Showing posts with label COVID-19. Show all posts
Showing posts with label COVID-19. Show all posts

Monday, December 6, 2021

ANGKA 244

Oleh : Dahlan Iskan 

10 November 2021

Angka itu terus menurun: tinggal 244 –tanggal 8 November kemarin.

Covid-19 di Indonesia membuat kagum dunia. Bagaimana bisa, negara berpenduduk 270 juta jiwa, yang terkena Covid tinggal 244 orang sehari itu.

Saya terus dihubungi teman-teman di luar negeri. Apalagi yang di Singapura itu. Sehari bisa telepon tiga kali: mengapa? Mengapa? Mengapa?

Angka itu begitu menakjubkan. Terutama bila dibandingkan di Singapura. Yang penduduknya hanya 5 juta jiwa. Yang penderita barunya masih 5.000 orang sehari pekan lalu, dan sekitar 3.000 orang sehari di tanggal 8 November itu.

"Di Singapura 3.000, itu sama dengan di Indonesia 1 juta," katanya. Lha, ini cuma 244 orang.

Pun lihatlah daftar provinsi ini: sudah 0 orang. Sudah sembilan provinsi yang tanpa penderita baru Covid-19.

Jambi : 0                                                            

Bengkulu : 0

Kepulauan Riau : 0

Sulawesi Utara : 0

Sulawesi Tenggara : 0

Gorontalo : 0

Sulawesi Barat : 0

Maluku : 0

Maluku Utara : 0

Itulah 9 provinsi yang merdeka pertama dari Covid-19. NTB dan Kalsel hampir saja merdeka: tinggal 1 orang. Lampung dan Kalteng tinggal 2 orang. Padahal Lampung begitu dekat Jakarta.

Jakarta sendiri tinggal 29 orang. Dan Bali tinggal 8 orang.

Begitulah hebatnya. Yang terbanyak pun tinggal 33 orang: Yogyakarta.

Ketika saya menulis kata ''Yogyakarta'' itu, !!!, ingatan saya melayang ke Butet Kertaradjasa. Ia kirim video pendek: !!! tenan. Sungguhan !!!.

Butet sudah bisa berdiri. Bahkan bisa berjalan thimik-thimik. Kegembiraan melihat perkembangan Butet sama besarnya dengan melihat angka 244 itu.

"Mengapa?“ kata saya mengulangi pertanyaan teman Singapura itu. Saya hanya bisa mengutip penjelasan banyak dokter yang pernah saya tanya mengapa. Misalnya Prof Nidom itu. Atau dokter Andani dari Universitas Andalas Padang itu.

"Indonesia sudah mencapai tahap herd immunity".

Dugaan itu didasarkan pada banyaknya orang Indonesia yang sudah terjangkit Covid. Hanya saja sebagian besar tidak merasakannya. Atau pura-pura tidak merasa.

Angka rendah itu juga berkat semangat bervaksinasi yang hebat. Vaksinnya ada: pemerintah cepat mengadakannya. Yang divaksin juga semangat –meski awalnya banyak yang ogah-ogahan.

Banyak pula kepala daerah yang menjadikan vaksinasi sebagai target capaian: Wali Kota Surabaya bisa melampaui 100 persen: Eri Cahyadi.

Gubernur Jakarta saya tulis urutan yang kedua – meski ia yang pertama mencapai angka di atas 100 persen itu: tidak perlu saya sebut namanya.

Saya pun balik bertanya: mengapa masih banyak penderita baru di Singapura. Masih setara 1 juta orang sehari.

Jawabnya: karena, dulu, Singapura selalu bangga begitu sedikit angka Covidnya. Singapura begitu hebatnya seperti mengejek negara tetangga.

Jawaban itu juga ia kutip dari para ahli di sana.

Berarti tahap herd immunity belum terbentuk di Singapura. Masih terlalu sedikit yang sudah terkena Covid.

Maka begitu pengendalian dilonggarkan melonjaklah angkanya. Itu berarti Singapura termasuk yang berbangga-bangga ke hulu, bersesak-sesak ke tepian.

Melihat hebatnya Indonesia, beberapa teman yang dulu mengungsi ke Singapura segera balik kucing.

Awalnya, sebagian kecil dari pengusaha besar itu ngeri melihat serinya Covid di Indonesia. Mereka pun mengungsi ke Singapura.

Kini angkanya terbalik: mereka pun mengungsi lagi ke kampung halaman sendiri.

Saya masih mikir: benarkah semua itu karena herd immunity?

Kalau benar, bukankah berarti Tiongkok kini dalam bahaya?

Bukankah selama ini Tiongkok kita unggulkan setinggi bintang di dekat langit? Sebagai negara tersukses mengendalikan Covid?

Kita pun pernah bertanya dengan bangga: bagaimana bisa, negeri berpenduduk 1,3 miliar manusia itu tidak sampai 100.000 orang yang terjangkit Covid?

