Showing posts with label dokter. Show all posts
Showing posts with label dokter. Show all posts

Friday, October 8, 2021

KISAH WALOEJO SEDJATI

Di sekitar tahun 1960, ratusan anak muda cemerlang dikirim Presiden Soekarno untuk belajar ilmu dan teknologi di berbagai universitas di dunia. Ada yang belajar sastra, ilmu teknik, kedokteran, pertanian dan sebagainya. Atas biaya negara, mereka dianggap sebagai mahasiswa ikatan dinas (mahid). 

Anak-anak muda ini tengah sibuk-sibuknya mengejar ilmu ketika di Tanah Air, peristiwa G30S/PKI meletus di tahun 1965. Beberapa lama setelahnya, nasib mereka berubah mendadak: paspor para mahasiswa ini ditarik dan tak lagi diakui negara. Mereka terbangun di pagi hari di Beijing, Moskwa, Pyongyang, dan kota-kota negara kiri lainnya dan mendapati diri mereka bukan lagi bagian dari tanah airnya. 

Mereka menjadi layang-layang putus yang tak pandai menunggangi angin. Raganya di timur jauh dan Eropa, cinta mereka ke Indonesia, tapi tanpa pegangan dan penanda sebagai warga negara. 

Inilah kisah Waloejo Sedjati, satu dari layang-layang putus dari Indonesia itu. Lelaki yang lahir 27 Juli 1935 di Desa Legokkalong, Kecamatan Karanganyar, Pekalongan, Jawa Tengah ini menuangkan kisahnya yang panjang dan getir dalam buku “Bumi Tuhan: Orang Buangan di Pyongyang, Moskwa dan Paris”. 

* * * * *

Usianya 25 tahun saat itu. Ia yang pernah kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, meraih beasiswa bersama seorang mahasiswa Universitas Padjadjaran untuk belajar ilmu kedokteran di Pyongyang, Korea Utara. 

Waloejo ingat benar, ia meninggalkan Indonesia pada pukul 11, tanggal 11, bulan 11, tahun 1960.  Di apron penumpang Bandara Kemayoran, ia dilepas ayah dan orang sekampungnya dengan air mata kebahagiaan: seorang pemuda Legokkalong kini dikirim Presiden untuk belajar di negeri yang asing.

Waloejo pergi dengan sekoper pakaian yang terselip di dalamnya oleh-oleh wayang Gatotkaca. Saat duduk di dalam pesawat, ia geli membayangkan Gatotkaca di rak bagasi itu betul-betul sedang terbang di angkasa. Begitu pesawat melintas di atas lautan, pramugari datang membawa nampan berisi hidangan dan selembar sertifikat untuknya dengan tulisan indah: "Telah Melewati Garis Khatulistiwa".

Pesawat itu tidak langsung membawanya ke  Pyongyang di Korea Utara, tapi transit di Singapura, Yangon di Myanmar, bermalam di Kunming di China  lalu ke Beijing. Empat hari di Beijing, diurus orang kedutaan Indonesia, ia kemudian naik kereta api menuju Pyongyang.

Salju sedang turun di kota Pyongyang ketika kereta tiba. Dan itulah pertama kalinya Waloejo melihat salju. Ia disambut begitu megah di Stasiun Pyongyang, dengan drum band dan karangan bunga. Tiba di hotel, ucapan selamat datang dan hadiah seperangkat pakaian musim dingin, disampaikan kepadanya dengan pesan "langsung dari Marsekal Kim Il Sung". 

Pada malam harinya, ia dijamu pemimpin Liga Pemuda Demokrasi. Atas semua itu, Waloejo bertanya dalam hati: "apakah sudah begitu pentingnya kedatangan kami ini?"

Di Korea "dinding pun punya kuping". Bulan-bulan pertama di Pyongyang, ia belajar bahasa Korea di Universitas Kim Il Sung.  Ia belajar bersama para mahasiswa asing lainnya dari Eropa Timur, Afrika dan Asia. Lalu pada bulan September 1961 ia pun memulai masa delapan tahun belajar ilmu kedokteran di Institut Kedokteran Pyongyang. Di sana, di kalangan mahasiswa ia menjadi "bintang". Selain karena ia tak berseragam seperti mahasiswa lain, ia dianggap "datang dari negeri kapitalis untuk menimba ilmu di negara sosialis". 

Ia sempat mendampingi kontingen olahraga Korea Utara yang datang bertanding di Ganefo, pesta olahraga negara-negara Asia yang digagas Bung Karno di Jakarta sebagai tandingan Olimpiade di tahun 1963. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk pulang kampung ke Karanganyar.

Ia juga menyaksikan kunjungan bersejarah Bung Karno ke Korea Utara di awal musim gugur tahun 1964, beberapa bulan setelah dibentuknya hubungan diplomatik Indonesia-Korea Utara. Sambutan kepada Soekarno di Pyongyang itu merupakan pesta terbesar yang pernah diadakan untuk menyambut tamu kepala negara asing. Pesta penyambutan digelar selama tiga hari di jalan-jalan dengan aneka acara, seluruh kota berhias dan dipercantik, ribuan lampu menyala di malam hari dengan display huruf "Selamat Datang" dan "Hidup Persahabatan" dalam bahasa Indonesia dan Korea.

