Showing posts with label sinovac. Show all posts
Showing posts with label sinovac. Show all posts

Saturday, December 19, 2020

MACAM-MACAM VAKSIN

MACAM-MACAM VAKSIN

1.   Vaksin Sinovac

Vaksin corona yang bernama CoronaVac diproduksi oleh Sinovac Life Science, perusahaan farmasi swasta yang berbasis di Beijing, China. Harga vaksin Sinovac diperkirakan sekitar Rp200 ribu perdosis, sesuai keterangan Dirut PT Bio Farma Honesti Basyir pada pertengahan Oktober 2020 lalu.

Dokumen persetujuan Emergency Use Authorization (EUA) atau izin penggunaan pada kondisi darurat yang diterbitkan BPOM RI, menyatakan vaksin Sinovac bisa digunakan buat orang usia 18-59 tahun.

Sejauh ini, selain Indonesia, sejumlah negara lain yang sudah memesan vaksin ini di antaranya: Brasil, Turki, Singapura, Filipina, Ukraina, Thailand, dan Cile.

CoronaVac dikembangkan dengan menggunakan platform inactivated viruses, atau virus yang sudah dilemahkan. Jadi, vaksin Sinovac bekerja dengan cara menggunakan partikel virus yang dimatikan untuk mengekspos sistem kekebalan tubuh terhadap virus tanpa risiko respons penyakit serius.

Uji klinis tahap 3 vaksin Sinovac sudah dilakukan di Brasil, Turki, dan Indonesia. Kepala Badan POM, Penny Lukito sudah menyatakan bahwa hasil klinis vaksin Sinovac di Bandung menyimpulkan ia memiliki tingkat efikasi (kemanjuran) mencapai 65,3 persen.

BPOM juga mempertimbangkan hasil uji klinik 3 di Turki yang menyimpulkan vaksin Sinovac punya efikasi 91,25 persen. Sementara hasil uji klinik fase 3 di Brasil menunjukkan efikasi vaksin Sinovac sebesar 78 persen. Ini berarti efikasi vaksin ini jauh di atas batas minimal menurut ketentuan Badan Kesehatan Dunia (WHO), yakni 50 persen.

Namun, laporan terbaru dari Brasil, seperti diwartakan BBC pada Rabu (13/1/2021), memperbarui keterangan mengenai efikasi vaksin Sinovac, menjadi 50,4 persen. Peneliti di Butantan Institute (lembaga riset negara di Brasil yang terlibat dalam proses pengujian CoronaVac) menyebut bahwa efikasi 78 persen belum memasukkan data dari relawan dengan kasus gejala ringan yang tak butuh perawatan.

Namun, mereka menegaskan, vaksin Sinovac memiliki tingkat efektivitas 78 persen untuk mencegah kasus Covid-19 dengan gejala ringan yang memerlukan perawatan, dan sepenuhnya efektif mencegah kasus sedang hingga berat.

2. Vaksin Sinopharm

Sinopharm adalah perusahaan milik pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan saat ini tengah mengembangkan dua jenis vaksin corona.Satu vaksin dikembangkan oleh Beijing Institute of Biological Products, dan vaksin lainnya dikembangkan oleh Wuhan Institute of Biological Products.Pada uji klinis tahap 1 dan 2, kedua vaksin tersebut menunjukkan efek yang baik untuk mencegah Covid-19, karena hanya menimbulkan sedikit efek samping ringan pada beberapa peserta uji coba. Selain itu, keduanya terbukti berhasil memicu terbentuknya antibodi untuk melindungi tubuh dari virus SARS CoV-2.Lebih lanjut, Sinopharm tengah melakukan uji klinis tahap 3 di beberapa negara seperti Maroko, Peru, dan Uni Emirat Arab (UAE).