Dari sinilah saya mulai paham: mengapa terjadi kepanikan yang hebat di Tiongkok sepanjang pekan lalu. Penduduk di hampir semua kota tiba-tiba menyerbu toko dan supermarket. Mereka menguras habis stok yang ada di toko. Barang apa pun. Dengan harga naik sekali pun. Terutama makanan dan keperluan harian.

Belanja panik itu berawal dari pernyataan kementerian perdagangan di sana: agar tiap rumah mencukupi kebutuhan makanan mereka -tanpa memperhatikan penjelasan mengapa.

Awalnya mereka mengira terlalu jauh: akan terjadi perang. Tiongkok akan segera menyerbu Taiwan. Suasana saling ancam memang meningkat belakangan ini.

Rupanya bukan itu. Mereka pun khawatir: mungkin akan dilakukan lockdown ketat lagi.

Untuk apa? Bukankah penderita baru Covid di sana sudah sangat rendah. Tidak sampai 50 orang setiap hari. Tiongkok ingin membuat angka itu menjadi 0. Dengan cara mereka sendiri. Terutama karena di sana segera dilangsungkan Olimpiade. Bulan depan. Yakni Olimpiade musim dingin. Angka 0 harus dicapai sebelum itu.

Sampai kemarin tidak ada juga pengumuman lockdown. Lalu mengapa sampai terjadi panic buying? Akhirnya Anda pun tahu mengapa.

Yang jelas, harapan saya untuk bisa segera ke 'kampung halaman kedua' harus ditunda dulu. Padahal sudah kangen sekali: para perawat di rumah sakit itu terbayang terus di luar sadar. (Dahlan Iskan)

Saturday, July 31, 2021

KULIAH COVID-19

Rangkuman Video Kuliah Tamu Prof Menaldi di Dept Bedah RSCM

1. Ingat prinsip infeksi: interaksi antara host, pathogen dan lingkungan. Untuk suatu infeksi bisa terjadi, ada peran:

a. Jumlah pathogen

b. Virulensi pathogen

c. Daya tahan tubuh inang 

i. Dalam kondisi pandemi, tidak bisa hanya  mengandalkan daya tahan tubuh, karena begitu sudah menjadi suatu pandemi, suatu patogen pasti jumlah dan virulensinya sudah melebihi kemampuan daya tahan tubuh kita

ii. Tidak ada istilah daya tahan tubuh lebih kuat jadi tidak terkena, SARS COV2 ini memang sudah ada dimana2 (ibaratnya udara juga sudah terkontaminasi semua) dan virulen. 

2. Metode transmisi SARS-COV2:

a. Di awal penyebaran diperkirakan dominan melalui transmisi droplet, dimana menjaga jarak 1.5 meter dapat melindungi kita. Tetapi, menyangkut infeksi akibat virus saluran nafas, pasti ada komponen aerosol disana. Jarak 1.5 meter menjadi inadekuat, dan potensi penyebaran bisa mencapai 3 meter. 

b. Dalam kondisi ini, udara kita sudah terkontaminasi SARS-cov2.

c. Jumlah virus terbanyak ada di area saluran nafas atas, sehingga keluhan pertama umumnya terutama di area faring. 

3. Terdapat 5 derajat keparahan penyakit pada COVID 19 menurut WHO:

a. (1) tanpa gejala - ini paling berbahaya dan menjadi penyebab celaka terbesar dokter di RS, krn kita tidak tau sekitar kita ada penyebar. 

b. (2) ringan

c. (3) sedang – mulai terjadi pneumonia

d. (4) berat – membutuhkan ICU

e. (5) kritis - membutuhkan ventilator

i. Pneumonia terjadi pada stage sedang ke berat, hati2 saat sudah ada keterlibatan paru, kebutuhan ICU sudah imminent.

4. Fenomena happy hypoxia terjadi karena virus ini mengganggu pusat regulasi nafas di SSP – pasien tidak merasa sesak padahal saturasi O2 sudah turun. Fenomena ini yg bisa dilihat dengan pasien segar, lalu dalam hitungan menit terjatuh karena hipoksia berat

5. Penularan melalui viral load/jumlah partikel virus:

a. Infeksi terjadi pada paparan 1000 partikel virus

i. Pada orang bernapas tanpa masker, seseorang akan mengeluarkan 20 partikel virus per menit, jadi dibutuhkan kira2 50 menit untuk dia bernafas untuk berpotensi menularkan ke kita

ii. Bicara = 200 partikel virus

b. Masker bedah tetap berpotensi terjadi kebocoran dari sisi atas bawah dan sisi, karena saat inspirasi kita akan tetap menghirup udara dari sekitar. 

i. Tetap ada potensi virus masuk dari sela

ii. Penggunaan exhaust fan/AC - udara berputar dalam 1 ruangan. Dalam ruang rawat/tindakan/kamar ganti/restoran/lift/ potensi besar tertular COVID 19àperkantoran, merupakan tempat paling berpotensi menularkan COVID

(Way of thinking: Udara kita sudah terkontaminasi virus SARS COV2)

6. Kriteria COVID 19 oleh WHO (sejak dideklarasi sebagai pandemi pada 11 Maret 2020):

a. Terkonfirmasi (PCR posittf, dengan/tanpa gejala)

b. Terkonfirmasi tanpa gejala - paling berbahaya ! 

c. Tersangka/suspek - ISPA + riwayat perjalanan ke area transmisi; ISPA+ riwayat kontak; ISPA berat/penumonia tanpa penyebab lain

d. Probable - PCR negatif tp klinis sesuai

COVID-19 harus ditegakkan berdasarkan klinis sebagai lini pertama, bukan lab dulu! - angka lab bisa menipu kita dan malah membingungkan

7. Stage dari COVID-19:

a. Asimptomatik - simptomatik ringan - simptomatik berat. 

b. Paling krusial adalah stage tengah,dimana pasien ringan dg segera bisa jatuh ke sedang, dan sudah terjadi hiperinflamasi menuju ke berat (terjasi sitokin storm - sangat dekat ke kematian - sembuh dari Tuhan).Dokter harus bekerja keras dari stage 1 dan 2. 

c. Gejala ringan - 60% datang dengan keluhan pusing! Keluhan kedua - batuk - 60%. Lelah/pegal2 - 60%. Jangan pernah abai terhadap gejala ringan. Mual/muntah/diare - 50%. Hanya 15% jatuh ke sakit berat, 3 persen yg sakit berat -- kematian. 

8. GGO akan tampak pada CT paru, terlihat di stage sedang. Jangan pernah bilang bukan COVID pada pasien dengan gejala ringan dan gambaran paru normal. COVID bereplikasi pada mayoritas di sel saluran nafas,sel pneumosit, pada jumlah banyak dia keluar dan menyebabkan apaptosis pneumosit, kl penuosit 2 yang memproduksi surfaktan - kolaps. lalu vaskular mulai terlibat - mediator iflamasi mulai terlibat - masuk cytokin storm -----> trombrosis. GGO - kebocoran fokal dulu per area. Oleh karena itu pilihan utama bukan ventilator. Difusi plg luas di paru adalah tengah ke posterior/dorsal - early intubation akan menyebabkan pasine tidak bergerak dan ARDS --> itu kenapa Cina survivor ventilator hanya 2%. jerman 96% --> karena mobilisasi terus pasien. Di Indonesia ga da SDMnya, 1 kali memobilisasi butuh 4-5 perawat per 16 jam --> tidak efisien. RSP - tidak agresif lgs menggunakan ventilator - mobilisasi dini pasien sangat penting, pasien diminta ikut berjuang aktif.

9. Berdasarkan kurva perjalanan COVID-19:

a. Umumnya onset gejala berlangsung kurang lebih 1 minggu setelah infeksi

b. Viral load tertinggi kurang lebih di hari ke 10. Implikasinya:

i. PCR sebelum hari ke 5 lebih besar kemungkinan false negatif. Namun, hasil negative ini belum berarti pasien tidak punya virus, karena sampel diambil dari ulasan tenggorok, sedangkan positive rate tertinggi adalah dengan sampel bronskoskopi tapi tidak praktis. 

Swab tertinggi kedua nilainya adalah nasofaring swab – 63% positive rate. 37 %false negative. 

ii. Hasil PCR terbaik dilakukan antara hari 7-10, tetapi celakanya mungkin org itu sudah sakit. Diatas hari ke-10 – bisa negatif lagi

iii. Rapid test sangat tidak reliable – IgM saja baru bisa diukur lewat minggu ke-3, IgG lebih lama. 

iv. PCR: Gold Standard! 

è Jika seorang terkontak dengan yg positif – harus diperiksa usap tenggorok (dg kemungkinan positif hanya 63%) – tapi kl negatif PCRnya, dia tetap harus istirahat isolasi mandiri 14 hari – aturan pelayanan di Prodi karena kemungkinan false negatif. 

è Satu lagi manfaat isolasi mandiri 14 hari bila memang negatif PCRnya adalah, tubuh diberikan waktu konsentrasi untuk melawan virus yg masih sedikit jumlahnya. Tapi kl tidak isolasi, dia akan terus terekspos sama virus dan daya tahan tubuh naik turun – kemungkinan sakit akan meningkat tajam!

Kunci: memberikan waktu tubuh beristirahat, untuk menurunkan viral load !

10. Hasil otopsi di Jerman, UK, Itali – sama dengan di RSP. Penyebab utama kematian: kerusakan paru dan vaskular. 

11. Faktor risiko COVID 19: IMT > 23 ! Usia,jenis kelamin (laki2),merokok, komorbid –  Komorbid: HT (>>),penyakit paru (asma,PPOK, bronkiektasis,bekas TB), DM,jantung,ginjal.

