Showing posts with label laser. Show all posts
Showing posts with label laser. Show all posts

Wednesday, September 23, 2020

THERMOGUN

Penjelasan Ilmiah FKUI terkait Keamanan Penggunaan Termometer Tembak (thermogun) Inframerah pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Pandemi COVID-19

Sehubungan dengan viralnya berita termometer tembak (thermogun) yang dianggap membahayakan otak karena memancarkan LASER, berikut pernyataan yang disusun oleh Departemen Fisika Kedokteran / Klaster Medical Technology IMERI, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia untuk meluruskan persepsi ini.

Thermogun merupakan salah satu jenis termometer inframerah untuk mengukur temperatur tubuh yang umumnya di arahkan ke dahi. Alat ini menjadi andalan utama sebagai alat skrining COVID-19 dengan gejala demam, alat ini tersedia hampir di setiap pintu masuk tempat umum dan perkantoran. Pengunjung atau pegawai dengan temperatur di atas 37,5℃ dilarang masuk dan diminta untuk memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan. Namun, beberapa hari ini masyarakat diresahkan dengan viralnya video di media sosial yang menyatakan bahwa alat ini berbahaya karena dianggap menggunakan LASER dan merusak otak. 

Apakah benar demikian?

Bagaimana cara kerja termometer inframerah? Berbeda dengan termometer raksa atau termometer digital yang menggunakan prinsip rambatan panas secara konduksi, termometer ini menggunakan prinsip rambatan panas melalui radiasi. Dalam prinsip ilmu fisika kedokteran, setiap benda dengan temperatur lebih besar dari 0 Kelvin akan memancarkan radiasi elektromagnetik atau sering disebut dengan radiasi benda hitam (Asas Black). Kelvin (K) adalah satuan baku untuk temperatur dengan konversi 0℃ setara dengan 273 K. Kisaran suhu tubuh manusia normal (36 - 37,5℃) berada di dalam pancaran spektrum inframerah jika dilihat dari jangkauan radiasi elektromagnetik. Energi radiasi dari permukaan tubuh ditangkap dan kemudian diubah menjadi energi listrik dan ditampilkan dalam angka digital temperatur derajat celcius pada thermogun. *Prinsip teknologi serupa juga digunakan di kamera termal untuk skrining temperatur di bandara serta thermal goggles di militer untuk mendeteksi keberadaan seseorang di malam hari yang gelap.

Termometer inframerah yang tersedia di pasaran umumnya untuk mendeteksi temperatur gendang telinga (termometer telinga) atau temperatur dahi (termometer dahi). Termometer dahi lebih cocok untuk skrining gejala demam COVID-19 karena hanya perlu “ditembak” ke arah dahi tanpa perlu kontak/bersentuhan langsung dengan kulit. Termometer ini mendeteksi temperatur arteri temporal pada dahi untuk mengestimasi suhu tubuh seseorang. Hal yang perlu diperhatikan adalah akurasi pengukuran temperatur bergantung pada jarak dan sudut alat thermogun terhadap objek yang diukur. Maka dari itu, jangan heran jika hasil pengukuran bisa berubah-ubah. 

Satu parameter penting yang menentukan tingkat akurasi pengukuran thermogun adalah perbandingan jarak dengan luas titik pengukuran.

Biasanya angka perbandingan ini adalah 12:1. Dengan kata lain, untuk mengukur suatu titik dengan luas 1 cm persegi, jarak pengukuran ideal adalah 12 cm. Di sinilah sebenarnya peran laser dalam suatu thermogun, yaitu membantu operator menentukan titik pusat pengukuran. Namun alat thermogun dengan laser hanya ditemui untuk keperluan pengukuran termperatur di industri, bukan untuk medis.

Apa itu LASER?

Laser merupakan akronim dari _light amplification by stimulated emission of radiation_ atau amplifikasi cahaya melalui pancaran terstimulasi. Cahaya dengan satu warna / monokromatik ini memiliki keandalan utama berkas cahaya yang koheren. Beberapa contoh aplikasinya adalah laser pointer untuk presentasi, pembaca/penulis CD/DVD, hingga pemotong jaringan pada prosedur pembedahan. Energinya disesuaikan dengan fungsi, semakin besar akan semakin destruktif. Beberapa thermogun industri mungkin saja dilengkapi dengan laser energi rendah, tetapi fungsinya sebagai penunjuk (pointer) untuk ketepatan arah, sehingga tidak ada kaitan langsung dengan fungsi pengukuran temperatur. *Apakah laser tersebut berbahaya untuk otak manusia?* Sama halnya dengan laser pointer, laser ini tidak ada efek berbahaya untuk otak, tapi jangan sampai menembak ke mata secara langsung karena dapat merusak retina. Yang jelas, penggunaan thermogun industri untuk mendeteksi temperatur tubuh manusia tidak tepat karena bukan peruntukannya.