Virus corona buatan Sinopharm dibuat menggunakan bahan baku atau metode virus infaktif. Artinya, di dalam vaksin tersebut terdapat virus penyebab Covid-19 yang sudah dilemahkan atau dibuat tidak aktif, sehingga tidak akan memicu infeksi, tapi tetap bisa memicu respons dari sistem kekebalan tubuh.Saat vaksin tersebut masuk ke tubuh, maka sistem imun akan mengenali virus-virus tersebut sebagai penyebab penyakit, sehingga akan membentuk suatu kekebalan terhadap Covid-19.Proses pembuatan vaksin menggunakan metode ini juga sebelumnya dipakai untuk vaksin-vaksin yang sekarang sudah kita kenal, seperti vaksin hepatitis A, vaksin flu, vaksin rabies,dan vaksin polio suntik.

Pada hasil uji klinis tahap 3 yang dilakukan di Uni Emirat Arab, vaksin Sinopharm buatan Beijing disebut memiliki tingkat efektivitas sebesar 86%. UAE memang menjadi salah satu negara yang menjalankan uji klinis vaksin asal RRT ini.Dimulai pada bulan Juli 2020, uji klinis tahap 3 ini dilakukan kepada 31.000 orang sukarelawan dari 125 negara, termasuk warga negara Indonesia yang tinggal di UAE.Vaksin Sinopharm sudah mendapatkan izin penggunaan darurat di UAE pada bulan September lalu dan diberikan kepada kurang lebih 100.000 orang di negara tersebut.

3.   Vaksin Pfizer

Uji Klinis 3 terhadap vaksin Pfizer telah dilakukan dengan melibatkan 43.448 orang yang berusia 16 hingga lebih dari 55 tahun (45 persen berusia 56-85 tahun). Puluhan ribu relawan itu tersebar di AS, Jerman, Turki, Afrika Selatan, Brazil, dan Argentina. Sebelumnya, uji klinis fase 2 vaksin ini dilakukan di AS dengan 30 ribu relawan berusia 18-85 tahun.

Mengutip The New York Time, hasil uji klinis 3 menunjukkan bahwa vaksin Pfizer memiliki tingkat efikasi mencapai 95 persen. Untuk mencapai tingkat efikasi itu, vaksin Pfizer harus disuntikkan d kali dengan interval 3 pekan. Distribusi vaksin ini memerlukan ruang penyimpanan dengan suhu -70 derajat celcius.

Berdasarkan pantauan Financial Times, vaksin Pfizer/Biontech telah diizinkan penggunaannya oleh Inggris, AS, Uni Eropa, Kanada, Bahrain, Arab Saudi dan 40an negara lainnya. Persetujuan dari Inggris, AS, dan Uni Eropa terbit pada Desember 2020, tetapi sebelum ada keputusan dari WHO.

Pfizer dan Biontech menargetkan, hingga akhir 2021, produksi vaksin Comirnaty akan mencapai 1,3 miliar dosis. Harga vaksin Pfizer diperkirakan mencapai 20 dolar AS per dosis. Harga vaksin ini jauh lebih mahal, dari vaksin AstraZeneca misalnya, yang 4 dolar AS per dosis.

4.   Vaksin Moderna

Vaksin bernama resmi mRNA-1273 dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi yang berbasis di Boston, AS, yakni Moderna. Vaksin ini dikembangkan dengan metode mRNA, sama seperti Pfizer. Uji klinis fase 3 vaksin Moderna telah dimulai pada Juli 2020 dengan melibatkan 30 ribu relawan.

Dengan tingkat efikasi mencapai 94,5 persen, vaksin Moderna telah mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) pada 18 Desember 2020.

Pada awal Januari lalu, Moderna telah menyuplain 18 juta dosis vaksin untuk kebutuhan AS. UEA vaksin Moderna juga telah diterbitkan oleh Uni Eropa, Israel, Swis, dan Inggris.

Harga vaksin Moderna diperkirakan sekitar 25-37 dolar AS atau Rp354 ribu-Rp524 ribu per dosis. Vaksin Moderna perlu disuntikkan 2 dosis dengan interval 4 pekan. Vaksin ini bisa bertahan di suhu minus 20 derajat celcius selama 6 bulan.