12. Lingkungan dan tempat kerja – penting dibedakan faskes COVID dan non-COVID ! Angka kematian nakes di RS full COVID sampai saat ini masih 0 – kenapa? Karena standarnya setengah di RS yang non full COVID. RSP – perawat hanya boleh jaga 3 jam (untuk tiap shift 8 jam),wajib istirahat dan mandi 1 jam,bergantian dg perawat lain – hazmat hanya 3 jam! – lebih dari itu membuat kelelahan! 1 tim dokter juga hanya 3 orang. Viral load dicoba untuk serendah mungkin. 

13. RSP seluruh ruang rawat dan OK tekanan negative untuk COVID 19

14. periksa DPL dan swab tenggorok untuk setiap org yg terkontak – bukan RO atau CT thorax, baru dipikirkan bila mulai ada gejala batuk menetap (Ro Thorax). CT scan untuk menentukan seseorang butuh masuk ICU atau tidak. Semua orang yg terkontak harus dirumahkan 14 hari apapun hasil PCRnya. 

• DPL nya – lihat tanda infeksi virus: sebelum GGO, limfosit akan main utk melawan, jadi di darah rendah (limfositopeni). Pada covid bila monosit 8-10, hati2 itu covid wlpun limfosit belum terlalu rendah, tp sudah mulai bergeser ke bawah. Monosit 10-12 semakin mendekat ke COVID, di atas 12 hampir pasti COVID, terutama bila digabung dengan limfositopenia. PK – NLR 3.4 -4.8 harus suspek COVID. 

• Klinis harus pertama, lab dicocokan klinis

15. Istilah kontak seperti apa yg harus diwaspadai untuk nakes: 

• Dengan orang yg terkonfirmasi (PCR positif), atau dengan kontak erat (dengan org konfirmasi) – lakukan screening! 

•  ibaratnya bila pakai APD, virus yg masuk 100 sedangkan yang tidak pakai APD yg masuk 1000. Tetapi, bila yang 100 itu cocok virusnya dengan kita, infeksi tetap akan terjadi. Risiko meningkat IMTàPemakaian APD untuk kontak? APD adalah usaha manusia, tetapi udara kita sudah terkontaminasi dengan SARS COV2 >23, laki2 dan ada komorbid

16. Prof Ari – bila ada demam – langsung istirahat saja, pengalaman beliau di minggu pertama muncul gejala, hasil lab dan PCR masih normal. Namun masuk hari ke sekian, paru langsung memberikan gambaran pneumonia. Istirahat dan CARI!. Jangan Cuma anggap hanya demam flu biasa. Minggu kedua kondisi tidak baik. 

17. Jangan buru2 intubasi! (prof Menaldi) mobilitas pasien sangat penting!!! Prof Ari masuk Actemra di hari ke -6 – langsung membaik karena belum jatuh ke stage yg berat. Actemra harus diberikan di saat yg tepat

18. RSCM masih menerima berbagai pasien – tracing, semua kena. Kalau harus isoman sendiri RS akan tutup. Prof Menaldi – tergantung kebijakan masing2 manajemen. Pada prinsipnya,setiap ada kontak dengan org positif, secara teoritis akan ada kemungkinan terkena.  kita membutuhkan pejuang jangka Panjang. Menurut Prof Menaldi, COVID ini baru akan selesai paling cepat Desember 2021. Istirahat itu PENTING! Sebagai apresiasi supaya kita tetap sehat. Bukan sebagai hukuman, penting untuk para pengambil kebijakan.

19. Seberapa sering kita harus swab rutin? RSP – hanya 2 residen: 1 Paru, 1 obsgin. Swab untuk semua dilakukan 1 kali sebulan. Pada yg ada keluhan demam – walaupun PCR negative – isolasi mandiri, stop 14 hari. Semua harus terbuka akan kondisinya. OTG di RSP (+) perawat – bangsal ada yg ditutup karena harus mempertahankan rasio perawat/pasien. Intinya mempertahankan Kesehatan nakes untuk jangka Panjang. 

20. Fisioterapi sangat penting untuk semua pasien COVID

21.  mudah terjadi pada kondisi hipoksemia, di orang tua banyak kronik hipoksemia. Sebelum swab, oksigenasi yg kuat dulu. Kembali ke klinis! pulse oximeter – sebelum swab jangan kurang dr 80, bisa mentrigger vagal reflex. Lakukan dengan persiapan bila harus. àVagal reflex karena swab?*

22. Realita antara pelayanan dan Pendidikan – sulit, tetapi harus diimbangi dan mementingkan keselamatan semua

Kesimpulan:

1. Mitigasi: reduksi segala bentuk kegiatan, pelayanan maupun Pendidikan. Kasus urgensi dan emergensi harus tetap berjalan*

2. Komitmen: save our nakes – upaya ke depannya akan diusahakan skrining minimal 1 bulan sekali. 

3. Berikan tubuh waktu berisitirahat: lakukan rolling untuk nakes masuk, terutama bila belum bisa PCR – untuk menurunkan viral load nakes. 

Rangkuman by Alia

Wednesday, October 14, 2020

LARI DULUAN

13 October 2020

Oleh : Dahlan Iskan

RUPANYA pemerintah menjalankan dua skenario sekaligus. Membeli vaksin yang sudah jadi dan membeli vaksin setengah jadi.

Yang setengah jadi adalah vaksin Sinovac. Yang bekerja sama dengan BUMN Bio Farma Bandung itu.

Minggu ini uji coba Sinovac tahap-3 di Bandung selesai. Artinya, sudah 1.600 orang relawan yang divaksinasi. Masing-masing dua kali suntik.

Sejauh ini tidak ada relawan yang mengalami gangguan efek samping. Tapi untuk kepastiannya masih harus menunggu sampai akhir Desember nanti.

Itulah sebabnya Bio Farma baru bisa mulai memproduksi vaksin Sinovac di pada Januari 2021.

Di samping yang Bio Farma itu, pemerintah ternyata juga membeli vaksin yang sudah jadi. Yang tidak perlu dilakukan lagi uji coba tahap-3 di Indonesia. Uji coba tahap-3-nya sudah dilakukan di Tiongkok.

Pembelian vaksin yang sudah jadi itu dilakukan oleh BUMN Kimia Farma dan swasta nasional Kalbe Farma. Sumber vaksinnya dari dua perusahaan Tiongkok lainnya. Nama dua vaksin itu Sinopharm dan CanSino.

Dua-duanya tidak sama. Yang satu adalah yang perlu disuntikkan dua kali. Seperti Sinovac yang di Bandung itu. Satunya lagi yang kadarnya lebih tinggi, sehingga cukup sekali suntik. Masing-masing ada plus-minusnya. Sama-sama efektifnya.

Yang beli barang jadi itu kelihatannya bisa lebih cepat. Bulan depan barangnya sudah bisa tiba di Indonesia –dan bisa langsung disuntikkan. Yang diperlukan hanyalah tempat penyimpanan vaksin yang memenuhi syarat. Dan itu tidak ada masalah.

Itulah sebabnya pemerintah sudah mengeluarkan aturan: siapa yang diprioritaskan untuk divaksinasi.

Yakni: tenaga medis. Termasuk petugas yang melakukan penelusuran terhadap orang-orang yang pernah bersentuhan dengan penderita Covid-19.

Di kelompok ini juga termasuk polisi dan tentara yang berada di gugus tugas Covid-19.

Jumlah mereka sekitar 3,5 juta orang. November beres.

Prioritas berikutnya adalah tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, pejabat-pejabat dan pengurus kampung. Jumlah mereka ini sekitar 6 juta orang.

Setelah itu, adalah guru dan petugas sekolah di berbagai tingkat. Baru berikutnya lagi anggota DPR, pegawai negeri, dan seterusnya.

Total 350 juta vaksin yang diperlukan. Itu pun karena sudah ada vaksin yang cukup sekali suntik. Jumlah vaksin harus bisa menjangkau 70 persen dari jumlah penduduk. Kalau kurang dari itu bisa jadi akan ada gelombang pandemi berikutnya yang lebih berat –karena virusnya kian kebal.

Untuk bergeraknya kembali ekonomi saya lebih mengharapkan vaksinasi ini dari pada UU Cipta Kerja. Saya membayangkan begitu vaksinasi dilakukan orang merasa terbebas. Lalu bisa bergerak.

Perasaan seperti itu pula yang terjadi di Tiongkok sekarang ini. Di sana yang diprioritaskan adalah siswa-siswa TK, SD, dan seterusnya. Hari-hari ini vaksinasi itu sudah dimulai di Beijing, Shanghai, Hangzhou dan kota besar lainnya.

Saya pun bertanya: mengapa bukan dokter, paramedis dan petugas di garis depan lainnya yang didulukan?

"Mereka sudah divaksinasi duluan. Sekalian untuk uji coba tahap 3 dulu," ujar teman saya di Dalian, kota indah di provinsi Liaoning, dekat Korea.

"Saya pun ingin cepat vaksinasi," katanya. Mengapa? "Ingin cepat ke Indonesia," tambahnya. "Sudah lama tidak ke luar negeri".

Untuk itu ia akan melakukan vaksinasi atas biaya sendiri. Ongkosnya 1.000 renminbi. Atau sekitar Rp 2,5 juta.

Tiongkok membolehkan para pengusaha yang punya bisnis di LN untuk mendapatkan vaksin lebih dulu. Asal, itu tadi, bayar sendiri.

Maka secara bisnis Tiongkok seperti akan lari duluan.(Dahlan Iskan)

Monday, October 5, 2020

JANGAN TUNGGU HARI KE-7

Waspada Covid-19, jangan tunggu timbulnya demam tinggi dan banyak batuk, baru berpikir! Terlambat sudah!

