiki?
Tentu saja bisa, saat masing-masing mengingat KOMITMEN awal mereka dulu, apakah dulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup. Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah harus bermusuhan?
Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah MEMBANGUN CINTA. Berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah dan bertanggung jawab.
Mau punya teman hidup? Jatuh cintalah....  Tetapi sesudah itu.. bangunlah cinta... Jagala dan peliharalah KOMITMEN awal.
#1. Ketika akan menikah - Janganlah mencari isteri, tapi carilah ibu bagi anak-anak kita. Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah bagi anak-anak kita.
#2. Ketika melamar - Anda bukan sedang meminta kepada orang tua si gadis, tapi meminta kepada Allah melalui wali si gadis.
#3. Ketika menikah - Anda berdua bukan menikah di hadapan negara, tetapi menikah di hadapan Allah.
#4. Ketika menempuh hidup bahagia - Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tetapi juga semak belukar yang penuh onak dan duri.
#5. Ketika biduk rumah tangga oleng - Jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan.
#6. Ketika telah memiliki anak - Jangan membagi cinta anda kepada suami/isteri dan anak Anda, tetapi cintailah isteri atau suami Anda 100% dan cintai anak-anak Anda masing2 100%.
#7. Ketika anda adalah suami - Boleh bermanja-manja kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan Anda.
#8. Ketika anda adalah istri - Tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.
#9. Ketika mendidik anak - Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak.
#10. Ketika anak bermasalah - Yakinilah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orang tua, yang ada adalah anak yang merasa TIDAK DIDENGARKAN oleh orang tuanya.
#11. Ketika ada 'PIL/Pria Idaman Lain - Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.
#12. Ketika ada 'WIL/Wanita Idaman Lain - Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.
#13. Ketika memilih potret keluarga - Pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia.
#14. Ketika ingat Langgeng dan Harris – Gunakanlah Formula 7K:
1.   Ketakutan akan Allah
2.   Kasih sayang
3.   Kesetiaan
4.   Komunikasi dialogis
5.   Keterbukaan
6.   Kejujuran
7.   Kesabaran
Meskipun kita telah menikah dengan orang yang benar (tepat), tetapi kalau kita memperlakukan orang itu secara keliru, maka kita akhirnya akan mendapatkan orang yang keliru.
Kebahagiaan dalam sebuah pernikahan tidak tumbuh dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan.
Tidak cukup hanya dengan memilih dan nikah dengan orang yang tepat, tetapi jadilah pasangan yang tepat dan perlakukan pasangan dengan tepat pula.
Kita juga harus yakin kalau kita tidak salah memilih pasangan hidup. Kalau Allah sudah ijinkan pernikahan itu terjadi, maka itu berarti DIA mempercayakan tanggung jawab rumah tangga itu kepada kita dan pasangan kita.
Berbuatlah sesuai dengan apa yang telah engkau janjikan di hadapan Allah untuk setia dan saling menyayangi dalam segala keadaan.
Menikah dengan orang yang benar (atau salah) itu tergantung dari “Cara” kita memperlakukan pasangan
Padahal ketika satu jari tunjuk kepada orang lain, empat jari yang lain mengarah ke diri sendiri. Jangan suka menghakimi tetapi kita harus saling mengasihi.
Pernikahan adalah tiket 1 X jalan, jadi pastikan bersama pasangan kita menuju tempat yang lebih baik dari saat ini.
Pernikahan adalah tempat di mana kita dituntut menjadi dewasa dan salah satu tanda dewasa adalah siap memikul tanggung jawab.
Pernikahan bulan masalah feeling suka tidak suka, tetapi tentang komitmen untuk saling melengkapi satu dengan yang lain karena kalian saling membutuhkan.
Masalah yang timbul biasanya karena kita tidak memahami  perbedaan pria dan wanita.
Jangan menuntut pasangan untuk berubah, kitalah yang harus berubah lebih dulu.
Ingat......... Better me = Better we.
3 Kesalahan Umum Suami:
1.   Tidak perhatikan perasaan istri. Laki lebih pakai logika, wanita pakai feeling.
2.   Fokus memikirkan solusi daripada mendengarkan... Wanita biasanya ingin didengarkan, dia ingin suami ikut merasakan apa yg dia rasakan.
3.   Seringkali setelah bicara, suami pergi tanpa beri kepastian/ jawaban.
3 Kesalahan Umum Istri:
1.   Memberi petunjuk tanpa diminta. Mungkin bagi istri menunjukkan perhatian tapi bagi suami merasa dikontrol.
2.   Mengeluh tentang suami di hadapan orang lain.
3.   Mencoba membenarkan pada saat suami lakukan kesalahan. (istri merasa lebih benar)
Berkomitmenlah seperti  ini:
·         Untuk tetap memelihara suasana masa berpacaran.
·         Miliki sexual intimacy regularly.
·         Untuk saling bantu (jangan kritik pasangan).
·         Untuk punya romantic get away alias liburan berdua
·         Komunikasi dengan jelas (saling cerita, terbuka, jangan biasakan bilang tidak dapat apa-apa bila sebenarnya ada apa-apa, pasangan kita bukan dukun)
·         Bicarakan hal-hal yang baik tentang pasangan (puji pasangan)
·         Untuk menjadi  pribadi yang lebih sehat dari sebelumnya (Fisik yang sehat adalah kado buat pasangan)
·         Untuk  mudah memaafkan pasangan.
·         Untuk bergandengan tangan dan berpelukan.
·         Untuk h¡dÏ…p dalam kebenaran.
Akhirnya, kenalilah 10 HUKUM PERNIKAHAN BAHAGIA:
01.  Jangan marah pada waktu bersamaan
02.  Jangan berteriak pada waktu yang bersamaan.
03.  Jikalau bertengkar cobalah mengalah untuk menang.
04.  Tegurlah pasangan dengan kasih.
05.  Lupain kesalahan masa lalu.
06.  Boleh lupain yang lain tapi jangan melupakan Allah & pasanganmu
07.  Jangan simpan amarah sampai matahari terbenam
08.  Seringlah beri pujian pada pasangan.
09.  Bersedia mengakui kesalahan.
10.  Dalam Pertengkaran, yang paling banyak bicara, dialah yang salah.
Quote of the day : PERNIKAHAN YANG BAHAGIA BUTUH JATUH CINTA BERULANG-ULANG
Semoga bermanfaat