Moderna menargetkan memproduksi 600 juta sampai 1 miliar dosis vaksin pada 2021. Produksi vaksin Moderna dilakukan di AS, Swis, dan Spanyol, demikian dilaporkan Financial Times.

5.   Vaksin Novavax

Novavax mengembangkan vaksin corona bernama resmi NVX-CoV2373. Perusahaan bioteknologi yang berbasis di Maryland, AS tersebut belum mengumumkan data terkait efikasi vaksinnya.

Usai mendapat hasil yang menjanjikan dari studi pendahuluan ke monyet dan manusia, Novavax meluncurkan uji coba Fase 2 dengan 2.900 relawan di Afrika Selatan pada Agustus 2020.

Sebulan berikutnya, Novavax menggelar uji fase 3 yang melibatkan 15.000 relawan di Inggris. Uji coba di Inggris diharapkan memberikan hasil pada awal 2021. Uji coba fase 3 vaksin Novavax juga dimulai pada akhir Desember 2020 di AS, dengan melibatkan 30 ribu relawan.

Pada September 2020, Novavax membuat kesepakatan dengan Serum Institute of India, produsen vaksin besar kelas dunia, yang memungkinkan mereka memproduksi 2 miliar dosis per tahun.

Jika uji klinis 3 vaksin buatan Novavax berhasil, perusahaan ini bisa menyuplai 100 juta dosis untuk AS pada 2021. Kesepakatan lain juga telah mereka buat dengan Inggris dan Australia.

6.   VAKSIN ASTRAZENECA

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia telah menandatangani perjanjian pembelian vaksin COVID-19 yang dikembangkan Oxford-AstraZeneca. Dosis yang dibeli diketahui sebanyak 50 juta dosis vaksin.

"Progres yang signifikan berupa penandatanganan perjanjian pembelian 50 juta dosis vaksin AstraZeneca oleh Bio Farma," kata Menkes Budi dalam siaran langsung Konferensi Pers Perkembangan Vaksin COVID-19 di kanal Youtube Kemenkes, Rabu (30/12/2020).

Berdasarkan kesepakatan tersebut, vaksin COVID-19 yang dikembangkan Oxford-AstraZeneca tersebut, diperkirakan akan tiba di Indonesia sekitar kuartal II 2021.

Selain vaksin AstraZeneca, Menkes Budi juga menyebutkan telah mengamankan sebanyak 50 juta dosis vaksin Corona Novavax. Pembelian kedua vaksin ini disebut akan cukup untuk memberikan produk yang nantinya akan digunakan oleh masyarakat.

Terkait pengadaan vaksin, Menkes Budi mengatakan tahap pertama ditargetkan selesai dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Setelah itu, pendistribusian vaksin akan dilakukan ke seluruh Indonesia.

"Tahap 2 bagaimana memikirkan distribusi vaksin ke seluruh pelosok Indonesia untuk bisa diberikan ke tenaga kesehatan, tenaga publik dan seluruh masyarakat Indonesia," jelasnya.