Kenali lebih awal mulai hari ke-1 masuknya virus ke dalam tubuh, agar parahnya sakit bisa dicegah. Gejala demam tinggi baru muncul di hari ke 8, dimana virus sudah berhasil berkembang, merusak dan merasuk luas di dalam tubuh. Tingkatkan daya tahan tubuh sebelum virus berhasil menghancurkan kita.

Perhatikan keadaan diri kita sejak kemungkinan mulai terpapar, yaitu sebagai berikut :

Hari ke 1- 3 :

• Hanya seperti masuk angin ringan.

• Makan minum masih normal.

• Tenggorokan hanya sedikit sakit.

Hari ke 4 :

• Sakit kepala ringan.

• Badan sedikit anget, sekitar 36.5°C.

• Sakit tenggorokan ringan.

• Suara mulai serak.

• Selera makan mulai terganggu.

• Indera Perasa/Pengecap "hilang"

• Indera penciuman juga menghilang.

• Sedikit diare ringan.

Hari ke 5 :

• Sakit tenggorokan.

• Suara serak.

• Badan mulai terasa meriang.

• Temperatur sekitar 36.5 - 36.7 °C.

• Badan terasa lelah, cape, sakit.

• Jari² dan persendian terasa sakit.

Hari ke 6 :

• Mulai demam ringan sekitar 37°C.

• Batuk kering atau sedikit berlendir.

• Sesekali terasa susah bernapas.

• Sakit Tenggorokan ketika bicara. 

• Sakit waktu makan dan menelan.

• Mual dan mungkin muntah.

• Ada diare.

Hari ke 7 :

• Demam agak tinggi 37.4 - 37.8 °C.

• Batuk lebih banyak dan berdahak.

• Napas pendek² dan tetap.

• Kepala sakit kepala dan berat.

• Nyeri² seluruh tubuh.

• Diare bertambah.

Hari ke 8 :

• Demam tinggi 38°C atau lebih.

• Sulit bernapas, dada terasa berat.

• Sakit kepala, punggung dan sendi².

• Batuk terus menerus.

• Sulit berbicara, seperti bisu.

Hari ke 9 :

• Semua gejala tidak berubah.

• Batuk bertambah parah.

• Demam tak menentu, tak teratur.

• Napas bertambah Sulit.

• Pencegahan sudah tak mungkin.

• Harus segera ditolong intensif.

Bila waspada di hari ke 1-3 tingkatkan daya tahan tubuh, minum vitamin² C, D, E serta sedia panadol (parasetamol), mungkin penyakit ini dapat dihalau untuk berakhir sebelum parah dan kesembuhan boleh didapatkan.

Gejala hari ke 1-3 sangat² ringan dan sering terabaikan tak terdeteksi. 

Mungkin hari ke-4 baru mulai curiga. Cepat isolasi mandiri, banyak minum air hangat atau jamu²an juga boleh. Berjemur diri, banyak cuci tangan, cuci muka, ganti baju. Makan makanan yg bergizi dan minum vitamin².

Selamat bersikap dan waspada. Tetap tenang namun bijak. Hindari kemungkinan terpapar sebisa mungkin. Semoga berhasil “berperang” melawan covid dan semoga kita tetap sehat.

Harap Perhatikan Perbedaannya !!! (Supaya tidak berprasangka buruk) 

1. Batuk kering + Bersin = Polusi udara.

2. Batuk + Lendir + Bersin + Pilek = Pilek biasa.

3. Batuk + Lendir + Bersin + Pilek + Sakit tubuh + Kelemahan + Demam ringan = Flu.

4. Batuk kering + Bersin + Nyeri tubuh + Kelemahan + Demam tinggi + Kesulitan bernapas + Hilangnya indra pengecap dan perasa =  Corona virus.

Departemen patologi AIIMS, 

Din. Kes. 

--------------------------------------------------

Ini kiriman dari Din. Kes. tolong di share ke wadah dan komunitas masing-masing

Jadikan pesan ini tersedia untuk diketahui orang sebanyak mungkin !

Wednesday, September 9, 2020

PROF ELVIS WARSONO

Senin 07 September 2020

Oleh : Dahlan Iskan

Ketika IDI Pusat melakukan acara keprihatinan atas meninggalnya 100 dokter Indonesia minggu lalu, Prof Dr Budi Warsono masih di ICU rumah sakit Darmo Surabaya. Demikian juga istrinya.

Sama-sama tertular Covid-19.

Tokoh ahli penyakit dalam Surabaya itu tidak pernah mau bercerita di mana ia tertular Covid-19. Tapi sangat terkenal: tempat praktiknya di Jalan Diponegoro Surabaya–hanya sepelemparan batu dari RS Darmo– sangat ramai.

Ia dokter favorit. Gayanya santai. Banyak humornya. Tidak pernah menakut-nakuti orang sakit. Sering pula memeriksa pasien sambil menyanyikan sepotong lagu Elvis Presley.