Friday, December 11, 2015

RENUNGAN SUAMI ISTRI

RENUNGAN SUAMI ISTRI

Suatu malam di sebuah pemukiman ....
"Teeng..."Terdengar denting bunyi jam 1 kali, menandakan jam 01.00 dini hari.
“Assalamu’alaikum…!”  Ucap Rino lirih saat masuk rumah. Tak ada orang yang menjawab, Rino tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur.
"Biarlah malaikat yang menjawab salamku,” Gumamnya dalam hati. Diletakkanlah tas, ponsel dan kunci-kunci di meja. Setelah itu, barulah Rino menuju kamar mandi untuk kencing sekalian berwudlu kemudian berganti pakaian.
Semua tertidur pulas, tak ada satu-pun yang terbangun. Segera Rino beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar. Rino tidak ingin mengganggu tidur istrinya.
Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadiran suaminya. Kemudian Rino duduk di pinggir tempat tidur. Dipandanginya dalam-dalam wajah Rina istrinya.
Rino teringat perkataan almarhum ayahnya, dulu sebelum Rino menikah.
Ayahnya berpesan : "Jika kamu sudah menikah nanti.. Jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan maumu, karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya.
Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu, karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.
Dan.. Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, Maka, lihatlah ketika istrimu tidur.."
“Kenapa Yah, kok waktu dia tidur?” Tanya Rino kala itu.
Ayahnya menjawab: “Nanti kamu akan tahu sendiri"
Waktu itu, Rino tidak sepenuhnya memahami maksud ayahnya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena ayahnya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.
Malam itu, Rino mulai memahaminya. Malam itu, Rino menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya.
Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu. Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.
Dalam batin, Rino bergumam, “Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis
yang leluasa beraktivitas. Banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Lalu aku menjadikanmu seorang istri. Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit. Memberikanmu banyak batasan, mengaturmu dengan banyak aturan.
Dan aku pula yang menjadikanmu seorang ibu. Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan. Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.
Wahai istriku.. Engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban. Kini aku memberikan beban di tanganmu, dipundakmu untuk mengurus keperluanku, guna merawat anak-anakku, juga memelihara kenyamanan  rumahku.
Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku. Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku. Kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku. Kau buang egomu untuk menaatiku, kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.
Wahai istriku.. Di kala susah, kau setia mendampingiku. Ketika sulit, kau tegar di sampingku. Saat sedih, kau pelipur laraku. Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku. Jika aku gundah, kau penyejuk hatiku. Kala aku bimbang, kau penguat tekadku. Bila aku lupa, kau yang mengingatkanku. Ketika aku salah, kaum yang menasehatiku.
Wahai istriku.. Telah sekian lama engkau mendampingiku. Kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki. Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu..?! Dengan alasan apa aku marah padamu..?! Andai kau punya kesalahan atau kekurangan.  Semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan airmata.
Akulah yang harus membimbingmu. Aku adalah imammu. Jika kau melakukan kesalahan, akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada kekurangan pada dirimu, itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah. Karena kau insan, bukan malaikat.
Maafkan aku istriku.. Kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan. Mari kita bersama-sama membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah azza wa jalla. Segala puji hanya untuk Allah azza wa jalla yang telah memberikanmu sebagai jodohku.”
Tanpa terasa air mata Rino menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis. Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan.Tak lama kemudian ia pun terlelap.
"Teeng..teeng.." Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali.
Rina, istri Rino terperanjat sambil terucap : “Astaghfirullaah, sudah jam dua..!" Dilihatnya sang suami pulas di sampingnya. Pelan-pelan ia duduk, sambil memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.
“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatanganmu. Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa. Sudah makan apa belum ya dia..?!" Gumamnya dalam hati.
Ada niat mau membangunkan, tapi ach.. tidak tega. Akhirnya Rina cuma pandangi saja wajah suaminya. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Hanya hatinya yang bicara: “Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku. Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku. Begitu besar harapan kusandarkan padamu. Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.
Wahai suamiku..  Ketika aku sendirian, kau datang menghampiriku. Saat aku lemah, kau ulurkan tanganmu menuntunku. Dalam duka kau sediakan dadamu untuk merengkuhku. Dengan segala kemampuanmu kau selalu ingin melindungiku.
Wahai suamiku.. Tak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku. Tak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu. Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal tidak menyurutkan langkahmu. Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.
Lalu.. Atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu. Dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu? Seberapapun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu.
Jika kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku, tapi kesungguhan dan tekadmu beramal shaleh, mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah, membanggakanku dan membahagiakanku.
Maafkan aku wahai suamiku. Akupun akan memaafkan kesalahanmu.
Alhamdulillah.. segala puji hanya milik Allah yang telah mengirimmu menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati Allah. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya.