Showing posts with label dahlan iskan. Show all posts
Showing posts with label dahlan iskan. Show all posts

Wednesday, January 12, 2022

PENELITI OMICRON

Oleh : Dahlan Iskan

Sabtu, 25 Desember 2021 - 04:12 WIB

SAMPAI kemarin ''baru'' 8 orang Indonesia yang terpapar Omicron –varian ke 15 Covid-19.

Di balik bumi sana, di Amerika, sehari kemarin saja kasus barunya mencapai 250.000 orang. Di Inggris 120.000 orang. Di Rusia tidak jauh dari itu.

Di sana, gelombang ketiga Covid-19 sudah melebihi tingginya gelombang ke-2. Angka tertinggi gelombang ketiga itu terjadi tepat di saat matahari dalam posisi paling Selatan. Mulai hari ini –dan seterusnya sampai akhir Juli– matahari akan kembali bergeser pelan-pelan ke utara.

Maafkan istilah matahari bergeser itu sebenarnya salah total. Anda sudah tahu: matahari itu tidak bergerak. Tidak pernah bergeser ke mana pun. Bumilah yang berputar dan memutari matahari. Pun matahari sebenarnya tidak pernah terbit dan tenggelam –hanya penyair dan pencipta nyair lagu yang mengada-adakannya. Juga kitab suci?

Dari 8 orang yang terpapar Omicron itu tidak satu pun yang bergejala berat. Semuanya dikarantina di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Semuanya kasus impor. Kini semuanya sudah kembali negatif.

Di Singapura juga belum ada angka-angka yang berbahaya. Tapi negara tetangga itu sudah antisipasi maksimal: mulai kemarin tidak ada lagi penjualan tiket apa pun dengan tujuan Singapura. Hanya yang sudah telanjur membeli tetap diizinkan masuk.

Negara di belahan selatan seperti Brasil kasus barunya tidak meledak. Stabil di kisaran 3.000 sehari. Di Afrika Selatan, tempat lahirnya Omicron, juga terus melandai.

Semua angka itu di mata ahli virus seperti drh Indro Cahyono adalah angka paparan. Bukan angka terinfeksi. Itu karena didasarkan pemeriksaan di dalam hidung. Ia membedakan antara terpapar dan terinfeksi.

"Terpapar itu kan sama dengan ketempelan virus. Nempelnya di dalam hidung," katanya. "Maka mengatasinya juga sederhana. Lepaskan tempelan virus itu. Dengan cara cuci hidung dengan air garam. Juga cuci tenggorokan. Mudah. Murah," katanya.

Rupanya drh Indro penganut prinsip "orang hidup itu harus pernah membuat sejarah –sekecil apa pun". Selama masa Covid ini ia sudah bikin dua sejarah penelitian: protokol rakyat dan paparan sinar UV terhadap virus.

"Kelihatannya sepele. Protokol Rakyat itu bentuknya cuci hidung. Tapi penelitiannya tidak sederhana. Penelitiannya lama lho," katanya. Terutama bagaimana virus itu sampai menempel, seberapa kuat tempelannya dan apa yang akhirnya bisa membuat tempelan itu lepas. (Disway 19 Juli 2021: Protokol Rakyat).

Indro mengajak buka-bukan: agar semua peneliti virus Covid di Indonesia mengungkapkan penelitian apa saja yang pernah dilakukan selama pandemi ini.

Dengan buka-bukaan itu, katanya, kita jadi tahu apakah para ahli virus kita telah melakukan penelitian yang sesungguhnya. "Atau hanya cuplik data primer dan sekunder yang sudah ada," katanya.

Indro tidak rela kalau rakyat diombang-ambingkan oleh angka-angka yang diolah berdasar kepentingan masing-masing.

Saya termasuk senang mendengar prinsip drh Indro ini: apa pun variannya tetap saja Covid-19. Artinya, tingkat kematiannya hanya 2 sampai 3 persen. Waspada dan hati-hati perlu. Tidak harus terteror oleh ketakutan.

Bahwa sampai hari ini paparan Omicron di Indonesia tetap rendah faktornya memang banyak. Vaksinasi sudah meluas. Herd immunity sudah tercapai. Masyarakat kian hati-hati. Dan paparan sinar UV di kawasan Indonesia sangat tinggi. Antara 8 sampai 10 –bahkan mencapai level 12 di Papua.

"Saya setuju salah satunya berkat sinar UV itu," ujar Prof Nidom, ahli virus dari Unair. Tapi Nidom juga menganjurkan untuk tetap waspada. "Jangan-jangan ini seperti gejala tsunami. Surut jauh dulu. Lalu terjadi tsunami," katanya.

Nidom juga menyebut rendahnya tingkat PCR. Jadinya angka kasus baru terlihat rendah.

Melihat ledakan Omicron di negara-negara dingin memang mengerikan. Kita pun tidak bisa percaya penuh soal UV. Pada dasarnya kita masih tetap menebak-nebak kenapa begitu rendahnya angka Omicron di Indonesia.

Rakyat sungguh berharap pada para peneliti. Khususnya yang relevan dengan negara tropis seperti kita. Sementara ini kita hanya bisa berpegang ''Omicron itu hanya Covid juga''. (###)

Kliping - eMTe

Monday, January 3, 2022

PIKUL BARU

Oleh: Dahlan Iskan

1 Januari 2022

BEGITU besar harapan kita pada Tahun Baru 2022.

Apalagi setelah mendengar Pidato Presiden Jokowi di depan Kompas100 menjelang tutup tahun 2021. Kompas100 adalah indeks Harian Kompas untuk Saham 100 Emiten di Pasar Modal Jakarta, BEJ.

Begitu Besar Optimisme Presiden Jokowi. Kita ikut Optimistis !!. Semangat Kita ikut terpompa. Seperti juga dulu... Ketika Optimisme itu dipompa oleh Pidato Beliau di Pasar Modal : Bahwa ekonomi kita akan meroket.

Kali ini Presiden Jokowi Menyebut 3 Proyek Baru...!!!. Semuanya Raksasa.., Prestisius...!!!. Dan bisa memuaskan emosi kita –yang sudah lama geregetan.

Misalnya soal :  "Pembangunan Rumah Sakit internasional di Bali". Yang _Ground Breaking_-nya dilakukan Presiden 2 Hari lalu. Itu bisa menjawab kegundahan nasional : "Mengapa Jutaan Rakyat Indonesia berobat ke Luar Negeri...?!". Ikut Menghabiskan Devisa Negara...!!!.

Itu terjawab sekarang : Tidak Perlu lagi ke Singapura...,  Atau ke Penang.... Cukup ke Bali saja...!!!. Akan ada Rumah Sakit internasional seluas 41 Hektare di Bali. Sambil Rekreasi...

Tentu urusan Rumah Sakit bukan hanya soal Bangunan Fisik. Yang penting juga Teknologi. Dan yang lebih penting lagi : Kehebatan Dokternya, Perawatnya, Pelayanannya...

Saya tentu ikut rombongan yang gembira. Apalagi kalau sudah tahu rencana detailnya : Spesialisasi Sakit apa saja yang akan diunggulkan...: Jantung dan Pembuluh Darah. Stroke dan Brain. Pencernaan dan Usus. Kecantikan dan Restorasi. _Stem Cell_ dan _Cell Cure_. Diabetes dan ikutannya. Dan apa lagi. Atau hanya sebagiannya ?

Pekerjaan berat lain : Bagaimana cara Merekrut Dokter Ahli tingkat Dunia agar mau menetap di Bali... Sekarang ini, banyak Pasien ikut saja Dokternya. Di mana ada Dokter hebat, ke RS itu pasien akan pergi. Dokternya pindah RS, Pasien ikut pindah pula.

Sekarang ini, sebenarnya, sudah banyak RS yang hebat-hebat. Banyak pula Dokter yang luar biasa. Tapi membuat RS terhebat di Bali memang masuk akal... Apalagi, selama ini, banyak yang iri atas Majunya Wisata Pengobatan di Singapura maupun di Penang, Malaysia.

Setidaknya Pemerintah sudah memberikan muara pada emosi kita. Soal bagaimana menjadikannya bermutu kita lihat empat-lima tahun lagi...

Tapi mungkin juga tidak perlu risau. Pemerintah punya cara pintas untuk mengatasi semua itu : "Mengandalkan nama besar Nomor 1 di dunia : Mayo Clinic, Amerika Serikat... Dengan nama Mayo orang tidak perlu lagi bertanya : Siapa Dokternya... Mayolah yang jadi jaminannya.

Anda sudah tahu : Mayo Clinic memiliki _center of excellence_ berkelas dunia. Terutama untuk Penanganan Kesehatan yang Kompleks dan Serius, termasuk Penyakit Kanker. Presiden SBY..., sukses menjalani Operasi Kanker Prostatnya di Mayo Clinic. Bulan lalu...!!!.

Tidak hanya di Pengobatan. Juga di bidang Medical Check-up. Bahkan di Mayo ada Penanganan Pasien dengan Pendekatan Whole Person Care: Melihat Pasien secara Utuh dari Fisik, Pikiran, Kejiwaan.

Kalau seperti itu rasanya akan bisa bersaing dengan Singapura. Tidak perlu dipersoalkan siapa yang punya... Toh yang di Singapura atau yang di Penang itu juga bukan kita yang punya.

Mayo Clinic Care Network memiliki jaringan global yang kuat di Amerika Serikat, Meksiko, Arab Saudi, Korea Selatan, Singapura, dan Uni Emirat Arab. Mereka berkolaborasi untuk meningkatkan layanan medis.

"Mayo Clinic berkomitmen untuk melakukan Sharing Pengetahuan dan Keahlian Medis antara Tenaga Kesehatan Indonesia dengan Para Ahli di Mayo Clinic Care Network," ujar Arya Mahendra Sinulingga, jubir Kementerian BUMN.

Optimisme Tahun Baru lainnya diPompakan Presiden Jokowi di Bidang industri.... Presiden Sudah Meresmikan dimulainya Pembangunan industrial estate Terbesar di Indonesia –Jangan-jangan yang Terbesar di Dunia...!!!. Lokasinya : di Kalimantan Utara...!!!. Tepatnya di Kabupaten Bulungan. Lebih tepatnya lagi di Pantai Tanah Kuning.

Meski masuk Kabupaten Bulungan, tapi Lokasi itu lebih dekat ke ibu kota Kabupaten Berau di Kaltim. Tidak jauh dari perbatasan antara Kaltim dan Kaltara.

"Berarti Kaltim dan Kaltara akan jadi Masa Depan Indonesia...!!!". Anda sudah tahu : "Ibu Kota Baru Indonesia di Kaltim...!!!". Dan kini industrial estate terbesar ada di Provinsi sebelahnya...

Itu bukan hanya yang Terbesar...!!!

Itu juga Paling Ramah Lingkungan...!!!. Paling Hijau. Green Industrial Park.

Luasnya : 10.000 Hektare. Yang akan bisa diperluas menjadi 30.000 Hektare. Bukan main...!!!.

Itu Pikiran Terbesar ke-10 dari Presiden Jokowi....!!!. Yang kalau Terwujud akan Dikenal Sepanjang Masa : "Ibu Kota Baru, Jalan Tol, Smelter Nikel, dan kini Green industrial estate.".

Di dalam industrial estate itu masih ada pula sejarah lain : "Akan Dibangunnya Pembangkit Listrik Tenaga Air Terbesar di Indonesia...!!!".

Itulah PLTA Hulu Sungai Kayan...!!!. Itulah Sungai Terpanjang di Kaltara...!!!. Yang meski Muaranya di dekat Tarakan tapi Hulunya tidak jauh dari Perbatasan Berau.... Berarti tidak terlalu jauh dari _industrial park_ tadi...   Rupanya Sumber Listrik dari Air itulah yang Jadi Penentu mengapa disebut Green Industrial Park.

Semua itu.., Sekarang ini.., Masih Perawan Ting-ting... Maka, kalau Proyek ini Terlaksana, akan seperti ibu kota baru...!!!. Lebih sulit lagi. Lebih ke pedalaman lagi.

"Pelabuhan dan Bandara Baru akan dibangun...," ujar Bupati Bulungan Syarkawi yang saya hubungi kemarin sore.

Untuk ke lokasi PLTA itu, sekarang, hanya bisa dengan Helikopter. Tidak ada jalan sama sekali... Pun setapak. Berarti Harus dibangun dulu Jalan Raya lebih 200 Km. Dari Nol.... Dari Mulai Membabat Hutan, Membangun Badan Jalan, Mengeraskan, dan Mengaspalnya...

Tidak Cukup Ada Sumber Batu Gunung di kawasan itu...!!!.  Maka Batu Gunung dari Palu atau Toli-Toli akan jadi pilihan terdekat...  Tinggal Menyeberang Laut Satu Malam : Memotong Selat Makassar...

Para Pemilik Batu Gunung di Sulawesi Tengah akan ikut Panen...!!!.

Pun di kawasan industri Tanah Kuning itu. Masih perawan. Belum ada secuil pun Pelabuhan. Belum ada pula Bandara. Berarti Harus Membangun Pelabuhan Baru... Yang Besar Sekali... Yang –kalau melihat kedalaman pantainya– harus dibangun menjorok jauh ke tengah laut. Akan mahal sekali.

Ini berbeda dengan konsep Gubernur Kaltim (waktu itu) Awang Faruq. Yang akan membangun industrial estate di Maloy –dekat Sangatta. Yang kedalaman pantainya lebih 20 meter.

Berarti Nasib Maloy menjadi tersisihkan.

Maloy memang sangat dekat dengan Sumber Energi. Hanya 10 Km. Tapi Batu bara...?!.

Tanah Kuning lebih dekat ke Energi Hijau : PLTA Krayan...!!!.  Meski yang disebut dekat itu sekitar 200 Km.

Pilihan seperti itu menandakan Energi Oriented lebih Diutamakan. Energi menjadi Pertimbangan Utamanya...!!!.

Batu bara Akan Habis dalam 50 Tahun –atau Kurang dari itu.

Air Sungai Kayan Tidak Pernah Habis –Seumur Hidup...!!!.

Batu bara, kotor...!!!.

Air, bersih...!!!.

Harga Listrik dari Batu bara 5 Cent Dolar/KWh...

Harga Listrik dari PLTA-Besar Hanya 2,5 Cent Dolar/Kwh...!!!.

PLTA-lah yang Dimenangkan...!!!.  Dan itu berarti memerlukan investasi yang luar biasa lebih besar...

Belum lagi Harus membangun Bandara Baru. Di Pantai itu.

Jalan Tol perlu Biaya Besar –tapi Bisa Terwujud... Sulitnya Keuangan, toh teratasi –atau akan teratasi...

Ibu Kota Baru perlu biaya besar. Segera terwujud... Cari uangnya tak begitu sulit. Toh bisa diperoleh –atau akan diperoleh...

Dua Proyek Besar di KALIMANTAN TIMUR dan UTARA yang kelihatannya sulit itu Toh Bisa Berjalan...!!!. "Sukses Harus Membawa Sukses Berikutnya...". Sukses Kecil melahirkan Rasa Percaya Diri yang kecil...., Sukses Besar Melahirkan Percaya Diri yang Besar...".

Percaya Diri Presiden Jokowi terlihat kian besar.... Dua Proyek Raksasa lagi akan ia pikul –dalam sekali pikul... 

Tahun Baru, Pikulan Baru. (Dahlan Iskan)

Saturday, December 25, 2021

HADIAH NATAL

Oleh : Dahlan Iskan

Minggu, 05 Desember 2021 - 04:21

”Rumah Anda berapa jauh dari SMA Oxford yang menghebohkan itu?” tanya saya kepada seorang warga Indonesia di Michigan, Amerika Serikat.

”Saya satu kecamatan di situ. Anak saya juga pernah sekolah di SMA itu,” jawabnya.

Awalnya saya tidak ingin menulis soal siswa kelas 2 SMA yang menembaki teman-teman sekolahnya di Oakland, Michigan, pada 30 November lalu itu. Memang empat siswa yang sampai meninggal dan 7 orang terluka --satu di antaranya guru-- tapi Anda semua sudah tahu itu.

Tapi kok peristiwa ini kian menarik. Polisi sampai menjadikan orang tua pelaku sebagai tersangka. Suami-istri: James dan Jennifer Crumbley.

Pelaku sendiri, meski baru berumur 15 tahun, sudah dipastikan akan diadili sebagai orang dewasa. Tidak akan ada pengadilan untuk remaja. Yang sidangnya tertutup. Yang nama dan fotonya tidak boleh dipublikasikan. Dan yang hukumannya berupa pembinaan.

Ethan Crumbley tidak akan diperlakukan sebagai remaja. Apa yang ia lakukan luar biasa kejamnya.