7.   VAKSIN JOHNSON & JOHNSON

Perusahaan farmasi AS Johnson & Johnson memulai uji coba tahap akhir vaksin virus corona pada Senin (16/11/2020). Uji coba tahap 3 yang dilakukan di Inggris ini menargetkan 6.000 sukarelawan. Sementara sisanya akan bergabung dari negara lain dengan kasus Covid-19 yang tinggi seperti Amerika Serikat, Belgia, Kolombia, Perancis, Jerman, Filipina, Afrika Selatan, dan Spanyol. Pengujian dilakukan untuk rejimen dua dosis vaksin Covid-19 eksprerimental dan mengevaluasi potensi manfaat tambahan terkait durasi perlindungan dengan dosis kedua.
Perusahaan obat Amerika Serikat ini berencana mendaftarkan hingga 30.000 peserta untuk penelitian dan menjalankannya secara paralel dengan uji coba satu dosis yang melibatkan 60.000 sukarelawan mulai September lalu. Sukarelawan akan diberikan dosis pertama yang terdiri dari plasebo dan suntikan vaksin yang diberi nama Ad26COV2 itu. Kemudian setelah 57 hari, sukarelawan akan diberikan dosis kedua atau plasebo. Uji coba yang dilakukan kali ini mengikuti hasil positif dari studi klinis tahap awal hingga pertengahan yang sedang berlangsung dari perusahaan. Studi awal menunjukkan satu dosis kandidat vaksin memicu respons imun yang kuat dan secara umum dapat ditoleransi dengan baik. "Studi ini akan menilai kemanjuran vaksin yang diteliti setelah dosis pertama dan kedua untuk mengevaluasi perlindungan terhadap virus corona dan potensi tambahan untuk durasi perlindungan dengan dosis kedua," tulis J&J dalam keterangan resminya seperti dikutip dari Reuters, (16/11/2020).

8.   VAKSIN GAMALEYA

Pusat Epidemilogi & Mikrobiologi Nasional Gamaleya merupakan institusi Rusia terkemuka di dunia yang berdiri sejak tahun 1891

Institusi ini mengelola satu “Perpustakaan Virus” di dunia dan memiliki memiliki fasilitas produksi vaksin sendiri. Pusat Riset Gamaleya baru-baru ini menerima hak paten internasional untuk memproduksi vaksin Ebola dengan menggunakan vektor adenovirus

UJI KLINIS

Vaksin Covid-19 yang digunakan telah menerima sertifikat pendaftaran dari Kementrian Kesehatan Rusia dan di bawah undang-undang kedaruratan  yang dapat diterapkan dalam masa  pandemi Covid-19 untuk melakukan vaksinasi warga Rusia

Sebelum proses uji klinis dimulai, vaksin Gamaleya telah melalui semua tahapan uji-preklinis pada jenis-jenis binatang percobaan yang berbeda, termasuk 2 jenis primata

Uji klinis vaksin tahap 1 dan 2 telah selesai pada tangal 1 Agustus 2020. Semua responden merasa baik, tanpa adanya efek samping yang tidak diharapkan. Vaksin terbukti mendorong terbentuknya antibody dan imunitas sel yang kuat.

Tak ada satupun relawan darl uji klinis ini terinfeksi oleh Covid-19 setelah mendapat suntikan vaksin. Efektifitas yang tinggi dari vaksin ini telah dikonfirmasi melalui test antibody dalam darah para relawan dengan akurasi yang tinggi. (Termasuk satu analisa untuk antibodi yang menetralisir virus corona). Selain itu, juga dipastikan adanya kemampuan dari sel-sel imun dalam tubuh relawan menjadi aktif sebagai respons terhadap adanya Spike Protein-S dari virus corona. Ini menunjukkan bahwa baik pembentukan antibody maupun kekebalan selular telah timbul.

Uji klinis post-registrasi yang dilakukan pada lebih dari 40.000 relawan di Rusia dan Belarusa di luncurkan pada tanggal 25 Agustus 2020. Beberapa negara seperti UAE, India, Venezuela, Mesir and Brazil akan berpartisipasi dalam uji klinis Sputnik-V di negaranya masing-masing. Vaksin Covid-19 yang digunakan telah menerima sertifikat pendaftaran dari Kementrian Kesehatan Rusia pada tangga 11 Agustus dan di bawah undang-undang kedaruratan yang diterapkan dalam masa pandemi Covid-19 dapat digunakan untuk melakukan vaksinasi warga Rusia. Tujuannya adalah untuk meningkatkan produksi vaksin ini di Rusia maupun secara global

Bahan unik dalam Sputnik-V dan metoda penggunaannya memiliki perlindungan hak paten di Rusia yang diberikan kepada Institut Riset  Epidemiologi dan Mikrobiolgi Nasional Gamaleya


Wednesday, October 14, 2020

LARI DULUAN

13 October 2020

Oleh : Dahlan Iskan

RUPANYA pemerintah menjalankan dua skenario sekaligus. Membeli vaksin yang sudah jadi dan membeli vaksin setengah jadi.