Saya adalah salah satu pasiennya.

Prof Budi sering menahan saya agar lebih lama di ruang praktiknya. Untuk ngobrol. Tapi saya tidak pernah mau: begitu panjang antrean di belakang saya.

Saat meninggal beliau berusia 76 tahun. Praktiknya terus ramai. Ketika terasa nafasnya sesak Prof Budi masuk RS Darmo.

Itu tanggal 25 Agustus 2020.

Setelah sembilan hari dirawat di ICU, Prof Budi membaik. Kamis lalu ia sudah minta HP. Sudah bisa guyon lagi. Sudah telepon ke sana ke mari. Keesokan harinya, Jumat, ia sampai menangis. Dadanya tiba-tiba sesak lagi. Tambah berat. Hari Sabtu kian kritis. Minggu dini hari kemarin beliau meninggal dunia.

Saya baru selesai senam Minggu pagi 1,5 jam saat menerima berita duka itu. Ketika tiba di rumah, saya sudah menerima foto-foto itu: ambulans yang membawa jenazahnya berhenti di halaman RS Darmo. Terlihat di foto itu sejumlah orang salat jenazah di halaman dan di teras rumah sakit –menghadap ke ambulans.

Itulah ambulans yang membawa Prof Budi ke pemakaman khusus Covid-19 di Keputih Surabaya Timur.

Ambulans itu tidak mampir ke aula Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Inilah guru besar kedua, dalam sebulan ini, yang jenazahnya tidak disemayamkan di Fakultas Kedokteran. Yang pertama adalah Prof Yogiantoro yang juga terkena Covid-19.

"Sedih sekali. Dua-duanya guru kami yang sangat menyenangkan," ujar dr Brahmana, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya.

Prof Budi Warsono masuk Fakultas Kedokteran Unair tahun 1964. "Tapi karena penggabungan mahasiswa akhirnya menjadi satu angkatan dengan saya," ujar Prof. Dr. Suhartono, ahli kandungan, yang masuk Unair tahun 1965.

Prof Suhartono adalah yang melahirkan anak saya, Isna Iskan, dan yang melahirkan anaknya Isna.

Dua guru besar itu sama-sama jago menyanyi dan jago melucu. Kalau ceramah kocaknya bukan main. Prof Suhartono juaranya dan Prof Budi runner-up-nya.

Tapi dalam hal menyanyi Prof Budi juaranya. Bukan hanya suaranya, tapi juga karena gaya dan penampilannya. Setiap kali menyanyi Prof Budi selalu mengenakan baju, celana, dan ikat pinggang persis Elvis Presley.

"Band saya sering mengiringi beliau menyanyi," ujar Tony Casino dari Band Casino Surabaya. Tony-lah yang menyanyi di album Casino 'Wahai burung dalam sangkar'.

Tony juga terkesan dengan penampilan ala Elvis Presley-nya Prof Budi. Pun sampai beliau sudah menjadi guru besar. Jambangnya dan rambutnya adalah gaya Elvis. Lihatlah foto-fotonya. Yang terkini sekali pun.

Tony kini juga sudah 74 tahun. Masih menyanyi? “Tidak lagi. Sekarang saya belajar mengaji. Sudah umur segini belum bisa membaca Alquran. Malu sama cucu-cucu," katanya.

Prof Budi memang punya banyak sekali kostum ala Elvis Presley. Suatu saat ketika saya mampir di Graceland, tidak jauh dari kota Memphis, saya sengaja ingin meledeknya: saya berfoto di depan lemari koleksi baju asli Elvis Presley di Museum Elvis Presley itu.

Ternyata saya kecewa. "Saya sudah beberapa kali ke situ," balasnya. Maka ketika sekian tahun kemudian saya ke Graceland lagi saya tidak berani kirim foto mejeng kepadanya.

Di masa Covid-19 ini, Prof Budi sangat rajin ceramah tentang pandemi. Saat beliau di ICU itu mestinya ada jadwal ceramah di depan sesama alumni SMAN 1 Blitar. Prof Budi sendiri yang berinisiatif.

Tema-tema ceramahnya tentang pandemi adalah 'Golden Way' dalam menghadapi Covid-19.

"Mengapa dinamakan Golden Way," tanya salah seorang dokter kepadanya.

Prof Budi pun menjawab dengan humornya. "Masak hanya DI saja yang bisa punya DI's Way," jawab Prof Budi seperti ditirukan dokter yang bertugas di RS Darmo itu.

Saya tidak akan lupa Prof Budi-lah yang menyarankan saya untuk berobat ke Singapura: 17 tahun yang lalu.

Yakni ketika kanker hati saya kian parah dan kaki saya sudah kian bengkak. Sirosis di hati saya membuat darah tidak bisa masuk semua ke dalam hati. Albumin saya merosot. Ginjal pun tidak bisa menyisihkan air dari darah.