Sejauh ini belum terungkap apa motiv Ethan, menembaki teman-teman sekolahnya. Polisi masih fokus pada kajian ini: apakah orang tua Ethan layak jadi tersangka.

Jelas, pistol semi otomatis yang dipakai Ethan adalah milik orang tuanya. Yang baru dibeli 4 hari sebelumnya. Senjata itu disimpan di laci sebelah tempat tidur suami-istri itu. Memang begitulah kebiasaan orang Amerika. Punya simpanan senjata yang mudah diraih dari tempat tidur.

Yang membuat orang tua Ethan ikut menjadi tersangka adalah aktivitas di medsos mereka. Sang anak memosting senjata baru itu bersama sang ayah. Di situ sang anak mengatakan ”Saya baru saja mendapatkan si Cantik baru”. Sambil memamerkan senjata yang dijuluki Si Cantik itu. Disertai emoji berupa hati warna merah.

Setelah itu sang ibu mengajak Ethan ke tempat latihan menembak. Di situ sang ibu juga memosting senjata itu di medsos. ”Satu hari mama dan anak di lapangan tembak mencoba hadiah Natal”.

Ethan masuk sekolah seperti biasa. Tiga hari kemudian, saat di dalam kelas, Ethan membuka _hand phone_-nya. Sang guru memergoki apa yang dilakukan Ethan dengan HP-nya itu: mencari peluru untuk senjata baru itu.

Sang guru melapor ke pimpinan SMA Oxford di Oakland itu. Pimpinan sekolah menghubungi mama dan papa Ethan. Lewat email. Tapi tidak ada tanggapan.

Keesokan harinya Ethan masuk sekolah seperti biasa. Ia membawa tas di belakang punggungnya. Ethan langsung menuju toilet. Lalu masuk kelas tanpa membawa tasnya itu.

Di kelas Ethan terlihat menggambar. Ada gambar pistol semi otomatis. Ada peluru-peluru. Terlihat satu siswa tergeletak terkena dua tembakan. Banyak darah tumpah di gambar itu.

Di tengah gambar itu Ethan menulis kata-kata menarik. ”Pikiran tidak akan berubah, tolonglah saya”. Ada juga: ”Darah ada di mana-mana”. Lalu: ”Hidup saya tidak berguna”. Ada lagi: ”Dunia sudah mati”.

Guru pun melapor ke pimpinan sekolah. Ethan dipanggil. Disuruh membawa gambar itu. Sampai di ruang pimpinan, gambar itu diperlihatkan. Tapi sudah dicoret-coret. Untuk menutupi tulisan-tulisan di situ. Agar tidak terbaca lagi.

Tapi sang guru sudah sempat merekam gambar aslinya. Ethan tidak bisa menghindar.

Ayah Ethan, James Crumbley dipanggil. Tidak terungkap apa yang dibicarakan di ruang pembinaan itu. James hanya mengatakan akan membawa anaknya untuk dikonsultasikan dalam 48 jam ke depan.

James pulang. Ethan kembali ke kelas.

Tengah hari adalah jam makan siang di sekolah itu. Ethan terlihat menuju toilet. Sendirian. Sesaat kemudian terdengar suara tembakan dari depan toilet. Satu siswa tewas.

Ethan lantas menuju lorong sekolah. Sambil terus menembakkan pistolnya. Para siswa lari masuk kelas. Beberapa siswa mencoba bersikap tenang: ditembak beneran. Di kepala. Atau di dada.

Total ada lebih 20 tembakan dilancarkan Ethan. Di magasinnya masih banyak peluru aktif. Siswa yang buru-buru masuk kelas langsung menutup pintu. Lalu mengganjal pintu dengan meja-meja. Mereka pun sembunyi di bawah meja. Begitulah latihan yang diberikan kepada siswa. Peristiwa penembakan di sekolah bukan barang baru di Amerika. Siswa pun dilatih untuk menghadapinya. Mereka menerapkan apa yang pernah dilatihkan.

Dalam dua menit polisi tiba di sekolah itu. Ethan menyerah. Tanpa terjadi tembak-menembak. Ethan menuruti perintah polisi untuk melemparkan senjatanya.

Seketika itu juga berita tersiar luas. Ayah Ethan, tahu semua itu dari berita media. Demikian juga mama Ethan, Jennifer.

Agak lama kemudian James, ayah Ethan, menghubungi 911. Ia mengatakan kemungkinan besar pelaku peristiwa itu anaknya. Senjata yang ia simpan di laci tidak ada.

Jennifer, sang mama, langsung mengirim WA ke HP anaknya itu. ”Mama tidak marah kepada kamu. Tapi carilah cara agar tidak ketahuan,” tulisnya. Tentu  pesan itu tidak sempat terbaca oleh sang anak. Polisilah yang membacanya. Pukul 13.20 Jennifer kirim WA lagi: ”jangan lakukan itu”. Mungkin kalimat seperti itu sengaja dibuat seperti itu agar terlihat sang mama sudah berusaha mencegah.

Tapi pada jam seperti itu penembakan sudah lama berlalu. Ethan sudah berada di tangan polisi.

Hari ketiga setelah menembakan, mulailah polisi mengaitkan dengan orang tua Ethan. Mulai ada indikasi bisa saja papa-mama Ethan ikut jadi tersangka.

Di hari keempat polisi memastikan James dan Jennifer jadi tersangka. Polisi pun mendatangi rumah mereka: akan dibawa ke kantor polisi.

Yang dicari tidak ada. Mereka pergi mengendarai mobil Kia entah ke mana. Polisi mulai menyebar informasi mengenai pelarian itu.