Yang setengah jadi adalah vaksin Sinovac. Yang bekerja sama dengan BUMN Bio Farma Bandung itu.

Minggu ini uji coba Sinovac tahap-3 di Bandung selesai. Artinya, sudah 1.600 orang relawan yang divaksinasi. Masing-masing dua kali suntik.

Sejauh ini tidak ada relawan yang mengalami gangguan efek samping. Tapi untuk kepastiannya masih harus menunggu sampai akhir Desember nanti.

Itulah sebabnya Bio Farma baru bisa mulai memproduksi vaksin Sinovac di pada Januari 2021.

Di samping yang Bio Farma itu, pemerintah ternyata juga membeli vaksin yang sudah jadi. Yang tidak perlu dilakukan lagi uji coba tahap-3 di Indonesia. Uji coba tahap-3-nya sudah dilakukan di Tiongkok.

Pembelian vaksin yang sudah jadi itu dilakukan oleh BUMN Kimia Farma dan swasta nasional Kalbe Farma. Sumber vaksinnya dari dua perusahaan Tiongkok lainnya. Nama dua vaksin itu Sinopharm dan CanSino.

Dua-duanya tidak sama. Yang satu adalah yang perlu disuntikkan dua kali. Seperti Sinovac yang di Bandung itu. Satunya lagi yang kadarnya lebih tinggi, sehingga cukup sekali suntik. Masing-masing ada plus-minusnya. Sama-sama efektifnya.

Yang beli barang jadi itu kelihatannya bisa lebih cepat. Bulan depan barangnya sudah bisa tiba di Indonesia –dan bisa langsung disuntikkan. Yang diperlukan hanyalah tempat penyimpanan vaksin yang memenuhi syarat. Dan itu tidak ada masalah.

Itulah sebabnya pemerintah sudah mengeluarkan aturan: siapa yang diprioritaskan untuk divaksinasi.

Yakni: tenaga medis. Termasuk petugas yang melakukan penelusuran terhadap orang-orang yang pernah bersentuhan dengan penderita Covid-19.

Di kelompok ini juga termasuk polisi dan tentara yang berada di gugus tugas Covid-19.

Jumlah mereka sekitar 3,5 juta orang. November beres.

Prioritas berikutnya adalah tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, pejabat-pejabat dan pengurus kampung. Jumlah mereka ini sekitar 6 juta orang.

Setelah itu, adalah guru dan petugas sekolah di berbagai tingkat. Baru berikutnya lagi anggota DPR, pegawai negeri, dan seterusnya.

Total 350 juta vaksin yang diperlukan. Itu pun karena sudah ada vaksin yang cukup sekali suntik. Jumlah vaksin harus bisa menjangkau 70 persen dari jumlah penduduk. Kalau kurang dari itu bisa jadi akan ada gelombang pandemi berikutnya yang lebih berat –karena virusnya kian kebal.

Untuk bergeraknya kembali ekonomi saya lebih mengharapkan vaksinasi ini dari pada UU Cipta Kerja. Saya membayangkan begitu vaksinasi dilakukan orang merasa terbebas. Lalu bisa bergerak.

Perasaan seperti itu pula yang terjadi di Tiongkok sekarang ini. Di sana yang diprioritaskan adalah siswa-siswa TK, SD, dan seterusnya. Hari-hari ini vaksinasi itu sudah dimulai di Beijing, Shanghai, Hangzhou dan kota besar lainnya.

Saya pun bertanya: mengapa bukan dokter, paramedis dan petugas di garis depan lainnya yang didulukan?

"Mereka sudah divaksinasi duluan. Sekalian untuk uji coba tahap 3 dulu," ujar teman saya di Dalian, kota indah di provinsi Liaoning, dekat Korea.