Darah yang tidak bisa masuk ke hati itu tertahan di mana-mana –mengakibatkan varises di saluran pencernaan.

Air yang tidak bisa dipisahkan dari darah itu tidak bisa keluar dalam bentuk kencing –mengakibatkan badan sampai kaki bengkak semua.

"Bertemulah dokter ini di Singapura," ujar Prof Budi sambil menuliskan nama dokter itu. "Nanti malam saya telepon dokter itu," tambahnya.

Saya pun tidak perlu membuat janji sendiri. Begitu tiba di RS Mt. Elizabeth saya bisa langsung masuk ke ruang praktiknya.

"Bengkak ini tidak bisa diatasi tanpa operasi?" tanya saya.

"Mau dibiarkan saja?" tanya dokter.

"Kalau bengkaknya terus membesar bagaimana?" tanya saya sambil menunjuk sepatu yang sudah sesak.

"Beli saja sepatu yang lebih besar. Lalu beli lagi yang lebih besar lagi," jawabnya.

Saya tahu itu hanya humor. Seperti juga temannya yang di Surabaya itu.

Ia hanya bisa membantu saya untuk buying time. Agar saya tidak mati mendadak akibat pecahnya varises di saluran pencernaan –lalu muntah darah.

Setelah itu saya harus transplan hati. "Tidak ada jalan lain," katanya.

Dokter itulah yang membuat saya mengambil kata putus: ganti hati. 14 tahun lalu.

Saya akan mengabarinya bahwa teman baiknya di Surabaya baru saja meninggal. Tentu ia akan banyak bertanya mengapa sampai terjadi. Apalagi istri Prof Budi Warsono juga lagi kritis di ICU.

Setidaknya temannya itu akan sangat lega karena semua cita-cita Prof Budi sudah tercapai.

Tentu Prof Budi sudah lama melupakan saat-saat menderita dalam status 'ngenger' di Surabaya. Yang masa itu selalu beliau kenang sebagai masa yang 'termiskin di dunia' –terasa ini pun mengutip judul sebuah lagu.

Masa itu ia harus meninggalkan kampungnya di Blitar. Ia baru tamat SMAN 1 Blitar –salah satu SMA terbaik di Jatim saat itu.

Ayahnya pegawai negeri rendahan. Ibunya bidan. Tapi ia masih punya satu kakak dan dua adik. Tahun itu adalah puncak kesulitan ekonomi Indonesia –di akhir masa pemerintahan Bung Karno. Sang ayah masih harus membiayai saudara-saudaranya.

Untungnya Budi lulus terbaik di SMA Blitar. Ia diterima di tiga fakultas kedokteran sekaligus: Airlangga, UI, dan UGM. Tentu ia memilih Airlangga –di zaman itu Airlangga jadi Fakultas Kedokteran terbaik di Indonesia.

Akibatnya ia harus dinunutkan (ngenger) di salah satu famili di Surabaya. Yang rumahnya sekitar 10 Km dari Airlangga.

Tidak ada pembantu di rumah itu. Budi-lah pembantu itu. Ia sangat emosional kalau bercerita masa-masa ngenger-nya itu.

Memang makan dan tidur gratis. Tapi jam 4 pagi harus bangun untuk mengisi bak air, menyapu, ngepel, mempersiapkan anak-anak di keluarga itu untuk sekolah.

Makan malam pun baru bisa dilakukan hampir tengah malam. Setelah tuan rumah selesai makan malam. Ini keluarga Jawa. Yang sopan-santun harus dijaga. Termasuk waktu untuk makan.

"Dan mereka itu kalau makan malam lama sekali," ceritanya. Mungkin saja makan selama satu jam pun terasa lima jam dalam suasana seperti itu.

Perasaan sebagai pemuda 'termiskin di dunia' itu membuat ia minder di depan wanita. Ia ragu apakah akan bisa menarik di depan wanita. "Setelah jadi dokter ternyata banyak yang akan menjodohkan," ujar Budi.

Tapi jodoh itu datang sendiri. Suatu malam datanglah pasien ke tempat praktiknya. Seorang gadis. Budi langsung jatuh cinta. Langsung menyatakan ingin menikahinya.

"Eh, justru dia yang minder," ujar Budi mengenang. "Dia bilang kenapa saya mau menikah dengan gadis dari keluarga miskin," ujar Budi mengenang.

Itulah istirinya. Yang sekarang lagi di ICU –tanpa tahu kalau suaminyi sudah meninggal.

Dialah yang memberi Prof Budi tiga orang anak; laki-laki semua, dokter semua, spesialis semua –sebentar lagi.

Anak termiskin di dunia itu akhirnya memang menjadi dokter terkenal, spesialis terkemuka, guru besar yang berwibawa. Dan ia sudah pernah bisa menjadi Elvis Presley dalam hidupnya.(Dahlan Iskan)

https://www.disway.id/r/1058/prof-elvis-warsono