Dua pengacara menghubungi polisi. Mereka bukan kabur. Tapi takut pada keselamatan diri mereka. ”Mungkin mereka panik. Mungkin ingin cari seseorang yang bisa dimintai pendapat,” ujar sang pengacara, seperti dimuat di media di Detroit --kota terbesar di Michigan.

Lokasi SMA itu memang berada di pinggir kota besar Detroit. Yakni pinggir barat laut. Masuk administrasi Oakland. Berpenduduk 1,2 juta.

Oakland dihuni banyak kelas mampu. Yang ekonomi mereka terkait dengan industri mobil. Detroit adalah pusat industri mobil Amerika.

Sebanyak 70 persen penduduk Oakland berkulit putih. Saya beberapa kali ke Michigan. Sempat juga jalan-jalan di pinggir lautnya. Dari sini bisa terlihat jelas salah satu kota di Kanada. Cahaya lampu dari Kanada itu memantul sampai di air depan tempat saya duduk. Detroit hanya dipisahkan sejengkal air laut dari kota kecil di Kanada itu.

Polisi pun mewaspadai kemungkinan itu: James dan Jennifer kabur ke Kanada.

Malam itu seseorang lantas menghubungi polisi: melihat ada mobil Kia yang dimaksud. Terlihat juga Jennifer lagi keluar dari mobil. Lokasi mobil itu: di sebuah pusat bisnis di Detroit.

Polisi pun --yang sudah telanjur mengumumkan hadiah 10.000 dolar bagi pemberi info akurat-- menangkap James dan Jennifer. Kemarin sore WIB.

Polisi juga menemukan keanehan di HP Ethan. Ternyata Ethan menyimpan rekaman khusus di HP itu. Bahwa ia akan melakukan penembakan di sekolahnya itu. Di malam sebelum penembakan.

Semuanya sudah direncanakan. Semuanya sudah terlambat.(###)

Kliping - eMTe

Saturday, December 11, 2021

JAKARTA INTERNATIONAL STADIUM

Teknik pemasangan atap stadion internasional Sunter, Jakarta Utara

Oleh : Dahlan Iskan

09 Desember 2021

ILMU teknik itu tidak berpolitik. Pun tidak beragama. Tapi kalau yang ditulis ini tentang teknik baru di stadion baru Jakarta, arahnya bisa ke mana-mana. Tergantung pada yang menggoreng.

Betul. Ini tentang teknik memasang atap stadion internasional di Sunter itu. Di Jakarta Utara. Keseluruhan kerangka atap itu beratnya hampir 4.000 ton. Tepatnya 3.900 ton.

Yang normal, kerangka itu dipasang dengan cara biasa. Dirangkai di atas. Tapi itu akan memakan waktu sampai 6 bulan. Keburu masa jabatan gubernur DKI Jakarta habis.

Kebetulan Real Madrid juga lagi merenovasi stadion. Yang di pusat ibu kota Spanyol itu. Renovasinya agak total. Sampai sekarang belum selesai.

Di sana, atapnya yang baru, juga dirangkai di bawah. Lalu ditarik ke atas. Tapi bukan seluruhnya. Dibagi empat. Masing-masing 800 ton. Empat angkatan itu dirangkai di atas.

Para insinyur di PT Wijaya Karya (BUMN) dan di PT Jakpro (BUMD) membahas itu. Secara keilmuan. Diskusi ilmiah dilaksanakan: mungkinkah kita lebih hebat dari yang di Madrid itu: mengangkat seluruh kerangka atap itu sekaligus.

Kesimpulannya: bisa.

Ini memang belum pernah terjadi. Di seluruh dunia. Mereka pun mengecek di Mega Struktur. Yang biasa menyiarkan proyek-proyek besar yang unik. Belum pernah ada yang seperti itu. Bahkan National Geographic tertarik merekam pelaksanaan ide di stadion Jakarta itu. Dan akan menyiarkan di salurannya.

Dalam diskusi-diskusi teknik itu, yang banyak dibahas adalah: bagaimana caranya.

Konstruksi stadion itu memiliki 8 tiang utama. Bulat. Kokoh. Diameternya 6 meter. Yang tingginya 70 meter.

Di 8 tiang tama itulah seluruh atap akan bertumpu. Tentu masih ada banyak tiang lainnya yang lebih kecil. Yang juga ikut menopang: 64 tiang.

Maka para insinyur itu memilih 8 tiang utama tersebut untuk tumpuan menaikkan atap. Di puncak 8 tiang itu ditambahi kerangka baja setinggi 6 meter. Baja itulah yang menjadi pusat mengerek kerangka atap. Di puncak tiang itu dipasang hidrolis. Untuk menarik ''tali'' –yang terbuat dari kawat baja (slink).

Setelah ditemukan cara itu, kerangka atap pun dirangkai di bawah. Panjangnya 267 meter. Lebarnya 245 meter. Beratnya itu tadi: 3.900 ton.

Bentangan atap itu begitu lebarnya. Kerangka utamanya dari pipa-pipa khusus: belum diproduksi di Indonesia. Masih harus diimpor dari Tiongkok. Itulah pipa 60 cm. Begitu besarnya dari dekat. Begitu kecilnya kalau dilihat dari atas rumput lapangan.

Pipa-pipa selebihnya, yang lebih kecil, semuanya produksi dalam negeri.

Setelah kerangka atap selesai dibuat, diikatlah di 8 pinggirnya. Setiap tempat diikat dengan dua tali. Kalau satu putus masih ada yang menahan. Tali 16 utas itu ditarik ke 8 puncak tiang utama. Satu tiap kebagian 2 tali.

Tanggal 10 Juni 2021, mulailah dilakukan penarikan slink itu. Semua jantung berdegub. Pengawas di 8 tiang sangat tegang. Sensor yang memonitor pergerakan di ujung tiang itu bekerja.