Selama kunjungan itu, Waloejo dikontrak Radio Pyongyang sebagai penerjemah siaran berita. 

Ia juga menjadi saksi kedatangan Ketua CC PKI, DN Aidit pada September 1963. Aidit saat itu menyerukan: "Kelak, kalau PKI menang, ya seperti Koreanya kawan Kim Il Sung inilah sosialisme Indonesia akan kami bangun". Ucapan Aidit segera jadi bahan propaganda dalam negeri Korea Utara, dicetak khusus lalu disebarkan ke seluruh negeri. Harian partai Rodong Shinmun memuatnya sebagai headline, radio dan televisi menyiarkannya berulang-ulang. 

Kunjungan terakhir petinggi Indonesia ke Pyongyang yang ia ingat adalah delegasi MPR yang dipimpin Ketua Chaerul Saleh di minggu keempat bulan September 1965, hari-hari menjelang sebuah peristiwa besar meletus di Tanah Air.

Beberapa hari sepulangnya delegasi MPR itu, pada 1 Oktober 1965 pagi, siaran radio Australia berbahasa Indonesia membawa kabar bagai bisul yang pecah di Pyongyang: Tanah Air berguncang oleh peristiwa G30S, penculikan dan pembunuhan enam jenderal Angkatan Darat di Jakarta pada 30 September 1965, lewat tengah malam. 

Dalam kebingungan yang galau, kata Waloejo, "kami orang-orang Indonesia di Pyongyang -- ketika itu ada tujuh mahasiswa dan dua sarjana yang sedang melakukan riset -- hanya bisa meraba-raba."

Berhari-hari tak ada berita resmi, kecuali kabar dari radio-radio luar negeri. Bahkan KBRI di Pyongyang pun tak bisa menjawab. "Perasaan kami dicengkam kecemasan luar biasa," kata Waloejo.

Begitulah. Waktu berjalan dalam ketidakpastian. Pada awal 1967, Waloejo mendengar seorang Kolonel Angkatan Darat dari Indonesia tiba di Pyongyang. Beberapa hari kemudian, Waloejo dan kawan-kawan menerima surat pencabutan paspor Indonesia. Ia tak menyesal. "Apa artinya paspor dicabut dibanding kawan-kawan di Indonesia yang dikejar, disiksa dan dicabut nyawanya?"

Sejak itu, Waloejo Sedjati menjadi manusia tanpa negara, bagai layang-layang putus, tak tahu ke mana angin mengibaskannya. "Aku bukan siapa-siapa lagi. Hanya seorang pengembara tanpa identitas," katanya. 

Bekalnya kini sebagai manusia hanya satu buku kecil tipis yang diperpanjang setiap dua tahun: Izin Tinggal Orang Asing di Korea Utara.

Dalam status tak jelas itu, toh ia tetap melanjutkan kuliah. Ia lulus menjadi dokter setelah sembilan tahun. 

Bagi Waloejo, inilah saatnya meninggalkan Korea Utara. Tapi hendak ke mana?

Pada 5 Maret 1970, Waloejo meninggalkan Pyongyang dengan keharuan yang dalam. Ia hanya menyalami piket penjaga, seorang pengurus kantin dan dua staf yang mengurusi makanannya bertahun-tahun lamanya, lalu seorang guru pembimbing yang menyerahkan paspor dan tiket pesawat. Waloejo menuju Moskwa.

Di ibukota Uni Soviet itu, akhirnya ia tahu, ada ratusan mahasiswa Indonesia ikatan dinas yang belajar di berbagai perguruan tinggi, puluhan di antaranya di Universitas Patrice Lumumba. Mereka semua "orang-orang yang terhalang pulang", orang Indonesia yang paspornya telah dicabut, tak diakui sebagai warga negara oleh pemerintah Orde Baru. 

Waloejo kemudian masuk Universitas Patrice Lumumba, ia mendalami ilmu  bedah sembari berpraktik di sebuah rumah sakit. Ia juga menjalankan penelitian untuk gelar doktor di bawah bimbingan Profesor Chumakov, perintis transplantasi jantung di Uni Soviet. Keahlian Waloejo yang terasah adalah operasi transplantasi buah zakar dari mayat korban kecelakaan yang masih segar ke pasien dengan masalah scrotum! Dalam rentang 1973-1980, ia sukses melakukan operasi pemindahan biji lelaki itu setidaknya 30 kali. 

Ia akhirnya menjadi dokter spesialis bedah, dan sekaligus meraih gelar doktor setelah menghabiskan 400 ekor tikus putih untuk eksperimen di laboratorium.

Dengan gelar doktor dan dokter ahli bedah, di bulan Desember 1981 Waloejo Sedjati meninggalkan Moskwa. Ia berkereta menuju Budapest, Hongaria lalu ke Yugoslavia. Tujuan utamanya hendak pindah ke Paris, ibukota Perancis -- ibukota peradaban Eropa. Ia memanfaatkan kedekatannya sesama orang Indonesia yang terbuang serta jaringan sesama dokter lulusan Moskwa di kota-kota itu untuk sekadar singgah. Ia tak memegang paspor, hanya selembar surat keterangan tanpa warga negara (stateless) dengan huruf Rusia. 

Di setiap kota yang disinggahinya itu, ia tetap membuka praktik pengobatan. 

Akhirnya, Waloejo tiba di Paris pada bulan Februari 1982 di saat kota itu "sudah muak kebanjiran imigran". Banyak pencari suaka ditolak. Tapi sebagai dokter ia akhirnya diterima. Ia kemudian menetap di Paris dalam naungan UNHCR.

Pada suatu hari di tahun 1982, ia berhasil mendatangkan ayah dan ibu, serta adiknya ke Eropa. Itulah perjumpaan yang sangat mengharu-biru setelah 25 tahun perpisahan. Dan akhirnya, ia mendengar cerita dari tanah air tentang ayahnya yang dituduh sebagai pemimpin PKI oleh orang sekampung di Legokkalong, Karanganyar itu karena kepergiannya sekolah ke Pyongyang dulu -- tapi tak seorang pun yang bisa membuktikannya. Kata ibunya: "Bapakmu mengucapkan kata komunis saja belum pernah kok disuruh mengaku pemimpinnya!"

Keluarga ini selamat meski hubungan dengan orang sekampung, bahkan dengan sanak kerabat, sudah berubah. Di kampung itu banyak yang mati dibantai dituduh sebagai PKI. "Tak ada sahabat, tak ada saudara. Dituduh maling atau garong, atau pelacur bahkan anjing masih mungkin mencari selamat. Tapi kalau dituduh komunis, pasti habis," kata sang ayah.

Dari ayah dan ibunya ia mendengar cerita menyayat hati tentang pembunuhan massal orang-orang kampung oleh kerabat sendiri, oleh polisi dan tentara, karena tuduhan sebagai PKI. Mayat-mayat mereka bertebaran dan membusuk. Sungai Loji di pantai utara bahkan seperti tersumbat oleh banyaknya mayat. 

Begitulah. Sebulan ia berkumpul dengan ayah ibunya. Lalu sepulang mereka kembali, kehidupan yang keras dimulai lagi. 

Baru pada 11 Oktober 1994 ia memperoleh kewarganegaraan Perancia -- sesuatu yang sesungguhnya tak ia inginkan karena tetap mengingat Indonesia. "Tapi saya ingin pulang ke Tanah Air. Untuk itu saya harus punya status warga negara," katanya. 

Dengan paspor Perancis di tangan, Waloejo bebas pergi ke seluruh negeri di muka bumi, tentu saja kalau punya uang. Dan negeri pertama yang hendak ia datangi adalah Indonesia, tanah kelahirannya, yang 35 tahun telah ia tinggalkan.

Dipenuhi rasa gamang, pada 13 September 1995, pukul 10.00 pagi, pesawat yang membawanya dari Paris mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. "Ketika kakiku menginjakkan lantai bandara, terasa ada satu getaran ajaib. Tanah tumpah darahku. Tempat aku dilahirkan."

Selanjutnya adalah perjalanan nostalgia sebagai turis Perancis berwajah Melayu yang pada paspornya ada visa turis dengan izin 60 hari sahaja. 

* * * * *

Begitulah. 

Semua kisahnya itu ia tuliskan dalam sebuah buku: Bumi Tuhan, Orang Buangan di Pyongyang, Moskwa dan Paris. 

Buku ini adalah memoarnya, kisah hidupnya di rantau dan tak pulang-pulang sampai akhir hayatnya. Waloejo Sedjati meninggal di Paris pada 3 September 2013. 

Hanya kisahnya ini yang tertinggal.

-- TEBET, 30 September 2017 (foto: cielsorra.wordpress.com)

Saturday, December 8, 2018

KOMENTAR PARA DOKTER SENIOR

KOMENTAR PARA DOKTER SENIOR
PATUT DIRENUNGKAN KOMENTAR PARA DOKTER USIA SEPUH DARI UI INI !!!   
Mereka adalah api yang tidak terpadamkan di usia senja. Ketika sebagian besar rekan seusianya terbaring tak berdaya di tempat tidur, semangat para senior ini justru menyala-nyala. Menjadi segelintir dari sangat sedikit lansia yang bugar di usia senja, tenaga dan pikiran para kakek dan nenek ini masih disumbangkan agar tak menjadi beban bagi pembangunan. Sejak dini, kesehatan di usia senja ternyata harus benar-benar dikejar.
Tepat 50 tahun menjalani profesi sebagai dokter, para dokter sepuh alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) angkatan tahun 1968 ini memendam keprihatinan tersendiri. Ketika alumni kedokteran berkumpul, mereka terkejut karena, dari sekitar 120 dokter angkatan 1968, hanya tersisa separuhnya  ”Tinggal 60 yang masih di atas tanah. Itu pun tidak semuanya 100 persen sehat. 
Ada yang tidak bisa jalan, setengah lumpuh, atau pikun,” kata internis-nefrologis Prof. Dr. Jose Roesma PhD (75).
Jose yang menjadi Ketua Panitia Reuni Alumni 50 Tahun Angkatan 1968 FKUI bersama dengan rekan-rekannya, seperti : Ketua Alumni Angkatan 1968 FKUI Dr Hermansyur Kartowisastro SpBKBD (77), Dr Asril Bahar (75), dan Dr Doddy Pramodo Partomihardjo (74), lantas rutin bertemu hampir setiap pekan hingga puncak acara reuni yang menurut rencana akan digelar pada Desember mendatang. Dalam setiap pertemuan, mereka serius memperbincangkan sumbangsih apa yang harus mereka lakukan bagi terciptanya lansia yang berkualitas.
Seperti pada Rabu (11/7/2018), mereka sibuk membahas buku yang akan diterbitkan bagi kaum dokter dan buku panduan bagi generasi muda demi menggapai usia tua yang berkualitas. ”Dari kami berempat ini yang sehat hanya dokter Hermansyur. Akhir Juni lalu, saya pasang cincin di jantung. Dulu, usia 30-an enggak pernah berpikir tentang kesehatan di masa tua, hanya menjalani hidup dan TERUS MAKAN ENAK. Terlambat sudah karena enggak ada senior yang kasih tahu,” kata Asril yang merupakan dokter ahli penyakit dalam, konsultan pulmonologi, dan geriatri.
Hermansyur, yang anggota tim dokter kepresidenan dari tahun 1987 dan disebut-sebut paling sehat pun, ternyata mengaku tak pernah sadar akan pentingnya menjaga pola hidup sehat sejak dini demi kehidupan masa tua yang berkualitas.
”Hidup saya cukup sehat secara tidak sadar. Baru sekarang tahu dan menyadari. Keluarga berperan penting mendorong gaya hidup sehat. Nantinya, saya ingin mati di lingkungan keluarga dan tak menderita sakit. Rumah jompo momok bagi saya,” ujar Hermansyur.
Persiapan dini
Keprihatinan semakin mendalam karena mereka yang berprofesi sebagai dokter seharusnya lebih paham terhadap upaya pencegahan dan pengobatan penyakit. Namun, kenyataannya berbeda. Kondisi kesehatan mereka di usia tua sama saja dengan masyarakat awam yang tidak dibekali pengetahuan mendalam tentang kesehatan. Hal ini terutama karena pola hidup yang tidak sesuai dengan teori gaya hidup sehat. Mereka pun tidak mempersiapkan diri sejak dini untuk menghadapi masa tua.
Dengan ilmu dan pengalaman 50 tahun menjadi dokter, Jose dan rekan-rekannya lantas berusaha berbuat sesuatu agar generasi milenial tidak mengikuti pola hidup seniornya. Agar tak menjadi tua yang renta, generasi milenial harus sudah mulai sadar untuk mengelola kesehatan dengan perubahan pola hidup yang lebih sehat. Tak sekadar membuat buku, para dokter sepuh ini berupaya menyumbangkan ide dan mendorong pemerintah untuk melindungi generasi baru dengan gerakan yang berorientasi pada lansia. ”Pola hidup salah sehingga berakibat penyakit. Ini menjadi concern (kepedulian) kami,” kata Jose.
Menurut Asril, proses menjadi tua terjadi karena menghilangnya secara pelan-pelan kemampuan jaringan tubuh manusia untuk memperbaiki dirinya dan mempertahankan fungsi dan struktur normalnya. Apabila sudah terkena penyakit, lanjut Asril, pasien geriatri biasanya akan mengonsumsi banyak obat, lambat respons terapinya, dan sering gagal pulih kembali dari sakitnya. Penurunan fungsi semua organ tubuh semakin memperberat kondisi sakit para lansia, sehingga sebisa mungkin harus dicegah.
Agar tetap berdaya nantinya di usia senja, generasi muda diajak, antara lain, untuk mengurangi berat badan, makan gizi seimbang, menggerakkan tubuh secara teratur, dan mengawasi kesehatan dengan cek kesehatan berkala. Selain pola hidup sehat sejak dini, setiap lansia juga harus tetap beraktivitas kerja sehari-hari. ”Kalau saya satu minggu enggak keluar rumah dan beraktivitas, bisa sangat terganggu pikiran saya. Paling-paling cukup pergi ke rumah cucu setir mobil sendiri,” kata Toni Hartono (79) yang pernah menjabat Ketua 2 Komisi Nasional Lansia.
Ditemui secara terpisah di acara kumpul Komunitas Sahabat Lansia Tangguh pada Kamis (9/8), Toni mengatakan bahwa para lansia yang tinggal bersama keluarga dan terpisah dari komunitas sesama lansia biasanya akan mengalami keterasingan. Keterasingan di tengah keluarga bisa saja terjadi karena adanya jurang antar-generasi yang memisahkannya dengan anak dan cucu.
”Anak cucu main gadget. Ngobrol enggak saling ngerti. Di meja makan enggak berkomunikasi. Pressure (tekanan) lebih tinggi yang tinggal sendiri. Masalah psikologis juga jadi hambatan yang luar biasa,” tuturnya menambahkan.
Psikolog Prof (Em) Dr Saparinah Sadli (90) menyebut bahwa kesehatan para lansia meliputi tak hanya kesehatan fisik, tetapi juga emosional dan sosial. ”Lansia tangguh adalah mereka yang sehat seluruhnya. Orang tua pasti punya penyakit meski sakit harus mandiri. Tetapi tetap menyesuaikan diri dengan kondisi fisiknya,” kata Saparinah.
Negara terhormat
Prof Dr dr Siti Setiati SpPD - KGER MEpid FINASI dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) yang juga Ketua Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia menyebutkan, dari 25-30 juta warga lansia (berusia minimal 60 tahun), hanya 13,2 persen lansia yang sehat, 25 persen lansia renta, dan 61,6 persen kondisinya prarenta.
”Yang namanya sehat di masa tua sangat bergantung pada MASA MUDANYA. Kesehatan pada lansia ibarat life cycle (siklus hidup) dimulai sejak kanak-kanak,” kata Setiati.
Kondisi ini mengkhawatirkan karena jumlah penduduk lansia di Indonesia terus meningkat seiring naiknya usia harapan hidup sebagai dampak dari kemajuan bidang pembangunan dan teknologi kesehatan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, usia harapan hidup pada 1971 adalah 55,1 tahun dan pada 2015 menjadi 70,8 tahun. Pada 2015, jumlah manula di Indonesia sekitar 21 juta orang (8,2 persen dari total jumlah penduduk) dan pada 2030 diperkirakan jumlahnya akan meningkat menjadi sekitar 38 juta (13,2 persen). Indonesia sudah akan masuk dalam negara aging society, yang satu di antara lima penduduknya adalah orang tua.
Tingginya jumlah lansia ini bisa menjadi beban pembangunan jika mereka yang kondisinya prarenta berubah menjadi renta. Kerentaan membuat beban biaya pengobatan menjadi semakin mahal. Apalagi, saat ini pengobatan bagi kaum lansia belum sepenuhnya ditanggung BPJS. Padahal, mereka yang prarenta cenderung mulai dihinggapi beragam penyakit, mulai dari hipertensi, kolesterol, hingga pengapuran sendi yang memerlukan penanganan komprehensif dan biaya mahal.
Seperti di negara lain, kesejahteraan bagi kaum lansia sesungguhnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Pemerintah harus benar-benar memiliki keberpihakan terhadap nasib lansia. Ia mencontohkan bagaimana Pemerintah Jepang dan Singapura memberdayakan warga senior agar bisa tetap bekerja di usia tua. Mereka juga memiliki kota yang ramah untuk lansia.
Doddy menambahkan, perlu adanya kemauan politik dari pemerintah untuk berpihak kepada lansia. Pendapat umum pun harus benar-benar dibangun untuk pemberdayaan lansia. ”Ini masalah strategis bagi masyarakat Indonesia. Jumlah lansia makin banyak jadi beban atau jadi suatu performa bangsa? Bagaimana idealnya orang tua ini aktif dan produktif,” tutur Doddy.
Indikator negara terhormat, lanjut Setiati, adalah negara yang menghargai warga senior dan membuat sistem yang berpihak kepada lansia, antara lain mempermudah mereka mengakses pengobatan. ”Enggak seperti sekarang ini. Tantangan yang harus segera dicari solusinya,” kata Setiati.