"Saya pun ingin cepat vaksinasi," katanya. Mengapa? "Ingin cepat ke Indonesia," tambahnya. "Sudah lama tidak ke luar negeri".

Untuk itu ia akan melakukan vaksinasi atas biaya sendiri. Ongkosnya 1.000 renminbi. Atau sekitar Rp 2,5 juta.

Tiongkok membolehkan para pengusaha yang punya bisnis di LN untuk mendapatkan vaksin lebih dulu. Asal, itu tadi, bayar sendiri.

Maka secara bisnis Tiongkok seperti akan lari duluan.(Dahlan Iskan)

Friday, August 14, 2020

DAFTAR VAKSIN COVID-19 YANG SIAP UJI TAHAP AKHIR

Jakarta, CNN Indonesia

Para peneliti di seluruh dunia sedang mengembangkan lebih dari 160 vaksin melawan virus corona. Dari ratusan vaksin itu, sekitar 23 vaksin Covid-19 sedang dalam tahap uji coba pada manusia. 

Pandemi Covid-19 memaksa para peneliti bekerja ekstra keras untuk segera menghasilkan vaksin yang aman dan ampuh pada 2021.

Padahal, vaksin biasanya membutuhkan penelitian dan pengujian selama 10 hingga 15 tahun. Waktu selama ini dibutuhkan untuk memastikan vaksin aman dan tidak memberikan efek samping kepada sebagian besar penggunanya.

Tahap pengujian pun terdiri dari tahap pra-klinis dan klinis. Tahap pra klinis, pengujian dilakukan kepada hewan. Sementara tahap klinis berarti vaksin diuji coba pada manusia.

Fase I

Pada Fase I, vaksin akan diuji sekelompok kecil sukarelawan manusia (<100), untuk keamanan efek samping dan respons imun.

Fase II

Pada Fase II,  tes vaksin dilakukan untuk ratusan orang (100-300). Mereka dibagi dalam grup, seperti anak-anak dan orang tua untuk mengetahui apakah ada perbedaan reaksi tergantung umur. 

Vaksin juga diberikan pada mereka yang memiliki karakteristik (umur dan kondisi fisik) yang serupa dengan komunitas yang disasar. Uji coba ini adalah tes lanjutan keamanan vaksin dan respons imun. 

Fase III

Pada Fase III,  pengetesan dilakukan pada ribuan orang (2.500-10 ribu). Peneliti akan melihat apakah orang-orang yang diberikan vaksin terinfeksi Covid-19 atau tidak. 

Vaksin diberikan secara acak, ada yang disuntik vaksin yang diuji dan ada yang di suntik plasebo (obat kosong) . Fase ini akan menguji keampuhan vaksin dalam menangkal virus.

1. University of Oxford/AstraZeneca (Fase III)

Vaksin yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan University of Oxford ini didasarkan pada adenovirus simpanse yang disebut ChAdOx1. 

Vaksin ini dalam uji coba Fase II / III di Inggris dan uji coba Fase III di Brasil dan Afrika Selatan. Proyek ini dapat memberikan vaksin darurat pada bulan Oktober. Pada bulan Juni, AstraZeneca mengatakan total kapasitas produksi adalah dua miliar vaksin.

2. Wuhan Institute of Biological Products/Sinopharm (Fase III)

Perusahaan asal China Wuhan Institute of Biological Products dan Sinopharm menemukan bahwa vaksin inactivated aman dan memicu respons kekebalan. 

Oleh karena itu, kedua perusahaan meluncurkan uji coba Tahap III pada bulan Juli di Uni Emirat Arab (UEA). Di UEA, vaksin akan diuji kepada 15 ribu orang.

3. Moderna (Fase III)

Dilansir dari Livemint, perusahaan asal Amerika Serikat, Moderna juga berencana untuk memulai uji coba tahap akhir bulan ini.

Moderna adalah perusahaan Amerika pertama yang menguji vaksin ke  manusia. Vaksin ini menggunakan messenger RNA (mRNA) untuk memproduksi protein virus. 