"Satu hari itu kami hanya mengangkat setinggi 1 meter," ujar Ir Iwan Takwin, direktur proyek dari Wika. Iwan lulusan UGM. Asal Makassar.

Itu sekaligus sebagai testing apakah keseluruhan atap terangkat dengan serentak. Juga: apakah tidak ada sambungan kerangka yang bermasalah. Bayangkan benda rangkaian selebar 267 x 245 meter diangkat bersama.

Ketika baru diangkat 1 meter itu semua bagian diperiksa. Termasuk tumpuan yang ada di setiap puncak tiang utama.

Setelah satu malam dibiarkan terangkat di ketinggian 1 meter –kalau toh jatuh hanya 1 meter– keesokan harinya dinaikkan lagi. Sangat pelan. Setiap naik 1 meter diperlukan waktu 2 jam. Padahal kerangka atap itu harus naik setinggi 70 meter.

Di hari ke 7 kerangka itu berhasil menumpang di puncak 8 tiang utama. Sekaligus bisa menumpang di 64 tiang lainnya.

Lega.

"Gembiranya seperti telah menjuarai turnamen international, Pak," ujar Iwan. Hari itu sudah senja. Lampu-lampu sudah mulai menyala.

Saya ke proyek itu kemarin siang. Yakni setelah ikut menyerahkan award untuk Marketer of the Year di MarkPlus, di Kasablanka Jakarta.

Atapnya sudah selesai dipasang. Bukan hanya kerangkanya. Tapi bagian tengah yang bisa dibuka-tutup masih belum. Itu bisa cepat karena terbuat dari membran.

Rumputnya juga sudah selesai pasang. Yakni rumput Boyolali yang dicampur dengan 5 persen rumput sintetis. "Di stadion Liverpool rumput sintetisnya 3 persen," ujar Iwan.

Tim Iwan sebenarnya diprogramkan untuk studi banding ke stadion baru Manchester City dan Tottenham Hotspur. Tapi ada pandemi. "Pembuat desain stadion Jakarta ini sama dengan yang mendesain dua stadion itu," ujar Iwan.

Saya sudah ke dua stadion tersebut. Masih baru. Dan keren. "Saya juga sudah ke sana," ujar Iwan. "Lewat online" tambahnya seraya tertawa.

Tentu saya juga meninjau dalamnya. Termasuk ruang VVIP yang dipasangi kaca anti peluru. Tim keamanan kepresidenan sudah melakukan pengecekan tingkat keandalannya.

Jogging track sekeliling stadion yang di atas atap itu belum selesai. Saya ingin ke sini lagi bulan depan. Ingin tahu seperti apa. Lebarnya saja 3 meter. Panjangnya sekeliling stadion: hampir 2 km.

Membangun stadion ini penuh tantangan. Terutama bagaimana menggusur lebih 600 KK di situ. Yakni mereka yang tinggal di bangunan liar di sepanjang rel kereta api itu.

Mereka sudah pergi. Sudah bersih. Yang 135 KK dibuatkan rumah susun di dekat stadion. Mereka akan bekerja di stadion itu. Sisanya pilih mencari tempat tinggal sendiri-sendiri.

Saat saya di situ sedang dilakukan tes lampu yang menyorot ke lapangan hijau. Juga sedang ada tes sistem suara: saya terhibur. Banyak lagu diputar keras. Termasuk Indonesia Raya dan lagu-lagu Barat.

Tantangan selalu menghasilkan ide baru. Dalam hal teknik ide baru cenderung lebih bisa diterima. Mereka, dari kampus mana pun, bisa berdiskusi dengan bahasa yang sama: bahasa teknik.

Tulisan ini saya persembahan untuk para insinyur di proyek itu. Yang telah membuat literatur hidup untuk siapa pun –khususnya mahasiswa dan dosen di fakultas teknik.(Dahlan Iskan)

Monday, December 6, 2021

ANGKA 244

Oleh : Dahlan Iskan 

10 November 2021

Angka itu terus menurun: tinggal 244 –tanggal 8 November kemarin.

Covid-19 di Indonesia membuat kagum dunia. Bagaimana bisa, negara berpenduduk 270 juta jiwa, yang terkena Covid tinggal 244 orang sehari itu.

Saya terus dihubungi teman-teman di luar negeri. Apalagi yang di Singapura itu. Sehari bisa telepon tiga kali: mengapa? Mengapa? Mengapa?

Angka itu begitu menakjubkan. Terutama bila dibandingkan di Singapura. Yang penduduknya hanya 5 juta jiwa. Yang penderita barunya masih 5.000 orang sehari pekan lalu, dan sekitar 3.000 orang sehari di tanggal 8 November itu.

"Di Singapura 3.000, itu sama dengan di Indonesia 1 juta," katanya. Lha, ini cuma 244 orang.

Pun lihatlah daftar provinsi ini: sudah 0 orang. Sudah sembilan provinsi yang tanpa penderita baru Covid-19.

Jambi : 0                                                            

Bengkulu : 0

Kepulauan Riau : 0

Sulawesi Utara : 0

Sulawesi Tenggara : 0

Gorontalo : 0

Sulawesi Barat : 0

Maluku : 0

Maluku Utara : 0

Itulah 9 provinsi yang merdeka pertama dari Covid-19. NTB dan Kalsel hampir saja merdeka: tinggal 1 orang. Lampung dan Kalteng tinggal 2 orang. Padahal Lampung begitu dekat Jakarta.

Jakarta sendiri tinggal 29 orang. Dan Bali tinggal 8 orang.

Begitulah hebatnya. Yang terbanyak pun tinggal 33 orang: Yogyakarta.