Usia panjang tidaklah akan ada artinya apabila kemudian menjadi tidak berguna dan tidak bahagia.

Tuesday, July 17, 2018

SERBA ADA DI SAMARINDA

SERBA ADA DI SAMARINDA
Oleh: Dahlan Iskan
Sabtu 07 Juli 2018

Saya video kamar VIP istri saya. Saya kirimkan ke teman saya. Yang di Singapura. Juga yang di Tiongkok. "Benarkah itu rumah sakit di Samarinda?,'' ujar mereka.
Keduanya pernah ke Samarinda. Hampir sepuluh tahun lalu. Saat Samarinda masih gelap: sering mati lampu.
''Kelihatannya lebih bagus dari kamar Anda di RS Singapura itu,'' ujar teman saya yang Singapura. Dalam bahasa Inggris.
''Hahaha...lebih bagus dari kamar Anda di lantai 10 RS Tianjin ...'' komentar teman Tiongkok saya. Dalam bahasa Mandarin.
''Padahal tarifnya hanya 25 persennya,'' jawab saya. Dengan kepala membesar.
Maka tidak menyesal saya membatalkan ini: membawa istri ke Singapura. Meski sudah terlanjur bikin janji dengan dokter di sana.
Tentu dunia kedokteran tidak boleh hanya adu penampilan fisiknya. Kualitas layanannya ikut menentukan. Juga peralatannya. Dan yang utama kualitas medikalnya.
Saya tentu tidak ingin memperjudikan istri saya. Sekedar untuk kebanggaan kampung halaman. Begitu tiba di RS Wahab Syachrani ini saya kelilingi fasilitasnya. Saya kuat-kuatkan kaki saya. Rumah sakit ini tanahnya 33 ha.
Ternyata memang jauh di atas bayangan saya: kamar operasinya 26! Rumah sakit di daerah yang dulu begitu terpencil punya OK begitu banyaknya. Dengan AC sentral.
RS Wahab Syachrani Samarinda sudah mampu pula melakukan operasi jantung: tiap hari. Punya MRI. Punya CT scan yang 126 slice. Coba tanya di kota Anda: siapa yang punya 126 slice. Masih ada dua lagi yang di bawah itu.
Untuk kanker pun sudah punya petscan. Hanya ada empat rumah sakit di Indonesia yang memiliki petscan. Kota sebesar Surabaya pun belum punya. Bahkan belum ada rencana punya. Baru sebatas ingin punya.
Dengan petscan itu benih kanker sekecil 2 mm pun sudah bisa dideteksi. Sedangkan untuk terapinya jangan kaget: sudah punya radio nuklir. Pasien yang terkena kanker teroid diterapi radio nuklir. Lalu dimasukkan ruang isolasi selama tiga hari.
Ruang ini sangat khusus: terisolasi dari radiasi nuklir. Pembuatan ruangnya harus atas pengawasan Bapeten: badan yang bertanggung jawab untuk keamanan nuklir.
Penggunaannya juga harus seijin Bapeten. RS Wahab Syachrani Samarinda ini punya enam ruang isolasi seperti itu. Enam. Edan.
Saya pun mantap: menyerahkan istri saya pada tim dokter di kampung kelahiran istri saya itu. Yang sudah 40 tahun ditinggalkannya itu.
Saya pun berdiskusi dengan tim dokternya: dokter Boyke Soebhali, dokter Kuntjoro Yakti, dokter Satria Sewu, dokter Moh Furqon dan dokter Teddy
Ferdinand Indrasutanto. Juga melihat alat yang bernama FURS: pencari posisi batu ginjal yang bisa fleksibel. Bisa belok-belok mencari di slempitan mana batu itu berada.
Dokter Rachim Dinata, sang kepala rumah sakit, hadir: memperkenalkan dokter-dokter itu. Lalu menyilahkan kami diskusi sendiri. Rachim Dinatalah di balik semua prestasi itu. Ia dokter ahli bedah. Lulusan Universitas Padjadjaran Bandung. Kini dokter Rachim telah membalik dunia: dari kuno ke modern.
Tidak hanya alat dan fisiknya. Tapi juga sistem dan SDM-nya.
Penghasilan dokter di rumah sakit ini empat kali lipat dari penghasilan dokter di rumah sakit kota saya. Dokter Rachim menyebutkan angka-angkanya. Tapi biarlah imajinasi menuliskan angkanya sendiri.
Dokter Rachim menerapkan sistem prestasi. Di atas hirarkhi. Di atas senioritas. Di atas penampilan fisik.
Dokter Boyke misalnya: lebih bertampang rocker daripada dokter. Rambutnya dibiarkan gondrong. Celananya jean. Bawaannya ransel. Mainannya gitar.
Suatu saat pasien yang sok terdidik bertanya padanya: apakah ia mahasiswa yang lagi magang. Si pasien terperanjat ketika akhirnya tahu: yang ditanya itu adalah dokter spesialis urologi.
''Ada empat dokter yang gondrong di sini,'' ujar dr Nurliana Andriati Noor. ''Yang penting kegondrongannya tidak menganggu kerja dokternya,'' tambah dokter  Nana.
Di akhir diskusi saya putuskan: saya serahkan istri saya kepada tim dokter. Lakukan apa pun yang terbaik menurut dokter. Saya tandatangani dua pernyataan: setuju dibius total dan setuju dilakukan operasi. Jadwal ditetapkan: keesokan harinya. Jam 9 pagi.
Istri saya pernah operasi syaraf tulang belakang. Akibat HNP, 20 tahun lalu. Saya diajak Prof Hafidz Surabaya untuk ikut masuk ruang operasi. Tiga tahun lalu istri saya operasi ganti lutut. Saya diajak dokter Dwikora Surabaya ikut masuk ruang operasi. Kemarin, saya diajak dokter Boyke masuk ruang operasi.
Saya pun bisa melihat bagaimana FURS masuk ke ginjal. Lalu dibelok-belokkan. Memasuki ruang-ruang yang ada di dalam ginjal. Mencari di mana batu itu sembunyi.
Ketemu: satu batu. Lalu FURS itu diajak menjelajah ruang-ruang lain dalam ginjal. Ketemu: satu lagi. Lebih besar. Total: dua batu.
Yang satu batu lagi sudah dikeluarkan di Surabaya dua minggu lalu. Yang posisinya sudah di saluran kencing. Yang sudah bernanah. Yang menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh. Yang membuat istri saya koma. Yang memaksa saya mendadak pulang dari Amerika.
Dokter Boyke terus menggerakkan alatnya. Diiringi lagu-lagu barat. Yang ia setel dari stock yang ada di HP-nya.
Anak 'wedok' saya, Isna Fitriana, mendekatkan mulutnya ke telinga saya. ''Wow... kegemaran dokter Boyke rupanya sama dengan saya: lagu-lagu Bon Jovi,'' bisik anak wedok saya itu.
Ternyata dokter Boyke juga seperti anak saya itu: gemar bersepeda. Bahkan sepedanya sama: merk Wdnsdy. Baca: Wednesday. Yang diproduksi oleh Azrul Ananda. Anak sulung saya.
Oleh dokter Boyke batu yang lebih kecil itu diusik. Dipindahkan dari tempatnya. Dijadikan satu dengan batu yang lebih besar. Saya pikir mau dihancurkan bersamaan. Ternyata tidak. Hanya dibandingkan ukurannya. Lalu batu yang lebih kecil dimasukkan jaring. Yang dipasang di ujung alatnya. Jaring ditarik.
Ternyata ukuran batu itu lebih kecil dari saluran air kencing. Maka batu pun  dikeluarkan. Tidak dihancurkan.
Yang besar pun kemudian dijaring. Dicoba ditarik. Ternyata lebih besar dari saluran kencing. Maka batu itu dikembalikan lagi ke tempat asalnya: akan ditembak dengan laser.
Saya pikir batu itu akan langsung hancur saat dilaser. Ternyata laser itu hanya mencuil-cuil batu. Maka lasernya terus ditembakkan. Ratusan cuilan terlepas dari batu. Lama-lama batunya tinggal secuil. Menembaknya kian sulit. Cuilan terakhir itu lari-lari. Terbawa arus air yang disemprotkan: untuk mendinginkan bagian ginjal di sekitar laser yang sangat panas.
Selesai. Satu jam persis.
Cuilan-cuilan batu itu ukurannya sebutir pasir. Akan keluar bersama air kencing.
Satu jam kemudian istri saya sudah kembali di kamar yang lebih baik dari lantai 10 RS Tianjin tadi.
''Saya ingin lihat batunya,'' ujar istri saya. Maka saya serahkan batu yang tidak dihancurkan tadi. Juga satu cuilan batu sebesar pasir hasil tembakan laser.
Istri saya memang sempat berharap dokter Boyke kecele: tidak menemukan batunya. Mengapa? Dua hari sebelumnya istri saya merebus kelapa hijau muda. Lalu meminum airnya. Keesokan harinya dia rebus lagi kelapa hijau muda. Diminum lagi.
Dengan cara itu dia harapkan batu bisa keluar sendiri. Seperti yang banyak dishare di media sosial.
Ternyata fakultas kedokteran  tidak bisa digantikan kelapa hijau rebus.(dis)