Sebagai kesimpulan, alat thermogun untuk skrining temperatur seseorang bekerja dengan menerima pancaran inframerah dari benda, bukan dengan memancarkan radiasi apalagi LASER. Sebagai alat pengukur suhu sebagai indikator kesehatan, thermogun direkomendasikan untuk dikalibrasi minimal 1 tahun sekali. Kalibrasi diperlukan agar skrining suhu terjaga akurasinya karena informasi yang salah bisa membuat gagal skrining suhu (positif palsu dan negatif palsu) sehingga membahayakan banyak orang. Pengukuran temperatur tubuh dengan thermogun tidak bisa dijadikan acuan utama terkait apakah seseorang menderita COVID-19 atau tidak, karena pasien COVID-19 bisa muncul tanpa gejala demam. Kami berharap penggunaan thermogun secara luas di tempat-tempat publik seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, dan layanan transportasi publik disertai dengan SOP yang jelas.

Tim penyusun:

● Prasandhya Astagiri Yusuf, S.Si, M.T., Ph.D.

● dr. Anindya Pradipta Susanto, B.Eng, MM.

● Ir. Muhammad Hanif Nadhif, S.T.

● Muhammad Satrio Utomo, M.Sc.

Tuesday, July 17, 2018

SERBA ADA DI SAMARINDA

SERBA ADA DI SAMARINDA
Oleh: Dahlan Iskan
Sabtu 07 Juli 2018

Saya video kamar VIP istri saya. Saya kirimkan ke teman saya. Yang di Singapura. Juga yang di Tiongkok. "Benarkah itu rumah sakit di Samarinda?,'' ujar mereka.
Keduanya pernah ke Samarinda. Hampir sepuluh tahun lalu. Saat Samarinda masih gelap: sering mati lampu.
''Kelihatannya lebih bagus dari kamar Anda di RS Singapura itu,'' ujar teman saya yang Singapura. Dalam bahasa Inggris.
''Hahaha...lebih bagus dari kamar Anda di lantai 10 RS Tianjin ...'' komentar teman Tiongkok saya. Dalam bahasa Mandarin.
''Padahal tarifnya hanya 25 persennya,'' jawab saya. Dengan kepala membesar.
Maka tidak menyesal saya membatalkan ini: membawa istri ke Singapura. Meski sudah terlanjur bikin janji dengan dokter di sana.
Tentu dunia kedokteran tidak boleh hanya adu penampilan fisiknya. Kualitas layanannya ikut menentukan. Juga peralatannya. Dan yang utama kualitas medikalnya.
Saya tentu tidak ingin memperjudikan istri saya. Sekedar untuk kebanggaan kampung halaman. Begitu tiba di RS Wahab Syachrani ini saya kelilingi fasilitasnya. Saya kuat-kuatkan kaki saya. Rumah sakit ini tanahnya 33 ha.
Ternyata memang jauh di atas bayangan saya: kamar operasinya 26! Rumah sakit di daerah yang dulu begitu terpencil punya OK begitu banyaknya. Dengan AC sentral.
RS Wahab Syachrani Samarinda sudah mampu pula melakukan operasi jantung: tiap hari. Punya MRI. Punya CT scan yang 126 slice. Coba tanya di kota Anda: siapa yang punya 126 slice. Masih ada dua lagi yang di bawah itu.
Untuk kanker pun sudah punya petscan. Hanya ada empat rumah sakit di Indonesia yang memiliki petscan. Kota sebesar Surabaya pun belum punya. Bahkan belum ada rencana punya. Baru sebatas ingin punya.
Dengan petscan itu benih kanker sekecil 2 mm pun sudah bisa dideteksi. Sedangkan untuk terapinya jangan kaget: sudah punya radio nuklir. Pasien yang terkena kanker teroid diterapi radio nuklir. Lalu dimasukkan ruang isolasi selama tiga hari.
Ruang ini sangat khusus: terisolasi dari radiasi nuklir. Pembuatan ruangnya harus atas pengawasan Bapeten: badan yang bertanggung jawab untuk keamanan nuklir.
Penggunaannya juga harus seijin Bapeten. RS Wahab Syachrani Samarinda ini punya enam ruang isolasi seperti itu. Enam. Edan.
Saya pun mantap: menyerahkan istri saya pada tim dokter di kampung kelahiran istri saya itu. Yang sudah 40 tahun ditinggalkannya itu.
Saya pun berdiskusi dengan tim dokternya: dokter Boyke Soebhali, dokter Kuntjoro Yakti, dokter Satria Sewu, dokter Moh Furqon dan dokter Teddy
Ferdinand Indrasutanto. Juga melihat alat yang bernama FURS: pencari posisi batu ginjal yang bisa fleksibel. Bisa belok-belok mencari di slempitan mana batu itu berada.
Dokter Rachim Dinata, sang kepala rumah sakit, hadir: memperkenalkan dokter-dokter itu. Lalu menyilahkan kami diskusi sendiri. Rachim Dinatalah di balik semua prestasi itu. Ia dokter ahli bedah. Lulusan Universitas Padjadjaran Bandung. Kini dokter Rachim telah membalik dunia: dari kuno ke modern.
Tidak hanya alat dan fisiknya. Tapi juga sistem dan SDM-nya.