Ketika saya menulis kata ''Yogyakarta'' itu, !!!, ingatan saya melayang ke Butet Kertaradjasa. Ia kirim video pendek: !!! tenan. Sungguhan !!!.

Butet sudah bisa berdiri. Bahkan bisa berjalan thimik-thimik. Kegembiraan melihat perkembangan Butet sama besarnya dengan melihat angka 244 itu.

"Mengapa?“ kata saya mengulangi pertanyaan teman Singapura itu. Saya hanya bisa mengutip penjelasan banyak dokter yang pernah saya tanya mengapa. Misalnya Prof Nidom itu. Atau dokter Andani dari Universitas Andalas Padang itu.

"Indonesia sudah mencapai tahap herd immunity".

Dugaan itu didasarkan pada banyaknya orang Indonesia yang sudah terjangkit Covid. Hanya saja sebagian besar tidak merasakannya. Atau pura-pura tidak merasa.

Angka rendah itu juga berkat semangat bervaksinasi yang hebat. Vaksinnya ada: pemerintah cepat mengadakannya. Yang divaksin juga semangat –meski awalnya banyak yang ogah-ogahan.

Banyak pula kepala daerah yang menjadikan vaksinasi sebagai target capaian: Wali Kota Surabaya bisa melampaui 100 persen: Eri Cahyadi.

Gubernur Jakarta saya tulis urutan yang kedua – meski ia yang pertama mencapai angka di atas 100 persen itu: tidak perlu saya sebut namanya.

Saya pun balik bertanya: mengapa masih banyak penderita baru di Singapura. Masih setara 1 juta orang sehari.

Jawabnya: karena, dulu, Singapura selalu bangga begitu sedikit angka Covidnya. Singapura begitu hebatnya seperti mengejek negara tetangga.

Jawaban itu juga ia kutip dari para ahli di sana.

Berarti tahap herd immunity belum terbentuk di Singapura. Masih terlalu sedikit yang sudah terkena Covid.

Maka begitu pengendalian dilonggarkan melonjaklah angkanya. Itu berarti Singapura termasuk yang berbangga-bangga ke hulu, bersesak-sesak ke tepian.

Melihat hebatnya Indonesia, beberapa teman yang dulu mengungsi ke Singapura segera balik kucing.

Awalnya, sebagian kecil dari pengusaha besar itu ngeri melihat serinya Covid di Indonesia. Mereka pun mengungsi ke Singapura.

Kini angkanya terbalik: mereka pun mengungsi lagi ke kampung halaman sendiri.

Saya masih mikir: benarkah semua itu karena herd immunity?

Kalau benar, bukankah berarti Tiongkok kini dalam bahaya?

Bukankah selama ini Tiongkok kita unggulkan setinggi bintang di dekat langit? Sebagai negara tersukses mengendalikan Covid?

Kita pun pernah bertanya dengan bangga: bagaimana bisa, negeri berpenduduk 1,3 miliar manusia itu tidak sampai 100.000 orang yang terjangkit Covid?

Dari sinilah saya mulai paham: mengapa terjadi kepanikan yang hebat di Tiongkok sepanjang pekan lalu. Penduduk di hampir semua kota tiba-tiba menyerbu toko dan supermarket. Mereka menguras habis stok yang ada di toko. Barang apa pun. Dengan harga naik sekali pun. Terutama makanan dan keperluan harian.

Belanja panik itu berawal dari pernyataan kementerian perdagangan di sana: agar tiap rumah mencukupi kebutuhan makanan mereka -tanpa memperhatikan penjelasan mengapa.

Awalnya mereka mengira terlalu jauh: akan terjadi perang. Tiongkok akan segera menyerbu Taiwan. Suasana saling ancam memang meningkat belakangan ini.

Rupanya bukan itu. Mereka pun khawatir: mungkin akan dilakukan lockdown ketat lagi.

Untuk apa? Bukankah penderita baru Covid di sana sudah sangat rendah. Tidak sampai 50 orang setiap hari. Tiongkok ingin membuat angka itu menjadi 0. Dengan cara mereka sendiri. Terutama karena di sana segera dilangsungkan Olimpiade. Bulan depan. Yakni Olimpiade musim dingin. Angka 0 harus dicapai sebelum itu.

Sampai kemarin tidak ada juga pengumuman lockdown. Lalu mengapa sampai terjadi panic buying? Akhirnya Anda pun tahu mengapa.

Yang jelas, harapan saya untuk bisa segera ke 'kampung halaman kedua' harus ditunda dulu. Padahal sudah kangen sekali: para perawat di rumah sakit itu terbayang terus di luar sadar. (Dahlan Iskan)

Sunday, November 28, 2021

PIKET NOL

Oleh : Dahlan Iskan

Minggu, 14 Nopember 2021 - 04:25 WIB

LAMA-LAMA saya hanyut juga: ikut rombongan –!!!– Durian Travellers, DT. Rutenya: Malang-Senduro, di Lumajang.

Di Malang, Anda sudah tahu: wajib ke kebun duriannya Mas Yanto (Baca Disway: Durian Pentil). Yang di dekat Gunung Kawi itu.

Ampun. Rakus semua. Makan durian seperti makan singkong saja. Termasuk ketika makan yang kelas Musangking. Saya pun harus mengajari mereka di bawah pohon yang penuh buah berduri itu: makan durian itu harus seperti makan es krim. Dicucup lembut, halus, sedikit sedikit, dengan bibir dan lidah, sambil mata agak terpejam.

Saya praktikkan di depan mereka bagaimana menikmati durian. Saya ambil yang Musangking. Saya peragakan cara itu dengan makan durian beneran.

Sangat pelan dan lembut. Lalu satu lagi. Juga pelan. Masih satu lagi. Dan lagi. Dan lagi. 

Tidak boleh disosor secara kasar.