http://disway.id/serba-ada-di-samarinda/

Saturday, March 17, 2018

DIFTERI

DIFTERI
Buat para eyang yang punya cucu dan orang tua yang punya anak balita.....
Berita mengenai wabah/kejadian luar biasa (KLB) difteri merebak beberapa hari terakhir. Inilah rilis resmi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) terkait difteri di Indonesia.
Himbauan IDAI Tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Kasus Difteri
Sehubungan dengan peningkatan kasus difteri di beberapa wilayah Indonesia, maka Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa:
Ø  Penyakit difteri sangat menular dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit difteri dapat dicegah dengan melakukan imunisasi sesuai jadwal yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan atau Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Ø  Imunisasi adalah perlindungan terbaik terhadap kemungkinan tertular penyakit difteri, dan dapat diperoleh dengan mudah di berbagai fasilitas kesehatan pemerintah maupun swasta.
Ø  Lengkapi imunisasi DPT/DT/Td anak anda sesuai jadwal imunisasi anak usia  Kementeria Kesehatan atau Ikatan Dokter Anak Indonesia. Imunisasi difteri lengkap adalah sebagai berikut:
Ø  Usia kurang dari 1 tahun harus mendapatkan 3 kali imunisasi difteri (DPT).
Ø  Anak usia 1 sampai 5 tahun harus mendapatkan imunisasi ulangan sebanyak 2 kali.
Ø  Anak usia sekolah harus mendapatkan imunisasi difteri melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) siswa sekolah dasar (SD) kelas 1, kelas 2, dan kelas 3 atau kelas 5.
Ø  Setelah itu, imunisasi ulangan dilakukan setiap 10 tahun, termasuk orang dewasa. Apabila status imunisasi belum lengkap, segera lakukan imunisasi di fasilitas kesehatan terdekat.
Ø  Kenali gejala awal difteri. Gejala awal difteri bisa tidak spesifik, seperti:
·         Demam tidak tinggi
·         Nafsu makan menurun
·         Lesu
·         Nyeri menelan dan nyeri tenggorok
·         Sekret hidung kuning kehijauan dan bisa disertai darah
·         Namun memiliki tanda khas berupa selaput putih keabu-abuan di tenggorok atau hidung, yang dilanjutkan dengan pembengkakan leher atau disebut sebagai bull neck.
Ø  Segera ke fasilitas kesehatan terdekat apabila anak anda mengeluh nyeri tenggorokan disertai suara berbunyi seperti mengorok (stridor) atau pembesaran kelenjar getah bening leher, khususnya anak berumur < 15 tahun.
Ø  Anak harus segera dirawat di rumah sakit apabila dicurigai menderita difteri agar segera mendapat pengobatan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah anak benar menderita difteri.
Ø  Apabila anak anda didiagnosis difteri, akan diberikan tatalaksana yang sesuai termasuk perawatan isolasi
Ø  Untuk memutuskan rantai penularan, seluruh anggota keluarga serumah harus segera diperiksa oleh dokter dan petugas dari Dinas Kesehatan, serta mendapat obat yang harus dihabiskan untuk mencegah penyakit, apakah mereka juga menderita atau karier (pembawa kuman) difteri dan mendapat pengobatan.
Ø  Anggota keluarga yang tidak menderita difteri, segera dilakukan imunisasi DPT/DT/Td sesuai usia.
Ø  Laksanakan semua petunjuk dari Dokter dan Petugas Kesehatan setempat
Ø  Setelah imunisasi DPT, kadang-kadang timbul demam, bengkak dan nyeri ditempat suntikan DPT, yang merupakan reaksi normal dan akan hilang dalam 1-2 hari. Bila anak mengalami demam atau bengkak di tempat suntikan, boleh minum obat penurun panas parasetamol sehari 4 x sesuai umur, sering minum jus buah atau susu, serta pakailah baju tipis atau segera berobat ke petugas kesehatan terdekat.
Ø  Anak dengan batuk pilek ringan dan tidak demam tetap bisa mendapatkan imunisasi DPT/DT/Td sesuai usia. Jika imunisasi tertunda atau belum lengkap, segera lengkapi di fasilitas kesehatan terdekat.