Penghasilan dokter di rumah sakit ini empat kali lipat dari penghasilan dokter di rumah sakit kota saya. Dokter Rachim menyebutkan angka-angkanya. Tapi biarlah imajinasi menuliskan angkanya sendiri.
Dokter Rachim menerapkan sistem prestasi. Di atas hirarkhi. Di atas senioritas. Di atas penampilan fisik.
Dokter Boyke misalnya: lebih bertampang rocker daripada dokter. Rambutnya dibiarkan gondrong. Celananya jean. Bawaannya ransel. Mainannya gitar.
Suatu saat pasien yang sok terdidik bertanya padanya: apakah ia mahasiswa yang lagi magang. Si pasien terperanjat ketika akhirnya tahu: yang ditanya itu adalah dokter spesialis urologi.
''Ada empat dokter yang gondrong di sini,'' ujar dr Nurliana Andriati Noor. ''Yang penting kegondrongannya tidak menganggu kerja dokternya,'' tambah dokter  Nana.
Di akhir diskusi saya putuskan: saya serahkan istri saya kepada tim dokter. Lakukan apa pun yang terbaik menurut dokter. Saya tandatangani dua pernyataan: setuju dibius total dan setuju dilakukan operasi. Jadwal ditetapkan: keesokan harinya. Jam 9 pagi.
Istri saya pernah operasi syaraf tulang belakang. Akibat HNP, 20 tahun lalu. Saya diajak Prof Hafidz Surabaya untuk ikut masuk ruang operasi. Tiga tahun lalu istri saya operasi ganti lutut. Saya diajak dokter Dwikora Surabaya ikut masuk ruang operasi. Kemarin, saya diajak dokter Boyke masuk ruang operasi.
Saya pun bisa melihat bagaimana FURS masuk ke ginjal. Lalu dibelok-belokkan. Memasuki ruang-ruang yang ada di dalam ginjal. Mencari di mana batu itu sembunyi.
Ketemu: satu batu. Lalu FURS itu diajak menjelajah ruang-ruang lain dalam ginjal. Ketemu: satu lagi. Lebih besar. Total: dua batu.
Yang satu batu lagi sudah dikeluarkan di Surabaya dua minggu lalu. Yang posisinya sudah di saluran kencing. Yang sudah bernanah. Yang menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh. Yang membuat istri saya koma. Yang memaksa saya mendadak pulang dari Amerika.
Dokter Boyke terus menggerakkan alatnya. Diiringi lagu-lagu barat. Yang ia setel dari stock yang ada di HP-nya.
Anak 'wedok' saya, Isna Fitriana, mendekatkan mulutnya ke telinga saya. ''Wow... kegemaran dokter Boyke rupanya sama dengan saya: lagu-lagu Bon Jovi,'' bisik anak wedok saya itu.
Ternyata dokter Boyke juga seperti anak saya itu: gemar bersepeda. Bahkan sepedanya sama: merk Wdnsdy. Baca: Wednesday. Yang diproduksi oleh Azrul Ananda. Anak sulung saya.
Oleh dokter Boyke batu yang lebih kecil itu diusik. Dipindahkan dari tempatnya. Dijadikan satu dengan batu yang lebih besar. Saya pikir mau dihancurkan bersamaan. Ternyata tidak. Hanya dibandingkan ukurannya. Lalu batu yang lebih kecil dimasukkan jaring. Yang dipasang di ujung alatnya. Jaring ditarik.
Ternyata ukuran batu itu lebih kecil dari saluran air kencing. Maka batu pun  dikeluarkan. Tidak dihancurkan.
Yang besar pun kemudian dijaring. Dicoba ditarik. Ternyata lebih besar dari saluran kencing. Maka batu itu dikembalikan lagi ke tempat asalnya: akan ditembak dengan laser.
Saya pikir batu itu akan langsung hancur saat dilaser. Ternyata laser itu hanya mencuil-cuil batu. Maka lasernya terus ditembakkan. Ratusan cuilan terlepas dari batu. Lama-lama batunya tinggal secuil. Menembaknya kian sulit. Cuilan terakhir itu lari-lari. Terbawa arus air yang disemprotkan: untuk mendinginkan bagian ginjal di sekitar laser yang sangat panas.
Selesai. Satu jam persis.
Cuilan-cuilan batu itu ukurannya sebutir pasir. Akan keluar bersama air kencing.
Satu jam kemudian istri saya sudah kembali di kamar yang lebih baik dari lantai 10 RS Tianjin tadi.
''Saya ingin lihat batunya,'' ujar istri saya. Maka saya serahkan batu yang tidak dihancurkan tadi. Juga satu cuilan batu sebesar pasir hasil tembakan laser.
Istri saya memang sempat berharap dokter Boyke kecele: tidak menemukan batunya. Mengapa? Dua hari sebelumnya istri saya merebus kelapa hijau muda. Lalu meminum airnya. Keesokan harinya dia rebus lagi kelapa hijau muda. Diminum lagi.
Dengan cara itu dia harapkan batu bisa keluar sendiri. Seperti yang banyak dishare di media sosial.
Ternyata fakultas kedokteran  tidak bisa digantikan kelapa hijau rebus.(dis)

http://disway.id/serba-ada-di-samarinda/