Moderna menerbitkan hasil Tahap I yang menjanjikan pada 14 Juli. Uji coba fase III akan dimulai 27 Juli. Perusahaan akan menyiapkan vaksin pada awal 2021.

4. Sinovac (Fase III)

Dilansir dari New York Times, perusahaan swasta China Sinovac Biotech sedang menguji vaksin yang tidak aktif yang disebut CoronaVac. Pada bulan Juni perusahaan mengumumkan bahwa uji coba Fase I / II tidak menemukan efek samping yang parah dan menghasilkan respons kekebalan pada 743 sukarelawan.

Sinovac kemudian meluncurkan uji coba Fase III di Brasil pada bulan Juli. Perusahaan juga membangun fasilitas untuk memproduksi hingga 100 juta vaksin per tahun.

5.  CanSino Biological Inc./Beijing Institute of Biotechnology (Fase II, Persetujuan terbatas)

Perusahaan asal China, CanSino Biologics mengembangkan vaksin berdasarkan adenovirus yang disebut Ad5. Pada bulan Mei, perusahaan menerbitkan hasil yang menjanjikan dari uji coba keselamatan Fase I. 

Kemudian data yang tidak dipublikasikan dari uji coba Fase II menunjukkan vaksin menghasilkan respon kekebalan yang kuat.

Meski baru lewati uji klinis tahap II, tapi pada 25 Juni lalu, pemerintah China telah mengizinkan vaksin ini digunakan untuk kalangan terbatas bagi militer China selama setahun.

Menurut penelitian, hampir setengah dari penerima vaksin Ad5-nCoV melaporkan efek samping demam, 44 persen kelelahan, dan 39 persen merasakan sakit kepala. Secara keseluruhan, 9 persen pasien melaporkan efek samping yang cukup parah sehingga berpotensi mengganggu aktivitas.

Pengembangan vaksin di Indonesia

Tak hanya di Brasil, vaksin buatan Sinovac juga akan diuji klinis di Indonesia. Tim riset Fakultas Kedokteran Universitas Pajajaran bersama Bio Farma dan Sinovach Biotech, Tiongkok, sedang menyiapkan uji klinis vaksin Covid-19.

Vaksin asal Tiongkok ini rencananya akan disuntikkan kepada 1.620 relawan di Kota Bandung sesuai prosedur uji klinis vaksin.

Indonesia juga sedang mengembangkan vaksin Merah Putih untuk melawan virus corona (Covid-19). Uji coba vaksin segera selesai dan hasilnya pada 2021.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan  vaksin ini dipimpin oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan melibatkan Kemenristek, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian BUMN.


Monday, July 27, 2020

DRAMA CHEN WEI

Senin 27 July 2020

Oleh : Dahlan Iskan

Pemenang putaran pertama balapan vaksin ini jelas: CanSino Biologics. Yakni penemu vaksin yang dari Wuhan itu. Yang dipimpin jenderal wanita Chen Wei itu. Di balapan putaran kedua terjadi saling salip. Boleh dikata imbang. 

Tapi di putaran ketiga terjadi pembalikan. Yang finis duluan adalah Sinovac. Yakni vaksin Covid-19 yang dari Beijing itu. Setidaknya Sinovac-lah yang lebih dulu mencapai garis finis di Bandung. Di ibu kota Jawa Barat itu Sinovac akan dicoba terhadap 1.600 orang sukarelawan yang mendaftar secara gratis.

Walhasil Indonesia telah memilih berpartner dengan Sinovac. Kalau uji coba tahap 3 nanti berhasil Indonesia akan diizinkan memproduksi sendiri vaksin itu. Biofarma, milik BUMN, mampu melakukannya.

Amerika kelihatannya akan memilih CanSino Biologics yang dari Wuhan itu. Atau memilih vaksin produk Moderna Inc. Yang milik Swedia-Amerika itu. Brasil, di samping memilih menguji Sinovac, juga sudah disetujui untuk uji coba penemuan dari Oxford University Inggris.