https://www.facebook.com/Ikatan-Dokter-Anak-Indonesia-1608972579344722/

Sunday, November 19, 2017

SALAH KAPRAH PENGOBATAN ANAK

SALAH KAPRAH PENGOBATAN ANAK

Beneran deh artikel ini kueren buangett..ulasan tentang Alasan Dokter Negara Maju "Pelit" Memberikan Obat ke Anak dan Kalimat yang paling makjleb buat saya adalah kalimat terakhir mba...
****
Belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak ada perbaikan aku membawanya ke huisarts (dokter keluarga) kami, dr. Knol.
"Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection." kata dokter tua itu.
"Ha? Just wait and see?" batinku meradang. Ya, aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain.
"Obat penurun panas Dok?" tanyaku lagi.
"Actually that is not necessary if the fever is below 40 C."
Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu, aku membawa obat dari Indonesia.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya bertambah. Aku kembali ke dokter. Dia tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.
"Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok," kataku. Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. "Apakah dia sudah minum suatu obat?"
Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel, "Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja."
Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau!
Setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.
"Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya. Mau 37, 38 apa 39 derajat, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!"
Sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi secuil-secuil ilmu kudapat. Seperti orang travelling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, dua hari ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas berdiam di Berlin dan Swiss, waktu habis.
Tibalah saat pulang ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah seperti keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama. Banyak negara dan kota di Eropa belum disambangi. Itulah kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah yang kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng, kami mengintip resep ajian senior!
Setelah Malik sembuh, Lala, putri pertamaku sakit. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia. Batuknya tak hilang dan ingusnya masih meler. Lima hari kemudian, Lala kubawa ke huisarts.
"Just drink a lot," katanya ringan.
"Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?" tanyaku tak puas.
"This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik," jawabnya lagi.
Lalu ngapain dong aku ke dokter, tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq!
"Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak."
Ternyata isi obat Thyme itu hanya ekstrak daun thyme dan madu.
Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia.
Putriku sembuh. Sebulan kemudian sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit.
"Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya?"
Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,"Nothing to worry. Just a viral infection."
"Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,"
Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. "Do you know how many times normally children get sick every year?"
"Twelve time in a year, researcher said," katanya sambil tersenyum lebar. "Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat," sambungnya.
Aku pulang dengan perasaan malu. Barangkali si dokter benar, aku selama ini kurang belajar.
Setelah aku beradaptasi dengan kehidupan di Belanda, aku berinteraksi dengan internet. Aku menemukan artikel Prof. Iwan Darmansjah, ahli obat-obatan Fakultas Kedokteran UI.
"Batuk-pilek beserta demam yang terjadi 6-12 bulan masih wajar. Observasi menunjukkan kunjungan ke dokter terjadi 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun."
"Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalah-kaprahan penanganannya. Pertama, obat diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus.
Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi.
Duuh…kemana saja aku selama ini. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho!.
Di Belanda 'dipaksa' tak pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak, kondisi anakku jauh lebih baik. Mereka jarang sakit.
Aku tercenung mengingat 'pengobatan rasional'. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yg kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan aku panik dan membawa ke dokter, sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional!
Sistem kesehatan Belanda menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.
Aku baru mengetahui Ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga banyak negara termasuk Amerika Serikat, memakainya secara luas untuk anak-anak. Tetapi resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat Ibuprofen tersedia di apotek dan boleh digunakan usia anak diatas 6 bulan, di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama anak demam.
Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan. Karena kekurangan dan ketidak-mampuan, penyakit anak sehari-hari, orang desa relatif 'terlindungi' dari paparan obat-obatan yang tak perlu.
Sementara kita yang tinggal di kota besar, cukup berduit, melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, 'memaksa' agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter 'menjual' obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.
Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?
Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!
Aku sadar. Telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya 'hanya' konsultasi, memastikan diagnosa penyakit dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.
Di Indonesia, ke dokter = dapat obat?
Sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi.
Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Setidaknya, bila pasien 'bergerak', masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.
Dikutip dari buku "Smart Patient" karya dr. Agnes Tri Harjaningrum
Semoga mencerahkan ya kawan2 semua.. semoga besok kita gak sembarangan kasih obat dan panik saat anak sakit.