Gila semua.

Setelah pelajaran pendek tersebut, mulailah dibelah durian ke dua: habis dalam sekejap. Pun yang ketiga dan seterusnya. Anak-anak muda memang tidak bisa diajak main halus.

Yang kumpul hari itu, Senin lalu, termasuk yang datang dari Samarinda, Makassar, Palembang, Banyumas, Tegal dan Bandung. Masing-masing bercerita tentang kelebihan durian di kampung mereka.

Saya pun bertanya: adakah di tempat kalian orang seperti Mas Yanto. Yang berani membuang pentil-pentil durian yang begitu banyak. Kok tidak dibiarkan saja pentil itu jadi buah durian yang besar.

"Tidak ada," jawab mereka bergantian. Umumnya, pemilik pohon durian merasa sayang pentil yang begitu banyak dirontokkan.

"Ada!" ujar Pak Akhiong yang juga punya kebun durian.

Pak Akhiong bukan anggota DT. Ia tidak ikut hadir di Malang.

Pak Akhiong kirim WA ke sana -setengah mengoreksi Disway tentang keberanian Mas Yanto.

"Maaf saya sudah lama tidak berkomunikasi. Kemarin saya melihat youtube Durian Traveller. Yang ada acara makan durian di Malang. Saya dengar bapak bicara begini: belum pernah ada pekebun di Indonesia yang berani membuang pentil atau buah durian sebesar bola tenis. Tentu itu tidak benar. Di Bangka, di kebun Jebus, Koba, maupun di Parit3 (Tupaicong) sudah dilakukan. Dari tahun 2018, 2019, hingga 2021. Pekebunnya membuang banyak buah. Disortir. Yang potensial saja dibiarkan membesar".

Terima kasih Pak Akhiong. Kian lengkaplah informasi tentang pentil durian.

"Teman saya di Medan juga sudah mulai melakukan itu," tambahnya.

"Di sana cara itu disebut apa?" tanya saya.

"Kami tidak tahu apa itu pentil. Atau apa itu buang pentil. Proses itu kami sebut pruning," ujar Pak Akhiong. Buah durian, ketika baru sebesar bola tenis atau bola takraw harus dipruning.

Akhiong pun mengirimkan foto-foto hasil pruning itu. Saya lihat, durian yang dipruning memang sudah bukan pentil lagi. Sudah lebih besar dari pentil. 

Mungkin yang dilakukan Pak Yanto lebih baik: dipruning ketika masih pentil. Ketika baru sebesar bolanya Alay. Kan sayang, nutrisi pohon sudah telanjur banyak terserap di buah itu baru dibuang.

Mungkin juga mereka yang di Bangka dan Medan itu yang benar: kalau masih terlalu pentil bagaimana bisa tahu mana yang perkembangannya kurang baik?

Cara Bangka itu bisa lebih yakin memilih mana pentil yang memang harus dibuang.

Dari Malang saya berangkat duluan menuju Lumajang. Saya memilih jalur yang lebih panjang: memutar ke arah selatan gunung Semeru. Ingin tahu saja.

Saya belum pernah melewati jalur itu.

Itulah jalur yang disebut lewat Piket Nol.

Saya tidak menyangka jalur antar kecamatan ini padat dengan kendaraan truk. Kelihatannya ekonomi berkembang baik di pelosok ini. Di sepanjang jalan, saya melihat pohon sengon di mana-mana. Di lereng-lereng bukit. Petani memilih menanam sengon. Yang setelah lima tahun bisa dipanen: dijadikan bahan baku industri kayu.

Setelah tiga jam perjalanan, tibalah di Piket Nol. Langit bermendung hitam. Matahari kian menyenja. Saya belum menulis artikel Disway. Pun belum memilih komentar pilihan.

Itu cukup alasan untuk berhenti. Biarlah istri jalan-jalan di Piket Nol. Saya duduk di atas batu besar. Di tebing batu yang tinggi. Di situlah saya menulis naskah. Di HP tercinta ini. Juga membaca semua komentar sampai jam itu.

Ternyata istri tahu sendiri ke mana dan di mana pemandangan terbaik. Saya menyusul: ternyata ke jembatan lama yang sudah tidak dipergunakan lagi.

Dari jembatan ini terlihat jembatan baru yang lebih tinggi dan besar. Pemandangannya bagus sekali. Beberapa turis lokal juga terlihat di jembatan lama itu. Sambil wajahnya terlihat penuh ketakutan. Takut roboh. Aspal jembatan memang masih utuh, tapi pagarnya sudah lenyap. "Dicuri orang," ujar Bupati Lumajang, Toriqul Haq yang masih sangat muda itu.

Tapi pencurian itu bukan urusan bupati. Jembatan itu milik provinsi. Hanya saja sayang kalau sampai runtuh. Jembatan lama itu bisa jadi panggung wisata. Bisa diberi pengaman yang memadai.

Dan lagi jembatan itu bisa untuk arena uji nyali. Sesekali jembatannya bergetar. Itu pertanda gunung Semeru lagi batuk-batuk kecil. Kalau sampai roboh memang berbahaya: sungai di bawahnya dalam sekali.

Dulu memang ada pos di pinggir jalan: itulah pos untuk piket di lokasi yang tertinggi di jalur Malang-Lumajang.

Di pos itu dulunya wisatawan istirahat. Kini sudah rusak. Warung-warung kecilnya juga sudah kumuh. Lingkungan Piket Nol harus diselamatkan. Mungkin sulit: siapa yang merasa memilikinya.

Saya sudah terlalu malam tiba di Lumajang. Sudah lapar. Pak Bupati Toriqul Haq minta saya makan di pendopo. Saya milih bertanya: di mana ada sate gule yang enak.