Sinovac, CanSino, Moderna, Oxford. Empat vaksin itulah yang sekarang lagi balapan di kelompok pertama. Di belakang itu masih banyak yang siap masuk arena balapan.

Dari empat vaksin Covid-19 itu mana yang lebih hebat?

Sepanjang perkembangan yang saya ikuti kelihatannya kurang lebih saja. Tapi saya bukan orang yang berhak beropini di bidang ini. Saya sangat awam, pun di bidang mikrobiologi.

Bahwa Amerika memilih Moderna Inc barangkali karena itulah satu-satunya yang berbau Amerika.

Kalau pun nantinya Amerika akan memilih juga CanSino Biologics barangkali juga bukan asal berbeda dengan Indonesia. Mungkin saja karena CanSino bukan kelahiran asli Wuhan. Nama CanSino sendiri singkatan dari Canada-China.

Apa hubungannya dengan Kanada?

Para pendiri CanSino itu adalah orang-orang Tiongkok lulusan Kanada. Tokoh utama CanSino, Yu Xuefeng, kini 57 tahun, meraih gelar doktor di McGill University Montreal, Kanada. Yakni doktor di bidang mikrobiologi. Setelah lulus McGill mereka tidak pulang. Mereka bekerja di perusahaan farmasi yang terkemuka di dunia: Sanofi Pasteur.

Anda pasti pernah makan obat bikinan Sanofi, saking banyaknya jenis obat bikinan Sanofi.

Mereka pun sangat berprestasi di situ. Banyak yang sampai menduduki posisi level atas.

Suatu malam mereka pesta daging bakar di halaman belakang rumah Yu Xuefeng. Di situlah mereka terlibat dalam pembicaraan serius: mengapa pabrik obat di negara mereka ketinggalan. Khususnya ketinggalan dari dunia Barat. Baik dalam hal mutu maupun keamanannya.

Pesta malam itu diakhiri dengan kebulatan tekad: pulang!

Mereka ingin mewujudkan idealisme di bidang farmasi bagi kemajuan Tiongkok. Mereka pun berhenti dari Sanofi. Ada 4 orang yang segera memilih pulang. Mereka inilah yang mendirikan perusahaan farmasi di kota Tianjin, sebelah timur Beijing. Kata 'Kanada' mereka abadikan dalam nama depan perusahaan itu: CanSino.

Pemerintah Kanada memberikan dukungan pada perusahaan itu. Bahkan membolehkan menjalin kerja sama dengan lembaga riset milik pemerintah Kanada.

Ketika ada wabah Ebola, CanSino aktif mengembangkan vaksin itu. Saat itulah mereka bertemu Jenderal Chen Wei, ahli mikrobiologi yang juga kepala pusat riset farmasi militer Tiongkok. Mereka pun bekerja sama.

Sebelum itu pun mereka sudah lama mengenal nama Chen Wei. Nama jenderal wanita ini amat harum. Juga heroik. Terutama saat terjangkit wabah SARS di Tiongkok. Kala itu Chen Wei melakukan riset sangat serius. Dia ingin menemukan vaksin anti-SARS. Dan dia berhasil.

Keberhasilan itu bukan tidak dramatik. Sangat-sangat dramatik. Chen Wei menjadikan anak lelaki satu-satunya sebagai objek uji coba vaksin yang dia temukan itu. Umur si anak masih 4 tahun.

Itu bukan karena Chen Wei tidak sayang anak. Tapi dia begitu yakin akan penemuannya itu. Dia memastikan anaknya tidak akan bermasalah.

Kalau tahun lalu di Tiongkok beredar film Wolf Warrior II yang sangat laris di bioskop-bioskop, inspirasinya dari perjalanan kepahlawanan Chen Wei itu.  Kali ini, untuk vaksin anti-Covid-19 ini, Chen Wei merangkul CanSino.

Sayangnya CanSino tidak bisa finish di Bandung.(Dahlan Iskan)

https://www.disway.id/r/1016/drama-chen-wei